Kanvas Aksara

Kanvas Aksara
KELUARGA YA...


__ADS_3

Sepasang kaki jenjang milik Regan melangkah terburu-buru di sepanjang koridor di pagi ini. Sekarang masih pukul 5,matahari pun belum tampak wujudnya di angkasa. Terlalu cepat untuk datang ke sekolah sepagi ini. Namun, sebuah pangilan telepon yang mengusik tidurnya beberapa menit lalu membuat ia memacu motornya secara gila-gilaan menembus dinginnya udara pagi yang lembab dan berkabut.


Di ujung koridor bagian timur lantai dasar Regan terus berjalan menapaki hamparan tanah kosong di depannya. Rumput yang masih basah karena embun yang turun sejak semalam membuat ngilu setiap pijakannya. Dingin yang merayap dari tanah seakan mampu mencapai setiap jengkal tubuh Regan, membuatnya menggigil seraya membayangkan kemungkinan terburuk yang akan ia temui saat sampai di gedung tua tempat tujuannya.


Memasuki area gedung yang temaram, aroma kapur dinding yang telah usang yang biasanya terasa akrab di penciuman Regan kini terasa asing. Aroma kapur itu tidak lagi menenangkan, tidak lagi membuatnya merasakan kebebasan, justru membuatnya sesak dan merasa tercekik di antara keremangan yang melingkupi tempat ini.


Ketika menapaki tangga menuju lantai 2, pundak Regan terasa memberat. Seakan ribuan ton beban jatuh menimpanya satu persatu. Semakin jauh ia melangkah, tubuhnya terasa makin kaku. Debaran jantung yang menggila, irama nafas yang tersengal, Regan dibuat terhanyut oleh rasa takut yang semu. Hingga kedua kakinya berhenti di depan salah satu ruangan yang terdekat dengan tangga. Tanpa perlu ia menggerakkan tangannya untuk membuka pintu, isi ruangan itu sudah terpampang jelas di depan matanya.


Regan melihatnya. Orang-orang yang ada di dalam sana. Berbalut hawa suram dan kesedihan. Zen, lelaki berkacamata yang berpembawaan tenang dan penuh pengendalian, kekusutan merebak jelas di wajahnya tanpa bisa tertutupi. Lucy, gadis yang energik dan penuh semangat, bahkan ia tidak menampakan secercah senyum pun sekarang. Damian, lelaki yang di juluki gletser oleh Lucy itu tampak begitu putus asa menutup muka dengan kedua tangan dan menjadikan dinding sebagai sandarannya. Alec dan Alan, duo kembar yang hobi bertingkah konyol, sekarang bahkan tidak tau caranya tertawa. Rin, gadis yang mati-matian membentuk pribadi ramah, bahkan kehilangan senyum yang harusnya tetap ia pertahankan dalam kondisi apapun. Lalu anggota paling muda diantara mereka Hana, gadis yang mudah menangis bahkan karena hal sepele, kini dari matanya yang memandang kosong setetes air mata pun tak tersisa.


Selain ke enam temannya, Regan tak mendapati apapun lagi, kosong. Dua piano yang berdampingan di sudut ruangan, papan yang dipenuhi tempelan kertas nada, satu set sofa serta sebuah meja billiard di tengah ruangan. Semua itu hanya membayang di benak Regan tanpa wujud nyata di depan matanya. Hal yang membuat Regan tanpa sadar menelan ludah, namun ia justru merasa semakin tercekik.


"Xander...."


Hana yang lebih dulu menyapa Regan. Ah, bahkan nama itu saja terasa menghimpit Regan untuk semakin jatuh lebih jauh.


"Tolong...." Gadis itu memegang ujung kemeja yang Regan kenakan, dengan kepala tertunduk ia memohon pertolongan. "Kami kehilangan rumah... tak ada tempat kembali.... Kehilangan mimpi.... Nafas kami... hidup kami...! Sekarang bagaimana...? Bagaimana... Xander.... Katakan kami harus bagaimana....?!"


Kaki Regan terasa lemas tak mampu menahan bobot tubuhnya. Belum sempat ia mencari pegangan untuk tetap berdiri tegak, Hana yang menubruk dirinya serta tangis gadis itu yang memekakkan telinga membuat Regan jatuh berlutut tanpa sempat berkata-kata.


Sesak. Sakit. Hati Regan ngilu mendengar tangis pilu itu. Dan ia semakin hancur lagi saat isakan-isakan lain muncul bersahut-sahutan disertai lirihan memohon meminta Regan untuk memberi pertolongan. Dan di detik ini, pertanyaan yang telah lama bersemayam di ruang gelap hati Regan muncul kembali.


'Apa hidup ini adil?'


