
EPILOG
Kita pernah mendengar istilah bahwa hidup itu ibarat roda yang berputar. Kadang di atas, kadang di bawah. Kadang kita senang, kadangkala juga merasa susah. Kadang kita merasa kesulitan, tapi di lain waktu kita juga mendapat kemudahan.
Itu secara tak langsung menjadi sebuah pesan, bahwa segala hal selalu berjalan berdampingan. Kita tak bisa memisahkan hal menyenangkan dan hal menyedihkan. Karena keduanya saling berkaitan dan memberi pengaruh. Karena keduanya saling berikatan dan melengkapi. Karena itulah hidup yang sesungguhnya.
"Pacarku jauh di negri orang gimana gak cemas?"
Panji terkekeh pelan mendengar suara Alena yang seperti menggerutu. Ia yang sedang sibuk mengeringkan rambut menoleh pada layar laptopnya yang menampilkan wajah Alena.
Sudah satu tahun berlalu sejak Panji pindah bersama keluarganya. Dan sudah satu tahun itu juga ia kembali menjalin hubungan dengan mantan Wakil Ketua Dewan Siswa itu. Mereka memutuskan kembali berhubungan karena satu dan lain hal. Dan setelah dijalani, ternyata tidak buruk juga meski jarak ribuan kilometer memisahkan keduanya.
"Minggu depan aku ke sana, puas?"
Alena menggeleng, "Gak, gak puas. Kamu gak bisa datangnya dirahasiain gitu? Biar suprise."
"Gak usah kebanyakan berharap. Kita jalanin yang nyata-nyata aja."
"Loh, Den Panji, kita ini pacarannya virtual loh."
Panji terkekeh pelan, ia melempar handuk sembarangan lalu menaruh fokus sepenuhnya pada Alena.
"Iyain. Kamu lagi dimana?"
"Dimana, ya? Hmm.... Aku dimana? Coba tebak!"
"Skip, deh."
"Gak asik, gak seru!"
"Habis kamu kuno banget."
"Den Panji!! Kamu ngajak berantem, ya?!!"
"Ahahahah!"
Begitulah hubungan mereka. Meski sempat beberapa kali mendapat kendala, namun sejauh ini semua berjalan dengan baik. Masalah bukan menjadi hal yang ditakuti lagi, karena mereka telah belajar untuk menghadapinya. Memang benar adanya pengalaman adalah guru terbaik. Luka di masa lalu membuat mereka belajar untuk menjadi lebih kuat dan tegar.
Percakapan dengan Alena berakhir beberapa menit kemudian karena Alena yang sudah mengantuk. Wajar juga, karena di tempat Alena sekarang pasti sudah malam sementara disini masih pagi.
Panji membuka pintu balkon, ia berdiri di dekat terali pembatas menatap ke bawah. Terlihat Panca yang sedang dimarahi Bunda karena merusak tanaman hiasnya. Lalu ada juga seorang perempuan lain disana, kalau Panji tidak salah namanya Renata. Dia wanita yang tengah disukai Panca, dan juga orang yang membantu merawat kucing-kucing Panji setahun lalu.
Ah, bicara tentang kucing, ada yang masih ingat tiga anak angkat Panji itu? Mereka tidak Panji bawa kemari melainkan ia berikan pada teman kelasnya. Ia rasa mereka pasti bisa merawat kucing-kucing itu dengan lebih baik.
Panji tertawa geli melihat penderitaan Panca di bawah sana. Setelah puas, ia berniat masuk ke kamarnya kembali. Tapi, kanvas di sudut balkon menarik perhatiannya. Kanvas kosong yang entah sudah berapa lamanya ada disana.
Sejak kejadian terakhir saat Panji membuang semua lukisannya, ia tidak pernah melakukan hal itu lagi sampai saat ini. Pernah beberapa kali ia duduk di depan kanvas itu, memegang kuas bersiap menggambar. Namun, setitik warna pun tidak bisa ia torehkan. Hasilnya, kanvas itu masih bersih sampai sekarang.
Dan sekarang Panji mengulangi rutinitas itu lagi. Ia menarik kursi dari dalam kamarnya membawanya ke balkon dan duduk di hadapan kanvas itu. Panji sudah memegang kuas dan palet. Namun sekarang ia masih harus berfikir. Dari mana ia harus menarik sapuan pertama untuk kali ini.
Sibuk berfikir, Panji sampai tidak sadar ada orang yang naik dari tangga balkon mendekatinya diam-diam. Hingga sepasang lengan memeluk lehernya dari belakang, Panji terhenti dari acara berfikirnya.
"Wah, Den Panji lagi jadi Seniman Aksara sekarang, ya?"
Meski tidak bisa menutupi keterkejutannya, Panji tidak merasa perlu menoleh untuk melihat orang itu. Dia biarkan saja, dan bersikap biasa seolah tidak terjadi apa-apa.
