
KANVAS 11
[DI BAWAH POHON LINDEN]
/•
\•/
Panji sebal. Ia sedang asyik selonjoran di bawah pohon Linden dekat kolam ikan hias ZHS. Tapi malah melihat pemandangan yang tidak mengenakkan. Baru saja ia lihat di gedung olahraga yang ada di seberang sana, Alena dengan Regan. Entah sedang membicarakan apa, tapi terlihat serius sekali. Tak lama kemudian mereka berpelukan dengan posisi Regan membelakangi Panji dan otomatis wajah Alena menghadap ke arahnya. Dan fakta bahwa Alena melihat keberadaannya namun memalingkan muka begitu saja, membuat Panji tersenyum miris.
"Alena, aku pacar kamu."
"Ah, ya."
Panji bangkit setelah sebelumnya memungut sehelai potongan daun Linden yang persis berbentuk hati. Di patutnya daun itu lalu ia lepaskan begitu saja membuat daun tersebut terbang tertiup angin dan jatuh di atas permukaan kolam.
"Harusnya kamu bilang nggak waktu itu...," bisik Panji lirih. Kebersamaan dengan Alena akhir-akhir ini membuat ia lupa akan kenyataan. Dimana dunia Regan adalah Alena, dan Alena menjadikan Regan sebagai poros pijakannya. Ah, rasanya Panji seperti baru terbangun dari mimpi indah yang singkat.
"Meong,"
Menunduk, Panji mendapati tiga anak angkatnya mendusel-dusel di kakinya. Ia berjongkok mengambil ketiga anak kucing itu ke pangkuannya.
"Kalian ngumpet di tas dulu, ya, aku mau ikut studi Prof Egil dulu."
Dan dengan begitu Panji berlalu dari sana tanpa tau Siena masih berdiri di balik pohon Linden sedari tadi.
Melihat punggung adiknya yang semakin menjauh, Siena jadi teringat isak tangis tertahan yang menggema di lorong lantai dua rumahnya kala hujan kemarin sore.
Saat itu Panca sedang membantu Bunda di dapur. Siena jadi bosan tidak ada teman main. Ayahnya juga sibuk menulis entah apa, banyak angka dan istilah yang Siena tak mengerti. Jadi ia putuskan untuk meminjam anak angkat Panji saja. Dan selanjutnya Siena merutuki habis-habisan keputusan yang ia ambil ini.
Di antara suara hujan yang menimpa atap, dalam sayup-sayup aroma petrikor dan dingin yang menusuk tulang. Siena mendengarnya. Bisikan lirih yang begitu putus asa keluar dari sela bibir adiknya.
"Eksa...."
Tangan Siena yang memegang gagang pintu gemetar, nafasnya tertahan. Ketika pemandangan pertama yang ia lihat saat membuka pintu adalah Panji yang meringkuk dalam tangis pilunya.
Panji yang larut dalam sedih yang menyiksa, bahkan tidak tau sama sekali bahwa Siena ada disana. Menikmati luka yang sama. Merasakan sakit yang sama.
Sama halnya dengan saat ini. Panji yang menyiksa diri dalam cintanya untuk Alena, bahkan tak menyadari Siena yang ikut tersiksa bersamanya. Bagaimanapun, Siena yang paling tau dan paling mengerti Panji. Siena yang tau segalanya tapi juga tak bisa berbuat apa-apa.
Satu-satunya yang bisa Siena lakukan hanyalah menunggu. Menunggu sampai Panji lelah dan merasa perlu untuk bersandar padanya. Siena menunggu Panji lebih dulu membuka pintu untuknya. Ia tidak ingin mendobrak masuk begitu saja, disaat anak itu sama sekali belum siap menerima kehadiran siapaun dalam ruang gelapnya.
