
Sudah pukul sembilan lebih, dan belum ada tanda-tanda kehadiran dari Andra di rumah teman Dimas.
Apa suami Mela itu juga seorang pengecut?
"Gak coba di telpon saja, Mbak?" Tanya Sari yang merupakan pemilik rumah sekaligus teman dari Dimas.
"Mungkin masih di jalan, Sar. Maaf ya, jadi ngrepotin kamu," jawab Liana sungkan.
"Gak papa kok, Mbak. Bapak ibu juga gak ada di rumah. Mbak Liana santai saja," ujar Sari seraya tersenyum.
Tak berselang lama, suara deru motor masuk ke halaman rumah Sari. Benar dugaan Liana, itu adalah Andra dan seorang wanita.
Siapa yang diajak oleh Andra?
Liana keluar menuju teras rumah Sari untuk memastikan kalau yang diajak datang menemuinya bukanlah Mela.
Dan ternyata itu adalah seorang wanita paruh baya yang mungkin seusia dengan ibu Liana. Tapi siapa wanita ini?
"Pagi, maaf terlambat. Tadi jemput ibu dulu," Andra berbasa-basi pada Liana.
"Pagi juga," jawab Liana sekenanya.
"Oh, ya. Ini ibu kandungnya Mela," Andra memperkenalkan wanita paruh baya yang tadi datang bersamanya pada Liana.
Liana segera menyapa wanita paruh baya tersebut seraya mencium punggung tangannya ddngan takzim.
"Ayo masuk ke dalam!" Sari mempersilahkan tiga orang tersebut untuk masuk ke rumahnya. Dan secara bersamaan, ketiganya masuk ke ruang tamu yang tidak terlalu besar tersebut.
Mereka bertiga duduk saling berhadapan. Sesaat suasana hanya hening karena tidak ada yang memulai pembicaraan.
"Jadi, mana bukti yang kamu bicarakan semalam itu?" Tanya Andra dengan raut wajah kurang bersahabat.
Apa pria ini juga sebelas dua belas dengan Mela? Sama-sama menyebalkan.
Liana mengeluarkan ponsel cadangan Adit yang masih ia simpan hingga kini.
"Baca saja semua riwayat pesannya!" Ujar Liana seraya menyodorkan ponsel tersebut kepada Andra.
Dan pria itupun segera larut membaca semua riwayat pesan antara Mela dan Adit. Ibu dari Mela yang duduk di sebelah Andra juga ikut membaca pesan-pesan tersebut.
__ADS_1
Dan seperti yang Liana tebak, raut wajah keduanya langsung berubah menjadi raut tidak percaya.
"Kau yakin ini chat dari Mela?" Andra masih ingin menyangkal.
Liana berdecak,
"Cocokkan saja sendiri nomornya kalau tidak percaya! Kau punya nomor ponsel istrimu, kan?" Sahut Liana seraya bersedekap.
"Dan Mela juga main dukun selama ini. Itulah kenapa Adit jadi tergila-gila kepadanya," imbuh Liana lagi masih sambil bersedekap.
"Jangan menuduh sembarangan!" Andra menuding Liana.
"Aku tidak menuduh. Aku punya semua buktinya," Liana mengeluarkan ponselnya sendiri dan menunjukkan chat saat Adit menolak menjalin hubungan lagi dengan Mela. Lalu selang tiga hari setelah Adit dan Mela bertemu, Adit jadi tergila-gila pada Mela dan chat mesra seperti orang kesetanan.
Ibu dari Mela terlihat menangis.
"Jadi sebenarnya anak yang dikandung Mela itu anaknya siapa?" Tanyanya bingung.
"Kata Adit itu adalah anaknya Adit. Tapi saya juga kurang tahu, Bu," jawab Liana lirih.
"Kenapa kamu jadi wanita gak bener begini, Mela," wanita paruh baya tersebut bergumam sendiri.
"Aku tidak bermaksud menghancurkan rumah tanggamu dan Mela. Aku hanya memberitahu semua kebusukan Mela dibelakangmu karena aku juga sudah jenuh menghadapi drama perselingkuhan mereka berdua," ujar Liana yang mulai emosi.
"Ayo, Bu! Kita pulang," Andra segera mengajak sang ibu mertua untuk pergi meninggalkan Liana.
Ibu Mela mendekat ke arah Liana,
"Ibu minta maaf, Nak! Atas semua kesalahan yang sudah dilakukan Mela. Semoga kamu mau berlapang dada memaafkan semua kesalahan Mela," harap wanita paruh baya tersebut sesenggukan.
Mungkin ibu Mela merasa sedih dan malu dengan kelakuan anaknya yang sudah melampaui batas.
Pada akhirnya, ibu Mela mengikuti langkah Andra dan pergi meninggalkan Liana yang masih duduk di ruang tamu rumah Sari.
"Sampai mati aku tidak akan memaafkan perbuatan Mela j*lang itu," Liana hanya bergumam dalam hati.
****
Dimas mengetuk pintu di hadapannya dengan kasar.
__ADS_1
Butuh waktu sedikit lama sampai pintu didepannya tersebut dibuka dari dalam.
Seorang wanita berambut ikal dan berperawakan kurus dengan perut yang membuncit segera menyambut kedatangan Dimas bersama seorang rekannya.
"Maaf, mencari siapa ya?" Tanya Mela berbasa-basi.
"Kamu Mela?" Tanya Dimas to the point.
"Iya, aku Mela. Ini kalian siapa dan darimana?" Tanya Mela lagi yang terlihat kebingungan.
"Kamu kenal Adit, kan? Adit yang nyuruh kami buat jemput kamu," gantian rekan Dimas yang berbicara.
"Ayo ikut!" Ajak Dimas cepat.
"Tunggu! Dimana Adit?" Mela mulai curiga.
"Ada, pokoknya ayo ikut aja!" Dimas mencekal tangan Mela dan memaksa wanita hamil itu untuk ikut bersamanya.
"Lepaskan! Aku bakalan teriak kalau kalian memaksa," ancam Mela cepat.
Rekan Dimas menodongkan pisau pada Mela.
"Silahkan teriak kalau berani!"
Mela langsung diam dan menurut.
Mereka bertiga pun segera meninggalkan rumah Mela dan menuju ke rumah orang tua Adit.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir hari ini.
Jangan lupa like, komen, dan vote 💕
Mampir juga ke karya author yang ini
__ADS_1