Meski cahaya fajar mulai merebak, namun semua terasa gelap bagi Regan. Baik di ruangan ini, di gedung ini, maupun di dalam hidupnya hingga menyusup kedalam sudut-sudut jiwanya. Pada semuanya merebak kegelapan yang nyata.


<<<<<<<<<<<<


Bagi Regan, hidup itu sederhana. Jika dirumuskan maka persamaan yang ia dapatkan adalah layaknya Sin 0° yang bernilai nol, dia harus menjadi Cos agar bisa mendapatkan angka 1. Begitupun ketika di Cos 90° ia harus menjadi Sin agar nilainya tidak terhenti pada angka nol. Semua hanya tentang posisi, bagaimana dan dimana kita memposisikan suatu hal untuk mendapatkan apa yang kita inginkan. Jadi, menurut Regan kunci utama hanyalah adaptasi. Secara harfiah manusia mempunyai insting alami untuk beradaptasi dengan lingkungannya sendiri. Hal itu menyangkut fisik, jasmani. Hal yang sama pun berlaku untuk jiwa, rohani. Meski jiwa hanya mengambil tempat sepersekian persen di tubuh namun kendalinya sangat besar. Dan jiwa perlu beradaptasi dengan alam, menyesuaikan segala hal hingga tubuh yang ditempatinya bisa terus hidup dengan layak.


Layak? Sedari awal Regan sudah mendapatkan hidup yang layak, hidup yang pantas. Seharusnya ia beradaptasi dengan taraf kelayakan yang lingkungannya sediakan. Tapi, Regan justru abai dengan teori awalnya. Menempatkan diri pada tempat yang seharusnya. Ketika di Sin mencapai nol ia lupa untuk beralih pada Cos, begitupun sebaliknya. Sehingga tumpang tindih masalah itu datang.


Menjadi manusia itu bukan hal yang mudah. Lebih sulit dari rusa liar yang bertahan dari predator, lebih mengerikan dari plankton yang berusaha jauh dari sasaran ikan lain. Menjadi manusia itu rumit. Ribuan rumus pun tak akan mampu menyelesaikan tumpang tindih masalah yang setiap manusia alami.


Tetapi, bukankah dengan begitu keberadaan otak yang tanpa batas menjadi penyeimbang kerumitan tersebut? Manusia punya jutaan masalah, dan otak mereka bekerja menyelesaikan setiap kerumitan. Namun, sejauh apa otak manusia dapat mengatasi masalah yang ada? Apakah ketidakterbatasan otak manusia itu benar adanya?


Pasti cuma omong kosong. Segala hal di dunia punya batasan tersendiri. Dan Regan merasa kini ia telah mencapai batasnya. Ia tak mampu berpikir, tidak tau harus melakukan apa. Hanya duduk diam tanpa merespon pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan badan eksekutif ZHS. Matanya tertuju pada Miss Denada yang berdiri di sisi badan eksekutif dengan memegang beberapa lembar berkas.


Satu lagi yang membuat manusia itu menjadi rumit, selain masalah manusia juga punya perasaan. Hal yang mungkin bisa dibilang paling mengerikan dari seluruh bagian kehidupan. Atau lebih tepat dibilang menyedihkan?


Ya, mungkin memang menyedihkan. Sangat menyedihkan ketika berton-ton beban datang menyerbu Regan seperti air bah yang tak bisa dihentikan dan ia mulai mencari sasaran untuk disalahkan.


"Menggunakan fasilitas sekolah untuk kepentingan pribadi serta menggunakan nama sekolah tanpa ada izin tertulis untuk keuntungan individu ataupun kelompok. Merupakan pelanggaran berat...."


ZHS dan segala aturannya. Regan mengutuk dalam hati ketika kata demi kata terus berhamburan. Ia sedikitpun tidak menundukkan wajah, menyorot tajam pada Miss Denada yang balas menantang tatapannya. Dengan keberadaan guru itu disini, Regan sudah bisa menebak dengan jelas awal mula semua kekacauan ini.


Regan ditahan selama 3 jam di ruang eksekutif. Posisinya sebagai ketua Dewan Siswa mungkin akan terancam. Kesimpulan akhir sidang itu membuat seluruh poin disiplin Regan mencapai angka nol. Ia juga tidak diperbolehkan ikut serta dalam segala kegiatan dewan siswa dalam jangka waktu satu bulan. Secara singkat, Regan vakum dari posisi ketua hingga satu bulan kedepan. Dan waktu sebulan itu disebut sebagai masa rehabilitasi baginya, untuk pembuktian diri bahwa ia masih mampu untuk mengemban tanggung jawab tersebut dan tidak mengulangi kesalahan yang bisa membuat namanya menjadi tercemar lagi.


