
"Liana?" Sebuah sapaan dari seorang wanita paruh baya membuat Liana menoleh kaget.
"Liana, kamu sedang apa di sini bersama anak-anak?" Tanya wanita paruh baya itu lagi.
"Budhe Nanik," Liana bergumam pelan dan segera mencium dengan takzim punggung tangan wanita paruh baya tersebut.
Budhe Nanik adalah kakak kandung dari ibu Liana. Dan Liana baru ingat kalau budhe Nanik memang tinggal di kawasan ini.
"Kamu sama siapa ke sini, Liana? Suami kamu mana?" Cecar budhe Nanik seraya duduk di samping Liana.
Liana terlihat salah tingkah dan bingung harus menjawab apa.
"Liana hanya sedang jalan-jalan di daerah ini, Budhe," ujar Liana sedikit tergagap.
"Jalan-jalan? Tapi ini kenapa bawa tas besar begini?" Tanya budhe Nanik lagi yang sepertinya merasa curiga.
"Itu...eh..." Liana terlihat salah tingkah.
"Mama! Kita jadi pulang, kan setelah ini?" Atta yang dudah menghabiskan makanannya kembali merengek ke Liana.
"Iya, Sayang. Nanti kita pulang," jawab Liana seraya mengusap kepala Atta.
"Atta main ke rumah eyang dulu, mau?" Budhe Nanik tiba-tiba ikut menimpali dan berusaha membujuk Atta.
Sepertinya wanita paruh baya tersebut sudah bisa menebak apa yang terjadi pada Liana dan kedua anaknya.
"Rumah eyang di mana?" Tanya Atta yang terlihat antusias.
"Gak jauh kok, dari sini. Nanti di sana banyak teman dan Atta bisa main mobil-mobilan juga," jawab budhe Nanik seraya membawa Atta ke pangkuannya.
"Atta mau eyang. Atta mau," sahut Atta yang langsung meloncat-loncat senang di pangkuan budhe Nanik.
"Ayo! Kamu istirahat juga di rumah budhe. Kasian anak-anak kamu ini, Liana," bisik budhe Nanik pada Liana yang terlihat melamun di sebelahnya.
"Baik, budhe," Liana mengangguk patuh dan segera membayar makanannya.
Setelah itu, Liana mengikuti budhe Nanik pulang kerumahnya.
****
__ADS_1
Sampai di rumah budhe Nanik, Liana dan kedua anaknya segera membersihkan diri dan beristirahat sejenak. Atta dan Arka juga langsung tertidur pulas. Mungkin dua bocah tersebut benar-benar lelah mengikuti Liana berkeliling kota seharian.
Liana duduk di kursi ruang tengah bersama budhe Nanik. Seraya terisak, Liana menceritakan semua kronologi kejadian hingga Liana bisa sampai ke daerah ini.
Budhe Nanik yang mendengar cerita Liana hanya bisa menahan geram di hatinya sambil tak berhenti memeluk keponakannya tersebut.
"Dulu, bapak ibu kamu kan juga sudah melarang kamu menikah dengan Adit. Budhe juga sudah mewanti-wanti kamu buat gak buru-buru menikah dengan Adit. Tapi kamunya keras kepala. Gak mau dengar kata orang tua," ujar Budhe Nanik menghakimi.
"Dulu Adit itu baik, Budhe!" Sergah Liana yang masih bersikeras membela Adit.
"Dulu, saat masih kere dia baik. Sekarang pas kerjanya udah mapan dia selingkuh juga kan?" Timpal budhe Nanik dengan nada sinis.
"Kamu sudah memberitahu keluarganya Adit tentang perselingkuhan Adit ini?" Tanya budhe Nanik lagi.
Liana menggeleng.
"Trus ini kamu maunya bagaimana sekarang? Bapak ibu kamu sudah tahu belum?" Tanya budhe Nanik sekali lagi.
"Bapak ibu belum tahu. Tolong budhe jangan memberitahu mereka. Liana takut kalau bapak ibu jadi sedih," pinta Liana seraya tertunduk sedih.
