
KANVAS 16
[MARI AKHIRI]
/•
\•/
Alena meremas kertas ulangannya hingga berbentuk bola lalu melemparkan ke keranjang sampah di samping meja belajarnya. Sama sekali bukan hasil yang ia inginkan. Walau bagi orang lain yang melihat nilainya itu sudah lebih dari cukup, tapi bagi Alena itu masih kurang. Ia ingin lebih dan lebih lagi.
Kuku-kuku Alena yang mulai memanjang menembus kulitnya saat ia menekan keningnya akibat denyutan yang mengganggu di kepalanya. Ia meringis pelan, lalu mendapati darah dalam sela-sela kukunya ia memilih berhenti melakukan apapun untuk menghilangkan sakit kepalanya.
Semakin hari Alena merasa dirinya semakin kurang. Semakin banyak waktu terlewati, ia pun menemukan lebih banyak celah dalam dirinya yang membuat ia tidak puas. Dan tanpa ia sadari, tuntutan kesempurnaan yang Ayahnya berikan perlahan juga menajadi racun yang menelan ia dalam kegelapan.
Matanya menangkap formulir untuk beberapa studi les yang tergeletak di meja belajarnya sedari tadi. Lembaran kertas itu tadi diantarkan oleh salah seorang suruhan Adimas.
Tangan Alena terkepal, susah payah ia menahan tapi amarah itu terluapkan juga. Maka hanya dengan sekali sapuan tangan segala apa yang ada di meja belajarnya jatuh berserakan di lantai.
"Alena!"
Nenek mengetuk pintu dari luar dengan cemas karena mendengar suara dari kamar Alena. Tapi cucunya itu tak menjawab dan malah meringkuk di depan meja belajarnya.
Alena memeluk lututnya yang ia tekuk lalu membenamkan wajahnya di atas lipatan lengan itu. Dan di detik nafasnya mulai tersengal karena sesak yang menghimpit dadanya, Alena merasa begitu membutuhkan sosok yang telah lama tiada bahkan sebelum ia sempat melihat wajah sosok tersebut.
"Ma.... I need your warm hug in this moment. Sungguh... aku sangat butuh Mama untuk ada disini."
<<<<<<<<<<<<<<
Pagi ini cuacanya cerah. Bahkan matahari sepertinya naik lebih cepat karena sinar hangatnya yang sudah melingkupi kawasan ZHS pada saat jam baru menunjukan pukul setengah tujuh. Tampaknya ada hal baik yang terjadi hari ini. Dan itu terbukti saat Regan yang baru sampai dengan motornya di parkiran turun sembari bersenandung ria. Bahkan ia sempatkan berkaca di kaca spion sehabis melepas helm.
"Pfft.... Xander, apa baru sekarang kamu memasuki tahap puber?"
Regan merotasikan bola matanya malas saat mendapati kehadiran Lucy di belakangnya. Kemudian ia bersenandung lagi lalu memasuki gedung sekolah sembari memainkan kunci motor di tangannya.
Lucy mengekor dengan penasaran, "Apa ada hal baik hari ini?"
"Kenapa bertanya sesuatu yang sudah pasti?"
Itu bukan Regan melainkan Alan yang tiba-tiba muncul entah dari mana. Di belakang laki-laki itu Alec dan Hana sedang berperang memperebutkan permen dari Zen. Dan Damian di barisan paling belakang melangkah dengan lesu bagai tak bernyawa.
"Kita mendapatkan markas kita kembali, normalnya memang harus berbahagia," tutur Zen bermaksud menyindir Damian yang tampak tak bersemangat.
"Apa orang yang baru saja tereliminasi dibabak pertama juga harus ikut berbahagia disini?" Damian angkat bicara sambil menyenderkan badannya ke dinding. Seluruh energinya tersedot habis karena ia kalah dalam kontes piano yang diikutinya. Hanya karena ia terlambat beberapa menit lantaran terjebak di toilet, namanya langsung di eliminasi tanpa belas kasihan.