Hanya berselang lima menit setelah Regan keluar dari ruang eksekutif, namanya sudah terpampang di situs ZHS. Berita vakumnya Sang Ketua pun telah tampil di papan pengumuman sebagai berita utama dan berita itu akan terus ada disana hingga masa vakumnya berakhir. Hal ini juga menjadi peluang bagi para kandidat-kandidat baru untuk menyalip Regan. Posisi Regan bisa diberikan pada kandidat lain, seandainya dalam waktu satu bulan Regan tak mampu mengejar ketertinggalan poin disiplin serta misi-misi yang ditetapkan oleh pihak bersangkutan.


"Inilah hidup kamu yang sebenarnya Regan. Mengorbankan tuts piano demi hal ini adalah hal yang setimpal."


Itu dia orangnya. Sumber dari semua kekacauan ini. Miss Denada. Satu tahun lalu dia yang paling aktif membentuk kelompok piano ini dengan Regan. Dan sekarang lihatlah, dia juga yang paling bersemangat menghancurkan semua yang telah Regan perjuangkan mati-matian. Bahkan di titik ini Regan tidak berani untuk sekedar mendengar denting piano lagi. Ia mungkin tidak akan bisa lagi menyentuh benda itu untuk selamanya. Nama Regan telah tertera di daftar hitam, ia tidak bisa lagi memasuki dunia yang begitu ia impikan. Ibunya juga sudah tau dengan berita yang tersebar. Regan benar-benar tamat.


"Apakah menyenangkan melakukan ini?"


Miss Denada bersandar di dinding disamping Regan duduk. Ia menatap sekilas ujung-ujung koridor yang lengang. Kemudian matanya terfokus pada Regan yang menunduk menatap lantai dengan kosong. "Ibu kamu sudah tau, dari awal. Dan saya tidak bisa mempertahankan ini lebih jauh lagi. Cukup saya kehilangan mimpi saya, tidak perlu kehidupan damai ini turut terenggut juga. Kamu tau sendirikan Regan? Jika dia berkata 'ya' maka itu adalah 'ya', tidak ada pengecualian."


Rahang Regan mengatup erat sedang sudut bibirnya bergetar menahan emosi. Mau ia pura-pura tidak tau pun kenyataannya ia tau dengan jelas. Ketakutan terbesar Miss Denanda adalah ibunya... Irene Giena Galilei. Wanita berhati dingin itu dengan kejam menghancurkan hidup Miss Denada yang adalah adik kandungnya sendiri. Ya, Delyna Azada Galilei, bungsu di keluarga konglomerat itu. Karena alasan yang menurut Regan tidak masuk akal nama Galilei yang tersemat untuk Denada dihapus paksa. Bisa hidup tenang dan menjalani hari-hari sebagai salah satu tenaga pengajar di ZHS merupakan suatu berkah. Regan paham bagaimana Miss Denada melindungi mati-matian kehidupannya kini. Tapi perbuatannya juga tak dapat Regan benarkan. Padahal Regan mempercayainya lebih dari dia percaya pada diri sendiri. Regan pikir dia masih punya harapan... pada orang yang katanya adalah keluarganya itu.


Bullshit! Keluarga apanya?!


"Anda kehilangannya karena kesalahan anda. Setidaknya jika anda tidak bisa mendapatkan yang anda inginkan, jangan buat orang lain kehilangan hidup yang mereka pertahankan."


Hanya sampai di situ. Regan tidak bicara lebih jauh. Ia beranjak bangkit dan menapaki koridor lengang itu dengan kebisuan. Di ujung koridor, sebelum memasuki keramaian Regan berpikir untuk langkah yang ia ambil. Berbalik pada kehancuran di belakangnya, berhenti di titik hampa ini atau melangkah maju menerobos kerumunan.


Dan untuk puluhan menit ke depan yang Regan lakukan hanya diam. Ia memilih berhenti di titik kekosongan yang hampa ini.


Berhenti. Regan memilih unutuk berhenti. Terhadap hidupnya. Dunianya. Terhadap semuanya Regan memilih untuk tidak melangkah lagi.


<<<<<<<<<<<<<<<<<<<


"Gak ngerti lagi, deh gue," Moreo menggeleng-gelengkan kepala seraya menghela nafas penuh beban. Ia menumpukan dagunya di kusen jendela diikuti oleh ketiga temannya---Jordan, Yogi, Arkan. Mereka berjejer di depan jendela dari luar kelas membuat tatapan heran orang-orang yang berlalu lalang di koridor terarah pada mereka.


"Lah, lo aja yang goblok kagak ngerti trus apa daya diriku yang cerdas ini?"


