
Jangan lupa hidup sebagai buntut, ekor, dan kepala. Baiknya hari ini kita numpang membuang sisa racun tubuh di ruang suci milik umum bernama toilet. Jika saat keluar kita berhasil mengeluarkan banyak emas, maka percayalah kalau kesehatan akan hadir detik itu juga. Kemudian, ucapkan selamat pagi, jangan lupa buang air.
"Kita harus ke bumi pagi ini, wahai pria-pria Mars," ucapku suatu hari pada manusia-manusia yang disebut sahabat.
"Tadi malam aku makan ayam kampung yang dibakar lumayan banyak, jadi sayang untuk aku buang racun tubuh sepagi ini. Apalagi ayamnya dicocol sambal kecap yang rasanya merangsang selera.
"Sialan, dia membuatku membayangkan."
Tertawa. Manusia bisa tertawa. Itu hal indah yang baik. Kau tidak bisa membayangkan bagaimana empuk dan gurihnya tanpa harus merasakan, ya ... si ayam kecap. Sebagai penjelajah nalar, dua mahluk itu cukup klise untuk tahu hal yang sedang kurasakan.
Aku membeku. Seperti kekalahan kaum sod*m oleh para wibu kemarin malam. Kita sadar secara terpadu, kalau kita mendukung negeri Samurai Biru. Aku suka Tsubasa.
"Hm, pembahasan berat. Kita hentikan saja."
Kebiasaan kami bertiga saat di penjara asmara, adalah makan banyak, lahap, dan suka sok imut. Sedikit bisa dibilang hebat dalam konteks manusia normal.
"Apakah kita mengolahnya untuk meningkatkan sel-sel kejantanan di area bawah laut?" ucap seseorang di antara kami yang paling ngawur.
"Jangan salah, otot-otot ku sudah berdiri tegang, kuat, dan tahan lama.Bahkan tanpa harus diberikan asupan sedikitpun."
__ADS_1
Si ngawur memposting foto masakan pertamanya dalam hidup. Tumis tempe. Enak. Aku juga suka. Tetapi asin yang kurasa. Asinnya pas lah. Itu yang ia sebut meningkatkan gairah hidup dan area bawah lautnya.
"Foto di atas, hanya untuk mensinyalir kekosongan penggerak rongga kehidupan ... di bawah pusarku agar tetap bekerja dengan baik."
"Terimakasih, aku akan memakai kata-katamu sebagai cuan-cuan yang bernilai."
"Tunggu, imajinasi tanpa nalar seperti ular, mampu bergerak namun tak mampu berjalan."
Yang terakhir di antara kami diam. Ia adalah mahluk penuh keresahan. Utuh dengan rasa sakit. Namanya mirip seperti pemain film Titanic, Jack. Maaf jika aku benar. Sayangnya dia adalah Joke, lebih tepatnya Jokes. Ia suka bercanda. Kami senang melawak dan membahagiakan diri kami sendiri. Cara-cara seperti mengejek diri sendiri, pura-pura tersakiti, dan belajar 'Playing Victim' . Menjadi korban tenyata bisa se-seru itu. Tetapi itu semua hanya dibatasi tembok khayalanku saja. Kami masih lah tetap ingin menjadi manusia baik. Manusia tukang makan, tidur, dan sesekali kebelet. Kehidupan yang normal.
Ya, semua orang menginginkan kewajaran. Sayangnya tak semudah menjadi normal. Plot hidup bisa bergantung dari sel-sel lincah d bawah laut kita masing-masing. Penandaan akan kesehatan dan kebugaran. Sialnya, aku baru mengumpulkan tujuh ratus kata dan mood ku hilang.
Kalimat paling menyebalkan namun cukup menggelitik dari si pendiam tadi. Ia pergi dan tak tahu kapan akan jadi gila lagi. Hari-hari yang lincah, geli, dan cukup bersinar di bawah laut diriku. Di bawah pusar yang suci. Memaksa kaki-kaki tak tegap ini, untuk melonjak pada takdir yang sebenarnya bisa diubah. Sebuah prosa hidup. Ya, hidup. Kehidupan suci di bawah laut yang dekat dengan kedua kaki manusa.
