
Liana masih terus memacu motornya membelah jalanan kota yang mulai padat oleh beberapa kendaraan. Sesekali ibu hamil itu menyeka airmata yang jatuh di pipinya tanpa permisi.
Liana masih terus memacu motornya tanpa arah dan tujuan. Sedari subuh Liana hanya berputar-putar dan tak tahu harus kemana.
Liana merasa bingung.
Liana sudah berusaha untuk tegar dan kuat, tapi kenapa airmata sialan ini seolah tak mau berhenti mengalir?
Semua chat antara Mela dan Adit seakan berputar-putar dan terus terbesit di kepala Liana.
"Mama!" Suara Atta yang membonceng di jok belakang membuyarkan lamunan Liana. Buru-buru Liana menepikan motornya ke tempat yang sedikit sepi. Arka yang duduk di bagian depan juga terlihat mengantuk sedari tadi.
Liana turun dari motor dan segera membantu Atta serta Arka untuk turun juga.
"Mama, kita mau kemana sebenarnya? Atta lapar dan ngantuk, Ma!" Keluh Atta seraya mengucek matanya beberapa kali. Hati Liana mendadak terasa sesak melihat wajah polos kedua putranya. Mata Liana sudah terasa panas sekarang. Liana ingin menangis, tapi sekuat tenaga Liana berusaha untuk menahannya.
"Atta lapar ya? Kita cari warung makan ya, Sayang," ucap Liana dengan sabar seraya mengusap kepala Atta.
Bocah enam tahun tersebut hanya mengangguk patuh.
Setelah kembali naik ke atas motor, Liana segera memacu motornya perlahan seraya mengedarkan pandangannya ke kiri dan kanan jalan untuk mencari warung makan yang sudah buka.
Berselang sepuluh menit, akhirnya Liana melihat ada satu warung makan yang sudah buka dan cukup ramai. Segera Liana membelokkan motornya ke arah warung makan tersebut.
Liana memesan makanan untuk dirinya dan kedua anaknya. Arka yang tadi sempat mengantuk dan tertidur di perjalanan, kini sudah ceria dan mengoceh banyak hal. Sangat berbeda dengan Atta yang hanya duduk diam seraya menunduk. Atta tak berbicara sepatah katapun, sejak masuk ke warung makan ini.
Ada apa dengan Atta?
Makanan yang dipesan Liana akhirnya datang.
Liana segera menyuapi Arka dengan telaten. Anak keduanya tersebut makan dengan sangat lahap. Mungkin Arka memang sudah kelaparan sedari tadi.
Liana ganti melihat ke arah Atta yang menyuap makanannya sendiri. Anak sulung Liana tersebut menikmati makanannya dalam diam. Atta juga masih menunduk dan melipat wajahnya sedari tadi.
"Atta, kamu kenapa, Nak?" Tanya Liana sehalus mungkin.
Atta hanya diam dan tidak menjawab.
"Atta," panggil Liana sekali lagi.
__ADS_1
Namun Atta tetap diam. Liana berpindah posisi ke samping tempat duduk Atta.
"Atta," Liana merangkul sang putra. Entah kenapa dada Liana tearsa sesak.
Atta mengangkat wajahnya. Langsung terlihat airmata di netra bocah enam tahun tersebut. Dada Liana yang sudah sesak semakain terasa sesak,
"Atta kenapa?" Tanya Liana dengan mata yang juga sudah berkaca-kaca.
"Kita mau kemana, Ma? Ayo kita pulang saja dan kembali ke papa!" Ucap Atta lirih nyaris tanpa suara.
Seketika tangis Liana langsung pecah. Liana memeluk erat anak laki-lakinya tersebut. Liana seakan tak peduli lagi dengan para pengunjung warung yang saat ini menatap aneh ke arahnya.
"Kita tidak bisa pulang sekarang, Atta. Kita akan mencari rumah baru setelah ini. Tapi mama janji kita bertiga akan tetap sama-sama," jawab Liana sambil masih menangis sesenggukan.
"Atta mau sama papa, Ma!" Ucap Atta lagi yang membuat air mata Liana turun semakin deras.