Celetukan Arkan yang berdiri paling ujung membuat kepala ketiga temannya menoleh spontan padanya. Sementara ia tanpa peduli menatap ke dalam kelas, tempatnya manusia-manusia rajin yang sibuk pada rumus-rumus di buku masing-masing.


Aslinya 4 sekawan ini memang anggota resmi kelas Sains Unggulan ini. Namun, sepertinya staff ZHS menemukan produk cacat sehingga merekapun menjadi momok bagi kelas unggulan tersebut. Lihat saja, saat anggota kelas lain belajar mandiri di dalam kelas dengan tenang, mereka berempat justru berjejer diluar seperti barang dagangan. Mau ditegur juga entahlah, ketua kelas terlanjur lelah dengan mereka.


"Samperin, Dan!" Yogi menyikut Jordan di sebelahnya dengan mata terfokus ke dalam kelas. Tepatnya pada objek yang mereka amati sedari tadi, Siena. Gadis itu sedang sibuk merecoki teman-teman sekelas dengan snack yang ia bawa. Ceritanya anak itu sedang bagi-bagi makanan untuk teman-temannya yang katanya tengah berperang memperjuangkan masa depan.


"Mau gak?"


Jordan melamun. Hingga ketika Siena muncul di hadapannya menyodorkan snack di tangannya kepada Jordan, lelaki itu kesulitan mencerna situasi. Ia terdiam sebentar, mengerjab-ngerjab beberapa kali hingga kemudian terlonjak kaget.


"Slow respond...." Komentar Siena menumpukan sikunya di kusen jendela. Ia lanjut ngemil tanpa peduli Jordan yang sudah menatapnya horor.


"L-lo...!?" Jordan gagap celingak-celinguk ke samping tapi teman-temannya sudah hilang.


"Ngantin yok! Laper gue."


"Gak!"


"Idih."


Meski mulutnya bilang begitu, Jordan tetap saja membuntuti Siena yang melenggang di koridor menuju kantin tingkat II. Tunggu dulu.... Tingkat II???


"Na, katanya mau ngantin...?"

__ADS_1


Siena menunjuk papan yang terpajang di atas pintu berdaun dua di depannya, "Lo buta huruf? Tulisannya apa?" tanyanya sarkas.


Jordan menggaruk tengkuk dengan canggung. Lah iya, sih, di papannya ada tulisan 'KANTIN'-nya. Tapi, maksudnya bukan itu!


"Ini kan kantin tinggkat II, kita mana boleh masuk kan gak ada kartu aksesnya."


Siena melotot sangar membuat Jordan menciut, "Kenapa lo biarin gue kesini? Udah tau salah!"


"Na, lo lagi dapet, ya? Sensian a---" Kepala Jordan yang semula tegak langsung tertunduk serta nada di akhir kalimatnya berubah pelan begitu aura setan Siena keluar, "---mat...."


"Digituin aja udah pundung. Pake acara mau pedekate-in gue segala," ejek Siena yang dalam sekejab langsung berubah ekspresi jadi malaikat baik hati yang memancarkan cahaya ilahi.


Di ejek begitu Jordan makin pundung, awan mendung dengan hujan badai dan petir seakan sedang mengentayang di kepalanya. Apalagi Siena mengungkit soal 'pedekate', mau tenggelam saja dia rasanya. Tapi, meski begitu ia tetap saja mengikuti Siena yang sudah menyusuri koridor kembali dengan bersenandung ria.


Awalnya Siena memang badmood, ia sedang dapat jatah bulanan di tambah kalah taruhan dengan Panca membuat saldo di rekeningnya berkurang. Setelah melihat Jordan yang tertekan membuat moodnya bangkit kembali dan ia pun semangat lagi menjalani hari.


Menurut Siena, Jordan itu rada-rada. Rada-rada aneh, rada-rada goblok, rada-rada lemot dan rada---bukan tapi absurd abis. Lelaki itu terang-terangan suka padanya dan berusaha mendekatinya, tapi dia juga bersikap seolah-olah dia tidak seperti itu. Bagaimana mendeskripsikannya? Siena juga bingung. Saking bingungnya sampai ia merasa Jordan pantas dijebloskan ke kelas Bahasa 00.


Iseng, Siena menghentikan langkah tiba-tiba. Diliriknya dengan ekor mata, Jordan juga behenti. Ia maju selangkah, Jordan juga ikut. Siena mundur lima langkah, Jordan nurut. Begitu seterusnya mereka maju mundur di koridor yang lengang itu hingga tawa Siena akhirnya tak bisa ditahan lagi.


Jordan sepet melihatnya, sadar dirinya dibodohi dan gobloknya lagi dia sudah tau hal itu tapi tetap saja melakukannya. Ia kesal, rencananya mau merajuk. Tapi baru juga mengambil ancang-ancang untuk pergi, ditoel Siena sedikit imannya langusung goyah.