Hana yang memenangkan perebutan permen dengan Alec lalu menatap seniornya itu kasihan, "Kalau aku pasti udah gantung diri."
Saat itu Rin muncul membawa beberapa lembar kertas di pangkuannya. Dengan senyum manis ia mengucapkan kata yang berbanding terbalik dengan senyum itu, "Tunggu apa lagi, ayo segera gantung diri."
Damian kesal. Lalu ia menatap Regan dengan pandangan, 'Aku sedih, maka hibur aku'—nya.
Regan tidak peduli lalu melenggang meninggalkan teman-temannya setelah berkata santai, "Sana gantung diri!"
Meninggalkan keributan di belakangnya Regan menyusuri koridor yang tidak begitu ramai. Sesekali ia berhenti untuk meladeni murid lain yang mengajaknya mengobrol. Kadang juga ia membantu murid yang tampak kesusahan membawa setumpuk buku. Sampai ia tiba di depan papan pengumuman, Regan berhenti disana.
Ada Alena yang diam menatap lurus pada kertas pemeringkatan tiap angkatan yang di tempel di papan pengumuman. Untuk peringkat paralel tingkat II, nama Regan terpampang di urutan pertama. Lalu mengikut nama Alena dibawahnya serta nama-nama lainnya.
Regan yang tau pemikiran gadis itu lantas mendekat. Diusapnya pucuk kepala Alena dengan lembut, "Tak apa, kamu masih punya hari esok untuk berjuang lagi."
Namun Alena tak bereaksi, hanya menatap tak berkedip papan pengumuman di depannya. Semester ini telah berakhir. Seminggu lagi libur semester akan dimulai. Dan Alena tau hari esok masih ada. Yang dia tidak tau adalah, benarkah kesempatan itu akan datang padanya?
Pada akhirnya Alena menoleh, menatap Regan tanpa riak apapun tergambar di mukanya.
"Apa untuk menjadi sempurna memang harus semenyiksa ini?"
<<<<<<<<<<<<<<<
Seminggu sebelum libur semester dimulai, semua kegiatan pembelajaran akan dihentikan. Termasuk juga dengan ekskul dan studi wawasan. Semua murid ZHS pada minggu ini disibukkan dengan persiapan festival yang selalu digelar tiap akhir semester. Semua kelas aktif berpartisipasi dengan membuat kelas mereka jadi spot menarik. Ada yang mengadakan teater, kafe kopi, rumah hantu, dan bermacam-macam lainnya.
Kelas Alena dan Regan memilih sesi kuis berhadiah dengan tema Sains. Sedari pagi semua anggota kelas sudah sibuk membuat poster dan spanduk serta menyusun kuis semenarik mungkin. Tapi, Alena memilih menepi dari kesibukan itu dengan duduk di perpustakan mengerjakan soal-soal latihan.
"Alena...."
Regan muncul di pintu masuk, ia merasa tak ragu untuk memanggil Alena karena Sang Pustakawan sedang tidak ada di tempat. Ia tersenyum lebar saat Alena mengangkat wajah menatapnya.
"Kamu sedang apa?" tanyanya sambil mengambil tempat duduk di hadapan Alena. Ia melongokkan kepalanya mengintip buku Alena, "Kamu menyelesaikan semua soal ini?" tanyanya lagi dengan pupil membesar menatap Alena dengan takjub.
__ADS_1
Alena hanya melirik bukunya tanpa ada niatan menjawab Regan. Ia menggerakkan pena untuk menulis lagi. Sampai tepukan tangan Regan di kepalanya membuat ia terhenti.
"Kamu hebat," puji Regan tulus.
Sedang Alena sudah menggenggam erat-erat pena di tangannya. Kelopaknya memberat saat sentuhan Regan di puncak kepalanya terasa begitu menenangkan. Suara laki-laki itu yang dengan ringan memujinya, senyumnya yang begitu tulus mengapresiasi Alena, semua yang Regan lakukan membuat Alena berpikir ulang untuk mengatakan bahwa ia sendirian. Seakan dengan semua tindakannya Regan berkata, ia akan selalu ada untuk Alena.
