Kamu Selingkuh Aku Mendua

Kamu Selingkuh Aku Mendua
LIANA #31


__ADS_3

Setelah Adit berangkat ngojol, Liana segera bergegas menuju rumah mertuanya. Liana akan melaporkan semua kelakuan Adit kali ini pada Dimas dan Bu Haryo.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih sepuluh menit, Liana sampai juga di rumah sang mertua.


"Pagi, Bu," Liana menyapa Bu Haryo yang sedang menyapu halaman seraya mencium punggung tangan ibu Adit tersebut.


"Pagi, Liana. Tumben kesini pagi-pagi," bu Haryo membalas sapaan Liana dengan hangat.


"Liana mau ngomong soal Adit, Bu," ujar Liana cepat.


Bu Haryo yang mendengar Liana menyebut nama Adit, segera meletakkan sapu di tangannya dan raut wajahnya berubah menjadi khawatir.


"Apa Adit main serong lagi sama l*nte itu?" Tanya bu Haryo seraya berbisik di telinga Liana.


Liana mengangguk dengan cepat.


"Ayo, masuk ke dalam!" Bu Haryo membimbing Liana agar masuk ke ruang tamu sederhana yang ada di rumah tersebut.


Suasana sepi. Mungkin karena ini bukan hari libur.


"Dimas! Dim!" Bu Haryo memanggil Dimas yang entah sedang dimana.


"Dimas masih di rumah, Bu?" Tanya Liana berbasa-basi.


"Dia kuliahnya siang. Jadi jam segini belum berangkat," jelas Bu Haryo.


"Oh,"


"Dimas!" Bu Haryo memanggil anak keduanya itu sekali lagi.


Tak berselang lama, Dimas keluar dari kamarnya seraya mengucek matanya yang sepertinya masih mengantuk.


"Ada apa, Bu?" Tanya Dimas yang sepertinya baru bangun tidur tersebut.


"Mas kamu bikin ulah lagi," sahut Bu Haryo geram.


Dimas dengan cepat duduk di kursi dan bergabung bersama Liana dan bu Haryo.


"Betul itu, Mbak?" Tanya Dimas pada Liana yang kini duduk disamping bu Haryo.


Liana menyodorkan ponselnya yang berisi copyan pesan antara Adit dan Mela.


Chat pertama Adit dan Mela di bulan Februari, satu pekan setelah Adit di PHK dari tempat kerjanya,


[Adit, bisa kita bertemu. Aku kangen sama kamu] -Mela-


[Mau apa lagi kamu, Mel? Hubunganku dengan Liana sudah membaik. Aku tidak mau membuatnya menjadi runyam lagi,] -Adit-


[Aku mengandung anak kamu, Dit! Aku ingin bertemu denganmu sekarang!] -Mela-


[Tidak! Aku tidak mau. Aku tidak mau menjalin hubungan apa-apa lagi denganmu. Kita

__ADS_1


sudah sama-sama menikah. Anggap saja anak di perutmu itu anaknya Andra dan bukan anakku,] -Adit-


[Kamu tidak bisa memutuskanku begitu saja, Dit! Aku mencintaimu. Kenapa bukan Liana saja yang kamu ceraikan?] -Mela-


[Berapa kali aku bilang, aku tidak akan menceraikan Liana dan meninggalkan anak-anakku. Aku sudah kembali pada keluarga kecilku sekarang. Jadi hubungan kita tidak perlu diteruskan!] -Adit-


[Baiklah, jika itu keputusanmu. Tapi aku mau kita bertemu satu kali saja. Anggap saja itu sebagai pertemuan terakhir kita.] -Mela-


[Kau mau apa memangnya?] -Adit-


[Hanya makan siang bersama. Kau tidak keberatan, kan?] -Mela-


[Baiklah! Tapi ini yang terakhir. Aku tidak mau lagi berhubungan denganmu setelah ini,] -Adit-


[Iya, ini yang terakhir] -Mela-


[Di kafe biasa. Besok jam makan siang] -Mela-


[Baiklah. Aku akan datang. Jangan membalas pesanku lagi!] -Adit-


Dimas mengernyit bingung setelah membaca riwayat percakapan Mela dan Adit.


"Mbak Liana sudah membaca riwayat pesan ini?" Tanya Dimas seraya menatap ke arah Liana.


"Hanya sekilas. Aku tidak membacanya secara detail. Kenapa memangnya?" Tanya Liana penasaran.


