Kamu Selingkuh Aku Mendua

Kamu Selingkuh Aku Mendua
LIANA #34


__ADS_3

Mela dibawa oleh Dimas dan rekannya ke rumah orang tua Adit.


Disana, pak Haryo dan bu Haryo sudah siap untuk menginterogasi Mela.


Mela dipaksa duduk di kursi ruang tamu.


"Kalian semua siapa?" Tanya Mela pura-pura polos.


"Kami orang tua Adit," jawab Bu Haryo seraya menatap sinis pada Mela.


"Kamu apakan Adit sampai bisa tergila-gila sama wanita l*nte seperti kamu?" Tanya Bu Haryo kasar.


"Apa maksud ibu? Saya tidak paham. Siapa Adit?" Mela masih memasang wajah pura-pura polos dan lugu.


"Udah gak usah drama atau pura-pura bodoh!" Dimas menyahut dengan nada kesal.


"Kamu pake jampi-jampi apa, sampai mas Adit bisa linglung dan tergila-gila sama kamu?" Cecar Dimas yang sepertinya sudah sangat geram.


"Wajah gak cantik, kelakuan juga gak jelas. Sudah tahu suami orang masih saja diembat," timpal Bu Haryo yang ikut-ikutan geram.


"Harusnya kamu itu sadar diri. Baru hamil itu mbok ya berbuat hal baik, biar nanti lahiran diberi kemudahan. Bukan malah gangguin rumah tangga orang, main jampi-jampi, main dukun, punya otak nggak to kamu itu sebenarnya?" Cecar bu Haryo lagi yang sepertinya sudah sangat emosi.


"Sudah, Bu! Sudah!" Pak Haryo berusaha menenangkan sang istri yang sedang berapi-api.


Mela menatap bergantian ke anggota keluarga Adit.


"Saya gak ngerti, kalian ini ngomong apa?" Mela masih saja pura-pura polos.


"Udah! Gak usah pura-pura begitu! Kamu mau semua foto bugil kamu itu aku kasih lihat ke suami sama ibu kamu?" Dimas yang sudah kesal kembali mengancam Mela.


"Jangan!" Sahut Mela cepat.


"Saya mengganggu Adit karena anak ini anaknya Adit. Saya hanya ingin minta pertanggungjawaban dari Adit," Mela membela diri seraya menunjuk ke perutnya yang sudah membuncit.


"Halah! Dasarnya kamu itu wanita l*nte kegatelan. Sengaja kan memang kamu itu hamil anaknya Adit biar bisa hancurin rumah tangga Adit dan Liana?" Cecar bu Haryo yang kembali emosi.


"Lagian, kamu itu juga udah kawin sama pria lain. Jadi anak itu juga belum tentu anaknya mas Adit," timpal Dimas yang juga ikut emosi.


"Berhenti mengganggu Adit mulai sekarang! Atau kami juga akan menghancurkan keluargamu!" Gertak bu Haryo mengancam Mela.


"Hancurkan saja! Kalian pikir aku takut? Aku tidak akan berhenti mengganggu Adit sampai Adit menjadi milikku. Aku akan minta Adit bertanggung jawab karena ini adalah anak Adit!" Mela membalas kata-kata bu Haryo dengan galak. Sepertinya wanita hamil itu tak lagi memiliki rasa takut.


"Dasar wanita l*nte sinting!" Sergah bu Haryo geregetan.


Mela keluar dari rumah orang tua Adit tanpa berpamitan. Tak ada yang berusaha mencegahnya.


Setelah kepergian Mela, Bu Haryo segera duduk di kursi dan berulang kali menarik nafas panjang.


"Sekarang bagaimana, Bu? Si l*nte sialan itu sepertinya menantang kita," tanya Dimas dengan raut wajah khawatir.


"Dia nantangin, ya kita balas. Kita bikin Adit lupa sama l*nte itu!" Sahut Bu Haryo yang masih sedikit emosi.


"Ibu mau ngapain lagi?" Tanya pak Haryo yang sepertinya tidak senang dengan rencana sang istri.

__ADS_1


"Sudah, bapak diam saja! Pokoknya ibu itu gak sudi kalau sampai Adit cerai sama Liana dan lebih memilih wanita l*nte itu. Mau ditaruh dimana muka kita, Pak? Keluarganya Liana itu sudah banyak membantu Adit dan keluarga kita," cerocos bu Haryo panjang lebar.


Sesaat suasana di ruang tamu tersebut menjadi hening.


"Mbak Liana sudah kamu suruh kesini kan, Dim?" Pertanyaan dari bu Haryo memecah keheningan.


"Sudah, Bu. Kata Sari sedang dalam perjalanan. Mungkin sebentar lagi sampai," jawab Dimas menjelaskan.


Tak berselang lama, terdengar suara motor yang masuk ke halaman. Rupanya Liana sudah sampai.


Liana langsung masuk ke rumah dan menyapa mertuanya serta adik iparnya yang masih duduk di ruang tamu.


"Bagaimana, Mbak?" Sergah Dimas yang sepertinya sudah penasaran dan tak sabar mendengar cerita dari Liana.


"Sudah aku adukan semua kelakuan Mela pada suami dan ibunya. Foto-foto bugil Mela juga sudah aku kasih lihat ke mereka," ujar Liana menjelaskan.


"Mereka percaya?" Tanya Bu Haryo penasaran.


"Percaya gak percaya, Bu. Tapi ibunya Mela sampai nangis-nangis lihat foto bugilnya Mela. Kalau Andra cuma diam saja," ujar Liana menjelaskan.


