Kanvas Aksara

Kanvas Aksara
NEED TO BE FIX, NEED TO BE HEAL


__ADS_3

KANVAS 17


[NEED TO BE FIX, NEED TO BE HEAL]


/•


\•/


Sudah hampir pukul lima sore. Tapi kediaman Batara masih saja sunyi. Panca belum pulang dari kemarin, entah kemana perginya anak itu. Siena juga hanya mampir sebentar tadi pagi sebelum sekolah, sekedar untuk memetik anggur untuk sarapan pagi lalu pergi lagi tanpa bicara. Kemudian Panji, jelas anak itu asik mendekam dalam kamarnya saja berkutat di depan kanvas atau sekedar melamun bersama ketiga anak angkatnya.


Bunda sedang menyiapkan makan malam, dan diam-diam berharap dengan sepinya suasana rumah sore ini ia bisa mengajak Panji makan bersama dan berbicara. Sedang Ayah duduk di ruang depan dengan laptop di pangkuannya.


Ayah sedikit memperbaiki kacamatanya yang melorot lalu berbicara entah pada siapa, "Ini anak-anak pada kemana belum balik juga?" Lalu setelahnya ia menghela nafas penuh beban. Pertikaian tempo hari diantara ketiga anaknya belum terdengar penyelesaiannya, dan sekarang mereka pada hilang-hilangan entah kemana.


"Coba kamu panggil Aksa di kamarnya, suruh makan."


Mau tak mau Ayah meletakkan laptopnya ke atas meja menuruti titah Si Nyonya rumah. Ia baru saja berdiri dari duduknya saat pintu rumah di buka dengan kasar dan Siena masuk dengan langkah tergesa. Tanpa peduli pada siapapun di sana Siena langsung menaiki tangga menuju lantai dua.


"Itu kenapa lagi?"


Kepala Ayah mendadak pening melihat anaknya datang-datang dengan raut marah seperti itu. Ia memijit pangkal hidungnya lalu berjalan dengan letih menyusul Siena yang mungkin saja tengah cekcok dengan Panji di atas sana.


Benar seperti dugaan Ayah, Siena memang datang untuk marah-marah pada Panji. Sebenarnya ia sudah menahan diri dengan susah payah sejak melihat adiknya di perpustakaan bersama Alena. Ya, Siena memang ada disana tanpa ada yang menyadari keberadaannya. Bahkan ia dengan jelas mendengar semua percakapan Panji dan Alena.


Mengingat perselisihan diantara ia dan Panji tempo hari belum terselesaikan, Siena tidak ingin menambah masalah lagi dengan persoalan ini. Niat hati ia ingin menenangkan diri mengajak Jordan nongkrong di Coffe Shop. Tapi ia malah menemui Regan dan Alena disana.


Argh! Siena kesal! Mengingat karena perempuan itu adiknya sampai dengan bodoh menyiksa diri sendiri. Makin marah lagi kala teringat bahwa Panji tengah bersedih sendirian, sedang Alena? Hell! Siena marah, jadi ia tinggalkan Jordan kebingungan sendirian disana.


"Kamu sudah selesai main pacar-pacaran dengan perempuan itu?"


Panji yang sedang duduk bersila di balkon bersama anak angkatnya hanya menyahut acuh, "Perempuan mana?"


"Gak usah pura-pura gak tau, deh!"


Panji tidak menatap Siena yang sudah berkacak pinggang di depannya. Ia menunduk bermain dengan ketiga kucing kecil di pangkuannya. Sama sekali tidak peduli dengan kemarahan Siena.


"Aku anggap satu masalah selesai. Selanjutnya, kita bisa mulai berkemas, kan? Pindah ke tempat baru, Ayah dan Bunda bekerja dengan tenang. Panca gak usah lagi keluyuran. Dan kamu, bisa berobat lalu hidup tenang disana," Siena menjabarkan angan-angannya dengan frustasi. Ia tau Panji tidak akan pernah menyetujui hal itu. Tapi ia juga ingin Panji tau, bahwa ia mengharuskan Panji untuk setuju.