"Ganti gelar, ganti nama juga, ya?"
"Oh iya dong!"
"Jadi, Chef Tanuwarman lagi apa disini? Bukannya anda harusnya sedang tidur?"
__ADS_1
Alena tertawa mendengar Panji memanggilnya Chef. Ia membungkuk menumpukan dagunya di pundak sebelah kiri Panji.
"Kangen pacarku, jadi tadi pakai teleportasi kesini."
Panji menoleh sekilas untuk melihat wajah Alena. Lalu ia kembali fokus pada kanvasnya, masih berfikir ingin melukis apa.
"Kok kamu biasa aja sih aku ada disini? Kaget dong. Ini aku ceritanya lagi ngasih kejutan, loh."
Alena masih betah bergelayut di punggung Panji. Ia menusuk-nusuk pipi Panji dengan jarinya berharap manusia itu mengeluarkan sedikit ekspresi terkejut atau sekedar terharu juga tidak apa-apa. Tapi, memangnya apa yang bisa Alena harapkan dari Panji.
"Panji kamu resek, ya."
"Oh, ya?"
"Begini aja nyahut kamu!"
Alena menjauhkan dirinya dan beralih duduk di atas lantai tepat di sebelah Panji. Ia ikut melihat pada kanvas kosong di depannya seperti yang Panji lakukan. Lalu tak lama ia mendongak menatap Panji yang tampak sangat serius tapi tidak melakukan apa-apa dari tadi.
"Kamu ngapain, sih?"
Panji menghela nafas sejenak lalu meletakkan kuas dan paletnya, "Mungkin kanvas Seniman Aksara-nya biar kosong dulu aja, deh."
Sekarang Panji berpindah duduk bersila di hadapan Alena. Ia menumpukan sikunya di lutut dan menopang dagu, "Jadi, bisa jelasin kenapa kamu ada disini?"
"Hoo, ternyata kamu penasaran juga."
Tanpa belas kasihan Panji mencubit pipi Alena, "Jawab Alena!"
"Iya-iya!" Alena mengusap pipinya dan menatap Panji penuh permusuhan. "Kita ini benar pacaran atau gak, sih?"
Tangan Panji terulur lagi ingin mencubit pipi Alena yang sebelah lagi. Tapi Alena buru-buru menahannya, "Iya, aku kasih tau. Aku mau nonton konsernya Regan. Puas kamu?!"
Dengan entengnya Panji menggeleng, "Sama sekali enggak. Bukannya kamu bilang gak mau pergi?"
"Dia Papa kamu Alena," tegur Panji. "Jadi tadi waktu vidcall kamu udah disini? Kesini sama siapa?"
"Aku bawa oleh-oleh buat kamu."
Kali ini Panji mencapit kedua belah pipi Alena, "Aku gak nanya itu."
Cekcok itu terus berlanjut dengan Panji yang terus bertanya dan Alena yang menjawab tak sesuai pertanyaan. Tak lama Bunda memanggil mereka untuk turun dan makan bersama. Alena memang sudah akrab dengan keluarga Panji. Beberapa kali ia datang kesini dengan berbagai alasan, seperti liburan atau ikut dinas dengan Adimas.
"Regan gak tau aku datang, lho!"
Kini mereka duduk di pinggir kolam renang. Sebenarnya hanya Alena saja karena Panji sudah masuk ke dalam air. Kata Panji pemanasan global semakin parah, dunia hari ini panas sekali.
"Tau gak kenapa?"
Alena terus berceloteh pada Panji yang berenang bolak-balik sedari tadi. Kemudian lelaki itu mendekat ke tepi di tempat Alena duduk. Ia menumpukan tangannya di pinggiran kolam menatap pada Alena.
"Karena kamu mau lihat pacarnya Regan?"
"Bukan pacar, tapi 'calon' pacar."
"Kamu udah ngulangin itu sepuluh kali dari tadi, Alena," Panji melengos malas dan menyelam lagi ke dalam air.
"Gara-gara kamu jug—Panji!"
Byur!
Panji menarik kaki Alena yang terjuntai di air sehingga dia jatuh ke dalam kolam. Setelahnya Panji berenang menjauh. Sedang Alena kalang kabut karena terkejut. Ia mengusap wajahnya yang basah lalu berenang ke tepi. Dan tak lupa sumpah serapah yang ia lontarkan pada Panji.
__ADS_1
Panji tertawa saja. Ia menahan Alena yang akan keluar dari kolam dengan memeluknya dari belakang.
"Kamu tuh—Ah udahlah! Awas! Jangan peluk-peluk!"
"Ahahahah. Maaf."
"Kalau minta maaf jangan ketawa!"