"Regan...." Alena memanggil dengan suara bergetar.
Regan tersenyum menenangkan, "Menangis tak akan membuat kamu dicela oleh dunia, Alena. Keluarkan saja semuanya."
Dan dengan begitu, Alena menangis tersedu di hadapan Regan. Lelaki itu tidak menghiburnya, ataupun meminta ia untuk berhenti memeras air mata. Yang Regan lakukan hanyalah tersenyum dan mengusap-usap pucuk kepala Alena dengan lembut.
"Tak apa kalau kamu tidak sesempurna yang orang-orang harapkan. Nyatanya manusia yang sempurna itu tidak pernah ada. Setiap dari kita punya kekurangan, dan yang perlu kamu perbuat terhadap kekurangan itu hanyalah menerimanya dengan damai. Tidak ada yang salah dari suatu kekalahan. Setidaknya kamu jangan pernah kalah dari diri kamu sendiri," begitu kalimat Regan untuk menenangkan sesak yang menghantui Alena. Dari tiap tetes yang jatuh dari mata gadis itu, Regan berjanji akan menggantinya dengan berbagai bahagia suatu hari nanti. Layaknya Alena yang setia menopang langkah tertatihnya, Regan pun bersedia turut membantu mengangkat beban yang menghimpit Alena.
"Aku gak suka belajar, aku capek. Aku juga gak suka jadi Wakil Dewan Siswa, ataupun jadi ketua. Aku malas bersaing. Aku ingin sesekali main tanpa mikir nilai, sekolah dan sebagainya. Kadang aku juga pengen kayak anak-anak yang sering dimarahin guru konseling. Aku ingin juga jadi murid yang melanggar aturan. Aku gak suka dijadikan panutan. Aku benci harus ramah dan baik-baik ke semua orang. Aku...."
Sampai disana Alena terbatuk, nafasnya tersendat karena berbicara panjang lebar dalam sedu sedan tangisnya. Ia mengusap air matanya dengan punggung tangan. Ia bahkan sama sekali tidak ragu meniupkan ingusnya saat Regan meletakkan sapu tangan di hadapan hidungnya.
Regan seperti kakak yang mengurusi adiknya dengan telaten. Ia tidak merasa jijik sama sekali ketika menyeka lendir di hidung Alena yang tersedu-sedu. Ia justru tergelak saat mendapati hidung Alena memerah. Gadis itu terlihat kacau tapi juga lucu di saat bersamaan.
Dengan sisa-sisa tangisnya Alena menatap Regan, "Aku hanya mau ngerasain hidup normal kayak remaja lainnya..." dia mulai lagi dengan keluhannya.
Regan mengangguk-angguk saja, "Iya, iya."
"... aku tuh capek tapi gak tau mau istirahat gimana. Papa juga masa gak peka-peka. Dari dulu padahal aku udah nyicil kode biar Papa paham. Aku gak suka di atur-atur! Harus ini, harus itu, begini, begitu! Harusnya kan Papa paham, kan Regan?"
Regan mengangguk lagi, "Iya."
"Tapi masa udah belasan tahun dia gak ngerti juga!!?"
Regan mengambil tangan Alena saat gadis itu menggebrak meja dengan geram. Lalu Alena menangis lagi mengeluh tangannya sakit. Dengan menahan tawa Regan mengusap tangan halus Alena dan sesekali meniupnya.
"Kamu pikir, deh. Aku selama ini kurang nurut apa coba? Dia suruh aku bimbel sana sini, kursus ini itu, ikut organisasi inilah itulah, aku nurut aja kan? Emang kamu pernah dengar alasan aku ikut-ikut itu semua karena keinginanku?"
Regan masih megusap telapak tangan Alena dengan lemah lembut, "Kamu bilang karena Papamu yang nyuruh."
"KAAANN!!"