"Semurah itu gue sama lo, Na," pasrah Jordan lalu mengambil telapak tangan Siena untuk ia genggam. Lalu dengan langkah lebar ia menggiring Siena menuju kantin tingkat IV yang letaknya ujung ke ujung dengan kantin tingkat II. Tawa Siena di sepanjang koridor membuat Jordan harus berjalan sembari memegang dadanya, khawatir jika sewaktu-waktu jantungnya bisa melompat keluar akibat detakannya terlalu abnormal.


"Aa' Jo~~~ Keren juga, ya ahay! Aa' Jooo...." Siena gabut level akut, ia seperti anak kecil digandeng oleh Jordan apalagi dia mengayun-ayunkan tangan mereka yang bertautan sambil terus mengulang panggilan yang membuat Jordan sampai ditahap terpanik dalam hidupnya.


"Na! Na! Na!" Jordan heboh melepaskan genggaman dengan kedua tangan menangkup di dada. Tak lama ia terengah dengan ekspresi menahan sakit.


"Lah, lo kenapa?!"


"Jantung... jantung gue berdetak...." tutur Jordan dengan wajah memelas.


Karena humor bego Jordan, Siena tertawa dengan sukarela. Ada-ada saja, pikirnya.


"Tanggung jawab, Na! Gue baper!"


Siena makin tertawa keras namun tak urung menyambut Jordan yang merangsek ingin memeluknya. Ditepuk-tepuknya pelan punggung lekaki itu. Dan dengan sisa tawanya ia berkata, "Aduh, aduh. Jangan baper lagi, ya. Kan gue cuma PHP-in lo."


Jordan auto pundung. Siena memang begitu, kejam. Ia sudah siap mental dari awal untuk mendekati gadis tersebut. Tapi, ujung-ujungnya Jordan masih belum sanggup dengan tekanan batin yang disebabkan oleh Siena terhadap dirinya. Meresahkan. Orang yang terang-terangan mau main-main dengan perasaannya tapi tidak bisa ia benci dan malah semakin ia kejar lagi dan lagi. Siena sungguh meresahkan.


"Pacaran terosss...." Siena sewot tiba-tiba ketika mereka lewat disekitar area taman. Ia memandang kesal pada pasangan yang tengah duduk ateng menikmati hidup milik mereka berdua di gazebo.


Jordan melihat bergantian pada Siena dan pasangan itu, "Lo cemburu?" tanyanya. "Jangan jadi pelak---AIYA AMPUN!" Jordan buru-buru mengambil jarak ketika Siena mengangkat pot keramik kecil yang didapatnya dari rak terdekat.


"Naksir gue enggak lu?!"


"IYA!"


"Lah ngegas dia," balas Siena santai sambil meletakkan kembali pot mini berisi kaktus itu ke tempatnya. Bayangkan kalau dia sungguh melempar itu pada Jordan... gak kebayang.


"Lo naik apa ke sekolah tadi pagi?"


"Hm, naik motor, nebeng Yogi."


Siena menoleh, "Pulangnya nebeng gue aja."


Jordan mengangguk saja. Toh, kalau di menggeleng pun bakal di anggap 'iya' oleh Siena. Terkadang Jordan heran sendiri, bagaimana bisa ia menyukai gadis se ekstrim Siena?


"Aksa resek, ada pacarnya gue dilupain," keluh Siena sambil berjongkok menatap ke arah gazebo tempat Panji dan Alena tengah sibuk berdua. Dalam beberapa detik matanya sempat bertemu dengan Sang Adik, anak itu melengos dan kembali pada pacarnya dengan tersenyum. Catat itu! T-E-R-S-E-N-Y-U-M!


"Iihh! Gue aja gak pernah di senyumin begitu!" Siena mencak-mencak sendiri.


Bagi orang yang tidak tau hubungan Siena dengan Panji memang akan mengira kalau Siena orang ketiga di hubungan Panji dan Alena. Sebenarnya semua orang mengira begitu karena tidak ada yang tau kalau Siena adalah kakak dari Panji. Ditambah lagi kakak beradik itu tidak ada niatan meluruskan gosip yang ada, mereka sebenarnya tidak menutupi hubungan saudara keduanya tapi malas saja memberitahu.


Dan Jordan termasuk salah satu orang yang mengira adanya cinta segitiga antara Siena-Panji-Alena. Tapi tau begitu, ia masih tetap juga suka Siena, malah semakin hari semakin suka, istilahnya 'bucin akut'.


"Jojo, minggat yuk!"


