Kanvas Aksara

Kanvas Aksara
MASIH SAMA


__ADS_3

Bagian 22


[Masih Sama]


Satu bulan telah berlalu semenjak hari penuh duka itu. Aura sendu di rumah kayu pinggiran kota tersebut masih sama meski hari demi hari telah terlewati. Para penghuni rumah itu masih setia disana, masih memilih untuk tetap bersama karena kegamangan akan kehilangan yang menimpa mereka kesekian kalinya.


Dari luar semua memang tampak berjalan seperti biasa. Seperti para pekerja yang sibuk di kebun belakang atau memanen apel di pekarangan depan. Ayah yang memantau para pekerja atau sekedar mengurus sepetak kebun anggur mereka. Bunda yang mengurusi tanaman hiasnya dan berbaur dengan para pekerja wanita. Panca yang kerap bolak-balik ke sungai di belakang rumah membawa kail pancing namun tak pernah membawa pulang ikan hasil dia menjaga pancing sepanjang hari. Serta Panji yang terus berdiam diri di kamarnya hari ke hari.


Meski begitu, semua yang tampak tak cukup membuktikan bahwa mereka telah kembali baik-baik saja. Tentu saja, tak ada kata 'baik' dalam sebuah kehilangan yang pelik. Kerinduan akan eksistensi seseorang yang tak mungkin lagi ditemui sangatlah menyiksa. Sosok Siena yang terlalu banyak mengambil peran semasa hidupnya membuat kehampaan yang kontras terasa. Sampai kemudian mereka hanya bisa mengharapkan waktu untuk mengobati luka-luka yang menganga.


"Apa ada yang kamu ingin lakukan?"


Orang yang bicara barusan itu adalah seorang wanita berusia setengah abad dengan rambut sebahu yang hampir memutih keseluruhan. Ia duduk pada kursi yang disediakan di dalam ruang kamar bersekat cermin satu arah yang memungkinkan ia memandang keluar dengan leluasa. Di hadapan wanita itu, seorang remaja belasan duduk pada sofa single dengan satu tangan menopang dagu dan pandangan terarah ke luar.


"Hari ini pun cuacanya cerah. Langit tampak indah, ya Panji?"


Panji hanya diam. Obrolan searah itu sudah terjadi sejak setengah jam yang lalu. Setiap hari di jam-jam seperti ini, wanita tua itu akan duduk bercakap-cakap dengan Panji disana. Meski Panji tak pernah menyahuti, tapi rutinitas itu tak pernah dihentikan.


Wanita tua dengan jas putih yang khas itu melirik arlojinya, "Sesi hari ini sudah selesai rupanya. Kita akhiri disini dulu, ya."


Meski Panji tak menyahut wanita itu tetap menunjukkan senyum tulusnya. Lalu tangan ringkihnya yang keriput terulur mengusap-usap puncak kepala Panji. Dan anak itu sudah hafal apa yang akan wanita itu ucapkan selanjutnya.


"Berbahagialah hari ini, Nak."


Suaranya sangat halus dan jernih. Persis suara Bunda. Netra abu-abu kelamnya pun sama dengan Bunda. Karena memang semua yang ada pada Bunda itu diwarisi dari wanita ini. Dia adalah nenek Panji dari pihak ibu yang juga merangkap sebagai psikiater yang menangani Panji.


Saat Siena berpulang, wanita yang kerap dipanggil  Grandma  oleh cucu-cucunya tersebut pada waktu itu terjebak karena peperangan yang terjadi di negara di benua bagian selatan. Negara-negara di selatan memang masih terjebak dalam perang berkepanjangan dari generasi ke generasi. Mereka masih saja berpolemik memperebutkan wilayah-wilayah selatan yang kaya mineral.

__ADS_1


Akibatnya rakyat banyak yang menderita, apalagi sistem kasta masih diberlakukan disana. Tidak sama dengan negara-negara di bagian utara yang cenderung untuk saling menjalin kerjasama dan penuh kedamaian. Dan juga meski masih sama-sama menganut bentuk pemerintahan monarki, tetapi sistem kasta tidak berlaku disini. Rakyat biasa maupun keturunan bangsawan sama rata. Karena itu banyak imigran dari negara-negara selatan menyebar ke negara-negara utara untuk mencari kehidupan baru.


Salah satu dari imigran itu adalah Nanny. Sewaktu ia masih muda, dia dikirim orangtuanya ke benua Xe untuk menghindari perang yang semakin menggila di negaranya. Sampai kemudian dia tumbuh dewasa sampai berkeluarga dan menua seperti sekarang. Satu-satunya buah hatinya telah dewasa dan bahkan juga telah memiliki keluarga kecilnya sendiri. Ia tak memiliki kekhawatiran apapun lagi jika pulang ke kampung halamannya. Kalaupun ia harus terjebak dan gugur karena gejolak politik disana, ia tak akan memiliki penyesalan dan akan menutup mata dengan tenang di tanah kelahirannya.


Awalnya dia pikir begitu. Sampai berita duka itu datang. Dan ia tau kesalahan terbesarnya adalah menganggap anak yang telah dewasa akan baik-baik saja dengan sendirinya. Nyatanya seorang anak tetap akan menjadi anak bagi orangtuanya. Sejauh apapun ia melihat anaknya telah bertumbuh, ketika anak itu kembali kepelukannya dengan tersedu-sedu ia tau bahwa anak itu mustahil akan lepas darinya. Bagaimana pun pada akhirnya ia tidak lagi terjebak pada kerinduan pada tanah kelahirannya yang penuh pertumpahan darah. Sekarang ia berpikir untuk melewati sisa hidupnya disini. Bersama keluarga kecil nan rapuh yang berdiam di pinggiran kota Vyen ini.


