
Adit sudah tertidur pulas.
Liana yang hanya pura-pura tidur sedari tadi, segera bangun dan memastikan sekali lagi kalau Adit memang sudah benar-benar tidur.
Liana mengambil ponsel Adit dan segera membawanya keluar dari kamar. Wanita hamil itu duduk termenung di sofa ruang tamu. Setelah menarik nafas panjang berulang kali, Liana mulai membuka ponsel Adit dan membuka riwayat di google maps ponsel milik Adit.
Liana mencocokkan tempat-tempat mana saja yang dikunjungi Adit dengan chat Adit dan Mela di ponsel cadangan Adit.
Liana terus men-scroll riwayat pesan Adit dan Mela sambil sesekali menyeka airmatanya yang tidak berhenti mengalir.
Liana merutuki kebodohannya sendiri.
Bagaimana bisa, Liana ditipu oleh Adit selama satu tahun ini.
Bagaimana bisa seorang Adit yang terlihat tulus dan selalu bersikap romantis ternyata menyembunyikan rahasia sebesar ini dari Liana?
Chat pertama antara Mela dan Adit adalah di bulan Februari.
[Besok ikut ke Malang, ya! Acara family gathering,] -Adit-
[Istrimu? Bukannya kamu udah ngajak dia?] -Mela-
[Liana tidak ikut karena Atta dan Arka masih kurang sehat. Aku tidak mau ke Malang sendirian. Bagaimana kalau aku kesepian?] -Adit-
[Apa kau sedang merayuku? Baiklah kau berhasil. Aku akan ikut denganmu besok,] -Mela-
[Aku akan menjemputmu besok. Selamat malam, Sayang,] -Adit-
Jadi saat acara family gathering bulan Februari itu, Adit mengajak Mela?
Disaat Liana sedang pontang-panting merawat kedua anaknya yang terbaring sakit, Adit malah bersenang-senang bersama Mela.
"Benar-benar keterlaluan kamu, Adit!" Liana bergumam emosi.
Chat demi chat antara Mela dan Adit, kembali Liana telusuri dengan seksama.
__ADS_1
Bulan April,
[Besok jalan, yuk! Aku suntuk menghadapi sikap Liana yang over,] -Adit-
[Jalan kemana? Aku juga rindu sama kamu, Dit,] -Mela-
[Enaknya kemana? Ada tempat yang romantis gitu gak sih, buat berduaan,] -Adit-
[Ada, tapi agak jauh di kawasan puncak. Kamu mau bolos kerja?] -Mela-
[Iya. Kita berangkat pagi sesuai jam kantor dan pulang sore saat jam pulang kantor juga. Biar Liana tidak curiga,] -Adit-
[Oke. Aku setuju. Sampai jumpa besok,] -Mela-
[Sampai jumpa besok, Sayang. Mmuach] -Adit-
[Mmuach] -Mela-
Liana kembali harus menahan sesak di dadanya, saat membaca chat mesra Adit dan Mela tersebut.
Liana tahu betul kawasan tersebut. Banyak Villa yang disewakan dengan harga murah di kawasan tersebut untuk pasangan yang hendak memadu kasih, tak peduli mereka pasangan resmi atau bukan.
Dan parahnya, ternyata Adit dan Mela tidak hanya sekali berkunjung ke puncak. Selama bulan April, Adit dan Mela sudah berkunjung sebanyak dua kali ke kawasan puncak.
Dan dari semua riwayat perjalanan yang Liana baca, Adit dan Mela ternyata rutin berkunjung ke kawasan Puncak dan menyewa villa di beberapa tempat yang berbeda. Dalam satu bulan Adit dan Mela bisa pergi dua sampai empat kali.
Liana sungguh tak menyangka jika hubungan Adit dan Mela sudah benar-benar sejauh ini.
Dan chat antara Adit dan Mela di bulan Juli, benar-benar membuat Liana shock.
[Bagaimana? Sudah kamu tes?] -Adit-
[Sudah. Dan hasilnya positif] -Mela-
Ada sebuah foto alat tes kehamilan yang menunjukkan dua garis merah.
__ADS_1
[Tapi pernikahanku dengan Andra tidak bisa dibatalkan, Dit. Bulan depan kami akan menikah,] -Mela-
[Aku tahu. Tapi kita tetap akan meneruskan hubungan ini, Mela. Andra tidak akan tahu,] -Adit-
[Oh, ya. Kemarin istrimu menghubungiku lagi dan melabrakku. Tapi kukatakan saja kalau aku akan menikah sebentar lagi dan tidak berniat menghancurkan rumah tangga kalian. Dan aku rasa, Liana percaya begitu saja dengan omonganku,] - Mela-
[Aku juga sudah meyakinkah Liana kalau kita tidak ada hubungan apa-apa lagi. Aku juga bilang kalau kamu akan menikah tak lama lagi. Wanita itu masih bersikeras, tapi aku rasa aku sudah berhasil meyakinkannya,] -Adit-
[Dan aku rasa, Liana juga menyadap aplikasi pesan di ponselku yang satunya. Tapi dia tidak akan pernah menemukan bukti apa-apa.] -Adit-
[Istrimu itu sepertinya sudah gila. Kenapa kau tidak meninggalkannya saja, Adit?] -Mela-
[Tidak, Mel. Aku tidak akan meninggalkan Liana.] -Adit-
Perasaan marah, emosi, kesal, dan putus asa berkecamuk di dada Liana.
"Benar-benar b*jingan kamu, Adit!" Ucap Liana geram.
Usaha Liana untuk memata-matai Adit dalam diam ternyata hanya sia-sia. Liana benar-benar merasa dibodohi selama satu tahun ini.
Dan sekarang, sikap Adit yang sepertinya tidak senang dengan kehamilan ketiga Liana terjawab sudah. Rupanya di bulan Liana memberitahu Adit tentang kehamilannya, Mela sedang melangsungkan pernikahanny dengan Andra.
Mungkin itu juga yang membuat Adit jadi uring-uringan tak jelas di bulan yang sama selama satu bulan penuh.
Airmata Liana kembali mengalir deras. Jam di ruang tengah sudah menunjukkan pukul dua dinihari, dan Liana belum memicingkan matanya barang sedetik pun.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir hari ini.
Jangan lupa like, komen, dan vote 💕
__ADS_1