Kamu Selingkuh Aku Mendua

Kamu Selingkuh Aku Mendua
LIANA #29


__ADS_3

"Ini adalah kesempatan terakhir untukmu, Adit!"


"Jika sekali lagi kamu menyakiti putriku, aku tidak akan segan-segan untuk membunuhmu!"


"Seharusnya kamu itu bersyukur karena Liana masih memaafkanmu setelah pengkhianatanmu yang keterlaluan itu!"


Itulah kata-kata terakhir dari Pak Yanto sebelum Liana dan Adit meninggalkan rumah orang tua Liana tersebut. Masih lekat di ingatan Liana raut kemarahan di wajah sang bapak saat melontarkan kalimat-kalimat tadi.


Saat ini, Liana, Adit dan kedua anak mereka tengah dalam perjalanan menuju ke rumah orang tua Adit.


Rencananya, jika Adit dan Liana benar-benar sudah berdamai, kedua orang tua Adit akan melaksanakan "bangun nikah" untuk Liana dan Adit agar mereka berdua semakin rukun dan dijauhkan dari segala konflik ataupun masalah-masalah berat lainnya.


Liana sendiri memilih untuk diam dan menurut saja dengan semua rencana mertuanya tersebut.


Meskipun Liana sudah memaafkan Adit, tapi Liana tidak lagi kembali menjadi Liana yang dulu. Liana lebih banyak diam sekarang. Tapi kewaspadaan di hati Liana seperti sudah mendarah daging, meskipun sebenarnya perasaan Liana pada Adit sudah hambar.


Jika sekarang Liana masih bersama Adit, tak lain dan tak bukan adalah hanya demi menjaga perasaan kedua anaknya.


Acara bangun nikah sudah selesai di gelar dua hari yang lalu. Setelah berdiskusi dengan keluarga Adit, besok rencananya Adit, Liana dan kedua anak mereka akan kembali ke rumah mereka sendiri.


Adit sedang mengajak Atta dan Arka jalan-jalan sore.


Dan Liana hanya duduk termenung di ruang tamu di rumah keluarga Adit.


"Liana!" Bu Haryo yang baru datang langsung menegur Liana dan duduk di sebelah menantunya tersebut.


"Iya, Bu," jawab Liana singkat.


"Ibu cuma mau berpesan, kalau Adit berbuat macam-macam atau main serong lagi, kamu segera beritahu ibu, ya!" Ujar Bu Haryo seraya mengusap kepala Liana.


"Tapi mudah-mudahan Adit memang sudah benar-benar tobat dan melupakan wanita l*nte itu," imbuh bu Haryo lagi.


Liana mengernyit tak mengerti. Apa maksud ibu mertuanya ini?


Namun Liana memilih untuk tidak bertanya dan mengangguk saja.


"Liana juga berharap begitu, Bu. Semoga Adit benar-benar berubah setelah bangun nikah ini," ucap Liana menimpali kata-kata Bu Haryo.


****


Satu bulan berlalu.


Liana dan adit sudah menjalani rumah tangga dengan normal. Meskipun tak ada lagi kehangatan di rumah kecil mereka, namun setidaknya Liana dan Adit berusaha menjadi orangtua yang lengkap untuk Atta dan Arka.

__ADS_1


Dan selama satu bulan ini, Liana juga berusaha untuk bersikap cuek dan acuh saat di depan Adit.


Namun di belakang Adit, Liana tetap waspada dan terus memata-matai Adit bak seorang detektif. Kepercayaan menjadi harga mahal untuk Liana sejak pengkhianatan Adit yang berulang kali.


Liana masih terus mencari bukti barangkali Adit berselingkuh lagi di belakangnya. Namun kali ini Liana memilih untuk bermain halus dan cantik.


****


Hari Senin di minggu kedua bulan Februari,


Adit pulang dengan wajah tertunduk lesu. Papa dari Atta dan Arka itu juga pulang lebih awal dari biasanya.


Sampai di rumah, Adit langsung duduk di kursi ruang tamu. Pria itu diam membisu cukup lama. Entah apa yang sedang terjadi.


Liana menghampiri Adit seraya membawakan segelas air putih untuk suaminya tersebut.


"Apa semuanya baik-baik saja? Kenapa pulang cepat? Bukankah ini hari Senin?" Cecar Liana yang merasa penasaran dengan kondisi Adit.


"Aku di cut dari kantor mulai hari ini," jawab Adit yang masih tertunduk lesu.


'Apa?' Liana hanya bergumam dalam hati. Tentu saja Liana merasa shock. Namun sebisa mungkin Liana menyembunyikan rasa kagetnya tersebut.


