
KANVAS 18
[PULANG]
/•
\•/
Malam sama sekali belum larut, malah senja juga belum berakhir. Tapi, Panji sudah bergelung dalam selimut. Ia membiarkan lampu kamar tidak dinyalakan. Dan dalam keremangan itu matanya terbuka lebar, menatap keluar melalui dinding kaca kamarnya.
"Aksa, Bunda masuk, ya?"
Suara Bunda terdengar dari luar setelah ketukan di pintu. Lalu tanpa menunggu jawaban dari Panji, Bunda sudah memutar gagang dan masuk dengan tiga anak angkat Panji di pangkuannya.
Mula-mula Bunda mencari saklar dan menghidupkan lampu. Hal yang membuat Panji menarik kepalanya untuk masuk dalam selimut. Lalu Bunda menuju balkon untuk mengandangi peliharaan putranya. Tak lupa Bunda juga menutup gorden sehabis selesai dengan kucing-kucing Panji.
Sesudah itu barulah Bunda duduk di pinggir ranjang di dekat kepala Si Bungsu. Ia tarik pelan selimut anak itu hingga menampakkan wajah Panji yang sedang terpejam. Tangan Bunda mengusap surai Panji dengan sayang.
"Ayo makan dulu, nanti baru tidur lagi."
Panji membuka mata, lalu mendongak menatap Bunda. Awalnya ia ingin menyahut, tapi tak tau apa yang ingin dikatakan jadinya di berkahir diam. Ia memejamkan mata lagi menikmati usapan tangan Bunda di kepalanya.
"Kamu masih marah sama Bunda?"
Tak ada sahutan. Saat itu terdengar salah satu dari trio Oyen mengeong.
"Aksa, coba bicara sama Bunda, Nak," pinta Bunda masih mengusap lembut surai hitam Panji.
"Yaya benar," dengan mata terpejam Panji menyahut. Ia diam setelah mengatakan itu seolah menunggu Bunda untuk menanggapinya.
"Tentang apa?"
"I'm broken. Need to be fix, need to be heal."
Usapan tangan Bunda terhenti saat Panji meraih tangannya. Anak itu membuka mata lalu mendongak menatap Bunda lagi.
"Nda, mau peluk."
Panji bergeser memberi ruang untuk Bunda berbaring di sebelahnya. Ia segera masuk dalam dekapan hangat Bunda begitu Bunda berada di sampingnya. Dan di saat ini Bunda merasa seperti kembali ke masa lalu. Dimana dulu Pandu selalu minta di peluk sebelum tidur. Ia teringat masa-masa itu, tiap kali ia memeluk Pandu maka Panji yang akan memeluk dirinya dari belakang. Saat itu Panji hanya mengucapkan selamat tidur. Dan sekarang Bunda berpikir, mungkinkah waktu itu Panji sebenarnya minta di peluk juga olehnya? Tapi karena Pandu sudah meminta dipeluk lebih dulu, Panji mengalah untuk kakaknya dan memilih memendam keinginannya sendiri.
Memikirkan itu membuat mata Bunda memanas.
"Bunda, aku gak tau harus sembuh gimana. Aku juga gak tau harus memperbaiki semua dengan apa...."
Bunda mengecup puncak kepala anaknya itu berkali-kali, "Karena itu kamu punya kami, Aksa. Bunda, Ayah, Abang sama Nana, kamu bisa bergantung pada kami. Atau pada siapapun yang kamu ingin untuk berbagi luka itu dengan kamu. Karena di dunia yang berisi milyaran jiwa ini, tak ada seorang pun yang benar-benar bisa untuk hidup seorang diri."
Kata-kata Bunda begitu menenangkan menelusup dalam rungu Panji. Anak itu bergerak mencari posisi ternyaman dalam pelukan Bunda ketika tangan Bunda kembali mengusap-usap kepalanya dengan pelan.
__ADS_1
"Tapi, Bunda, aku juga gak tau caranya bergantung pada orang lain."
Saat itu Bunda mengeratkan pelukannya dan berbisik pelan, "Kamu bisa belajar. Pelan-pelan aja, Aksa. Bunda akan selalu ada untuk kamu."
Panji diam. Matanya telah terpejam namun Bunda tau dia tidak tidur. Tangan Bunda masih mengusapi surai putranya, sesekali juga menepuk-nepuk pelan punggung anak itu. Dan teringat akan kenangan yang sudah-sudah, Bunda lalu bersenandung lirih.