Budhe Nanik menghela nafas,
"Cepat atau lambat bapak dan ibu kamu pasti akan tahu, Liana. Feeling orang tua itu lebih kuat dari yang kamu kira," ujar budhe Nanik seraya menerawang.
"Tapi katanya saat ditanya, kamu selalu bilang kalau rumah tangga kamu dan Adit baik-baik saja," lanjut budhe Nanik lagi.
"Liana cuma gak mau membuat ibu dan bapak kepikiran, Budhe," timpal Liana seraya terisak.
"Ya sudah, sekarang begini saja," Budhe Nanik terlihat menghela nafas.
"Kamu bicara saja sama keluarga Adit. Kamu adukan itu semua kelakuan Adit yang sudah keterlaluan. Menurut budhe Adit itu sudah kebangetan, Liana. Dia itu sudah sampai menghamili istri orang. Kamu pisah saja sama Adit sekalian!" Ujar budhe Nanik panjang lebar yang sepertinya juga sudah jengkel dan emosi dengan cerita dari Liana.
"Kamu ada nomor keluarganya Adit tho? Ini, kamu hubungi pake ponsel budhe saja!" Budhe Nanik menyodorkan ponselnya pada Liana.
Liana menyalakan ponselnya sendiri yang sejak pergi dari rumah Liana matikan. Ratusan pesan dari Adit langsung masuk ke ponsel Liana.
Liana tak menggubrisnya. Liana segera mencatat nomor dari Dimas yang merupakan adik Adit. Setelah itu Liana kembali mematikan ponselnya.
Liana menghubungi Dimas memakai ponsel budhe Nanik,
__ADS_1
"Halo, Dimas. Ini mbak Liana," ucap Liana cepat saat Dimas mengangkat panggilannya.
"Mbak Liana dimana? Mas Adit nyariin mbak dari pagi. Katanya mbak pergi sama anak-anak tanpa pamit," sahut Dimas khawatir.
"Mbak lagi di rumah budhe. Tolong jangan kasih tahu mas Adit kalau mbak disini," pinta Liana memohon.
"Mbak lagi ada masalah apa sama mas Adit?" Tanya Dimas penasaran.
Liana pun segera menceritakan semua kronologi kejadian tentang Adit yang selingkuh hingga selingkuhan Adit hamil.
"Mbak, kata ibu mbak Liana disuruh ke rumah dan nanti ibu sama bapak akan bantu menyelesaikan semuanya,"
"Besok pagi Dimas jemput ke tempat budhenya mbak Liana ya! Mbak Liana kirim saja alamat lengkapnya," pesan Dimas sebelum menutup telepon.
"Baiklah kalau begitu. Mbak juga pengennya ini masalah cepat selesai. Mbak sudah capek," ujar Liana seraya menyeka airmata di kedua pipinya.
Liana kembali ingat dengan semua pengkhianatan Adit yang sungguh menyakitkan.
"Yaudah, mbak Liana ustirahat saja dulu malam ini. Besok pagi Dimas yang jemput mbak Liana kesana," pungkas Dimas akhirnya menutup panggilan Liana.
Liana segera mengembalikan ponsel budhe Nanik.
"Jadi bagaimana keputusannya? Mertua kamu ngomong apa?" Cecar budhe Nanik tak sabaran.
"Bapak dan ibu Adit minta Liana kerumahnya, Budhe. Dimas akan menjemput Liana besok pagi," jawab Liana lirih.
"Iya itu sudah keputusan yang tepat, Liana. Besok kamu ceritakan semua kebusukan suami kamu itu pada mertuamu. Biar mereka juga gak nyalahin kamu. Kamu itu disini sebagai korban," cerocos budhe Nanik panjang lebar yang sepertinya juga ikut geregetan dengan tingkah polah Adit.
Liana hanya mengangguk.
"Sudah! Kamu istirahat sana! Ini sudah malam," perintah budhe Nanik selanjutnya.
"Baik, Budhe," ujar Liana patuh. Liana segera masuk ke kamar menyusul Atta dan Arka yang sudah terlelap.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir hari ini.
Jangan lupa like, komen, dan vote 💕