
Polarisasi, cahaya, pasir, matahari, serta bulan menyatu tanpa suara kesepakatan. Ruang lingkupnya bernama gurun. Gurun pasir sedikit saja panasnya, tak seberapa. Ada yang lebih menarik darinya. Manusia. Ya, gurun manusia. Manusia berkerumun dan menjadi biang-biang segala resah, desah, dan keheningan mahluk hidup lainnya.
Air-air yang selalu terlihat mengerti secara diam, enggan sekalipun ada niatan menyiksa pasir. Pasir gurun pun rasanya malas jika berurusan dengan air kala marah. Tak ada mahluk hidup tanpa nyawa di angkasa ini, yang ketika marah melebihi keganasan air. Samudera dan gurun mengerti jika mereka menyatu, maka kehidupan baru akan lahir. Saat pasir dibantu menggumpal dan menyubur, ia terisi harapan kelahiran bayi-bayi tumbuhan yang unik tanpa akal.
Selayaknya kesalahpahaman itu, manusia pun kesulitan menyatu. Jika alam dan mahluk lain cukup sulit untuk bersatu dengan yang berbeda dari dirinya masing-masing, maka manusia malah kebingungan tentang cara memahami sesama spesiesnya. Banyak di antara mahluk bernama manusia, mudah bergaul dengan hewan, botani, dan alam ... namun justru sering memilih perang pada belahan dirinya.
Anak-anak pasir di gurun mungkin iri, mereka pun butuh pertengkaran intelektual, moral, dan fisik dengan air, udara, bahkan mungkin mereka juga ingin menampar para jin-jin durhaka. Tetapi, mereka hanya diberi nasib tanpa ditakdirkan. Gurun seperti tetangganya, samudra. Diberikan nasib tandus tanpa diberi takdir untuk bisa mengamuk dan meluap-luap. Selain pada manusia, gurun pun iri pada kerabatnya samudera. Samudera mungkin bernasib sama, hanya bisa berada pada kotak takdirnya.
Namun, samudera memiliki kelebihan yaitu bergerak. Mereka bergerak secara alami karena sifat lentur spontanitas. Sedangkan gurun, mereka butuh angin untuk bergerak. Sementara angin bergantung pada akurnya kerjasama anak-anak udara. Dalam kesenyapan anak-anak udara yang selalu menyapa malam bagaikan lautan kematian ... dan merayap turun langsung dari semesta. Tak kasat mata dirinya terbang melayang-layang, berpartisipasi di atas segala ruang kota dan pedesaan atau alam sekitarnya. Selalu berusaha menembus kuil-kuil dengan sinar matanya.
__ADS_1
Dirinya menyaksikan jiwa-jiwa yang mengambang dengan sejuta sayap-sayap mimpi. Dan setiap makhluk yang pasrah pada rasa letih dari lelap tidurnya. Pada saat rembulan mencapai cakrawala, kota itu pun berada dalam kegelapan malam selayaknya kota mati. Maka kematian pun selalu menapaki sepanjang jalanan, dengan langkah nya yang amat dan sangat tenang diantara kuil-kuil itu .
Ia tetap waspada agar tidak menyentuh sedikit apapun. Hingga dirinya pun mencapai istana . Dirinya tenggelam dan lenyap dan tiada satu pun alam benda, yang berdaya untuk menghalangi langkahnya. Ia berdiri tegak di samping pembaringan dan membelai kedua pelukan matanya dan seluruh anggota lainnya. Mengenai gurun, angin, malam, atau siang, yang tak pernah akan bisa di pisahkan satu sama lain, mereka bagaikan satu atau sepasang mata koin yang sudah menjamu menjadi satu kesatuan atom.