<<<<<<<<<<<<<<
Sewaktu di Taman Kanak-kanak Jordan pernah meberikan coklat kesukaannya pada seorang anak perempuan yang ia suka. Sampai ia kemudian beranjak ke jenjang SD dan anak perempuan yang ia 'taksir' itu pun kemudian tak terlihat menarik lagi. Jordan kemudian berkorban lagi, merelakan uang jajannya untuk membeli jepit rambut teruntuk Si Anak Baru di kelasnya. Namun sayang Jordan kecil harus merasakan sakitnya patah hati di usianya karena Si Anak Baru lebih melirik Sang Juara Kelas yang tampan dan menawan.
Seiring berlalunya waktu, Jordan tiba-tiba sudah duduk di bangku SMP. Salah seorang kakak kelas yang membantunya lepas dari perundungan para senior blangsak, membuat ia kembali dimabuk cinta. Jordan yang baru puber, jadi berseri-seri tiap kali mengingat Sang Kakak kelas, wajahnya memerah dan kegugupan melanda tiap ia berpapasan dengan gadis itu. Dua tahun masa SMP-nya Jordan hanya memandang dari jauh Sang Pujaan Hati. Sampai saat keberanian sudah terkumpul, ia dibuat patah sebelum terbang. Kakak kelas pujaan hati ternyata sudah menjadi kekasih orang, pacarnya Ketua Tim Basket sekolah yang diidolakan banyak orang.
Jordan patah hati kedua kalinya. Tahun terkahir SMP ia habiskan dengan mencurahkan cintanya pada dunia game. Usianya bertambah lagi. Jordan sudah berganti seragam dengan seragam SMA. Ia diterima di sekolah favorit yang diidamkan banyak orang, ZHS.
__ADS_1
Disana baru kemudian Jordan mengenal yang namanya teman. Ia bertemu Moreo dan Arka di tahun pertama. Mereka ternyata satu jalur, sama-sama pencinta game. Di tahun kedua Yogi bergabung dengan kelas mereka setelah sebelumnya homeschooling karena kondisi kesehatannya.
Tahun demi tahun berlalu. Hidup Jordan tak lebih dari sekedar sekolah-game-nongkrong. Hatinya sudah ateng, bersiul-siul sambil selonjoran menonton hidup monoton yang dilalui pemiliknya.
Sampai anak baru itu melangkah dari pintu kelasnya. Dari pandangan pertama, Jordan biasa saja. Besoknya, Si Anak Baru tampak lebih adem. Lusanya, baru ia tau anak baru itu bernama Siena. Sial! Kemana saja Jordan selama ini?
Dan Jordan dengan segala pengorbanannya kembali lagi. Untuk kali ini ia merelakan jas seragamnya untuk menutupi Siena yang basah kuyup karena kehujanan. Tapi yang membuat pengorbanan Jordan jadi terlihat bodoh sekali, Siena ternyata punya baju cadangan di lokernya. Jordan gagal keren. Sial!
Kesal. Jordan membucin habis-habisan dengan hiro dalam gamenya. Sampai kemudian Arka dengan segala sifat rianya sengaja telfonan dengan pacarnya di dekat Jordan, Moreo dan Yogi yang sedang mabar. Biar pada iri dan dengki, katanya.
Jordan terlempar lagi pada Siena. Andai ia punya nomor Siena, mungkin bisa telfonan juga seperti Arka. Si goblok gak nyadar, memangnya dia siapa sampai Siena harus mau telfonan dengan dia?
Dan bermodalkan rasa irinya Jordan pun memulai masa-masa yang di sebut PDKT alias pendekatan. Malang tak dapat ditampik. Siena rupa-rupanya peka tapi belagak bego. Aslinya paham tapi ngedrama sok gak ngerti. Tambah Jordan yang kepalang bucin. Jadi, terserah Siena ajalah, asal Jordan gak di kick saja dari daftar mainannya.
Dan sekarang, 'mainan' Siena itu sedang dalam masa galau. Jordan dengan penyakit, 'Aku suka kamu jadi kukorbankan semua untukmu'-nya merupakan bahan terbaik untuk topik hiburan teman-temannya.
