
Wangsit terlahir sebagai ide utuh tak kasat mata. Kita bisa mencarinya di mana saja tanpa malu-malu. Bahkan ucapan orang bisa saja jadi Wangsit paling berkesan. Seperti misalkan ucapan seorang Mbah Dukun ketika komat-kamit, gerakan komat-kamit membutuhkan pemahaman.
Pemahaman bahwa hal itu juga merupakan sebuah ide yang berasal dari sebuah identitas. Kupu-kupu juga mengerti cara komat-kamit. Meski kita tak melihatnya, kita bisa percaya kalau hal itu benar. Tetapi di sisi lain, kita juga bisa percaya kalau hal itu juga tak sepenuhnya salah.
Ulat saat berada dalam kepompongnya, pastilah berdoa kepada Tuhannya dengan gerakan bibir hewani. Itulah komat-kamit versi ulat, agar Tuhan membantu persiapannya menuju dunia kebebasan. Ada juga hal lain selain komat-kamit. Lebih lucu, kematian. Kita terpaksa mengucapkan sesuatu hal yang tak sempat terpikirkan, tak sempat dipersiapkan, tak sempat pahami bentuk kedatangannya, dan kita hanya berupaya untuk merasa baik-baik saja dalam kepasrahan.
__ADS_1
Merasa mencintai dia yang tak bisa mengelak rasa kasihan. Dia, yang selalu kita sebut namanya dalam ritual doa-doa di malam dingin. Dia, yang hadir pernah bergetar sesaat di dalam teras hati. Dia, yang meskipun kita ketahui bukanlah takdir, namun kita selalu terisi harapan bisa hidup bersama di kehidupannya selanjutnya.
Kita rindu sosok itu. Rindu, rindu, dan teramat tak bisa untuk tak rindu. Aku menginginkan hak-hak baik seperti jatuh cinta. Sayangnya, kekosongan hati dan utuhnya memori pikiran, bisa selalu bertabrakan. Kita jadi sulit menentukan langkah awal antara karir dan cinta. Kita kesulitan menembus ruang-ruang asmara dan kamar-kamar cita-cita.
Semua kekhawatiran tentang masa depan di batang otak bagian imaginasi, sering membohongi kita dan berkata kalau dunia adalah penjara. Padahal segalanya tergantung sudut akal dan cara hati kita memandang.
__ADS_1
Hari ini aku bahkan memandang seseorang bernama Millea. Dia hidup sebagai sesuatu kekosongan yang harus kuisi. Harus kuakui sebagai belahan bulan di langit shubuh. Yang sesekali masih terlihat dan masih ingin butuh pengakuan dari lapisan tanah dan para pepohonan di Bumi. Saat bulan marah, keinginan untuk diakui itu hilang.
Memudar mengikuti bagian tubuhnya yang kehilangan cahaya surya. Ia menjadi merah, mengomel-ngomel di atas sana, dan berterus-terang pada bumi dengan waktu yang lebih lama dari biasanya. Satu-satunya kesempatan bagi bulan untuk curhat pada bumi dan menjadi hantu cantik itu.
Millea seperti bulan itu. Aku perlu melindungi kadar emosionalnya. Ia harus sehat, tegar, dan lugas. Persis seperti ketulusan bulan yang selalu ingin terbuka pada bumi. Maka Millea adalah wangsitku. Kalian punya wangsit yang berbeda? Kopi? Jalan-jalan? Petualangan? Obrolan hangat? Ya, aku memahami itu. Kalian adalah aku dan aku belum tentu adalah kalian. Saat aku jatuh sakit, Millea menjadi sumber inspirasiku untuk bangkit, berkarya, berperan, dan mencari wangsit lainnya.
__ADS_1