Apa Liana sudah egois memisahkan anak-anak ini dari papa kandungnya?
Tapi hati Liana juga sudah hancur jika harus bertahan bersama Adit dan semua pengkhianatannya.
Lima tahun menghadapi tingkah polah Adit yang selingkuh dengan Mela membuat hati Liana sudah lelah dan menyerah.
Atta mengangguk dan meneruskan makannya masih dengan raut wajah sedih dan tangisan yang belum reda.
Tak bisa dipungkiri kalau selama ini, Atta dan Arka memang sangat dekat dengan Adit. Meskipun Adit berkhianat dan berselingkuh di belakang Liana, namun pria itu adalah sosok ayah yang penyabar dan penyayang untuk kedua anaknya.
Mungkin hal ini juga yang membuat Liana berulang kali memaafkan Adit meskipun pria itu sudah berulang kali selingkuh. Semuanya demi Atta dan Arka
Setelah hampir satu jam beristirahat dan makan di warung makan tadi, Liana dan kedua anaknya melanjutkan perjalanan. Liana berniat mencari kontrakan atau kos-kosan saja untuk tempat bermalam bersama anak-anak.
Tapi ternyata semua tidak semudah bayangan Liana.
Beberapa pemilik kontrakan menolak Liana yang datang dengan dua anak tapi tanpa suami. Mereka mengira Liana bukanlah wanita baik-baik. Karena Liana juga lupa membawa kartu keluarga sebagai bukti kalau anak-anak ini adalah anak kandung Liana.
Liana keluar masuk ke beberapa kontrakan yang ada di kota tersebut, dan hasilnya hanya nihil. Hingga tengah hari, Liana dan kedua anaknya belum mendapatkan rumah kontrakan dan mereka juga sudah lelah.
Liana kembali mengajak kedua anaknya makan siang di sebuah warung yang mereka lalui.
Liana dan kedua anaknya sudah pergi terlalu jauh dari rumah mereka. Kini Liana benar-benar tak memiliki tujuan.
__ADS_1
Arka tertidur di pangkuan Liana saat menunggu pesanan makanan datang. Sepertinya bocah dua tahun tersebut benar-benar kelelahan.
Sementara Atta masih diam dan hanya memainkan sedotan yang ada di gelasnya.
"Atta?" Liana mencoba menegur Atta yang terlihat melamun.
"Apa kita tidak akan pulang lagi ke rumah, Ma?" Tanya Atta tiba-tiba. Airmata bocah enam tahun itu sudah jatuh di kedua pipinya.
"Maafkan mama, Sayang." Liana hanya bergumam dalam hati seraya menahan sesak di dadanya dan airmata yang mendesak ingin keluar.
Makanan yang dipesan Liana sudah datang.
"Atta makan dulu, ya! Nanti mama tanya ke orang dulu arah ke rumah karena mama lupa sama jalannya," bujuk Liana seraya berbohong pada Atta.
Anak laki-laki Liana tersebut hanya mengangguk dan mulai menyuapkan nasi ke mulutnya,
"Tapi kita nanti akan benar-benar pulang kan, Ma?" Tanya Atta lagi yang masih mengunyah makanannya. Sorot mata bocah itu menunjukkan sebuah permohonan.
Liana benar-benar dilema sekarang.
Haruskah Liana pulang lagi ke rumah dan berdamai dengan Adit demi Atta, Arka, dan anak dalam kandungannya?
Atau haruskah Liana berbohong pada kedua anaknya ini dan berpisah selamanya dari Adit?
Saat Liana sedang bergelut dengan pikirannya sendiri, tiba-tiba sebuah suara membuat Liana terkejut,
"Liana? Kamu sedang apa di sini bersama anak-anak?"
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir hari ini.
Jangan lupa like, komen, dan vote 💕
Sekali lagi, ini author bikin alur dan ceritanya sesuai dengan cerita dari narasumber. Jadi maaf author gak bisa belokin ceritanya sesuai kemauan reader karena ini kisah nyata dan bukan cerita sinetron ikan terbang.
__ADS_1