'Jadi cowok gak ada harga dirinya amat. Dimainin cewek manut aja lo!'
Jordan tau sih Moreo tidak serius bicara begitu. Lagi pula teman-temannya itu menghargai perasaannya. Dan paham bahwa setiap orang berhak mengekspresikan rasa sukanya terhadap orang yang disukai. Tapi ya.... TETAP SAJA JORDAN KEPIKIRAN!
Maka dengan begitu ia pun menarik diri. Katanya sih ingin 'tanya hati' dulu. Apa benar ia sesuka itu dengan Siena? Padahal tau Siena orangnya 'iblis banget' begitu. Tapi bukannya ilfeel malah tambah suka.
Setelah seminggu merenung dan sempat bolos tiga hari, Jordan mengambil kesimpulan. Siena baik, ramah ke semua orang, banyak yang pengen temenan wajar ia juga ikut kepincut ingin dekat dengan gadis itu. Intinya Jordan suka Siena, sama kayak orang lain suka dengan hawa friendly gadis itu. Oke fix, itu bukan cinta, apalagi sampai dibilang bucin. Gak banget, ya kan?
Si dugong! Bilangnya begitu, pas lihat Siena jalan di koridor bareng laki-laki antah berantah dia langsung tancap gas menyelip di tengah.
Ya jelas Siena mengangguk semangat. Di traktir loh ini.
Sementara Moreo, Arka dan Yogi yang melihat Jordan menggandeng Siena menuju kantin, mereka hanya mampu tersenyum pasrah. Baru saja Jordan berkoar-koar menyanggah bahwa di bukan 'bucin' seperti kata teman-temannya. Tapi lihat sekarang manusia yang 'bukan bucin' itu bahkan rela miskin demi menjauhkan 'gadis yang tidak ia suka' dari lalat yang kebetulan lewat.
"Temen lu, Ka," ujar Moreo pada Arka.
Arka menoleh pada Yogi, "Temen lu, Gi," ujarnya.
Yogi senyum pasrah, "Temen kita."
Mereka melengos bersamaan seraya mengumpati Si Teman.
"Sarap!"
<<<<<<<<<<<<<<<<<
Di kediaman Tanuwarman, yang tak lain adalah rumah Alena. Malam ini ia makan malam tidak hanya dengan kakek dan neneknya seperti biasa. Ada Adimas Tanurwarman, pria ambisius yang super sibuk itu malam ini meluangkan waktunya untuk ikut makan malam dengan keluarganya. Walau benci mengakuinya, tapi Alena perkenalkan pria itu adalah Ayahnya.
Dentingan sendok yang beradu dengan piring mendominasi suasana di meja makan itu. Membangunkan nuansa syahdu. Tiap orang sibuk dengan pikiran sendiri, mungkin? Atau hanya Alena saja yang sedang berpikir kerasa disini untuk saat ini.
Tau apa yang Alena pikirkan? Ada hal 'penting' apalagi sampai Adimas---ekhm, Ayahnya itu rela mengorbankan waktu berharganya untuk duduk disini ketimbang sibuk di balik komputer?
"Ketua Dewan Siswa. Badan Eksekutif ZHS bukannya sedang mempertimbangkan orang baru untuk posisi itu?"
__ADS_1
Benar saja firasat Alena. Adimas---maaf saja, Alena geli kalau harus memanggilnya Ayah--- pasti ada disini karena suatu hal yang penting. Dan hal semacam 'Posisi Ketua Dewan Siswa' merupakan hal 'penting' baginya. Organisasi kesiswaan milik ZHS itu memang sangat terkenal di berbagai kalangan. Yang masuk dalam kepanitiaannya sudah terjamin bagaimana mereka kedepannya, apalagi yang menjabat sebagai Ketua. Jelas, posisi itu sangatlah penting.
"Ketua yang sekarang dalam masa vakum, bukan berarti dia berhenti," Alena menjawab tenang.