"Sepertinya ada yang aneh. Ini di pesan pertama mas Adit sudah menolak dengan tegas saat Mela mengajaknya bertemu," jelas Dimas yang terlihat berpikir keras.


Dimas pun melanjutkan membaca riwayat pesan antara Adit dan Mela,


Tiga hari setelah pertemuan Adit dan Mela di kafe.


[Mel, kamu lagi ngapain?] -Adit-


[Lagi di rumah aja. Andra juga lagi ada tugas keluar kota,] -Mela-


[Sampai kapan Andra di luar kota?]-Adit-


[Sampai akhir pekan ini. Kenapa memangnya? Tumben tanya-tanya?] -Mela-


[Tiba-tiba aku kangen sama kamu] -Adit-


[Kau bisa datang kesini kapan saja. Aku ada di rumah sepanjang hari] -Mela-


[Baiklah, aku akan mampir kesana besok siang,] -Adit-


"Brengsek!" Dimas mengumpat pelan setelah membaca chat antara Adit dan Mela. Adik kandung dari Adit tersebut masih melanjutkan membaca riwayat chat Adit dan Mela.


[Kau membuatku tergila-gila belakangan ini, Mela. Rasanya aku selalu ingin ada di dekatmu,] -Adit-


[Bukankah sudah kubilang, kau itu tidak akan bisa jauh-jauh dariku] -Mela-

__ADS_1


[Kau benar. Aku seakan jadi gila jika sehari saja tidak bertemu denganmu atau chat mesra denganmu,] -Adit-


[Aku memang mempesona] -Mela-


[Oh, ya. Kamu masih ingat pesanku tentang uang hasil ngojol itu? Jangan pernah lagi memberikan uang hasil jerih payahmu itu pada Liana. Nanti dia keenakan dan terus-terusan menjadi manja. Biarkan istrimu itu nyari duit sendiri,] -Mela-


[Tentu saja aku masih mengingatnya. Terima kasih karena kau peduli padaku dan selalu mengingatkanku] -Adit-


Dimas menyudahi membaca riwayat chat Adit dan Mela. Pemuda delapan belas tahun tersebut mengepalkan tangannya erat demi meluapkan kekesalan di hatinya.


"Bagaimana, Dimas? Ada apa sebenarnya dengan masmu?" Tanya Bu Haryo yang melihat raut kemarahan di wajah Dimas.


"Benar kata ibu waktu itu. Wanita l*nte itu ternyata yang sudah bikin mas Adit jadi seperti sekarang ini," jawab Dimas dengan nada geram.


"Jadi?" Bu Haryo ingin memastikan sekali lagi.


"Mas Adit itu sebenarnya udah tobat setelah bangun nikah sama mbak Liana. Tapi sepertinya si l*nte Mela itu mengirim jampi-jampi lagi untuk mas Adit. Makanya sekarang mas Adit main serong lagi sama dia," tutur Dimas menjelaskan dugaannya selama ini.


"Tunggu! Apa maksudmu, Dimas? Jampi-jampi apa?" Tanya Liana yang terlihat kebingungan.


"Mela itu main dukun selama ini, biar Adit jadi tergila-gila sama dia," bukan Dimas melainkan bu Haryo yang menjawab kebingungan Liana.


"Yang pas kamu minggat dari rumah itu, jampi-jampinya Mela sudah agak hilang sebenarnya. Ibu juga udah ke orang pintar waktu itu dan udah buat Adit jadi tobat. Makanya Adit kan waktu itu nangis-nangis minta balikan sama kamu sama anak-anak," imbuh bu Haryo lagi.


Liana mengernyit tak percaya.


Main dukun?


Yang benar saja?


Di jaman modern begini masih ada yang main dukun dan jampi-jampi?


"Tapi apa tujuan Mela main dukun, Bu? Adit bukan orang kaya. Dan sekarang Adit juga sudah jadi pria kere sejak di PHK. Lalu kenapa Mela masih mengejar-ngejar Adit?" Tanya Liana yang masih antara percaya dan tidak percaya.


"Tidak semua orang yang main dukun itu ingin menguasai harta, Mbak.


Dimas rasa Mela itu sudah terobsesi dan tergila-gila dengan mas Adit. Tapi mungkin mas Adit menolaknya sejak awal, makanya Mela mengambil cara licik itu," ujar Dimas menjelaskan.


"Kita pergi ke orang pintar sore ini, Dimas," sergah bu Haryo cepat.


"Baik, Bu." Jawab Dimas patuh.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir hari ini.


Jangan lupa like, komen, dan vote 💕

__ADS_1


__ADS_2