"Kenapa aku harus masuk dalam daftar rencana kamu?" tanya Panji masih dalam posisi yang sama.


"Oh, c'mon brother. Sampai kapan kamu akan terus begini?"


"Aku memang begini, dan akan terus begini," Panji menjawab enteng lalu dengan tiba-tiba tangannya ditarik paksa.


"Kamu berencana akan terus hidup dengan menyakiti diri seperti ini?!" seru Siena memperlihatkan beberapa luka sayat di lengan adiknya yang tertutup baju lengan panjang yang digunakan anak itu.


Siena berlutut di depan adiknya itu yang masih menunduk tanpa mau menatapnya. Ia kemudian berbicara dengan memelas, "You're broken, need to be fix, need to be heal."


"Aku gak butuh apapun, aku baik-baik aja."


Panji masih menunduk sementara Siena sudah terduduk lemas di depannya. Dan tanpa mereka sadari, Ayah berdiri di depan pintu sejak bermenit-menit lalu.


"Untuk kali ini, aja, tolong dengarkan aku, Aksa. Tolong, Aksa, berhenti terus menyakiti diri kamu sendiri seperti ini. Kami akan sangat merasa bersalah pada Eksa kalau kamu terus-terusan begini."


Ayah bersandar di dinding ketika mendengar anak gadisnya memohon dengan putus asa. Ia memejamkan mata untuk beberapa saat sebelum akhirnya jatuh terduduk ketika jawaban Panji terdengar di rungunya.


"Aku sudah rusak sedari awal, lalu hancur berkeping-keping seiring berjalannya waktu. It can not be fixed again."


<<<<<<<<<<<<<<


"Lo tau apa?!" Pekik Siena melotot garang pada Jordan di sampingnya. "Mustahil gue bisa berhenti peduliin dia! Asal lo tau aja, ya, Aksa tuh bahkan lebih penting dari ratusan elo di muka bumi ini!" Cercanya dengan ketus.


"Gue kan cuma ada satu, Na."


Bahu Jordan melorot, ia tuangkan lagi cola ke gelas Siena saat gadis itu menandaskan isi gelasnya dalam sekali teguk. Tadinya, Siena menelpon Jordan minta di temani minum bir. Tapi, Jordan melarang keras keinginan gadis itu jadinya mereka kini berakhir minum cola di rumah Jordan. Nasib baik, orangtua Jordan sedang tak di rumah. Adik-adiknya juga sudah ia sogok untuk main di luar sehingga tinggal ia berdua dengan Siena mendengarkan keluh kesah gadis itu tentang Panji.


"Adik gue cuman tinggal satu itu doang, Jo! Gimana gue tega biarin dia sakit sendirian kayak gitu!"


"Eh?" Jordan mengangkat kepalanya cepat, takut-takut salah dengar dengan omongan Siena yang baru saja mengatakan kalau Panji itu adalah adiknya. Adik? Yang benar saja!

__ADS_1


"Hah, heh, hah, heh, aja lo!" Kesal Siena memasok keripik di piring ke dalam mulutnya.


"Adik? Gimana, Na? Maksudnya?"


Sambil mengunyah Siena menjawab, "Ya lo pikir aja pake otak dangkal lo itu."


Ah, Jordan tak peduli dengan cacian Siena. Hatinya sedang berbunga-bunga setelah akhirnya mendapat kesimpulan itu. Wajar selama ini Siena sewot sekali perihal Panji, wajar juga kalau Siena tampak dekat dengan lelaki itu, karena Panji itu adiknya ya jelas wajar dong!


"Mikir jorok, ya lo!" tuduh Siena melempar remahan keripik ke muka Jordan yang melamun sambil senyam-senyum sendiri.


"Ah, gak, kok. Lagi mikirin masa depan," Jordan balas tersenyum sambil memakan remahan keripik yang dilempar Siena.


Gadis itu mendengus, "Masa depan kok dipikirin, dijalanin dong!"