Alena berteriak sambil menggebrak meja lagi. Kali ini ia berdiri. Terisak sebentar lalu menyeka air matanya, ia bicara lagi dengan sewot, "Kurang nurut apa coba aku jadi anak?! Tolong deh kamu teriakin pake toa di telinga Si Adimas itu, 'ALENA ANAK PALING PATUH DI ALAM SEMESTA!'"
"Udah, udah, nanti teriak ke Papa kamu, oke?" ujar Regan terkekeh lalu membawa Alena duduk kembali.
Alena menurut lalu duduk dengan tenang. Air matanya sudah tidak mau keluar lagi. Yang tinggal hanya isakan-isakan kecil yang membuatnya tampak bagai anak kecil sehabis menangis.
Regan membiarkan saja Alena menyelesaikan tangisnya. Ia pikir gadis itu akan lanjut mengomel tentang Adimas lagi. Tapi Alena malah menatap dirinya lama dengan mata berkaca-kaca.
"Aku haus."
Dua kata itu berhasil membuat Regan meloloskan tawanya. Ia tepuk-tepuk pelan puncak kepala Alena lalu bangkit untuk membelikan gadis itu minuman. Saat ia hampir mencapai pintu, Alena memanggilnya yang membuat ia mau tak mau memutar badan menghadap gadis itu.
"Sekalian sama mie instan cup yang rasa ayam kecap. Aku lapar," pinta gadis itu yang telah merebahkan kepalanya ke atas meja.
Regan terkekeh pelan dan mengangguk sebelum akhirnya pergi meninggalkan area perpustakaan yang begitu sunyi.
Setelah kepergian Regan, Alena mengerjap-ngerjabkan matanya beberapa kali sebelum akhirnya mengubur kepalanya dalam lipatan lengan dan berteriak tertahan. Mukanya memanas dan telinganya sampai memerah. Ia menghentak-hentakkan kaki dengan kesal saat menyadari kelakuannya tadi. Alena malu setengah mati apalagi saat mengingat Regan yang menyeka ingusnya. Ah, bisakah Alena dikutuk jadi Nitrogen saja? Dia ingin menguap ke lapisan ozon saja rasanya.
Masih dengan rasa malunya Alena mengintip dari celah lipatan lengannya melihat suasana perpustakaan yang sunyi senyap. Nafasnya masih tersengal karena menahan kesal atas kelakuannya sendiri. Hanya berlangsung beberapa detik sampai Alena akhirnya membalik kelapalanya menghadap ke arah lain, yaitu pada jendela kaca besar dengan bingkai kayu berukiran emas.
Menatap suasana dibalik jendela, Alena perlahan mulai tenang. Ada rasa lega yang menyusupi dadanya setelah ia menangis sesenggukan sedari tadi. Kalau tau menangis bisa membuatnya setenang ini, Alena akan sering-sering menangis dari dulu.
Kehadiran Regan membuat Alena merasa bersyukur. Setidaknya ia tidak benar-benar sendirian seperti yang ia pikir selama ini. Maka dalam perasaan lega itu Alena menutup mata sampai tanpa sadar bibirnya terus tersenyum bahkan saat ia telah berlabuh dalam alam mimpi.
<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<
Alena tidak akan begitu tekejut kalau saja saat membuka mata yang ia dapati adalah satu cup mie instan dan sebotol cola. Tapi ini, justru wajah Panji yang terpampang di hadapannya. Ah, sudah lama Alena tidak berinteraksi dengan pria yang tengah merebahkan kepala sembari menatapnya itu.
"Panji...."
Panji berkedip satu kali menanggapi panggilan Alena. Dia kembali lagi jadi Panji yang super diam seperti dulu. Namun riak mukanya tidak tenang seperti yang biasa Alena lihat. Lingkar hitam di bawah matanya seolah menjelaskan pada Alena, bahwa Panji tidak sedang baik-baik saja.
"Seberapa lama kita telah saling menyiksa diri sendiri?"
Suara Alena begitu pelan, nyaris berbisik ketika ia mempertanyakan hal itu. Pertanyaan yang tidak tertuju hanya untuk Panji, tapi juga untuk dirinya sendiri.
