Kampus Fiksi

Kampus Fiksi
PROSA: Kembali ke Rumah


__ADS_3

Ternyata, setelah berhari-hari hidup tanpa pikiran, kita jadi tak bisa menomor duakan perasaan. Sejumput dirimu dan diriku di sini, beradu langkah dan cara-cara agar tetap terlihat menarik. Kita yang lupa caranya bahagia. Kita yang lupa cara mengapresiasi diri sendiri.


Terkadang terlalu besar keinginan untuk berhenti, daripada mengecas diri. Kita memaksa diri terlalu berani. Uji nyali yang tak pernah bertepi dan terpungkiri rasa percaya diri. Mengikis diri seolah-olah menjadi manusia yang hobi bunuh diri.


Aku yang selalu berkata padanya, "Masak perasaan kita saja biar Matang dan siap saji. Demi tersedia di nutrisi untuk piring masa depan kita. Duduk di atas meja asmara dan beradu sendok suka dan duka. Saling melukis senyum dan goyang-goyang pinggul di pagi hari. Berakhir pada muara kalimat aku mencintaimu."

__ADS_1


Apa bisa kita begitu? Hari ini bahkan kamu tak lagi di sini. Aku sudah tahu tak ada yang bisa kamu bongkar lagi di rumahku. Barang-barangku sudah kamu bawa semua ke rumah baru. Aku sering mengetuk-ngetuk pintu rumah saat pulang. Entah kenapa aku diusir. Aku berpikir itu rumahku, tenyata bukan.


Kamu di mana saat itu? Kenapa bukan kamu lagi yang membuka pintu? Wujud kamu tak berubah, tapi entah kenapa kamu terlihat tak lagi sama. Aku mengiba di hari kedua hingga ketiga kemudian. Jalan-jalan ke kolong jembatan, mencari pasir-pasir yang basah di pinggiran sungai, dan mengobrak-abrik batu-batu kecil di dalam pasir itu.


Meski hidup seperti itu adalah hidup yang membosankan, setidaknya Tuhan tak pernah mengkhianati. Aku pun berusaha untuk tidak lari dari-Nya. Ia yang selalu menemaniku, menciptakan rumah baru, dan membuatku merasa kalau rumah ku tak pernah hilang. Cukup aku saja yang kamu usir dari kolom komentar. Biarkan dia yang dulu kita jaga, tetap menjadi moderator di dalam ruangan rumah itu.

__ADS_1


Kamu tak sejahat itu, kan? Ayolah, kamu pasti bisa seperti dulu lagi. Bukankah kita sudah saling memaafkan tanpa harus memberi ujaran. Iya, kan? Aku benar, kan? Aku bahkan merasa kekurangan keburukan di wajah satu kwintal. Kau yang di masa ini terlihat over dosis kecantikan. Aku memandang kamu mulai sama lagi. Ya, putih seperti piring dapur kita dulu.


Hari-hari besar mustahil rasanya bila tidak ada komentar. Maka aku mengkritik rumah baru yang kamu singgahi. Yang dulu pernah jadi rumah kita bersama. Kamu mencurinya dengan kelembutan. Aku yang bodoh atau kamu yang tak peka. Aku memberikan segalanya pada mu yang tak bisa mati tanpa hadir ku.


Rumah itu sayangnya kulihat kering. Apakah kamu tak pernah menanam pohon di depan halamannya? Kamu jahat juga, ya? Bunga-bunga pun tak ada aku dapati. Tega. Itulah dirimu. Cukup aku saja yang kamu jadikan film drama. Bukankah harusnya kita mulai berperan memainkan film itu? Sebuah drama rumah tangga. Sebuah drama yang dibintangi oleh piring dan sendok kita berdua di meja. Kurasa, kita memang harus kembali ke rumah.

__ADS_1


__ADS_2