Panji berusaha meredakan tawanya, "Iya-iya. Udah gak ketawa."
Lalu mereka diam. Panji yang memeluk Alena dan Alena yang membiarkan Panji memeluknya. Mereka sama sekali tak ada niatan untuk keluar dari kolam.
"Sekarang gimana?" Alena bertanya pelan dengan wajah tertunduk. "Aku gak ada baju ganti," ujarnya sambil menutup wajah dengan kedua telapak tangan.
"Hm?" Panji malah mengeratkan pelukannya dan menumpukan dagunya di pundak Alena, "Nanti pinjam sama Bunda aja."
Alena menoleh pada Panji, "Konsernya Regan?"
Panji berfikir sebentar, "Gak usah datang. Kamu sama aku aja."
"Aduh-aduh, lihatlah kelakuan adikku ini!"
Panca datang-datang merusak suasana. Sehingga Panji melengos malas dan menarik dirinya menjauh dari Alena.
"Handuknya adik ipar," kata Panca sambil menyodorkan handuk yang terletak di gazebo pada Alena yang sudah keluar dari kolam. Sementara Panji masih betah berenang dalam air.
"Bunda mana, bang?" tanya Alena sambil menyampirkan handuk menutupi pundaknya. "Aku mau minjam baju."
"Ada di taman lagi nanam bunga sama Reta."
Reta itu maksudnya Renata, perempuan yang katanya 'akan' menjadi pacarnya Panca.
Alena pergi menemui Bunda seperti yang dikatakannya. Tak lama Panji juga keluar dari kolam. Anak itu mengambil handuk di gazebo dan pergi begitu saja. Benar-benar mengabaikan Panca.
Panca yang ditinggal begitu saja hanya menggelengkan kepala melihat adiknya semakin menjauh masuk ke dalam rumah. Panji masih sama seperti dulu, ia masih anak minim ekspresi yang irit bicara. Namun, bagi Panca telah ada perubahan besar dalam diri adiknya itu. Panji yang sekarang jauh lebih terbuka dan mau menyuarakan perasaannya dengan jelas.
Terdengar suara ribut-ribut dari dalam rumah saat Panca tengah sibuk merenung. Ia akhirnya bangkit dan melihat sumber keributan itu. Dilihatnya di ruang tengah ada Ayah dan Bunda. Lalu Renata dan Alena yang sudah berganti pakaian juga ada disana. Dan ditambah kehadiran lainnya.
"Nanny?"
Wanita tua itu berdiri melihat cucu tertuanya datang. Bukannya memeluk seperti hayalan Panca, Grandma justru menjewer kuping cucunya itu. Padahal Panca sudah merentangkan tangannya.
"Cucuku yang bujangan tua ini kapan kamu nikah, heh?"
"A-ampun Nanny. Iya nanti nikah kok, cari duit dulu buat mahar."
"Alesan kamu! Duit dari perusahaanmu itu apa masih kurang?"
Ah, perusahaan. Jangan kira Panca itu hanyalah bujangan pengangguran yang jadi beban keluarga. Meski ia sering berkeliaran sana sini, tapi dia juga mengembangkan usahanya sendiri. Dibantu dengan teman-temannya, Panca mendirikan perusahaan IT. Beberapa bulan lalu ia bahkan sudah meluncurkan sebuah aplikasi yang mendapat sambutan baik dari berbagai kalangan.
Panji turun dari lantai 2 sehabis berganti pakaian. Ia melihat keributan yang terjadi disana. Orang-orang yang mengobrol. Saling melempar candaan dan tertawa. Gerutuan Panca, Omelan Nanny, nasihat Ayah dan Bunda yang menjadi penengah.
Rumah ini benar-benar terasa hidup oleh mereka. Ditambah lagi ada Alena dan Renata disana yang sudah seperti bagian dari keluar ini sendiri. Panji akhirnya bisa merasakan bahagia yang sering orang-orang sebutkan. Ia akhirnya tau perasaan bahagia yang sering orang-orang dambakan.
Ternyata dengan mengikhlaskan semua yang terjadi bisa membuatnya merasa lebih baik. Panji belajar banyak hal dari kehilangan demi kehilangan yang menimpanya. Dan dari sana ia mengetahui untuk lebih menghargai orang-orang di sekitarnya. Panji diajarkan untuk menjaga apa-apa yang ia miliki, sehingga ketika memang kehilangan itu tak bisa dihindari, setidaknya tidak ada penyesalan apapun yang ia dapati.
Panji melangkah mendekat, ketika Grandma menyadari keberadaannya dan memanggilnya mendekat.
Ah, inilah yang orang-orang sebut sebagai pelangi sehabis hujan. Sebuah bahagia yang datang setelah sedih yang berkepanjangan.
\=TAMAT\=
__ADS_1