"Kita harus merasakan sakit agar tau caranya untuk sembuh..." Alena bicara lagi masih dengan tatap terarah pada netra biru kelam Panji, "... tapi Panji, apa kita benar-benar bisa sembuh setelah ini?"
__ADS_1
Panji tidak menjawab, hanya sesekali berkedip. Pandangan matanya tampak tak mengandung makna apa-apa. Sepasang netra buru kelam itu benar-benar kosong dan suram. Membuat Alena bertanya-tanya apa yang telah Panji hadapi sebelum datang padanya hari ini.
"Apa semua ini masih harus kita pertahankan, Panji?"
Alena bertanya, tapi tak ada suara yang menjawabnya. Ia terdiam saat Panji tampak memilih untuk tetap bungkam. Suasana perpustakan masih lengang seperti sedari awal Alena berada disini. Regan juga entah kemana sampai belum kembali. Sehingga dua insan itupun kini tenggelam dalam sunyi.
Mereka masih betah saling bertatapan dalam posisi berhadapan seperti itu. Masih betah untuk tetap diam sampai beberapa menit ke depan. Hingga untuk pertama kali Panji akhirnya bersuara disana.
"Aku tidak meminta disembuhkan setelah dilukai. Dan mungkin aku juga harus rela ditinggalkan setelah kamu datangi."
Saat itu kekehan Alena segera menyambut ucapan Panji. Bukan sejenis tawa yang menyenangkan, karena kegetiran tersirat dalam tawa itu berikut matanya yang memberat sebab air mata yang siap merebak keluar.
"Ternyata aku sejahat itu, ya...."
Dan saat itu Alena menjatuhkan setitik air matanya.
Panji tidak melakukan apa-apa setelah melihat pendar dimata Alena. Dia kembali diam setelah mengucapkan beberapa kata tadi. Bahkan ketika air mata Alena menitik untuk kedua kali, ia masih tak tergerak untuk melakukan apa pun. Hanya suaranya yang kembali terdengar mengudara dengan begitu lirihnya.
"Aku pernah bilang tidak akan berhenti di titik yang kamu ingin aku untuk berhenti. Tapi, Alena... aku akan berhenti di saat ini. Di titik dimana aku ingin diriku untuk berhenti melangkah mendekati kamu lagi."
Mata Alena kembali menghangat. Apa yang telah ia lakukan pada manusia sebaik ini? Diam-diam ia merasa benci pada dirinya sendiri, ia seperti monster yang merusak orang lain untuk memperbaiki dirinya sendiri. Namun, bukannya terperbaiki seperti yang diinginkan, Alena malah semakin rusak dan mengerikan. Logika yang terus menekan perasaan membuat ia menjadi sosok monster yang begitu kejam.
"Aku bukan orang baik...."
Pernyataan Panji membuat Alena mengernyit. Lelaki itu tersenyum dalam tatap mata yang kosong.
"Aku hanya ingin kamu tau, walau kamu merasa diri kamu jahat setidaknya kamu tidak sendirian. Aku juga sama jahatnya, karena membiarkan kamu terikat pada keegoisan begitu dalam."
Di detik ini Alena tak tau harus bagaimana lagi. Dimana lagi di belahan bumi ini Alena bisa menemui laki-laki dengan cinta setulus ini? Bahkan ia rela menjadi jahat ketika orang yang ia cintai juga menjadi hal yang serupa.
"Tak apa merasa bersalah. Setiap orang punya salah. Tak apa juga jika tak merasa demikian. Setiap orang punya hak untuk tak disalahkan."
"Panji, bagaimana kamu hidup selama ini?" Alena bertanya cepat begitu Panji menyelesaikan ucapannya.
Panji berkedip sekali lalu menarik sudut bibirnya untuk tersenyum lagi, "Seperti yang kamu lihat. Aku hidup seperti ini."
Panji memang menjawabnya, tapi Alena merasa itu sama sekali bukan jawaban. Seperti yang ia lihat? Seperti apa? Ah, ternyata Alena memang sebuta itu terhadap Panji.
"Ya, memang seperti itu, Alena."