Jordan menopang dagu menatap gadis di hadapannya yang sedang meneguk cola di gelasnya, "Emang lo mau?" tanyanya dengan senyum yang membuat pipinya jadi keram. Tapi masih juga ia pertahankan senyum itu, lagi bahagia loh ini.


"Mau apa?" tanya Siena melirik Jordan sekilas lalu meminum colanya lagi.


"Mau gue ajak menjajah masa depan bersama."


"Cuih! Lagak lo! Menjajah kelas sebelah aja kagak berani, ini pake segala mau menjajah masa depan."


Diejek begitu Jordan masih tersenyum juga. Tak apa. Dia tak apa mau Siena menyumpahi dia juga. Jordan terima dengan lapang dada. Sama halnya dengan ia yang menerima dengan lapang dada ketika suasana romantis yang coba dibangunnya dikacaukan begitu saja oleh Siena.


"Aksaaa... kapan sih kamu tuh bakal bahagia?!" tanya Siena entah pada siapa. Dia tampak begitu nelangsa ketika merebahkan kepala ke atas meja. "Jo, lo tau gak? Adek gue itu waktu kecilnya banyak banget menderita. Dan gue gak tau kapan dia pernah benar-benar bahagia selama ini. Gue kakak yang buruk, ya Jo?"


Mendengar nada suara Siena yang berubah lirih Jordan berhenti tersenyum. Ia abaikan hatinya yang sedang berbunga-bunga. Ia singkirkan masalah perasaanya. Dan mendengar dengan seksama bagaimana cerita itu mengalir dari mulut Siena.


Tentang Aksa.


Tentang Eksa.


Dan tentang sebuah luka di keluarga Batara.


Yang bisa Jordan lakukan hanyalah menjadi pendengar yang baik. Ia diam, sesekali menelan ludah dengan susah payah ketika Siena dengan enteng menguak luka terbesar yang dimilikinya di depan Jordan.


"Gak tau lagi, deh. Gue curhat mampus aja sama lo, umur kan gak ada yang tau, ye kan?"


"Udah kayak wasiat aja, Na," dan sedalam apapun Jordan mengetahuinya tentang Siena, ia masih akan berpura-pura seakan tidak tau apa-apa. Karena Siena benci topengnya terkuak di hadapan orang lain. Dan Jordan menunggu Siena membuka topeng itu dengan sukarela nantinya.


"Na," panggil Jordan yang di balas deheman oleh Siena, "... kayaknya gue benaran jatuh cinta sama lo."


Siena yang semula merebahkan kepalanya membelakangi Jordan, berganti jadi menghadap lelaki itu. "Jatuh kok bahagia," komentarnya saat mendapati senyum yang terpatri di wajah Jordan. Ia mengangkat tangannya menepikan helaian poni yang jatuh menutupi mata lelaki itu.


Sedang Jordan memejamkan mata menikmati sentuhan Siena kala gadis itu beralih mengusap kepalanya pelan, "Mungkin lebih dari jatuh, I've sank into the deepest base without realizing."


"Bahasa lo, dangdut bener."


Lagi-lagi Jordan tersenyum tabah dan menerima dengan lapang dada begitu Siena untuk kesekian kali mengacaukan suasana romantis yang dibangunnya. Tapi kemudian ia memasang wajah serius mendengar Siena memanggil namanya dengan lengkap untuk pertama kali.


"Jordan," panggil Siena lalu menegakkan tubuhnya. Ia menatap dalam pada manik kecoklatan Jordan. Entah mengapa, Siena merasa ada yang harus di selesaikan di antara mereka.


"Aksa itu adalah hal paling berharga di hidup gue. Bahkan nilainya lebih dari diri gue sendiri. Lo tau Jo? Sesakit apa gue ngeliat dia menderita selama ini tanpa gue bisa ngelakuin apa-apa untuk dia?"


Jordan mendengarkan dengan seksama. Walau dalam hati membantah. Ia tau persis, seberapa besar usaha Siena untuk menjaga adiknya tetap baik-baik saja.