Sesekali kucing dalam kandang terdengar mengeong. Gemericik sungai juga terdengar deras di telinga dalam suasana syahdu ini. Lantas kemudian, satu dua tetes air hujan beradu dengan atap. Makin lama makin banyak tapi tidak terlau lebat. Perlahan suhu makin turun seiring rinai hujan makin bertambah.
"Bunda, apa kita harus pindah?"
Tiba-tiba saja Panji sudah membuka mata dan bertanya pada Bunda. Senandung Bunda terputus saat ia menunduk dan didapatinya Sang Anak tengah menatapnya menanti jawaban.
"Kamu inginnya gimana?" tanyanya lembut seraya menepikan poni Si Bungsu yang mengganggu matanya.
Panji berkedip beberapa kali kemudian memutus kontak mata dengan Bunda. Ia menyerukkan kepalanya mendekat ke arah Bunda dan mengeratkan pelukannya. Untuk pertanyaan Bunda... Panji tidak menemukan jawabannya.
"Kita sudah terlalu lama terjebak dalam masa lalu. Bunda pikir sedih itu harus segera di sudahi. Tapi kalau kamu belum sanggup..." Bunda menepuk-nepuk pelan punggung Panji lagi dan berkata dengan amat menenangkan, "... tak apa, jika dengan terburu-buru malah menyakiti kamu maka lakukan pelan-pelan saja."
Hening lagi. Walau tidak sepenuhnya sunyi karena rintik hujan yang terdengar di luar sana. Namun Panji tak menyahuti ucapan Bunda. Dia hanya memejamkan mata menikmati hangat dari tubuh Bunda.
Derit engsel pintu terdengar bersamaan dengan Ayah yang muncul di sana. Pria itu urung melangkah lebih dalam ketika mendapati anaknya meringkuk dalam pelukan Sang Istri. Ayah sempat berkontak mata sebentar dengan Bunda sampai kemudian dia tersenyum tipis dan kembali menutup pintu.
Membiarkan Ibu dan Anak itu menghabiskan waktu berdua, Ayah lalu turun kembali ke lantai satu. Awalnya ia ingin mengajak keduanya turun untuk makan malam, tapi biarlah mereka puas-puas berpelukan dulu. Diam-diam juga ia berharap, Panji bisa lebih terbuka pada wanita yang telah melahirkannya itu.
Baru saja Ayah menapaki lantai dasar, pintu depan terbuka dan menampilkan sosok Si Sulung. Badannya setengah basah karena gerimis yang ia lalui sepanjang perjalanan pulang. Dan dari yang Ayah lihat, pakaian anaknya itu masih sama seperti yang ia kenakan kemarin saat pergi dari rumah tanpa bicara apa-apa.
Panca berdiri dengan canggung begitu melihat sosok Ayahnya yang berjalan mendekat. Ia mengusap tengkuk dengan kikuk dan mengalihkan pandang dari Ayah. Rasanya Panca mati gaya menghadapi Ayah setelah ia kabur sehabis cekcok dengan adik-adiknya dan tidak menjelaskan apapun pada orangtuanya.
Panca mengangguk saja, masih tidak bicara. Lalu ia melangkah menuju lantai atas untuk membersihkan diri. Ia sempat terhenti sebentar dan menatap ke arah pintu kamar Panji yang tertutup rapat. Niatnya untuk melihat Sang Adik ia urungkan saat sayup-sayup didengarnya suara Bunda bersenandung pelan.
Akhirnya Panca masuk ke kamarnya mengambil handuk dan baju ganti lalu turun lagi ke bawah untuk mandi. Di ujung anak tangga ia milirik Ayah yang duduk tanpa melakukan apa-apa di ruang depan. Pria itu hanya diam menatap ke depan dengan pandangan menerawang. Lalu tak berlama-lama lagi Panca segera masuk ke kamar mandi.
Selang 15 menit, Panca akhirnya duduk berhadap-hadapan dengan Sang Ayah. Ia menatap wajah Ayah dan mendapati kerutan samar di beberapa bagian. Ayah sudah semakin bertambah tua tanpa Panca menyadarinya. Begitu pun dengan Ayah. Ia amati lekat-lekat sosok putra sulung yang mewarisi wajahnya dengan sempurna. Rasanya baru kemarin ia menyambut kelahiran anak ini ke dunia, sekarang tidak terasa ia sudah besar saja.