"Bukan berarti juga dia tidak akan berhenti. Ada beberapa syarat agar dia bisa memegang kekuasaannya lagi, kan? Lagipula peluang terbuka lebar untuk para pencalon," ujar Adimas acuh tak acuh. Seolah itu bukan hal yang penting, tapi seharusnya Alena paham maksud perkataannya.
Alena menyilangkan sendok dan garpunya di atas makanan yang baru ia konsumsi beberapa suap. Dalam diam, ia bangkit dan pergi begitu saja. Neneknya sempat menegur tapi ia abaikan. Kalau kakeknya, hanya fokus makan dan seperti tidak ingin ikut campur.
"Jangan sampai perasaan mengalahkan logika kamu, Alena."
Perkataan menusuk Adimas tak Alena hiraukan. "Padahal aku terlahir bukan dari logika yang kamu agungkan itu," gumamnya saat menaiki tangga menuju kamarnya di lantai tiga.
Jauh? Memang. Alena suka tempat yang seakan terisolasi dari makhluk lainnya di rumah itu. Disana ia bisa merasa lebih tenang untuk sejenak walau kakinya harus pegal menaiki anak tangga satu persatu. Sebenarnya Alena punya satu kamar lagi di lantai dasar, tapi jika disana ia malas jika nanti neneknya akan mengganggunya dengan berbagai omelan karena perilakunya tadi. Kalau disini, neneknya yang renta tidak akan cari mati menaiki tangga sampai ke lantai tiga. Lagipula lift di rumah mereka sedang dalam masa perbaikan. Hm. Alena pandai sekali melarikan diri bukan?
Alena membawa laptop untuk ia pangku sambil duduk bersandar di headbord ranjang. Layar benda itu menunjukkan wajah serius Regan yang tengah menulis sesuatu di bukunya. Mereka tengah terhubung dalam panggilan video.
"Kamu udah makan?" tanya Alena sambil menjulurkan tangannya meraih camilan di laci nakas. Ia selalu siaga setiap saat, kan?
Regan tampak terhenti sebentar dari aktivitasnya lalu menatap Alena dengan wajah serius, "Udah... tadi."
"Kapan?" tanya Alena yang sedang menggunting bungkus snacknya.
"Kamu sendiri?"
Alena berdecak, ia menyuap keripik kentang dalam bungkus camilan ke mulutnya. Ketika menoleh ke layar laptop untuk bicara ia didahului oleh suara Regan.
"I know. Kamu nanya duluan, kan? Tapi aku juga pengen di jawab duluan."
"Udah minum obat?" tanya Alena lagi mengabaikan ucapan Regan barusan. Ia melotot sadis saat Regan terlihat akan menyanggah lagi. "Aku juga mau dijawab duluan, Regan."
Tawa Regan mengalun, "Aku makan malam dengan sandwich dan sekotak puding susu. Kemudian minum obat seperempat jam lalu. That's you want, girl?"
Alena manggut-manggut dengan mulut yang tak berhenti mengunyah.
"Sebentar," Regan berdiri dari duduknya lalu pergi entah kemana.
Alena biarkan saja layar laptopnya yang menampilkan penampakan kamar Regan. Saat melirik jam dinding, pandangannya terarah ke figura Sang Ibu di meja belajarnya. Di sana Ibunya berpose sendirian, dengan senyum lebar terarah ke kamera.
Ah, Alena tidak punya foto bersama ibunya. Wanita itu menjumpai ajal ketika melahirkan dirinya. Alena besar dalam asuhan kakek dan neneknya. Sementara Adimas? Hoho, pria itu mana peduli. Ingat dirinya punya anak saja Alena ragu.
"Lihat apa?"
Fokus Alena teralihkan jadi kembali pada wajah Regan yang muncul kembali di layar laptopnya. "Abis dari mana?"
Regan tersenyum namun lebih terlihat seperti meringis. Lantas dengan suara tercekat ia menjawab, "Oh, itu.... Mama...."
Dan Alena merutuki dirinya karena bertanya.
__ADS_1