
Natalie hidup seperti sosok Superman. Ia menyukai Batman, tantangan, dan kosakata metafora. Suka menulis juga. Bisnisnya di sana sini. Tak ada yang tidak bisa ia targetkan kecuali ia sendiri mencoretnya, dari daftar hitam cita-cita. Mungkin karena terlalu berat atau dirinya yang terlalu ingin jalan mudah. Bertemu dengan Rey adalah anugerah baginya.
Lelaki bernama pena Bee itu telah bermain skenario dengannya ... di suatu kisah yang lain. Keduanya sempat lupa berkenalan di awal. Di ujung waktu, mereka bermain angin dan oksigen. Berbagi cerita dari kejauhan dan saling menukar kontak batin. Natalie akhirnya jatuh sayang. Namun rasa sayang itu bukanlah kotak seperti asmara anak muda. Bukan, kita bisa menyebutnya sahabat dua gender.
Mungkin kata orang, persahabatan beda gender itu tak pernah tulus. Salah satunya pasti ada yang mulus untuk distimulasi. Mungkin Natalie juga tak mengerti, perasaan jenis apa yang ia hadirkan untuk Bee. Rasanya berat untuk terbuka pada diri sendiri untuk hal semacam ini. Langka seperti bahan bakar minyak.
__ADS_1
Ada suatu ucapan terimakasih yang pernah menyentuh sebuah cerita utuh. Natalie merangkai sebuah kisah ruang persahabatan. Bukan hanya tentant dirinya dan Bee, namun juga sosok-sosok lain di sana. Natalie Bahkan cerita Kampus Fiksi, memiliki keterkaitan latar belakang salah satu tokoh. Bee, dia adalah peran ganda.
Di akhir kisah yang ditulis Natalie, membuatnya Bee bertemu lagi dengan kedua rekan masa lalunya, Mus dan Hajar. Anggaplah ini adalah promosi kedua ku pada lapak pribadiku sendiri. Jika berkenan, singgah lah kalian ke sebuah alur hidup, di platform tetangga sebelah berjudul "Room Nakama".
Sebuah ucapan terimakasih Natalie yang pertama sekaligus terakhir di sana...
__ADS_1
Kalian bukan tong penuh isi, namun tong kosong nyaring suaranya. Suara-suara yang tak terdengar telinga itulah diri kalian. Bukan suara-suara beruntun kasat mata. Apapun bentuknya, kalian semua adalah jingga di saat sore dan matahari di saat pagi*.
Selalu basah oleh air dan dihangatkan oleh surya. Untuk Ahmad dengan cerita Kampus Fiksinya, menjadi ide aku menulis cerita Room Nakama. Tokoh Misterius seperti Bee dengan segala bentuk masa lalunya. Membuatku memilihmu, agar jadi tokoh di balik layar sebagai penghubung sahabat-sahabat Room Nakama. Aku menanyakan identitas itu sebagai sebuah petunjuk terbaik. Kau dan aku sebetulnya satu. Kau menulis di luar dari cerita ini, begitupun aku. Kau di suatu keadaan memerankan diriku, begitupun sebaliknya.
Dari Abi yang sedang di Mandalika, Lombok. Ia berkata padaku, bagaimana kesehatan pikiranmu hari ini? Itu saja. Sederhana dan bahagia. Dari balik penutup mulut itu, dari apa yang kalian lihat ... bagaimana? Apakah kamu lelah? Katanya kamu masih punya mimpi? Katanya kamu punya orang yang disayangi? Aku ke Mandalika bersama para pendidik lain, berkolaborasi dalam kehangatan hidup. Sebuah kampus fiksi.
__ADS_1
Kami bisa mencintai diri kami lebih baik hari ini dalam sekejap. Dalam "Kampus Fiksi". Berkunjung ke masa lalu Bee yang bergema ke Room Nakama. Dia luar biasa sekali. Mbak Mira yang budiman dan suka berbicara. Kita bisa melihat beberapa nyawa cerminan pribadi secara umum darinya. Kita bisa berasa keren hanya sekedar menjadi pendengar yang baik.
Kalau kita ingin melanjutkan sebuah cerita yang baik, kurasa ... melihat cerminan positif berwujud manusia itu adalah hal terbaik hari ini. Ngomong-ngomong, sahabat-sahabatk apa kabar? Apa cerminan positif yang kalian dapatkan hari ini? Dari Abi, Bee-ku, seorang promotor yang baik.