Jordan menunduk untuk melihat Siena yang berjongkok di sampingnya sambil mendongak menatap dirinya. Ia berdehem saja sambil mengangguk tidak sadar dengan ucapan Siena karena terlanjur salah fokus dengan wajah gadis itu. Bahkan saat Siena menyeretnya menuju parkiran pun ia masih belum sadar dari keterpukauannya. Sampai kemudian mereka masuk ke mobil dan ia berada di belakang kemudi baru dia plonga-plongo.


"Ngapain, jirr!"


"Pulang." Siena menjawab tanpa beban yang mana membuat Jordan menatapnya horor. Belum ada sejarahnya ada murid bolos lewat gerbang utama yang penjagaannya sudah seperti brankas berlian saja, sangat ketat.


Pada akhirnya mereka membolos di UKS. Rebahan di brankar sambil membacot ria membuat penjaga UKS memilih minggat dari kursinya. Sepertinya akan cocok kalau dia orang ini jadi pasangan, julitnya minta ampun. Penjaga UKS dibuat kewalahan.


Hingga waktu jam bebas tiba mereka benar-benar meninggalkan area sekolah lengkap dengan tas yang diantarkan oleh Arkan saat mereka di UKS. Tempat tujuan dua orang ini hanya satu, apartemen Siena. Katanya Siena mau minta bantuan perihal bunglon yang ia pelihara, katanya lagi Si Bunglon terkena gejala meriang alias merindukan kasih sayang. Siena butuh Jordan untuk menghibur Bunglon betina peliharaannya itu.


Apartemen Siena berada di gedung kembar di pusat kota. Areanya ramai dan bising, serta dikelilingi oleh pusat perbelanjaan dan tempat-tempat tongkrongan yang menarik. Tidak mengherankan kalau Siena tinggal dilingkungan seperti itu, karena memang Siena orang yang tidak bisa diam dan mudah bosan.


Saat sampai di depan pintu unit Siena, mereka berdebat sekitar 15 menit dengan topik 'Gak baik cewek dan cowok berduaan di rumah'. Jordan yang kukuh berkata sepeeti itu padahal ia mau-mau saja di ajak kemari. Ketika diusir Siena lekaki itu juga tidak mau pergi. Sampai akhirnya suara mereka membuat penghuni lain terganggu dan mau tak mau mereka harus segera masuk.


Alasan saja Jordan berkata tidak baik berduaan, aslinya dia takut dengan bunglon yang Siena ceritakan. Dari dulu Jordan tiran pernah bisa berdamai dengan bangsa reptil. Baik itu cicak, kadal, maupun bunglon yang dikatakan Siena. Sebenarnya juga Jordan ada semacam fobia, tapi dia sangsi mengatakan.


Sampai Siena mengeluarkan bunglon peliharaannya dan mengopernya ke tangan Jordan. Dalam hitungan detik tubuh besar lekaki itu jatuh berdeham. Jordan pingsan.


The poor  Jordan....


<<<<<<<<<<<<<<<<<


Hari ini cuaca cerah. Saking cerahnya sampai membuat Panji berkali lipat lebih merindukan rumah dari biasanya. Untuk itu, setelah ia menginjakkan kakinya melewati pintu masuk segera saja ia menghempaskan tubuhnya ke kursi rotan di ruang tamu.


Pintu depan masih dibiarkan terbuka membuat angin berembus masuk menyapa permukaan kulit Panji yang lembab. Seluruh tubuh lelaki itu dibanjiri keringat karena untuk kesekian kali ia lebih memilih pulang berjalan kaki ketimbang memanfaatkan kendaraan umum yang ada. Dapat mengistirahatkan diri setelah perjalan yang melelahkan serta terbebas dari sengatan panas sinar matahari merupakan hal yang paling Panji syukuri hari ini.


"Loh, Aksa?"


Panji memutar kepala untuk melihat sosok Bunda yang muncul dari dapur dengan spatula di tangan kanan. Seingat Panji Bunda tidak ada mengabari akan pulang hari ini.


"Abangmu kemana? Kok pulang sendiri?"

__ADS_1


Panji diserang dengan pertanyaan lagi, kali ini dari Ayah yang sedang menuruni tangga.


"Abang? Siapa?" Panji bingung. Dan malah dibuat semakin bingung lagi oleh pertanyaan orang tuanya. Abang? Memangnya Panji punya abang?


"Lupa, dah tuh! Tipikal adik laknat!"


Seruan ketus itu membuat Panji harus memutar kepala kembali. Kali ini ia memandang ke arah pintu masuk. Dan saat melihat sosok tinggi yang mirip sekali dengan Ayah,  Panji baru ingat kalau dia bukan anak tunggal. Ia punya dua kakak, yaitu Siena yang menyandang posisi sebagai anak kedua lalu satu lagi anak tertua yang baru muncul ini. Aditya Panca Batara.


