Kamu Selingkuh Aku Mendua

Kamu Selingkuh Aku Mendua
LIANA #27


__ADS_3

Pukul sembilan pagi, Dimas dan pak Haryo yang merupakan bapak mertua Liana sudah tiba di rumah budhe Nanik.


Setelah berbasa-basi sedikit dengan budhe Nanik, akhirnya Liana dan kedua anaknya dibawa oleh keluarga Adit tersebut pulang ke rumah orang tua Adit.


Tak ada obrolan apa-apa selama perjalanan tiga puluh menit tersebut.


Saat baru tiba di rumah orang tua Adit, sudah ada bu Haryo yang langsung menyambut dan memeluk Liana dengan haru.


Ibu dari Adit tersebut segera membimbing Liana untuk masuk ke rumah.


Namun Liana langsung terkejut saat sampai di ruang tamu rumah orang tua Adit.


Ada Adit yang sudah duduk di kursi ruang tamu. Arka dan Atta yang melihat sang papa langsung lari memeluk Adit. Kedua anak Liana tersebut menangis tersedu di pelukan Adit.


"Papa! Atta kangen sama papa!" Cicit Atta di sela-sela isak tangisnya.


"Papa juga kangen sama Atta dan Arka," jawab Adit seraya memeluk erat kedua anaknya.


Liana memalingkan wajahnya dan enggan menatap ke arah Adit yang kini tengah berpelukan dengan kedua anak mereka. Hati Liana benar-benar dilema.


Di satu sisi Liana sudah lelah mempertahankan rumah tangganya bersama Adit. Apalagi jika mengingat semua pengkhianatan Adit, hati Liana terasa semakin sakit dan perih.


Liana ingin berpisah saja dari Adit dan membawa pergi kedua anaknya serta anak di dalam kandungannya saat ini.


Namun disisi lain, melihat kedekatan Atta dan Arka membuat hati Liana sebagai seorang ibu menjadi tidak tega. Bagaimana nanti jika Liana benar-benar berpisah dari Adit? Pastilah perasaan kedua anaknya ini yang akan menjadi korbannya.


"Duduk dulu, Liana," tepukan dari bu Haryo membuyarkan lamunan Liana.


Liana segera duduk di kursi tamu berhadapan dengan Adit yang sekarang masih merangkul kedua anak mereka.


Liana melempar tatapan marah pada Adit. Dan Adit seperti tidak peduli. Pria tersebut membuang pandangannya ke arah lain dan enggan membalas tatapan mata Liana.


"Minum dulu, Mbak!" Dimas yang baru kembali dari dapur mengangsurkan segelas teh hangat pada Liana.


Sesaat suasana di ruang tamu tersebut menjadi hening. Hanya ada suara celotehan dari Atta dan Arka yang sedang bercerita sesuatu pada Adit.


"Kamu tidak ingin minta maaf pada istrimu, Adit?" Pak Haryo buka suara dan langsung mencecar Adit.


"Aku minta maaf, Liana," ujar Adit dengan ekspresi wajah datar.


"Aku juga sudah memutuskan hubunganku dengan Mela. Kami tidak ada hubungan apa-apa lagi sekarang," Adit menunjukkan chat dirinya dengan Mela yang ada di ponselnya kepada semua yang hadir di ruang tamu tersebut.


Suasana kembali hening,


Adit membisikkan sesuatu pada Atta dan Arka. Pria itu lantas mengeluarkan uang dari dompetnya dan memberikannya kepada Atta.


"Om Dimas, kata papa Om mau mengantar kami membeli eskrim," ujar Atta seraya menghampiri Dimas.


Adit memberi kode pada Dimas agar mengiyakan permintaan Atta. Dimas segera mengangguk mengerti.

__ADS_1


Setelah Dimas mengajak keluar Atta dan Arka, Adit berpindah tempat duduk menjadi di sebelah Liana.


"Aku minta maaf, Liana," ujar Adit seraya meraih tangan Liana. Namun dengan cepat Liana menampik tangan Adit.


"Aku bisa menjelaskan semuanya," ucap Adit lagi yang masih berusaha membujuk Liana.


"Menjelaskan apa? Menjelaskan kalau Mela sedang hamil anak kamu sekarang, begitu?" Sergah Liana cepat dengan intonasi tinggi.


"Itu bukan anak aku, Liana. Aku bersumpah itu bukan anak aku!" Bantah Adit cepat.


"Itu anaknya Andra. Mela hamil dengan Andra, karena itulah mereka menikah," imbuh Adit lagi berusaha mencari alasan dan pembenaran.


"Apa kamu mau menipuku?" Sergah Liana seraya menunjukkan chat Adit dan Mela yang membahas tentang kehamilan Mela.


"Jelas-jelas kau mengatakan kalau itu adalah anakmu! Apa kau masih ingin mengelak?" Cecar Liana lagi dengan berapi-api.


"Itu...itu aku hanya bercanda, Liana. Itu hanya guyonan," sanggah Adit cepat.