"Abang, maafkan Ayah ya, Nak."
Panca menatap Ayahnya itu lamat, "Maaf untuk apa, Yah?" tanyanya.
Ayah mengulas senyum simpul, "Semuanya. Maafkan Ayah untuk semuanya."
Panca masih menatap Ayahnya mencoba mencerna dengan baik-baik kata-kata Sang Ayah.
"Ayah bukan Ayah yang baik. Ayah hanya berusaha untuk melakukan yang terbaik. Begitupun dengan kamu. Sebagai anak tertua kamu adalah tumpuan adik-adikmu, dan kamu sudah berusaha sebaik mungkin melakukannya."
Mendengar ucapan Ayah, Panca menunduk. Ia memainkan jari. Dalam hati merasa tersentil. Panca merasa tidak berusaha melakukan apapun untuk menjadi kakak yang baik bagi adik-adiknya selama ini. Dia hanya sibuk melarikan diri, seperti kata Siena. Dia tak lebih dari seorang pengecut.
Mengetahui konflik dalam diri putranya, Ayah lalu bicara lagi, "Jangan merasa rendah akan diri kamu sendiri. Bagi Ayah kamu sudah menjadi anak yang baik, dan di mata Ayah kamu juga telah berusaha menjadi baik juga untuk adik-adikmu. Tapi, kamu sepertinya melupakan satu hal, ya?"
__ADS_1
Panca mendongak ketika Ayah bertanya di akhir kalimat. Ia memang tak bersuara tapi sorot matanya jelas mempertanyakan maksud dari pertanyaan Ayah.
"Kamu lupa untuk menjadi baik juga terhadap diri sendiri."
Yang Panca lakukan setelah mendengar itu adalah membeku.
Ayah menhela nafas sejenak, "Nak, hal apapun itu cobalah untuk memulainya dari diri kamu terlebih dahulu. Jangan hanya berpikir untuk membuat orang lain bahagia dan mengabaikan kebahagiaan kamu sendiri. Jangan mencoba untuk menghibur orang lain dan membiarkan dirimu tenggelam dalam kesedihan. Jangan pernah kamu bergerak untuk mengobati luka orang lain saat luka kamu sendiri telah membusuk karena terlalu lama di abaikan. Kamu juga butuh di bahagiakan, butuh di hibur, butuh di obati. Diri kamu butuh di pedulikan olehmu juga."
Panca menggigit bibir menunduk dalam-dalam. Kata-kata Ayah menusuk dalam ke relungnya membuat detak jantungnya terdengar seakan mempertanyakan hal itu. 'Kemana saja kamu selama ini?'
Ayah bangkit dari duduknya lalu berdiri ke sisi Panca. Ia mengusak rambut auburn putranya itu seperti yang sering ia lakukan dulu untuk mengapresiasi setiap prestasi yang anak itu peroleh. Dan bagi Ayah, prestasi terbesar Panca adalah menjadi anak terbaik baginya dan juga Istrinya.
"Tak apa kalau kini kita kuyup di timpa hujan. Nanti sinar mentari akan mengeringkannya. Tak apa kalau kita berada di penghujung malam yang kelam. Nanti pagi akan datang lagi. Kita sudah melangkah sejauh ini, dan harus bisa menapak lebih jauh lagi. Berbahagialah sendiri dulu, Nak. Setelah itu baru ajak kami untuk ikut tertawa bersama kamu."
<<<<<<<<<<<
Ah, entah sudah berapa lama waktu berlalu tapi rasanya itu sudah sangat lama saat mereka kembali berkumpul seperti ini. Bunda yang menata makanan di meja makan. Ayah yang duduk di ruang depan sibuk menulis sesuatu di kertas—entah apa yang ditulisnya tapi tampak sangat serius. Lalu, Panji yang akhirnya mau keluar dari persembunyiannya duduk di dekat Sang Ayah memainkan rubik di tangannya.
"Jangan kelayapan kemana-mana lo, langsung pulang!"
