
Liana sebenarnya masih percaya tidak percaya dengan perkataan ibu Adit tentang dukun atau jampi-jampi itu yang dikirim Mela untuk Adit. Mana mungkin sebuah jampi-jampi bisa membuat Adit tergila-gila pada Mela?
Sebuah panggilan dari nomor asing masuk ke ponsel Liana. Dengan cepat Liana mengangkatnya.
"Halo, ini siapa ya?" Sambut Liana setralh telepon tersambung
"Halo, Liana. Ini Ibu Mirna, ibunya Mela," jawab suara diseberang telepon.
"Iya, bu Mirna. Ada apa?"
"Ibu ingin meminta maaf sekali lagi tentang kelakuan Mela selama ini yang sudah mengganggu rumah tangga kamu dan Adit," ibu Mirna menjeda kalimatnya.
"Mulai sekarang ibu akan mengawasi Mela dengan ketat. Ibu malu dengan tingkah Mela yang keterlaluan itu. Kalau Mela masih mengganggu rumah tanggamu dan Adit, kamu bisa melapor pada ibu." Lanjut ibu Mirna.
"Tapi detik ini juga ibu menjamin kalau Mela tidak akan menjalin hubungan apa-apa lagi dengan Adit," pungkas ibu Mirna dengan suara tegas.
"Saya percaya pada ibu," jawab Liana singkat.
"Yasudah, ibu tutup dulu teleponnya" pamit ibu Mirna.
"Baik, Bu," telepon terputus.
Liana kembali merenung memikirkan kata-kata ibu Mirna. Semoga semua perkataannya benar. Semoga setelah ini Mela dan Adit tidak menjalin hubungan kembali.
****
Tengah malam yang sunyi,
Braak!!
Pintu depan rumah pak Haryo di dobrak dengan kasar.
"Dimas!!" Suara Adit menggema di ruang tamu yang tidak terlalu luas tersebut.
Dimas dan Pak Haryo yang masih begadang menonton bola tentu saja terkejut dengan kehadiran Adit yang mendobrak pintu depan. Dengan tergopoh-gopoh keduanya menghampiri Adit yang wajahnya merah padam mdnahan amarah.
Adit yang melihat Dimas, langsung mrnghampiri adiknya terebut dan mencengkeram kerah baju Dimas,
"Berani-beraninya kamu menculik Mela dan menuduhnya yang bukan-bukan. Memangnya kamu itu siapa?" Bentak Adit kasar.
"Aku adikmu, Mas," jawab Dimas seakan tidak punya rasa takut.
"Adit! Lepaskan adikmu!" Bentak Pak Haryo yang berusaha melepaskan cengkeraman tangan Adit yang kini sudah ganti mencekik leher Dimas.
__ADS_1
"Sadar, Adit! Sadar!" Teriak pak Haryo yang mulai hilang kesabaran.
Disaat bersamaan, bu Haryo datang tergopoh-gopoh dari arah ruang tengah membawa sebaskom air.
Byuuur!!
Bu Haryo menyiramkan air yang ia bawa ke wajah Adit hingga anak lelakinya itu basah kuyup.
Serta merta, Adit langsung melepaskan cengkeraman tangannya di leher Dimas. Pria itu terlihat kaget dan menatap linglung ke arah bapak, ibu, serta adiknya.
Dimas sendiri sudah menjauh dari Adit.
"Sadar, Adit! Sadar kamu!" Bu Haryo menampar pipi Adit berulang kali. Namun anak lelakinya tersebut hanya diam seolah tak ingin melawan.
Liana yang menyaksikan semua adegan itu juga hanya berdiri mematung di ambang pintu kamarnya. Liana masih tak mengerti dengan sikap kasar Adit yang langsung lenyap setelah bu Haryo menyiramnya dengan sebaskom air.
Apa itu air doa yang diberikan Mbah kemarin?
"Mama!" Suara Arka dari dalam kamar langsung membuyarkan lamunan Liana.
Buru-buru Liana masuk kembali ke kamar dan mengunci pintu kamarnya. Liana tidak mau kedua anaknya melihat Adit yang sedang kacau dan dimarahi oleh Pak Haryo dan Bu Haryo.
"Apa papa sudah pulang, Ma?" Tanya Arka yang matanya masih terpejam.