"Bagaimana kalau aku tak bahagia?"


Nanny masih mengenang masa silam dengan memandang Panji saat anak itu tiba-tiba bertanya padanya. Setelah belasan hari ia habiskan di rumah ini, berbicara pada Panji yang diam membisu, akhirnya kali ini ia bisa mendengar suara itu. Suara yang terdengar serak dan juga bermakna hampa.


"Maka besok  Grandma  akan meminta hal yang sama lagi."


Panji masih pada posisi yang sama. Menopang dagu dengan pandangan terarah pada bentangan alam di luar sana. Meski rambut auburnnya dipangkas rapi, tapi tak mampu menutupi betapa kacaunya anak itu. Netra biru kelamnya terlihat keruh dengan lingkar hitam yang parah di kelopak bawahnya. Pipi Panji pun tampak lebih tirus dari sebelumnya dengan bekas luka goresan kecil di sekitar rahang dan pelipis. Hal itu cukup membuktikan bahwa sebulan belakangan ini sama sekali tidak terlalui dengan baik olehnya.


"Panji...."


"Kamu suka sekali dengan langit, ya?"


"Iya."


Nanny mengulas senyum simpul ketika Panji menyahut dengan cepat.


"Kenapa begitu?"


Kali ini Panji tampak berpikir. Cukup lama juga sampai ia kemudian menjawab dengan ragu.


"Karena.... Aku gak tau."

__ADS_1


"Tidak tau?"


Nanny sudah berpindah berdiri di sisi Panji ikut memandang hamparan langit biru tak berawan. Beberapa saat menunggu ia tak mendapat jawaban. Saat menatap Panji, tampak olehnya anak itu yang sudah memainkan rubik dengan kepala tertunduk. Itu artinya, Panji ingin sendiri.


"Ma, supir Mama sudah datang."


Bunda muncul dari balkon dengan membawa wadah kecil berisi anggur segar yang baru dipetik. Ia melangkah masuk setelah melepas sandalnya dan memberitahu  Grandma  agar segera menemui supir pribadinya yang sudah menunggu di bawah.


"Panji, selama seminggu ke depan  Grandma  tak bisa menemani kamu disini. Jaga diri baik-baik, ya," ujar  Grandma  sembari sedikit membungkuk mengecup kening lalu kemudian kedua pipi Panji. Meski anak itu hanya sibuk dengan rubik dan tak memberikan respon yang berarti.


Bunda meletakkan wadah berisi anggur yang tadi dibawanya, ke atas nakas. Ia mengantar  Grandma  turun lewat balkon. Saat kembali lagi ke atas langkah Bunda sempat terhenti melihat kandang kucing yang kosong di pojok balkon. Ketiga kucing mungil itu tengah diungsikan dan di rawat oleh teman Panca. Salah satu dari mereka sakit, sedangkan di rumah tak ada yang pandai mengurus kucing. Jadinya Panca meminta bantuan temannya yang merupakan seorang pecinta kucing.


Saat masuk ke dalam kamar Panji lagi, Bunda mendapati anak itu sudah berbaring di ranjangnya. Hanya kepalanya yang tampak menyembul sementara bagian tubuh yang lain tertutup selimut tebal. Padahal cuaca sedang panas-panasnya di luar. Untung saja ruangan kamar Panji sudah dipasang AC. Ayah berinisiatif melakukannya saat melihat kebiasaan tidur siang Panji yang selalu membungkus diri dengan selimut tebal, tak peduli cuaca cerah ataupun hujan. Sebaliknya di malam hari anak itu justru tidak mau berselimut sehelai benang pun. Yasudah, terserah Panji sajalah.


"Bunda lupa ngasih ini..." Bunda mengeluarkan sebuah kuas kecil dari saku daster yang ia kenakan, "... tadi ketua kelas kamu datang lagi. Kali ini dia ngasih kuas, katanya dari Gani."


Bunda meletakkan benda titipan Zaka itu di antara benda-benda beragam yang disusun pada meja kecil di dekat sofa single. Semua yang ada di meja itu adalah titipan dari murid kelas Zero yang diantarkan setiap hari oleh Zaka selaku ketua kelas. Semenjak semester baru dimulai Zaka tidak pernah absen datang ke rumah hanya untuk mengantarkan benda-benda titipan temannya. Dia sama sekali tidak mempertanyakan kenapa Panji tidak kunjung datang ke sekolah meski hari libur sudah berakhir. Dia juga tak meminta untuk bertemu dengan Panji. Kedatangannya benar-benar hanya sekedar memberikan titipan teman-temannya saja.


"Kalau kamu butuh sesuatu, Bunda ada di bawah."


Itu kalimat terakhir Bunda sebelum ia meninggalkan kecupan di puncak kepala Panji dan beranjak pergi dari sana.


Tak lama setelah itu, Panji bergerak pelan menarik selimut sampai menutupi separuh wajahnya. Matanya terbuka lebar menatap anggur di atas nakas.


"Aku butuh Eksa dan Yaya, apa Bunda bisa berikan?"


Dan pertanyaan itu mutlak mempunyai jawaban 'TIDAK'. Panji tau itu. Ia menyadarinya. Bahwa tangis yang telah tumpah, mustahil untuk di telan kembali.

__ADS_1



__ADS_2