"Aku pengangguran sekarang, Liana! Bagaimana kita akan hidup setelah ini?" Adit mendongakkan wajahnya dan menatap ke arah Liana. Sorot mata pria itu menggambarkan sebuah keputusasaan.


"Kita akan berhemat mulai sekarang, Dit! Gajimu bulan kemarin masih cukup jika untuk makan," ujar Liana yang berusaha untuk menenangkan Adit.


Adit mengusap wajahnya beberapa kali dengan kasar. Sepertinya pria itu benar-benar frustasi.


"Kamu masih bisa mencari pekerjaan lain, Dit!" Hibur Liana cepat.


"Pekerjaan apa? Situasi sedang seperti ini. Dimana-mana terjadi pengurangan karyawan," sahut Adit pesimis.


"Lagipula, perusahaan mana yang membuka lowongan di tengah situasi sulit seperti ini?" Imbuh Adit lagi yang semakin pesimis dan frustasi.


Liana menghela nafas,


"Yaudah, kamu tenangin diri kamu dulu dan jernihkan itu pikiran kamu. Rezeki gak akan kemana asalkan kita ada usaha," ujar Liana seraya beranjak dari tempat duduknya. Istri dari Adit tersebut masuk ke kamar dan meninggalkan Adit yang masih duduk frustasi di ruang tamu.


****


Setelah di-PHK oleh kantornya, Adit hanya di rumah sepanjang hari mengasuh kedua anaknya serta mengerjakan semua pekerjaan rumah. Mulai dari memasak, mencuci, menyapu, dan mengepel semuanya Adit yang mengerjakan.


Dan Liana juga tak mau terlalu ambil pusing. Mungkin Adit masih shock dengan PHK kemarin, jadi Liana juga tidak mau memaksa Adit untuk buru-buru mencari kerja.

__ADS_1


Di satu sisi Liana malah bersyukur saat tahu Adit di PHK oleh kantornya. Setidaknya sekarang Adit tidak punya celah lagi untuk berselingkuh atau main serong di belakang Liana.


Satu pekan setelah drama PHK, akhirnya Adit memutuskan untuk melakoni pekerjaan baru sebagai ojek online. Liana hanya bisa mendukung suaminya tersebut, apapun pilihannya.


Sebenarnya Adit berencana membuka usaha sendiri memakai uang pesangon dari kantornya. Sayangnya, uang tersebut tak kunjung cair sehingga mau tak mau Adit harus menunda rencananya.


Selain itu, ada dua anak dan seorang istri yang tengah mengandung yang harus Adit nafkahi, jadilah Adit akhirnya memilih untuk kerja ojek online seraya menunggu uang pesangonnya cair.


****


Liana menyambut kedatangan bu Yanto yang membawa satu karung beras ke rumahnya.


"Ini apa, Bu?" Tanya Liana sungkan.


"Beras untuk makan kamu dan anak-anak," jawab bu Yanto cepat.


"Ibu dengar Adit di PHK dari tempat kerjanya?" Tanya Bu Yanto memastikan.


"Iya, Bu. Adit di PHK dua minggu yang lalu," jawab Liana seraya tertunduk lesu.


"Trus sekarang dia dimana? Apa dia masih suka kelayapan dan main serong lagi?" Cecar bu Yanto dengan nada tidak senang.


"Lagi narik ojek, Bu. Udah seminggu ini dia ngojek. Meskipun hasilnya gak seberapa tapi adalah pemasukan setiap hari untuk jajan anak-anak," ujar Liana menjelaskan.


Bu Yanto hanya mengangguk.


"Ibu gak bisa lama disini, karena ada acara di tempat tetangga. Ini titipan dari bapak buat jajan anak-anak," Bu Yanto menyodorkan sebuah amplop pada Liana.


"Ini apa, Bu? Liana masih ada simpanan kok," Liana menolak dengan cepat.


"Udah, Liana! Terima saja! Uang simpanan kamu itu, kamu tabung untuk biaya melahirkan nanti. Sudah ibu pamit," bu Yanto langsung keluar dari rumah Liana dan meninggalkan rumah sang putri dengan cepat.


Liana bahkan belum sempat mengucapkan terima kasih.


Sejak Adit di PHK, orang tua Liana memang banyak membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga Liana dan Adit.


Liana sendiri sebenarnya merasa sungkan dan tak enak hati. Namun karena kedua orang tuanya memaksa, jadilah Liana juga tak kuasa untuk menolaknya.


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir hari ini.


Jangan lupa like, komen, dan vote 💕


__ADS_2