Kamu Selingkuh Aku Mendua

Kamu Selingkuh Aku Mendua
LIANA #9


__ADS_3

"Aku tidak pernah menyentuh istriku selama sepuluh bulan ini, Liana. Aku tidak mencintainya. Aku hanya mencintaimu," pernyataan dari Rifan barusan lumayan membuat Liana terkejut.


Liana dan Rifan sedang menikmati suasana sore di salah satu kafe yang ada di kota tersebut. Keduanya langsung ke kafe ini setelah pulang bekerja.


Toh nanti Adit pulang jam sembilan malam, jadi tidak masalah jika Liana menghabiskan sore ini bersama Rifan.


Apa Rifan begitu mencintai Liana, hingga pria itu tidak mau menyentuh istrinya meskipun mereka sudah terikat dalam sebuah pernikahan selama sepuluh bulan ini?


Liana tak berhenti bergumam dalam hati.


"Tapi Dita adalah istri sah kamu, Fan. Apa kamu tidak memikirkan perasaan Dita selama sepuluh bulan ini?" Nasehat Liana mencoba bersikap bijak.


"Aku tidak pernah mencintai Dita, Li." Rifan menghela nafas.


"Aku dan Dita menikah karena dijodohkan. Aku hanya mencintai kamu," ujar Rifan dengan nada yang terdengar bersungguh-sungguh. Pria itu bahkan sudah menggenggam erat tangan Liana.


"Tapi hubungan ini salah, Fan. Kita sudah sama-sama berumah tangga." Liana mencoba mengelak.


Meskipun di dalam hatinya, Liana juga sudah terlanjur nyaman dengan Rifan. Liana suka dengan perhatian yang selalu diberikan oleh Rifan kepadanya.


"Kita sama-sama merasa nyaman. Jadi apanya yang salah?" Rifan mencari pembenaran.


"Kita juga tidak melakukan perbuatan yang melanggar norma, Liana. Kita hanya saling memperhatikan satu sama lain. Aku rasa, tidak ada yang salah dengan hubungan kita ini," tutur Rifan lagi yang masih mencari alasan serta pembenaran.


"Kalau begitu, kamu harus mulai mencintai istrimu, Fan! Kamu tidak bisa terus-terusan mengabaikannya. Dita pasti mearsa sakit hati," nasehat Liana sekali lagi.


"Baiklah, akan kucoba. Tapi apa hubungan kita tetap akan baik-baik saja?" Tanya Rifan khawatir.


"Tentu saja, Rifan. Kita tetap akan membiarkan semua ini mengalir. Karena aku juga merasa nyaman denganmu," sahut Liana cepat.


Liana dan Rifan lanjut menyantap makanan yang mereka pesan.


Hari sudah beranjak sore. Mungkin setelah ini, Rifan akan mengantar Liana pulang.


****

__ADS_1


Rifan baru tiba di rumahnya saat langit sudah berubah menjadi hitam. Dita menyambut kedatangan suaminya tersebut dengan senyum sumringah.


"Baru pulang, Mas?" Sapa Dita seraya mencium punggung tangan Rifan.


"Iya, mendadak ada urusan yang harus aku selesaikan tadi," jawab Rifan seraya mengecup kening Dita.


Pasangan suami istri itupun masuk ke rumah seraya bersenda gurau.


Sejak menikah, hubungan Rifan dan Dita sebenarnya baik-baik saja meskipun keduanya menikah karena perjodohan. Rifan juga selalu memperlakukan Dita dengan baik seperti layaknya seorang istri. Hanya saja di bulan pertama mereka menikah, Rifan masih enggan menyentuh Dita karena menurut Rifan, Dita adalah orang asing baginya.


Hingga di bulan kedua pernikahan mereka, akhirnya Rifan mulai menyentuh Dita. Dan hingga kini, hubungan keduanya bisa dibilang selalu harmonis dan baik-baik saja.


Namun pertemuan Rifan dengan Liana tempo hari, sedikit banyak mulai membuat hati Rifan menjadi goyah. Di satu sisi Rifan masih menyimpan sebuah perasaan yang belum usai terhadap Liana. Namun disisi lain, Rifan juga tidak mau menyakiti hati Dita. Dan tak bisa dipungkiri kalau Rifan juga sudah tergantung pada Dita. Setiap malam Rifan benar-benar tidak tahan untuk tidak mencumbu tubuh molek sang istri.


"Mas, aku punya kejutan buat kamu," ucap Dita sesaat setelah Rifan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Rifan meraup Dita ke dalam pelukannya.


"Kejutan apa? Kau memakai lingerie baru malam ini?" Tanya Rifan dengan seringai nakal.


"Bukan itu. Aku hamil," ucap Dita seraya berbisik di telinga Rifan. Wanita yang sudah setahun menjadi istri Rifan tersebut menunjukkan sebuah testpect dengan dua garis merah pada Rifan.


Rifan dengan cepat merebut testpect dari tangan Dita,


"Kamu bercanda?" Rifan masih tidak percaya.


"Tidak, Mas! Aku tidak bercanda. Kita akan menjadi orang tua sebrntar lagi," ucap Dita lagi dengan wajah berbinar senang.


Terang saja, Rifan yang juga bahagia segera meraih tubuh Dita dan memeluknya erat. Rifan berulang kali mengecup kening istrinya tersebut.


Namun sesaat pikiran Rifan tertuju pada Liana. Apa ini saatnya Rifan mengakhiri hubungan terlarangnya bersama Liana?


****


Jam menunjukkan hampir tengah malam, saat sebuah chat masuk ke ponsel Rifan.

__ADS_1


[Rifan, kamu sudah tidur?] -Liana-


Dita sudah tertidur lelap di sebelah Rifan. Dengan cepat Rifan membalas chat dari Liana.


[Belum. Ada apa?] -Rifan-


[Aku habis bertengkar dengan Adit,] -Liana-


[Bertengkar masalah apa? Yaudah kamu yang sabar ya!] -Rifan-


[Aku tidak tahu. Aku hanya merasa Adit selalu sibuk dengan pekerjaannya belakangan ini. Aku juga butuh perhatian, Fan. Apa salah jika aku minta perhatian pada suamiku sendiri?] -Liana-


[Tidak salah, Liana. Tapi bukankah masih ada aku yang selalu perhatian sama kamu?] -Rifan-


[Terima kasih, Fan. Karena srlalu ada untukku,] -Liana-


[Tidak masalah, Liana. Kamu bisa cerita apapun ke aku. Kapan saja.] -Rifan-


[Sudah malam. Sebaiknya kamu tidur sekarang,] -Rifan-


[Kamu juga tidur ya, Fan. Selamat malam,] -Liana-


[Selamat malam, Liana] -Rifan-


Rifan segera menyimpan ponselnya setelah tidak ada balasan lagi dari Liana. Pria itu kembali memeluk Dita yang masih tertidur pulas.


Hati Rifan benar-benar dilema.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir hari ini.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, dan vote 💕


__ADS_2