Selayaknya anggur merah yang terisi dengan lemon dan teh dalam satu kombinasi cawan yang begitu indah ... bila di terjemahkan dalam sudut pandang segala semesta. Semua pada akhirnya menjadi sebutir air saja. Air yang adalah seorang pengembala hidup di atas gurun dan perasaan terpencil di langit bumi. Mengenai air, kita cukup mampu untuk menghilangkan dahaga, tetapi angin gurun ... manusia selalu didera oleh kesenyapan dan kesunyian dalam keterpencilan. Manusia sejatinya mahluk sebatang kara. Tanpa terkecuali.
Namun dalam sunyi yang sedikit ramai itu, tidaklah apa. Manusia selalu berpikir mengenai sebuah bangsa yang sama sekali tak dikenal. Tempat itu sungguh menakjubkan. Mungkin angan-angan sudah memenuhi setiap belahan pikiran ... dengan pemandangan di setiap hamparan tanah yang terbentang luas dan jauh. Antara pasir dan sebutir air itu pun, tak pernah menyaksikan sendiri melalui kedua panca indera.
Bahkan aku sendiri mengklaim bahwasanya gurun, adalah orang terpencil bagi diriku sendiri. Gurun manusia, lagi-lagi sesederhana itu. Pada saat lidah tergerak, telingaku pun bermakna seakan berusaha mendengar suara kesendirian itu ... sebagai untaian bunyi aneh. Mohon maaf, tetapi aku tak mengetahui keadaan seperti semua itu. Bahan bagi udara, hal terbodoh adalah tidak ingin menjadi pintar menggunakan cara yang bodoh. Apakah manusia adalah reinkarnasi dari kebetulan? Ya, sepertinya begitu.
__ADS_1
Sayang sekali bunyi aneh itu menyusup di sela-sela sel-sel hidupku. Jantan dan betina dalam separuh tubuh yang sempurna. Manusia. Aku mungkin berjuang menjadi satu sebutan mahluk indah itu. Manusia, lagi-lagi aku bertaruh untuk menjadi hal, yang sesuai cermin tunjukkan padaku.
Terkadang diriku berpikir beribu kali untuk menyaksikan setiap misteri yang tersembunyi dalam sosok air dan gurun. Diriku tertawa lalu mendung.
Itu bukan kebodohan, mungkin itu cara berhasrat baru di zaman ini, agar jiwa-jiwa mampu menembus ketidakberdayaan manusia.
Bahkan gemuruh angin menyampaikan pesan lewat lantunan seruling bambu si pengembala. Lalu dibawa oleh pengembara seraya berkata akan rasa syukur ... atas semua ujian itu.
Hanya saja dengan itu semua, alam ini jauh dari rasa kebencian yang bisa terstimulasi tak beraturan. Ketika kita kembali menjadi air dan gurun, kita adalah manusia yang seimbang. Kita tak perlu menjadi kaktus karena air selalu tulus di batangnya. Gurun yang selalu berusaha tak menyakiti air, hidup bahagia bersama kerumunannya. Gurun manusia, lagi-lagi terulang. Saling menjaga dalam sayang tak terbaca dari peran masing-masing.
__ADS_1
Bom atom, nuklir, hujan es, fatamorgana uluran tangan, dan semua bacaan yang tak pernah berhasil menjadi sebutir air. Tidak tenang. Panasnya tak seimbang. Tak ada satupun lagi yang mengerti gurun dan sebutir air, harus berpisah secara baik. Awal dan akhir dipertukarkan, dipertemukan, kemudian digulir tanpa adab dan etika alami milik alam. Kaca-kaca air itu pecah, menjadi gambar manusia yang terbelah hatinya. Beberapa kali disatukan tetapi air menolak secara tak alami.
Gurun sudah memisah. Kembali menjadi tanah tebal yang terendap polarisasi cairan. Gurun dan samudera bertengkar hebat. Manusia pun panik. Mereka semakin tak tenang satu sama lain. Gurun pun hilang. Fatamorgana terlihat membesar di kejauhan tanah bekas gurun yang lapang. Sebutir air, gurun, dan manusia ... bisakah kita hidup dalam keadaan putih lagi?