
[Aku ingin berpisah dari Mela. Tapi kemarin Mela baru saja melahirkan dan aku melihat wajah polos anak kami. Aku jadi tak sampai hati berpisah dari Mela,] -Andra-
[Kau pikir aku peduli? Kalau memang kau tidak jadi berpisah dengan istri kesayanganmu itu, nasehati dia agar tidak lagi mengganggu rumah tangga orang lain. Ajari dia agar jadi istri yang baik yang hanya mengurus suaminya sendiri bukan suami orang lain!] -Liana-
[Tdak usah sok-sokan menasehatiku. Aku tahu apa yang harus aku lakukan,] -Andra-
[Lakukan kalau begitu. Tidak usah ceramah atau sok-sokan curhat] -Liana-
"Gak laki gak perempuan, sama saja kelakuannya," Liana bergumam kesal. Wanita itu segera menghapus semua riwayat pesannya bersama Andra.
Liana melihat ke arah jam dinding yang tergantung di ruang tamu. Sudah hampir jam empat dan Adit belum pulang. Liana mau periksa ke bidan padahal. Kemana pria itu?
Tak berselang lama, suara motor Adit terdengar memasuki halaman rumah mereka. Panjang umur sekali pria itu.
Liana segera masuk ke kamar untuk berganti baju dan bersiap-siap. Saat Liana keluar Adit sudah menunggunya di depan kamar. Pria itu menyerahkan beberapa lembar uang dan ponselnya kepada Liana.
Sudah satu bulan sejak keduanya memutuskan pulang ke rumah ini dan memperbaiki semuanya dari awal. Dan sejak saat itu, Adit selalu memberikan semua uang hasil ngojol serta ponselnya pada Liana setelah tiba di rumah.
Liana yang tidak paham dengan maksud Adit hanya menerima begitu saja tanpa bertanya apa tujuan Adit. Sesekali Liana membuka ponsel Adit untuk memeriksa riwayat chat dan riwayat perjalanan. Sejauh ini tidak ada yang mencurigakan.
Adit benar-benar menghabiskan waktunya dari pukul tujuh pagi hingga pukul empat sore untuk ojek online. Tapi tetap saja, hati Liana masih tidak bisa percaya pada Adit. Liana masih terus beranggapan kalau Adit pasti masih menjalin hubungan dengan Mela entah melalui media apa.
Rasa percaya Liana ke Adit seperti sudah menguap tak bersisa.
Dan sampai sekarang meskipun Liana dan Adit tinggal di dalam satu rumah, Liana hanya bersikap cuek dan dingin pada Adit. Hanya saat di depan anak-anak saja Liana akan pura-pura bicara pada Adit, meskipun dalam hati Liana masih merasa jengkel.
Dan Adit sikapnya seperti orang salah tingkah, sejak kejadian penyiraman air yang dilakukan oleh bu Haryo. Setiap pagi sebelum berangkat ngojek, Adit akan mengerjakan semua pekerjaan rumah dan memasak sarapan.
Dan sore hari sepulang ngojek, Adit juga yang akan memasak untuk makan malam. Liana sangat jarang turun ke dapur satu bulan belakangan. Padahal Liana tidak pernah meminta Adit melakukan itu semua, tapi pria itu sukarela melakukan semuanya.
Adit seperti memendam penyesalan yang mendalam dan tidak tahu lagi bagaimana harus minta maaf ke Liana.
"Mau kemana, Liana?" Tanya Adit saat melihat sang istri sudah berpenampilan rapi dan siap pergi.
"Mama! Mama mau kemana?" Atta yang baru saja datang dari teras ikut bertanya pada Liana.
__ADS_1
"Mama mau pergi ke bidan dulu buat di suntik. Atta di rumah ya, sama papa," Liana hanya menjawab pertanyaan Atta dan mengabaikan pertanyaan dari Adit.
"Aku antar, ya?" Tawar Adit yang pertanyaannya belum di jawab oleh Liana.
"Aku bisa sendiri," sahut Liana cepat.
"Tolong beri aku kesempatan, Liana! Izinkan aku mengantarmu periksa kali ini," pinta Adit seraya mencekal tangan Liana dan sedikit memaksa.
Dengan cepat Liana menyentak cekalan tangan Adit dan menatap tajam ke arah pria tersebut.
"Aku mohon," pinta Adit sekali lagi dengan raut wajah memelas.
Liana menghela nafas,
"Baiklah, terserah!" Ucap Liana akhirnya.
Liana, Adit, dan kedua anaknya akhirnya berangkat ke bidan sore itu. Mereka mampir sebentar ke rumah orang tua Adit untuk menitipkan anak-anak.
****
Liana dan Adit masih menunggu antrean, saat ponsel Adit yang tak sengaja terbawa di dompet Liana berbunyi. Liana membuka pesan yang masuk.
Ada sebuah pesan dari nomor baru. Namun ada nama Mela di belakang pesan tersebut. Tentu saja Liana sudah bisa menebak itu pesan dari siapa.
Tak berselang lama, ada kiriman foto bayi yang sepertinya baru berumur beberapa hari.
Adit yang ikut melihat pesan dari Mela tersebut segera mengambil ponselnya dari tangan Liana. Pria itu dengan cepat menghapus pesan Mela beserta foto bayi Mela. Adit juga langsung memblokir nomor baru tersebut di depan Liana.
Liana sendiri hanya melihat semua yang dilakukan Adit tersebut dengan ekspresi datar. Liana tak berucap sepatah katapun dan juga tidak menunjukkan ekspresi marah. Adit mengembalikan ponselnya lagi pada Liana.
"Ibu Liana!" Suara bidan terdengar dari dalam ruang periksa.
Bergegas Liana masuk dan Adit mengekori istrinya tersebut.
Bu bidan segera memeriksa Liana dengan teliti. Dan Adit hanya menyimak dalam diam.
__ADS_1
"Mau USG sekalian, Bu? Biar bisa tahu jenis kelaminnya," tawar bu bidan ramah.
"Tidak usah,"
"Iya, Bu bidan,"
Adit dan Liana menjawab bersamaan dengan jawaban yang berbeda.
"Jadi bagaimana? Mau USG atau tidak?" Tanya bu bidan sekali lagi.
"Iya, Bu!" Jawab Adit cepat sebelum Liana sempat buka suara.
"Mari, Bu Liana!" Bu bidan membimbing Liana untuk berbaring dan mulai melakukan USG.
"Wah, yang ini cewek," ucap bu Bidan saat sedang melakukan USG pada kandungan Liana.
"Bu bidan yakin?" Tanya Liana masih ragu.
Berbeda dengan Adit yang kini wajahnya sudah berbinar senang.
"Iya, Bu. Ini terlihat jelas sekali. Semuanya juga bagus. Tinggal tunggu tanggal HPL nya saja. Tetap jaga kesehatan ya, Bu," pesan bu Bidan seraya mengakhiri memeriksa Liana.
"Terima masih banyak, bu bidan," basa-basi Liana sebelum berpamitan dan keluar dari ruangan bidan tersebut.
Wajah Adit masih terlihat berbinar bahagia hingga mereka meninggalkan klinik tempat periksa. Dan sepanjang perjalanan Adit tak berhenti berceloteh tentang semua rencananya yang katanya ingin menyiapkan kamar untuk anak ketiganya nanti, dan entah apa lagi yang di ceritakan Adit. Liana tidak terlalu memperhatikan.
Sudah sejak lama memang Adit ingin memiliki anak perempuan.
.
.
.
Besok UP episode terakhir.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir hari ini.
Jangan lupa like, komen, dan vote 💕