Kamu Selingkuh Aku Mendua

Kamu Selingkuh Aku Mendua
LIANA #32


__ADS_3

Menjelang sore, Liana baru sampai di rumah. Adit rupanya sudah terlebih dahulu sampai di rumah. Pria itu duduk seraya menyilangkan kakinya di kursi ruang tamu. Adit menatap marah ke arah Liana yang baru datang bersama anak-anak.


Liana memilih untuk mengabaikan tatapan penuh amarah dari Adit. Wanita hamil itu segera masuk ke dapur untuk menyiapkan makan malam dengan makanan yang ia bawa dari rumah bu Haryo.


"Darimana kamu?" Tanya Adit yang tiba-tiba sudah berada di belakang Liana.


"Dari rumah bapak ibu," jawab Liana tanpa menatap ke arah Adit.


"Apa kamu mengadu? Atau kamu menuduhku yang bukan-bukan di depan kedua orangtuaku?" Tuduh Adit cepat.


"Mengadu soal apa? Aku ke sana untuk silaturahmi dan mengunjungi orangtuamu," sanggah Liana mencari pembenaran.


Adit merengkuh bahu Liana dan memaksa istrinya tersebut untuk berbalik menghadap ke dirinya.


"Jangan kamu pikir aku tidak tahu! Kamu sudah membajak ponselku semalam, kan?" Sergah Adit dengan nada membentak.


"Kamu minta nomor ponsel Andra pada Mela. Memangnya kamu mau apa? Mau selingkuh dengan Andra?" Tuduh Adit sekali lagi seraya melayangkan tatapan tajam membunuh pada Liana.


"Tidak perlu memutarbalikkan fakta! Bukannya kamu yang masih selingkuh dengan Mela j*lang itu?" Sergah Liana yang juga membalas tatapan tajam Adit.


Adit terdiam.


"Jadi, apa sekarang kau akan berkata jujur tentang anak haram yang ada di perut Mela j*lang itu?" Sergah Liana dengan nada meninggi.


"Itu anakku!" Jawab Adit cepat.


"Itu adalah anakku," Adit mengulangi sekali lagi jawabannya sambil menekankan setiap kata yang dia ucapkan.


Liana diam mematung. Dada Liana terasa sesak. Tapi kali ini tidak ada airmata yang mendesak ingin keluar. Bukankah dari awal Liana sudah menebaknya?


"Dasar wanita tidak tahu diuntung!" Umpat Adit seraya menggebrak meja di hadapannya.

__ADS_1


Pria itupun berlalu meninggalkan Liana yang tetap berdiri mematung. Tak berselang lama, terdengar deru suara motor yang semakin menjauh.


Adit pergi dari rumah.


Liana yang seakan tersadar, langsung meraih ponselnya dan menghubungi Dimas. Mengabaikan sesak di dadanya, ibu dua anak tersebut menceritakan semua yang baru saja terjadi pada Dimas dan bu Haryo.


"Mbak tahu alamatnya Mela?" Tanya Dimas dari seberang telepon.


"Iya, mbak tahu. Mbak rencananya juga mau ketemuan sama suaminya Mela dan membongkar semua aib Mela," jawab Liana cepat.


"Yaudah, mbak kirim alamat Mela ke ponsel aku. Aku bakal buat perhitungan sama wanita l*nte itu," ujar Dimas geram.


"Kamu mau ngapain, Dim?" Tanya Liana khawatir.


"Ibu sama bapak yang mau buat perhitungan," sahut Dimas cepat.


"Mbak Liana kalau mau ketemuan sama suaminya Mela di tempat temenku aja jangan di rumah. Nanti mbak Liana tunjukkan sekalian itu foto-foto bugil Mela yang ada di ponsel mas Adit!" Imbuh Dimas lagi memberikan saran.


"Dan soal mas Adit, udah mbak Liana diemin aja! Gak usah dicari gak usah dihubungi. Besok habis ketemuan sama suaminya Mela, mbak Liana langsung kesini aja. Ibu khawatir soalnya," lanjut Dimas lagi.


"Iya, Dimas," pungkas Liana seraya mengakhiri panggilan telponnya bersama Dimas.


Tak berselang lama, Dimas mengirimkan sebuah alamat dan kontak nomor temannya. Segera Liana menyimpannya.


Besok pagi, Liana akan mengadu pada suami Mela tentang semua kelakuan bejat Mela.


****


[Istrimu selingkuh di belakangmu. Apa kau sudah tahu?] -Liana-


[Maaf, ini siapa, ya?] -Andra-

__ADS_1


[Aku Liana. Istri dari Adit yang merupakan selingkuhan Mela] -Liana-


[Jangan mengada-ada atau menuduh sembarangan! Mela tidak mungkin selingkuh] -Andra-


[Siapa yang mengada-ada? Aku punya semua bukti perselingkuhan istrimu itu dengan Adit] -Liana-


Liana mengirimkan salah satu foto bugil Mela kepada Andra.


[Aku masih punya bukti lain jika kau masih tidak percaya] -Liana-


[Aku ingin melihat semua bukti yang kau bicarakan itu,] -Andra-


[Temui aku besok. Jam sembilan pagi] -Liana-


Liana mengirimkan alamat rumah teman Dimas pada Andra. Sebelumnya Liana juga sudah chat dengan teman Dimas tersebut, untuk membantu Liana bertemu Andra besok pagi.


[Baiklah. Kita ketemu besok pagi,] -Andra-


Liana melirik jam di dinding ruang tengah. Sudah pukul sebelas malam dan belum ada tanda-tanda Adit akan pulang.


Liana menghela nafas dan segera mengunci pintu depan.


Sesuai pesan dari Dimas dan bu Haryo, Liana tidak akan memperdulikan Adit sekarang. Biar saja pria itu tidur di teras atau di mana saja. Yang penting Liana akan tidur di dalam rumah bersama anak-anak.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir hari ini.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, dan vote 💕


__ADS_2