"Kamu dari mana? Kenapa Aksa pulangnya jalan kaki? Jangan ngarang, Ayah lihat ya dari lantai atas adekmu pulang jalan kaki sampe tepar begini sampe rumah."


Panca masih berdiri di ambang pintu, ia menggaruk tengkuk yang padahal tidak gatal. Sementara Ayah sudah duduk di samping Panji yang terkapar kelelahan. Bicara pada Ayahnya Panca tidak masalah, tapi menyebutkan alasan blak-blakan dengan adanya Panji disini membuat Panca was-was. Apalagi ada pot kecil berisi bunga plastik di tengah meja.


"Anu, habisnya Aksa semangat banget jalannya tadi, jadi aku gak mau ganggu. Ngikutin aja di bela--DEK MAU NGAPAIN!!?"


Panca syok melihat adiknya itu mengangkat asbak yang di dapatnya dari bawah meja. Bukan pot kecil di atas meja yang menjadi senjata Panji, tapi asbak yang berbahan kaca dan lumayan berbobot.


"Aksa, taruh lagi asbaknya, Nak!"


Bunda sedang sibuk membalik ikan dalam wajan saat didengarnya keributan dari depan dan ketika menoleh pemandangan Panji yang siap melempar asbak-lah yang ia dapati.


Panji menoleh, menatap Bunda dengan wajah innocent tepat setelah ia melempar asbak di tangannya pada target awal. Dengan adanya Ayah yang hanya tertawa saja tanpa berniat menghentikan membuat Panji tidak ragu menambah kekuatan dalam proses pelemparannya.


Untung bagi Panca dia bisa menghindar dan sial bagi Siena yang baru saja datang. Asbak itu menghantam tulang hidung gadis itu sehingga ia berteriak histeris.


"BUNDAAA....!"


"Na, hidung lo bolong!"


"Kalo gak bolong, kagak bisa napas lah bego!"


"Bukan begitu Marimar!"


"I'm Siena Arcaya Yusra, if you forget."


Bunda menghela nafas pasrah melihat perdebatan dua anak tertuanya. Ia memilih menyibukkan diri dengan masakannya daripada pusing dengan keributan anak-anaknya.


"Nana, kamu mimisan," Ayah memberi keterangan lebih jelas. Sama sekali tidak panik hidung anak gadis semata wayangnya berdarah. Ayah memang seperti itu, selalu tenang. Sudah jelas kan darimana sifat kalem Panji berasal?


Siena buru-buru menyentuh hidungnya begitu diberitahu oleh Ayah. Jemarinya merasakan cairan hangat yang keluar dari hidungnya. Setelah memelototi Panca dengan tatapan mematikan Siena segera berlari menuju kamar mandi untuk membereskan kekacauan dirinya.


Panca mengelus-elus dada seraya menatap arah perginya Siena, lalu berganti menatap horor Panji. Anak itu juga tengah memandangnya, dengan tatapan permusuhan yang kentara. Tapi, begitu Ayah mengusap kepalanya sekilas ekspresi Panji berubah drastis. Jadi lempeng lagi seperti semula.


"Bahaya, dek. Lain kali jangan asal lempar-lemparan aja," nasihat Panca yang masih syok. Ia beranjak duduk di kursi yang berseberangan dengan Panji.


"Dek.... Cih!" Panji merotasikan matanya karena panggilan yang Panca sematkan sedari dulu padanya yang tidak pernah berubah. Panca satu-satunya orang yang menetapkan panggilan berbeda padanya disaat orang rumah memilih memanggilnya dengan nama 'Aksa'.


Ayah mengulum senyum melihat Panca yang mulai mengoceh kepada Panji. Ia menggeleng-gelengkan kepala lalu beralih memeriksa tas Panji yang dibiarkan tergeletak di lantai.


"Nyonya Batara, anakmu menang judi. Semeriwing gitu, tuh mukanya," adu Siena yang sesekali meringis memijit pangkal hidungnya yang berdenyut sakit akibat ditimbuk asbak. Heran juga, di rumah tak ada yang merokok tapi kenapa ada asbak.


"Bunda, kok bisa ada asbak di rumah?" Siena menyuarakan tanyanya pada Bunda yang sibuk menata makanan ke atas meja.


"Ayah kamu tuh yang beli. Buat koleksi aja katanya," jawab Bunda.


Siena berdecak antara takjub dan merasa miris, "Aneh memang Ilmuan satu itu."


Suara tawa dari ruang tamu menarik perhatian Siena dan Bunda. Terdengar bukan hanya Panca yang heboh, tapi Ayah juga. Karena Panji tidak bersuara jadi bisa ditebak siapa yang jadi objek tertawaan mereka.


