
Adit baru selesai menidurkan Arka dan Atta. Jam di ruang tengah menunjukkan pukul setengah sebelas malam.
Setelah memeriksa dan mengunci semua pintu serta jendela, Adit bergegas masuk ke kamar untuk menemui Liana. Semoga istrinya itu belum tidur.
Dan benar saja, Liana masih berbaring miring seraya memainkan ponselnya saat adit masuk ke kamar. Adit bersimpuh di hadapan Liana, lalu mengulurkan tangannya untuk membelai wajah Liana.
"Belum tidur?" Tanya Adit lembut.
"Belum mengantuk. Apa Atta dan Arka sudah tidur?" Liana balik bertanya.
"Ya, mereka sudah tidur," jawab Adit cepat.
"Aku punya hadiah untukmu," Adit menyodorkan sebuah kotak persegi berlapis kain beludru berwarna biru. Ada pita merah di atas kotak tersebut.
Liana bangun dari berbaring dan duduk di tepi ranjang.
"Apa ini, Adit?" Tanya Liana cepat.
"Hadiah untukmu. Selamat ulang tahun pernikahan yang ketujuh. Terima kasih karena sudah menjadi istri yang penyabar untukku," ucap Adit tulus seraya mengecup singkat bibir Liana.
Liana segera membuka kotak yang disodorkan oleh Adit tersebut. Dan mata Liana terbelalak tak percaya. Ada satu set perhiasan emas di dalamnya.
"Ini untukku?" Tanya Liana masih tidak percaya
"Iya, anggap saja sebagai permintaan maaaf atas sikap kasarku tempo hari. Aku benar-benar menyesal, Liana," Adit mengecup kedua tangan Liana.
"Aku juga minta maaf karena sudah menuduhmu yang bukan-bukan," sahut Liana dengan nada menyesal.
"Jadi, bisa kita memperbaiki hubungan ini sekarang? Kau tidak marah lagi kan kepadaku?" Sergah Adit menuntut.
Liana menggeleng cepat. Adit segera meraup Liana ke dalam pelukannya. Pria itu juga menciumi bibir Liana bertubi-tubi.
Suasana kamar yang remang-remang tak menghalangi langkah Adit malam ini untuk kembali mencumbu Liana. Sudah cukup lama, Adit tidak melakukan hal ini. Adit tentu saja merasa rindu menikmati tubuh sang istri yang kini sudah polos tanpa sehelai benangpun.
Liana sendiri seolah sudah lupa dengan semua sikap kasar serta pengkhianatan yang dilakukan oleh Adit. Dan sekali lagi, malam ini Liana hanya pasrah saat berkali-kali dicumbu oleh Adit. Liana seakan merasa silau dengan sikap romantis serta perhatian dari Adit.
****
Satu pekan berlalu.
Sikap Adit tidak ada lagi yang mencurigakan sejauh ini. Liana benar-benar bisa bernafas lega sekarang. Dan Adit juga selalu pulang tepat waktu. Setiap akhir pekan pun, Adit seharian dirumah mengasuh anak-anak dan menggantikan Liana mengerjakan semua pekerjaan rumah.
"Bulan ini aku cuma bisa ngasih segini, sayang. Tolong jangan marah!" Adit menyodorkan sebuah amplop coklat pada Liana. Hari ini memang jadwal Adit menerima gaji bulanan dari kantornya.
__ADS_1
Liana menghitung uang di dalam amplop tersebut. Ada tujuh lembar uang seratus ribuan di dalam amplop tersebut. Liana mengernyit tak mengerti.
"Bukankah cicilan di koperasi sudah lunas, Dit?" Tanya Liana curiga.
"Masih kurang satu tahun lagi, Liana. Dan itu sisanya aku bagi dua buat kamu separo dan buat aku separo. Tapi kalau jatah kamu kurang, ini untuk kamu semua saja," Adit mengeluarkan tujuh lembar lagi uang seratus ribuan dari dompetnya dan menyodorkan pada Liana.
"Tidak! Tidak usah! Itu untuk pegangan kamu kalau ada apa-apa nanti. Kamu bawa saja. Ini sudah cukup kok untuk satu bulan," tolak Liana cepat.
"Aku benar-benar minta maaf. Tinggal beberapa bulan lagi dan cicilan akan lunas. Setelah itu kamu akan kembali menerima gaji penuh, Liana," ucap Adit lagi dengan raut bersalah.