"Belum. Arka bobok lagi, ya! Mungkin besok papa baru pulang," jawab Liana berusaha membujuk Arka.
****
Keesokan paginya,
"Horee! Papa sudah pulang!" Teriakan girang dari Atta dan Arka terdengar dari arah ruang tamu.
Liana yang sedang membantu bu Haryo menyiapkan sarapan, memilih untuk cuek dan terus melanjutkan aktivitasnya. Sejak semalam, Adit memang tidur di kursi ruang tamu.
"Liana," entah sejak kapan, tapi tahu-tahu Adit sudah berdiri di belakang Liana.
Suara Atta dan Arka sudah tak lagi terdengar
"Apa?" Jawab Liana tanpa menoleh atau melihat ke arah Adit.
"Aku ingin bicara," ucap Adit yang masih berdiri di belakang Liana.
"Bicara saja! Aku akan mendengarkan," jawab Liana yang masih melanjutkan aktivitas menggoreng tempe.
__ADS_1
"Bukan disini, aku ingin bicara di kamar. Ini soal kelanjutan rumah tangga kita," ucap Adit lagi, kali ini dengan nada yang terdengar tegas.
Liana mengecilkan api di kompor dan menoleh ke arah Adit.
"Apa bedanya kita bicara disini dan di kamar? Toh disini juga sedang tidak ada orang. Ibu sedang ke warung," cerocos Liana yang mulai terlihat kesal.
"Aku ingin memperbaiki hubungan kita. Berikan aku kesempatan lagi, Liana!" Pinta Adit dengan nada memohon.
"Kau ingin berapa kesempatan lagi? Aku sudah menjadi wanita paling bodoh di dunia ini karena terus-terusan memberimu kesempatan untuk tobat tapi kamu selalu dan selalu mengulangi kesalahanmu. Aku itu sudah capek, Dit!" Ujar Liana seraya berdecak berulang kali.
"Kalau bukan karena Atta, Arka, dan anak di perutku ini, mungkin aku sudah pulang ke rumah bapak ibuku sekarang dan tak akan peduli lagi kepadamu. Terserah kamu mau kawin dengan Mela atau dengan wanita j*lang lainnya. Terserah!" Liana mengeluarkan semua uneg-uneg di hatinya.
"Aku sampai malu dengan bapak ibuku karena kelakuanmu yang seperti tidak pernah ada kapoknya itu. Kalo sekarang bapakku tahu kamu itu selingkuh lagi dengan Mela, mungkin kamu sudah dihabisi sama bapakku," imbuh Liana lagi yang seakan belum selesai mengeluarkan uneg-uneg di hatinya.
Dan Adit hanya diam tertunduk seperti seorang bocah yang sedang dimarahi oleh ibunya.
"Jika sekarang kamu memang benar-benar ingin berubah, buktikan! Tidak perlu minta kesempatan terus menerus. Buktikan saja langsung semuanya kepadaku!" ucap Liana lagi dengan nada tegas.
"Akan kubuktikan asal kau juga mau berjanji satu hal kepadaku. Berhentilah membahas tentang Mela!" Adit mengajukan syarat.
"Aku dan Mela sudah tidak ada hubungan apa-apa. Kau boleh memeriksa ponselku, kau boleh memeriksa semua akunku, aku sudah memblokir semua kontak Mela dari ponselku," imbuh Adit dengan nada bersungguh-sungguh.
Liana menghela nafas,
"Kalau memang kau sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan Mela, buktikan saja! Kalau memang kau sudah benar-benar berubah dan tobat, buktikan! Jangan hanya bicara dan sok-sokan mengajukan syarat!" Sahut Liana ketus
Adit mengangguk dengan cepat,
"Aku akan membuktikannya kepadamu," ucap Adit bersungguh-sungguh.
Liana tak menjawab lagi dan lanjut memasak.
"Kita pulang ke rumah sore ini, ya!" Ajak Adit selanjutnya.
"Terserah kau saja," jawab Liana dengan nada malas.
"Aku akan bicara pada bapak dan ibu," ucap Adit seraya berlalu keluar dari dapur. Liana tak lagi menggubris pria tersebut dan memilih untuk berkutat dengan bahan-bahan masakan di atas meja dapur.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir hari ini.
Jangan lupa like, komen, dan vote 💕