"Nda, liat! Pfftt...." Panca berteriak memamerkan makhluk mungil berbulu yang ia tangkup dengan kedua telapak tangan. "Anak Bunda sikopet, masa makhluk gemoy begini disekap dalam tas," jelasnya lalu tertawa lagi sambil memainkan anak kucing bantet di tangannya. Ini Panji dapat darimana makhluk imut begini?


"Masih ada dua lagi," tambah Ayah menunjukkan dua anak kucing lainnya yang merangkak keluar dari tas Panji. Terjawab sudah rasa penasarannya tentang kenapa tas Panji terlihat bergerak-gerak di matanya. Bukan karena berilusi seperti hipotesisnya melainkan karena ada makhluk hidup lain yang terjebak dalam tas anaknya itu.


"Iihh, minta satu!"


"GAK!"


Panji yang semula masih dalam mode lesu langsung tegak. Ia merebut anak kucing di tangan Panca dan memasukkan lagi ke dalam tas lalu menarik zipper tasnya sampai tertutup.


Siena tidak heran dengan penolakan tegas adiknya itu. Sedari dulu Panji memanglah penyuka kucing level akut. Tapi, Panji yang menyimpan kucing dalam tas seperti menyimpan buku itu membuat Siena tak habis pikir. Untuk yang satu itu tidak bisa membuat Siena tidak heran. Anehnya juga anak-anak kucing itu menurut saja dibegitukan, mereka tidak heboh mengeong sama sekali.


"Astaga...." Bunda menepuk jidat lalu mundur alon-alon. Ia memilih kembali ke meja makan menyiapkan makanan untuk mereka. Walau jam makan siang sudah lewat, tapi makan bersama untuk mengawali kebersamaan keluarga adalah hal yang wajib.


"Minjam, deh, minjam. Jangan diumpetin!" Siena masih kekeuh. Setidaknya ia ingin memegang makhluk mungil nan imut itu sebentar saja. Bulu-bulu tebal mereka terlihat menggoda, apalagi melihat Panca memegangnya tadi Siena jadi pingin juga.


"Gak!" Panji menolak mentah-mentah. Ia memeluk ranselnya lalu beranjak menuju kamarnya di lantai dua. Sementara Panca dan Siena mengekorinya, dengan beribu rayuan agar mereka dapat meminjam peliharaan Panji (yang entah sejak kapan juga dipelihara Panji).


Ayah melihat kepergian anak-anaknya lalu mendekati Bunda, "Anak-anakmu, tuh," ujarnya dengan gurat lelah.


Bunda tersenyum lebar sampai matanya menyipit tapi jatuhnya malah creepy.


"Anak-anak kita."


<<<<<<<<<<<<<<<<


Perihal insiden tiga anak kucing di dalam tas, itu Panji memungutnya di pinggir jalan. Saat dalam perjalanan pulang ia menemukan kardus kecil yang didalamnya terdapat tiga makhluk berbulu itu, dan ketiganya punya warna yang sama yaitu oranye. Oleh sebab warna bulu itulah membuat Panji akhirnya menamai mereka Oyen, mulai dari yang paling bantet diberi nama Oyen 1, lalu yang paling kurus diberi nama Oyen 2 sedang untuk satu lagi yang mempunyai bercak hitam di ujung telinganya diberi nama Oyen 3. Tapi bukan itu permasalahannya sekarang. Melainkan....


"Satu aja ya? Ya?"


Panji melotot dengan lengan memeluk ketiga peliharaan barunya, "Gak!" tolaknya tanpa banyak pikir.


"Nyerah aja, Na. Nyerah!" seru Panca yang bersandar di pintu dengan tangan terlipat di depan dada. "Kalau gak, yok taruhan deh. Lu bisa nyentuh ujung bulu tuh kucing aja, gue kasih balik semua duit lo kemaren."


Kesalahan besar bagi Panca menyebutkan kata taruhan dan juga mengungkit peristiwa yang sudah lewat. Karena setelah kalimat itu rampung ia ucapkan, Siena langsung mengganti fokus padanya.


Persetan soal kucing. Sekarang Siena hanya ingin melanjutkan niat jahatnya pada Panca perihal dirinya yang kalah taruhan yang menyebabkan hilangnya tiga angka nol di saldonya.


Dan sisa hari di kediaman Batara itu pun diisi oleh kegaduhan kakak beradik tersebut. Dengan Panji sebagai penengah sedang Ayah dan Bunda menikmati waktu romantis mereka berdua di meja makan.


Hanya di detik-detik seperti inilah, Panji bisa bercita-cita untuk menjadi oksigen yang mengambang tanpa perlu susah di udara lepas.

__ADS_1



__ADS_2