Panca masuk dari pintu depan dengan ponsel di telinga. Ia juga menenteng sebuah kresek berisi bahan pesanan Bunda. Lelaki itu baru saja kembali dari supermarket yang jaraknya lumayan jauh dari rumah. Niatnya ia sekalian ingin menjemput Siena untuk pulang namun mengingat anak itu membawa kendaraan sendiri jadi ia putuskan menelponnya saja.
Setelah mendapat sahutan dari Siena, Panca lantas menyerahkan barang belanjaannya pada Bunda. Lalu ia ikut bergabung ke ruang depan bersama Ayah dan Panji. Saat itu Panji selesai menyamakan warna pada rubiknya. Dia mengacaknya lagi dan mulai memutarnya kembali.
"Kurang kerjaan banget, deh anak Ayah," ujar Panca mengedikkan dagu ke arah Panji.
Ayah memperbaiki kacamatanya yang sedikit melorot, masih menulis ia sedikit melirik pada Si Bungsu. Dalam hati juga membenarkan ucapan Panca. Sebab sedari tadi Panji terus memutar-mutar rubiknya tanpa henti, sedikitpun tidak bicara atau beranjak dari tempatnya.
"Sewot aja yang bukan anak Ayah."
Tanpa diduga Panji menyahut tenang tanpa mengalihkan mata dari rubiknya. Hal itu membuat Ayah tertawa spontan dan berhenti menulis. Ia lantas mengusak kepala anaknya itu seakan mengapresiasi ucapannya barusan. Panca niatnya ingin kesal, tapi ia urungkan melihat adiknya itu sudah lebih baik dari sebelumnya.
Bunda yang sudah selesai di dapur lalu menghampiri para lelaki itu dan ikut duduk bergabung di sana. Rencananya mereka mau makan malam bersama, mengulang rutinitas wajib saat mereka berkumpul seperti ini. Tapi, karena Siena belum datang jadi kegiatan itu ditunda dulu.
"Dek," panggil Panca menatap adiknya lekat-lekat. Ia amati wajah adiknya yang tampak acuh tak acuh. Anak yang sangat penuh ketenangan itu, selama ini telah menyimpan begitu banyak luka. Panji bersandiwara begitu baik membuat Panca ikut terhanyut dengan peran yang dimainkannya.
Sebagai seorang kakak, Panca ingin sesekali meminta maaf pada adik-adik yang telah gagal ia jaga. Kalau bisa, Panca ingin menggumamkan maaf itu setiap detik, lebih sering dari ia menghela nafasnya. Ia ingin meminta maaf atas segalanya, apa saja. Seperti Ayah yang meminta maaf padanya, Panca juga ingin berkata begitu pada adik-adiknya. Berkata bahwa ia bukanlah kakak yang baik, bahwa ia adalah kakak yang buruk, kakak yang bodoh, kakak yang lemah, kakak yang pengecut, yang penuh kekurangan. Tapi, dia akan selalu berusaha agar bisa menjadi kakak yang layak untuk mereka. Dia akan berusaha membuat dirinya menjadi tempat yang nyaman untuk adik-adiknya mengadu. Panca ingin menjadi tameng yang kuat yang akan melindungi keluarganya dari berbagai hantaman yang akan menimpa mereka.
Ya, Panca ingin sekali. Namun, inginnya hanya sekedar menjadi angan. Seketika tekad besar yang di buatnya hancur luluhlantak. Dan untuk kesekian kali, Panca lagi-lagi merasa gagal akan dirinya sendiri.
Itu bermula saat ketukan pintu yang harusnya adalah kepulangan Siena, digantikan oleh kehadiran dua orang aparat kepolisian yang membawa kabar perihal kecelakan beruntun yang baru saja terjadi beberapa waktu lalu. Sebuah truk yang kehilangan kendali menyeret beberapa kendaraan lain menuju gerbang maut bersamanya. Termasuk salah satu di dalamnya...
...seorang anak perempuam yang dinantikan kepulangannya. Dia... bukan hanya seorang anak bagi orangtuanya, tapi juga adik untuk kakaknya dan dia juga adalah kakak teruntuk adik yang teramat dicintainya.
Dia....
Siena Arcaya Yusra. Gerimis seolah menyampaikan pada orang-orang terdekatnya. Bahwa anak itu, benar-benar pulang seperti yang dikabarkannya kepada mereka.
__ADS_1
Pulang, kembali kepangkuan Sang Pencipta.