Kampus Fiksi

Kampus Fiksi
PROSA: Mafia Manis Setahun Lalu


__ADS_3

Diva lahir di Batu Late. Namanya memilki makna bintang yang berkedip. Ia mungkin memiliki secercah takdir menjadi artis. Nama dari ibunya, yang merupakan manusia paling berharga di muka bumi baginya. Ia murung hari ini. Hujan menyerang separuh Batu Late sampai setengah hari lamanya.


Diva tak bisa keluar karena hujan deras. Hatinya juga ikut merintih. Semangatnya untuk sekolah hari ini terasa tidak akan tumbuh lagi. Ia mulai berpikir menyalahkan waktu. Juga kepikiran kalau anggota keluarganya adalah penyebab keterlambatannya. Meskipun itu pikiran yang jahat, Diva tak pernah membayangkan dirinya akan jadi jahat hari itu. Hujan tak berdosa, entah kenapa selalu jadi alasan Diva menghakimi langit.


Diva merasa hari itu dirinya kehilangan arah. Dirinya yang dahulu polos, bersahaja, dan menyayangi hewan, mendadak redup seperti penjahat kesiangan. Ruang prinsipnya goyah dan tak lagi bisa bangkit. Anehnya lagi, semua tak lagi sama.

__ADS_1


Diva yang sekarang mencoba berbanding terbalik dari dirinya setahun lalu. Sedikit demi sedikit ada perubahan. Satu demi satu keping mentalnya mulai membaik. Sejak memotong nyawa semua anggota keluarganya, nafasnya setidaknya kembali lega. Kadar oksigen sehari-harinya mulai balik kesegarannya. Ia tak pernah memiliki rasa bersalah lagi. Justru tak melakukan apapun pada semua anggota keluarganya, adalah kesalahan terbesarnya. Pembunuhan adalah hal wajar bagi Diva.


Lantai-lantai rumah Diva dulu masih berbekas percikan arteri. Darah lama yang telah mengental, aroma nadi yang tak lagi hidup, serta perpisahan yang sama sekali tak membuat sedih. Duka adalah hal menjijikkan baginya. Diva harusnya mendapat perhatian dunia, diundang ke acara mafia award, atau beradu argumen dengan tokoh-tokoh dunia tentang rasa cinta dan benci.


Namun detik ini berbeda dari setahun lalu. Diva sedikit diliputi penyesalan. Ia yang harus mengikuti kecepatan nasibnya, mesti berjibaku pada kekosongan. Kita kembali lagi ke masa di mana Diva memang utuh secara batin dan kesadaran. Siapa sangka dirinya akan menyembuhkan diri secepat itu, hanya dalam waktu setahun. Bahkan mesin google tak mempunyai data apapun tentang Diva. Kebohongan yang latin.

__ADS_1


Diva cerdas dan tak ada yang tahu masa lalu kerasnya. Saat orang memasukinya karena rasa penasaran, maka prinsip jauh dari kemanusiaan. Diva mengering. Tandus. Kaktus hidupnya sudah tak lagi menyimpan cadangan air. Semua mentalitas dan moralnya bangkrut. Kebangkrutan hati tanpa keraguan. Dan lagi-lagi, Diva menghabiskan harinya hanya dengan banyak tersenyum.


Meskipun tak ada lagi manusia yang mengerti satupun tentang dirinya, dia memang membenci perhatian. Entah kenapa para polisi tak berani memberinya pertanyaan. Mungkin karena karisma Diva yang menciptakan rasa takut. Diva mungkin bukan manusia lagi. Banyak hal-hal bersifat hati nurani dia abaikan setahun sebelumnya.


Ia sudah diracuni kemalasan yang extra dari kotak hitam masa silamnya. Diva, semoga kamu bisa jatuh cinta lagi. Bangun dan sadarlah! Ya, Diva memang bermimpi selalu ingin jadi pembunuh. Mungkin membunuh adalah hobinya. Ia tak butuh keluarga, rumah yang penuh buku, dan kasih sayang berbentuk cinta lagi. Bukan kesalahan Diva, melainkan dia memang manusia yang suka mengkhayal dan menulis cerita misteri.

__ADS_1


__ADS_2