Pak Haryo mengambil ponsel yang dipegang Liana dan membaca chat mesra Adit dan Mela. Wajah orang tua dari Adit tersebut terlihat merah padam menahan amarah.


"Keterlaluan kamu Adit!"


Plak!


Pak Haryo menampar pipi kanan Adit karena marah.


Adit hanya diam dan menunduk. Raut wajah bapak dua anak itu menunjukkan sebuah penyesalan.


"Adit akan kembali pada Liana dan anak-anak, Pak! Adit tidak akan lagi berhubungan dengan Mela," Adit berlutut di kaki pak Haryo.


"Kesabaran manusia itu ada batasnya, Dit! Liana itu sudah sabar menghadapi tingkah polahmu yang keterlaluan itu. Kalau kemarin Liana sampai minggat dari rumah itu karena Liana sudah hilang kesabaran. Kamu itu sudah benar-benar kebangetan," cecar bu Haryo yang ikut mengomeli sang anak.


"Adit minta maaf, Pak, Bu," Adit memohon.


"Minta maaf itu pada istrimu yang sudah kamu sakiti!" Gertak pak Haryo yang masih terlihat emosi.


Adit mendekat ke arah Liana dan berusaha merangkul istrinya tersebut, namun lagi-lagi dengan cepat Liana menampik tangan Adit.


"Liana, aku benar-benar minta maaf. Aku janji tidak akan lagi berhubungan dengan Mela setelah ini," Adit menangkupkan kedua tangannya di hadapan Liana. Mata pria itu sudah berkaca-kaca sekarang.


Liana masih menatap marah ke arah Adit.


"Katakan dengan jujur, anak yang dikandung Mela itu anak kamu atau bukan?" Sergah Liana yang masih belum mengalihkan tatapan tajamnya dari Adit.


"Bukan!" Sahut Adit cepat.


"Aku bersumpah itu bukan anakku, Liana," ucap Adit lagi dengan nada memelas.


"Aku minta maaf, Liana. Aku benar-benar minta maaf. Tolong jangan minta untuk berpisah. Pikirkan perasaan anak-anak, Liana. Jangan egois seperti ini," imbuh Adit lagi masih dengan nada memelas.

__ADS_1


"Aku egois? Kamu itu yang egois! Saat aku sedang di rumah merawat anak-anakmu yang terbaring sakit kamu malah bersenang-senang dengan wanita l*nte itu di acara family gathering. Siapa yang egois disini?" Sergah Liana yang kembali emosi.


"Kamu udah benar-benar keterlaluan, Adit!" Lirih Liana seraya terisak. Dada Liana benar-benar terasa sesak sekarang.


Bu Haryo kembali merangkul dan menenangkan menantunya tersebut.


"Semua keputusan ada di tanganmu, Liana. Bapak tahu ini sangat berat untukmu, tapi bapak masih berharap rumah tangga kalian berdua bisa diperbaiki kembali," Pak Haryo buka suara.


"Tapi sekali lagi, bapak tidak mau memaksamu, Liana. Semua keputusan ada di tanganmu," imbuh pak Haryo lagi seraya keluar dari ruangan tersebut. Sepertinya bapak dari Adit itu juga merasa tertekan dan malu dengan tingkah polah Adit.


"Pikirkan perasaan anak-anak Liana! Aku janji tidak akan mengulangi perbuatan bodohku itu lagi. Aku tidak akan lagi berselingkuh dengan Mela atau wanita lain," ucap Adit bersungguh-sungguh.


Liana menghela nafas panjang.


Bayangan Atta dan Arka yang menangis karena berpisah dari sang papa menari-nari di benak Liana. Bayangan anak dikandungannya yang akan lahir tanpa kehadiran seorang papa juga berkelebat di benak Liana.


Apa yang harus Liana katakan kelak kepada anak-anaknya saat mereka bertanya dimana papanya?


Bagaimana Liana akan menjelaskan pada anak-anaknya saat mereka bertanya kenapa mama tidak tinggal lagi bersama papa?


Dan senyuman jahat dari Mela yang berhasil menghancurkan rumah tangga Liana ikut menari-nari di benak ibu hamil tersebut.


Ya, Mela pasti akan tertawa jingkrak-jingkrak karena sudah berhasil menghancurkan rumah tangga Adit dan Liana.


Tidak!


Tidak!


Tidak!


"Aku ingin pulang ke rumah bapak dan ibuku," Liana akhirnya buka suara.


"Aku akan memikirkan semuanya masak-masak sebelum mengambil keputusan. Aku akan memberikan jawaban tiga hari lagi," putus Liana akhirnya.


Adit tertunduk lesu.


"Antarkan Liana pulang, Dit!" Perintah bu Haryo cepat.


"Baik, Bu!" Jawab Adit setengah putus asa.


Adit berharap rumah tangganya bersama Liana masih bisa diselamatkan.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir hari ini.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, dan vote 💕


__ADS_2