"Nanti kamu ikut ibu ke orang pintar. Ibu mau mencari tahu sebenarnya jampi-jampi apa yang sudah dipake Mela itu sampe Adit linglung gak ingat istri dan anaknya," pesan bu Haryo pada Liana.


Tentu saja Liana agak terkejut.


"Ibu yakin, Mela pake jampi-jampi dan dukun selama ini?" Tanya Liana yang masih ragu.


"Orangnya udah ngaku tadi. Tapi gak mau ngasih tahu jampi-jampi macam apa yang dia pakai," sahut Dimas cepat.


"Mela datang kesini?" Tanya Liana tak paham.


"Bagaimana mau ada akhlak to, Dim. Mainnya saja jampi-jampi sama dukun. Trus tukang ngembat suami orang. Muka juga jelek begitu. Mungkin Andra itu juga sudah di jampi-jampi sama dia. Makanya mau jadi suaminya," timpal bu Haryo yang ikut-ikutan geram.


"Lha Adit sudah ada kabar belum, Dim?" Pak Haryo yang sedari tadi hanya menyimak obrolan, tiba-tiba bertanya.


"Belum, Pak. Kata tetangganya mbak Liana yang tadi Dimas tanyain, mas Adit juga belum pulang ke rumah sejak pagi. Tadi pas Dimas ke rumah Mela juga gak ada di sana," jawab Dimas menjelaskan.


"Udah biarin! Nanti kalau sudah ingat sama anak istri juga pulang sendiri, Pak," timpal bu Haryo yang lebih terlihat santai dan seperti tidak khawatir dengan kondisi Adit.


"Kamu pokoknya tinggal disini dulu, Liana. Sampai Adit pulang. Ibu gak mau terjadi apa-apa sama kamu kalau kamu di rumah sendirian," pesan Bu Haryo seraya beranjak dan masuk ke dapur.


"Mbak Liana istirahat saja dulu! Anak-anak masih main juga di rumah tetangga," ucap Dimas memberi saran.


Liana hanya mengangguk dan segera masuk ke kamar untuk beristirahat.


****


"Pelet darah haid," ujar laki-laki tua yang kini duduk di hadapan Liana, bu Haryo, dan Dimas.


"Wanita bernama Mela itu sudah mencampur darah haidnya ke makanan atau minuman yang diberikan pada Adit," jelas lelaki tua yang dipanggil bu Haryo dengan sebutan Mbah tersebut.


Liana terbelalak tak percaya.


Darah haid?

__ADS_1


Yang benar saja. Bukankah itu sesuatu yang sangat menjijikkan.


"Tapi bagaimana bisa Adit tidak curiga saat darah itu dicampur ke makanan atau minumannya?" Tanya Liana bingung.


"Kalau dicampur ke kopi hitam atau makanan berbumbu banyak tidak akan kentara, Liana," ujar bu Haryo menjelaskan.


Liana masih mengernyit tak mengerti.


"Lalu ada solusi tidak, Mbah? Agar jampi-jampi itu hilang dan Adit kembali lagi ke keluarganya dan melupakan wanita l*nte itu," tanya bu Haryo dengan raut wajah serius.


"Kamu sedang hamil, Liana?" Tanya Mbah pada Liana.


"Iya, Mbah," jawab Liana cepat.


"Berapa bulan?" Tanya mbah lagi.


"Enam bulan jalan tujuh," jawab Liana sekali lagi.


Mbah mengangguk, lalu pria tua itu menyodorkan sebotol air pada bu Haryo.


"Ini air doa. Siramkan ke wajah Adit begitu sampai di rumah!" Pesan Mbah yang langsung disambut bu Haryo dengan sebuah anggukan.


"Nanti saya bantu dari sini. Tapi hasilnya tidak instan dan butuh sedikit proses," ujar Mbah menjelaskan.


"Tapi nanti, saat anakmu itu lahir, Adit sudah akan benar-benar lupa pada Mela dan tidak akan percaya lagi dengan semua omongan wanita itu. Adit akan kembali ke keluarganya dan menjadi seperti sebelum dia mengenal Mela," imbuh Mbah lagi.


"Baiklah, Mbah. Kami mengerti. Terima kasih bantuannya," bu Haryo menyalami Mbah dan segera berpamitan.


Liana sendiri masih antara percaya tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.


Pelet darah haid?


Ilmu macam apa itu?


"Pantas saja Adit seperti kerbau di cucuk hidungnya sama si Mela. Ternyata wanita l*nte itu pakai pelet menjijikkan seperti itu," gerutu bu Haryo sesaat setelah mereka bertiga meninggalkan rumah Mbah.


"Trus ini airnya kapan mau disiramkan ke mas Adit, Bu? Mas Adit saja hilang tak tahu rimbanya sampai sekarang," tanya Dimas seraya menunjukkan air di botol yang kini ia bawa.


"Nanti Adit juga pulang kalau sudah capek yang minggat. Pokoknya, simpan saja airnya. Begitu Adit pulang langsung siramin ke mukanya," sahut bu Haryo cepat.


Liana yang masih tidak paham dengan semua ini memilih untuk diam dan enggan menimpali.


.


.


.


Silahkan yang mau pro kontra soal jampi-jampi yang dipakai Mela ini.


Othor gak ada maksud mengajarkan ilmu kesesatan ya. Othor berharap para reader bijak menanggapinya dan tidak meniru perbuatan Mela.


Silahkan diambil hikmah dan pelajarannya saja. Karena akan ada karma di setiap perbuatan buruk yang dilakukan.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir hari ini.


Jangan lupa like, komen, dan vote 💕


__ADS_2