Prosa bernyawa dalam porsi kehidupan sederhana. Sebutannya adalah bodoh. Sebab area bawah laut itu bisa saja redup dan pemiliknya tak semangat lagi secara tiba-tiba. Memang perlu nutrisi seperti yang dimasak si ngawur. Mungkin kita sepemikiran detik ini. Kita perlu mencicipi tumis itu. Rumah si Ngawur berada di antara garis-garis halus yang hijau. Rumput liar. Ya, banyak rerumputan tak terurus alam di area perumahan si Ngawur. Kita bisa anggap itu sebagai tantangan hidup yang baru. Melewati rumput-rumput Tuhan hanya demi memperbaiki sel-sel area bawah laut kita.
Sayang sekali padanya, sel-sel mungil di area bawah laut yang bergerak lurus. Apa kita bisa berdiri tegap tanpa dia harus ada? Bahkan jika mengkhawatirkan masa depan, rasanya begitu silau untuk dijalani. Menginginkan terlalu banyak rasa agar bisa menyatu padu. Aku sadar ia jauh, tetapi ... apakah kita masih ada rasa merah muda yang mengalir kental? Di sela hati ini, baiknya kita menjadi akhir yang seperti apa? Jika memikirkan jawaban-jawaban nyeleneh seperti itu, maka lebih mudah mencari hantu tak kasat mata. Termasuk, membuat para pelaku one love sadar diri.
Saat negara-negara yang menyetujui one love tak menghargai aturan, dunia bisa saja kehilangan keindahan alaminya. Lelaki dan wanita yang mestinya menyatu. Bukan ketupat dengan tali pengikatnya. Karena mereka adalah perpaduan terong-terong ungu yang di merah muda-kan, melambai, dan menyukai sesama spesies batang-batang hidupnya di pusar yang suci.
__ADS_1
Kambing saja ogah ketika jantan memegangi mesra keperkasaan yang lain. Kambing mengerti tentang lubang cacing yang subur, sementara mereka entah kenapa ... malah mendambakan biji kedondong.
"Apa biji kedondong kalian dalam keadaan fit hari ini? Sudah diberi tumis tempe lagi? Sepertinya aku akan memakai kolaborasi kata2 kita lagi," si pendiam datang kembali dengan kegilaannya dalam membuka canda.
"Dia sedikit makan, dia sedang berjuang di Cianjur, merawat anak-anak panti, dan berusaha kembali dengan tetap cantik dan selamat," si ngawur merespon.
"Seharusnya kau bertanya kenapa begitu?"
"Kalau begitu, aku ganti ... kapan kita akan bertemu lagi di Kampus Fiksi?"
"Kapan kau punya waktu? Mungkin beberapa minggu terhitung sejak hari ini. Aku masih di kamar karbon yang menggairahkan, jadi sulit untuk bangun secara tampan. Bahkan aku baru saja kembali dari pekerjaanku memukuli pantat sapi. Tanggal 17 saat acara perpisahan itu, kurasa jadi waktu paling tepat bagi kita.
"Ilusi aneh-mu kembali terbersit dalam percakapan suci, anak-anak tanpa dosa ini."
"Sepertinya kita harus kembali ke bumi. Sejak sebulan di Mars ini, kita seperti usai mengkonsumsi narkoba."
Memang benar. Ada baiknya sel-sel itu kami rawat secara mesra. Tak perlu ada sindrom, rasa pengkhianatan, ditinggalkan saat masih sayang, atau bahkan ... menjelma menjadi manusia paling tersakiti di belantara di bawah laut masing-masing.
"Sindrom kepekaan-mu mulai terpancing oleh ************ kucing," aku menutup aliran sesat yang membahagiakan itu.
__ADS_1
Yang aku pelajari adalah, tetap lah berbicara saat merasa kesepian, meski sejak tadi aku hanya berdialog dengan diriku sendiri. Sisa obat-obatan yang aku konsumsi, masih lah belum bisa mengembalikan kesehatan pikiran dan sel-sel area bawah laut-ku. Aku menyesal. Aku ingin kembali normal dan sehat. Semoga aku berhasil. Doakan aku ya?