
"Cerai!" Ucap Pak Yanto dengan penuh emosi.
"Ceraikan saja laki-laki baj*ngan itu, Liana!" Sergah pak Yanto lagi masih dengan emosi yang meluap-luap.
"Bapak dan Ibu masih sanggup menanggung biaya hidupmu dan kedua anakmu itu!" Imbuh pak Yanto lagi.
Liana masih diam tertunduk di kursi ruang tamu.
Tadi pagi, setelah mengantar Liana dan kedua anaknya ke rumah ini, Adit langsung berangkat kerja.
Liana sudah menceritakan semua kelakuan Adit kepada sang bapak. Terang saja, Pak Yanto langsung murka setelah mendengar semua cerita Liana tentang tingkah polah Adit.
Andai Adit masih di rumah ini, mungkin pria itu sudah habis dihajar oleh pak Yanto.
"Tapi Adit sudah berjanji untuk berubah dan memperbaiki semuanya, Pak," sanggah Liana cepat yang malah membela Adit.
Hati Liana sudah sakit karena perselingkuhan yang dilakukan Adit, tapi bayangan kedua anaknya yang akan menangis jika Liana berpisah dengan Adit terus saja berkelebat di kepala Liana. Dan hal itulah yang akhirnya membuat Liana jadi membela Adit lagi.
"Janji?" Pak Yanto berkata sinis.
"Berapa kali Adit sudah berjanji kepadamu? Bapak yakin sudah berkali-kali. Dan pasti pria baj*ngan itu juga sudah mengingkarinya berkali-kali," imbuh pak Yanto seakan menyindir.
"Sudah! Jangan keras kepala lagi, Liana! Kamu pisah saja dari Adit!" Bu Yanto ikut menimpali dan memaksa Liana.
"Tapi bagaimana dengan Atta dan Arka, Bu? Mereka masih butuh kehadiran Adit," Liana kembali mencari alasan
"Belum lagi bayi yang sekarang ada di perut Liana. Tidak mungkin Liana membiarkannya lahir tanpa sosok seorang ayah," imbuh Liana lirih seraya tertunduk.
"Bayi? Kamu hamil lagi?" Sergah Bu Yanto cepat yang merasa terkejut dengan berita kehamilan Liana yang ketiga.
Liana mengangguk takut-takut.
Pak Yanto mengusap wajahnya sendiri dengan kasar. Sepertinya bapak dari Liana itu juga shock mendengar kabar kehamilan Liana.
"Mama!" Atta datang dari luar dengan tergopoh-gopoh.
"Kenapa, Atta?" Liana bersimpuh di depan Atta.
__ADS_1
"Kita nanti pulang ke rumah bareng papa lagi kan? Atta bisa tidur bareng papa lagi 'kan malam ini?" Tanya Atta dengan mata berbinar.
Hati Liana kembali sesak setiap kali Atta bertanya mengenai papanya seperti ini.
"Atta tidur di rumah kakek saja ya, mulai sekarang. Nanti Atta tidur di kamar bareng kakek," pak Yanto berusaha membujuk sang cucu agar tidak terus-terusan menanyakan papanya yang brengsek tersebut.
Atta menggeleng dengan cepat,
"Atta maunya tidur sama papa," sahut Atta seraya mencebik.
"Arka juga mau tidur sama papa malam ini," Arka yang kini sudah berdiri di dekat Atta ikut-ikutan menimpali dengan kalimat yang masih terbata-bata.
"Tadi papa bilang mau jemput Atta dan Arka kalau mama sudah telpon papa. Mama telpon papa sekarang, ya!" Atta menarik-narik baju Liana.
Lidah Liana terasa kelu sekarang. Wanita itu segera beranjak dan masuk ke kamarnya meninggalkan Atta dan Arka begitu saja.
"Kakek! Kakek telponin papa Atta sekarang ya! Atta mau pulang sama papa," Atta ganti memohon kepada sang kakek.
Pak Yanto hanya diam. Pria paruh baya tersebut berulang kali menarik nafas panjang sebelum mulai berbicara kepada kedua cucunya.
"Iya, nanti kakek telponin papa. Sekarang Atta dan Arka makan dulu, ya!" Bujuk pak Yanto penuh kesabaran.
Bu Yanto membimbing kedua cucunya tersebut untuk masuk ke ruang makan dan menyuapi keduanya dengan telaten.
Sedangkan Pak Yanto segera menyusul Liana ke kamarnya.
****
Liana menangis sesenggukan di kamarnya. Liana merasa bingung dan dilema. Liana ingin berpisah saja dari Adit, tapi hati kecil Liana mengatakan agar Liana memaafkan Adit sekali lagi.
"Liana," pak Yanto mengusap punggung Liana yang masih menangis.
"Bapak tahu, bagaimana perasaanmu saat ini. Pasti kamu merasa dilema dan berpikir untuk memaafkan Adit saja," imbuh pak Yanto yang seakan bisa membaca kegalauan hati Liana.
"Tapi hati Liana juga sudah sakit, Pak," cicit Liana di sela-sela isak tangisnya.
"Bapak tahu. Tapi kamu tetap harus mengambil sebuah keputusan," ujar Pak Yanto lagi.
__ADS_1
"Jika Liana memberi kesempatan satu kali lagi untuk Adit, apa bapak akan membenci Liana?" Liana berbalik dan menatap wajah keriput sang bapak.
"Keputusan ada di tanganmu, Liana. Kamu dan anak-anakmu yang akan menjalani semuanya," ucap Pak Yanto yang sudah terlihat pasrah.
"Bapak dan ibu hanya bisa berdoa agar kamu selalu diberi kekuatan untuk menghadapai badai rumah tangga ini," imbuh pak Yanto lagi.
"Liana hanya ingin rumah tangga Liana tetap utuh, Pak. Demi anak-anak. Meskipun hati Liana sudah hancur berkeping-keping. Tapi Liana juga tidak mau kalau hati Atta dan Arka ikut hancur karena Liana berpisah dengan Adit," ucap Liana yang kembali terisak.
"Bapak tahu. Ini memang pilihan yang sulit. Pilihan manapun yang akan kamu pilih, semua pasti ada konsekuensinya," timpal Pak Yanto yang ikut berkaca-kaca.
'Biarlah aku mengorbankan perasaanku ini demi Atta dan Arka. Semoga Adit benar-benar berubah dan melupakan Mela. Keutuhan rumah tangga ini akan tetap kuperjuangkan sampai titik darah penghabisan.' Liana bergumam dalam hati.
Keputusan yang diambil Liana sudah bulat sekarang.
Liana akan memberi Adit kesempatan satu kali lagi. Tapi Liana akan tetap menyimpan semua bukti perselingkuhan Adit dan Mela.
Semoga ini adalah keputusan yang tepat.
.
.
.
Liana bodoh
Liana bodoh
Liana bodoh
Silahkan yang mau mencak-mencak!
Silahkan yang mau stop baca!
Silahkan yang mau nurunin rate!
N**ext episode doa istri teraniaya dan reader yang mencak-mencak akhirnya dikabulkan**.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir hari ini.
Jangan lupa like, komen, dan vote 💕