Liana hanya mengangguk pasrah.
Liana masih punya sedikit tabungan, jadi mungkin Liana akan memakainya sampai cicilan di koperasi lunas. Tak apa berkorban sedikit. Toh kemarin mereka mengambil civilan di koperasi memang tujuannya untuk renovasi rumah, bukan untuk hura-hura tak jelas.
"Saat aku melahirkan nanti, cicilannya sudah lunas, kan?" Tanya Liana dengan nada khawatir.
"Iya sudah. Hanya tinggal lima bulan lagi lunasnya. Menurut perkiraan kau akan melahirkan bulan lima tahun depan, kan?" Tanya Adit memastikan.
Liana mengangguk,
"Iya awal bulan lima kata bidan," sahut Liana cepat.
"Mandilah dulu kalau begitu. Aku akan menyiapkan makan malam," imbuh Liana lagi seraya berlalu masuk ke dapur.
****
Liana sedang mencari pena untuk mengisi sebuah formulir yang diberikan oleh pihak sekolah Atta. Semua laci di rumah sudah Liana periksa dan Liana masih belum menemukan penanya. Sesaat Liana ingat pada tas kerja milik Adit. Bukankah selalu ada pena di tas kerja Adit?
Baiklah, Liana akan meminjamnya sebentar.
Liana segera mencari tas yang biasa dibawa Adit saat pergi bekerja. Tak butuh waktu lama, dan Liana sudah menemukan tas tersebut di dalam lemari.
Ada beberapa kantung di tas kerja Adit tersebut. Satu persatu kantung Liana periksa untuk mencari keberadaan pena Adit.
Namun saat memeriksa kantung yang tersembunyi di bagian belakang tas, Liana terkejut mendapati sebuah ponsel di kantung tersebut.
Liana mengamati ponsel warna hitam tersebut.
Liana tentu saja hafal dengan ponsel yang layarnya sempat retak tersebut. Liana pernah membantingnya saat bertengkar hebat dengan Adit. Dan bukankah saat itu Adit bilang kalau ponsel itu sudah rusak total? Lalu kenapa Adit masih menyimpannya?
Drrrt,
Ponsel itu bergetar menandakan ada pesan yang masuk.
__ADS_1
Sedikit ragu, Liana membuka ponsel tersebut. Tidak di password.
Liana tercengang saat mendapati ponsel yang masih berfungsi dengan sangat baik tersebut. Bahkan layarnya juga sudah mulus dan tidak ada retak sedikitpun. Apa Adit sudah memperbaikinya?
Ponsel aku yang kemarin kamu banting rusak, aku udah tanya ke konter dan biaya perbaikannya mahal. Jadi aku buang aja ponselnya.
Aku membeli ponsel baru sekarang. Nomornya masih yang lama.
Kata-kata Adit satu tahun yang lalu tentang ponsel ini mendadak melintas kembali di kepala Liana.
Drrtt,
Ponsel kembali bergetar.
Liana membuka aplikasi chat berwarna hijau yang ada di ponsel tersebut.
Hanya ada satu riwayat chat disana. Dan itu atas nama Mela.
Liana tertegun tak percaya.
Jari Liana dengan cepat membuka riwayat pesan tersebut. Liana menyusuri dan membaca semua pesan yang dikirimkan oleh Mela ke ponsel tersebut. Dan sekali lagi, Liana harus menahan kemarahan yang sudah memenuhi hatinya.
Bukan hanya pesan yang dikirimkan Mela ke ponsel itu. Tapi ada beberapa foto Mela yang berpose tanpa busana serta rekaman suara desahan yang entah bermaksud apa. Ada juga foto Mela yang sedang berciuman mesra dengan Adit serta foto Adit dan Mela tanpa sehelai benangpun di atas sebuah tempat tidur.
Kaki Liana seolah tak mampu lagi menahan berat tubuhnya. Liana jatuh terduduk di atas lantai dan menangis terisak.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir hari ini.
Jangan lupa like, komen, dan vote 💕
SELINGAN
Buat yang suka kisah cinta bucin bisa mampir ke karya saya yang satunya "ISTRI UNTUK KEMBARANKU"
Ada pelakornya juga disana tapi cuma tipis-tipis.
__ADS_1