Dia bicara seakan mampu membaca pikiran Alena.
"Aku hidup seperti pandangan orang buta. Gelap. Kosong. Hampa. Itulah hidup yang aku nikmati."
Dan Alena tak bisa menahan dirinya untuk tidak menangis. Ia sembunyikan wajahnya dalam lipatan lengan karena tak sanggup melihat wajah tersenyum dari seorang manusia yang telah ia hancurkan. Sorot mata biru kelam Panji yang tampak bergetar begitu menghantui Alena. Gurat hampa penuh rasa putus asa itu membuat Alena ikut hancur bersamanya.
"Panji..." dengan suaranya yang teredam beserta isak tangis Alena memanggil nama itu lagi, "... mari akhiri."
Dalam tangisnya Alena tidak pernah tau bagaimana Panji tersenyum atas kata-kata yang ia lontarkan. Salah satu tangan Panji terangkat mengusap pucuk kepala gadis itu.
"Iya... mari kita akhiri."
Dan setelahnya, seperempat jam kemudian tinggal Panji seorang diri. Lelaki itu duduk di pinggir jendela, menatap keluar dari kaca yang transparan. Saat itu angin berhembus dan daun-daun dari pepohonan diluar sana jatuh berguguran.
"Pada akhirnya kamu memilih untuk melepaskan dia."
Itu suara Regan. Selang beberapa detik setelah Alena pergi, lelaki itu keluar dari persembunyiannya. Ia memilih duduk di bangku paling belakang saat tadi Panji datang untuk menemui Alena. Dan dia memberikan dua orang itu kesempatan untuk menyelesaikan kekusutan di antara mereka. Tapi, bukan selesai seperti ini yang Regan pikirkan.
Panji tidak menoleh pada Regan yang bersandar di rak buku terdekat sambil melihat-lihat deretan buku di sana. Yang Panji lakukan hanya menghela nafas lalu bicara dengan pandangan kosong.
"Aku tidak pernah melepaskan apapun. Tapi, Alena lah yang memilih bebas dari rantai yang menjeratnya selama ini."
Dan itu seolah menjelaskan pada Regan, bahwa Panji masih bertahan. Pada area yang begitu menyakitkan, lelaki itu sama sekali tidak berniat untuk melangkah keluar. Karena sesungguhnya, area itu tak berpintu dan Panji telah menemui jalan buntu. Ia terjebak.
Saat Panji menoleh padanya, Regan membawa dirinya untuk berdiri tegak. Saat itu ia sama sekali tidak tau, bahwa ketika menatap guratan wajahnya Panji seolah sedang memandang wajah Argus yang menahan sakit dari belasan peluru yang menghujaninya bertahun-tahun silam. Ingatan Panji melayang pada masa itu, masa ketika Argus mendekapnya dan menjadi tameng untuknya.
Dan kini Panji melihat putra dari orang yang telah menyelamatkan nyawanya. Regan, belasan tahun silam dia masihlah seorang bocah lelaki yang begitu tidak sabaran menunggu kepulangan Sang Ayah. Dan yang ia dapati justru peti mati, dimana raga tak bernyawa Ayahnya terbaring di dalamnya.
Regan sama sekali tidak tau itu. Ia tidak tau bagaimana Panji dalam diam berkeringat dingin ketika potongan kenangan kelam itu kembali membayang di ingatannya. Regan tidak tau bagaimana tangan Panji gemetar ketika jejak rasa sakit itu kembali menghampirinya.
Tidak tau. Sama sekali Regan tidak tau. Bahkan ia juga tak tau menau ketika Panji jatuh berlutut dengan nafas tersengal setelah kepergiannya.
Sembari meraup oksigen dari udara, Panji menatap pintu tempat Regan baru saja pergi beberapa saat lalu. Dan dari sana ia seolah melihat, dirinya yang tertinggal sendirian saat semua orang telah melangkah maju tanpa keraguan.
Panji membiarkan dirinya tenggelam, dalam biasan kesedihan yang tak berkesudahan.
__ADS_1