Kamu Selingkuh Aku Mendua

Kamu Selingkuh Aku Mendua
LIANA #7


__ADS_3

Tak terasa, dua bulan sudah Liana bekerja sebagai penjaga toko kosmetik di salah satu pusat perbelanjaan yang ada di kotanya.


Dan selama itu, Adit tidak pernah komplain ataupun main serong lagi.


Rumah tangga Adit dan Liana tetap berjalan harmonis. Adit dan Liana juga saling berbagi tugas dalam mengurus pekerjaan rumah tangga. Bisa dibilang kalau keduanya adalah pasangan yang kompak.


****


"Nanti pulang seperti biasa, kan?" Tanya Adit yang masih duduk diatas motornya.


Liana melepaskan helm di kepalanya, sebelum menjawab pertanyaan dari Adit. Seperti biasa, setiap pagi Adit selalu mengantar Liana ke tempat kerjanya, dan nanti sore harinya Adit juga akan menjemput Liana.


"Iya, pulang seperti biasa. Kamu nanti jemput aku?" Tanya Liana cepat.


"Sebenarnya aku ada rapat penting bersama para atasan, sore ini. Jadi mungkin akan sedikit terlambat kalau aku menjemputmu," jawab Adit sedikit ragu.


"Hmmm, aku pulang sendiri saja kalau begitu," sahut Liana cepat.


"Benar, tidak apa-apa?" Tanya Adit masih ragu.


"Iya, sayang! Tidak apa-apa. Aku akan naik ojek atau angkutan umum nanti," jawab Liana seraya mengusap lengan suaminya tersebut.


Adit tersenyum lega.


"Baiklah kalau begitu. Hati-hati saat pulang nanti, dan segera kabari aku jika ada sesuatu," pesan Adit yang mulai menghidupkan motornya.


"Aku pergi dulu," pamit Adit seraya mengulurkan tangannya pada Liana. Drnga cepat Liana meraih tangan Adit dan menciumnya.


"Hati-hati bawa motor!" Pesan Liana dan Adit hanya mengangguk.


Pria itupun segera melajukan motornya meninggalkan pusat perbelanjaan tempat Liana bekerja. Adit memacu motornya menembus jalanan padat menuju ke arah tempat kerjanya.


Setelah Adit tidak terlihat lagi, Liana segera masuk ke dalam pusat perbelanjaan dan menuju ke gerai kosmetik tempatnya bekerja yang ada di lantai dua.

__ADS_1


Namun, saat baru akan naik ke eskalator, Liana tak sengaja bertubrukan dengan seorang pria hingga ibu satu anak itu nyaris jatuh terjerembab ke lantai.


Namun pria yang tadi bertubrukan dengan Liana dengan sigap menangkap tubuh Liana sehingga wanita itu tidak jadi jatuh ke lantai.


"Maaf, mbak. Saya tidak sengaja. Apa mbak terluka?" Tanya pria itu sopan.


Tunggu...


Suara itu...


Liana seperti familiar dengan suara itu.


"Rifan?" Ucap Liana seraya menatap ke arah pria tadi.


"Liana? Astaga! Bagaimana kabarmu?" Rifan langsung memeluk Liana.


"Aku baik. Kamu sendiri bagaimana?" Tanya Liana yang kini tersenyum sumringah.


"Aku juga baik. Kamu kerja di sini?" Tanya Rifan lagi.


"Aku baru saja dipindahkan ke stand baru di sini. Di lantai dua juga. Di samping toko kosmetik." Jawab Rifan menjelaskan.


"Sepertinya kita akan sering bertemu," imbuh Rifan lagi dengan nada menggoda.


Dan tentu saja hal itu langsung membuat wajah Liana bersemu merah. Liana menundukkan wajahnya.


Liana dan Rifan dulunya adalah teman dekat tapi belum sampai tahap berpacaran. Hanya teman rasa pacar, dan itu terjadi beberapa tahun sebelum Liana menjalin hubungan dengan Adit.


Namun entahlah, jantung Liana berdebar-debar tak karuan sekarang hanya karena melihat wajah Rifan yang semakin dewasa dan tampan tentu saja. Apa ini yang disebut cinta lama belum kelar?


Dua teman lama itupun naik eskalator bersama sembari bercanda dan bersenda gurau.


****

__ADS_1


Jam makan siang,


Liana dan Rifan sedang menikmati makan siang bersama. Dua teman lama yang sudah beberapa tahun tidak bersua tersebut bercerita banyak hal.


"Jadi kamu sudah menikah?" Tanya Liana sekali lagi.


Rifan mengendikkan bahu,


"Aku dijodohkan," sahut Rifan lirih seakan tertekan.


"Aku menunggumu, Liana. Aku pikir hubungan kita waktu itu belum selesai. Tapi kamu malah ninggalin aku begitu saja dan menikah dengan Adit," imbuh Rifan lagi, kali ini dengan nada kecewa.


Liana menatap bingung pada mantannya tersebut. Sesaat ada rasa bersalah di relung hati Liana.


"Maaf, Rifan," ucap Liana seraya menunduk bersalah.


"Aku masih sayang sama kamu, Liana. Saat aku tahu kamu menikah dengan Adit, aku frustasi," cerita Rifan dengan nada memelas. Pria itu sudah menggenggam tangan Liana dengan erat.


"Kita sudah sama-sama menikah, Rifan," buru-buru Liana melepaskan genggaman tangan Rifan dengan perlahan.


"Aku tidak pernah mencintai istriku, Liana! Aku hanya mencintai kamu," sergah Rifan cepat yang kembali menggenggam tangan Liana.


Liana menjadi serba salah sekarang.


"Jam makan siangku sudah selesai, Rifan. Aku harus pergi sekarang," pamit Liana seraya pergi meninggalkan Rifan yang hanya duduk mematung.


Entahlah, pikiran Liana benar-benar kacau sekarang. Tak bisa dipungkiri kalau jauh di dalam hatinya, Liana juga masih menyimpan sebuah perasaan yang sulit dijelaskan pada Rifan.


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir hari ini.


Jangan lupa like, komen, dan vote 💕


__ADS_2