"Rasanya gue gak bisa mikirin apapun selain dia. Dan harusnya gue bilang ini dari awal. Maaf, Jo, gak ada tempat lagi di hati gue untuk diisi oleh orang lain termasuk elo."


Sedari awal juga Jordan sudah menduganya. Tapi tetap saja ia remuk-redam di dalam sana. Dan bisa ia pastikan, ini adalah patah hati terparah dalam hidupnya. Dimana setelah ia dipatahkan sedemikian rupa, sedikitpun tidak muncul keinginan untuk melangkah mundur. Malah Jordan merasa makin tenggelam dalam jeratan Siena, lebih dalam, dan lebih dalam lagi hingga ia mencapai dasar yang kelam.


"Iya, gue tau," pada akhirnya hanya itu yang bisa Jordan katakan.


"Lo harus berhenti, Jo. Disini gue ingin  lo berhenti segera. Selagi luka itu masih baru, segera obati. Jangan biarin membusuk dan malah ngelukain lo tambah parah."


Jordan tersenyum lebar sampai matanya menyipit, "Gue belum bilang, ya?" tanyanya.


Siena tidak menjawab tapi tatapan matanya jelas bertanya.


"Memang gak ada ruang tersisa di hati lo untuk gue tempatin, Na. Tapi gue ngasih seluruh ruang di hati gue buat lo tempatin. Karena gue tau, bahkan lo sendiri gak punya tempat untuk berlabuh saking sibuknya menjadi persinggahan untuk orang lain."

__ADS_1


"Jo...."


Suara Siena bergetar ketika ia memanggil Jordan. Entah mengapa ia merasa begitu kerdil di hadapan Jordan yang tersenyum tenang.


"Iya, Na. Gue tau. Lo capek, kan? Sini istirahat dulu," tutur Jordan dengan lembut sambil merentangkan tangannya lebar-lebar.


Tidak butuh waktu lama, Siena menghambur dalam pelukan hangat lelaki itu. Ia menagis seperti bocah perempuan yang kehilangan balonnya. Jenis tangis yang menyimpan begitu banyak beban. Dan Jordan merasakan dengan jelas bagaimana Siena mengurai satu persatu lelahnya dalam isak yang tak tertahan.


Jordan mengusap pelan punggung Siena lalu menumpukan dagunya di puncak kepala gadis itu.


"It's okay to not be okay, Na. I'm here to stay with you all the time we have."


<<<<<<<<<<<<<<<


Melempar diri untuk bekerja di usia muda membuat Aeera mudah sekali jenuh dengan hidupnya. Di usia remaja ia telah berkecimpung dalam dunia bisnis. Saat seharusnya masa itu ia gunakan untuk sekolah dan bermain layaknya remaja lain. Hingga kemudian Aeera menjadi lupa, dia juga manusia. Tidak mungkin memforsir tubuhnya bekerja bagai robot selama 24 jam tanpa henti.


Dan kini, Aeera lagi-lagi merasa jerih dengan tumpukan berkas yang menggunung di depannya. Sekarang sudah pukul 7 malam. Dan ia bahkan melewatkan jam makan siang untuk berbenam di balik layar monitor.


Pada akhirnya Aeera memilih keluar dari area kantor. Menepi sejenak dari beban pekerjaan yang tak kunjung terselesaikan. Seperti biasa ketika ia lelah, tempat tujuan Aeera yaitu dimana saja yang menjual mie instan yang dapat segera ia nikmati. Dulu Aeera punya impian untuk jadi anak kuliahan yang tinggal di kosan, dipepet oleh deadline tugas yang terabaikan karena sibuk bermain, pusing mengirit-irit uang bulanan yang semakin menipis, lalu duduk di depan laptop sambil menikmati mie instan. Iya, impian Aeera memang untuk hidup susah begitu.


Aeera kemudian menepikan mobilnya di salah satu minimarket paling dekat yang dapat ia jangkau. Dia sudah bersemangat untuk segera memborong produk mie demi memuaskan lelahnya. Namun, belum juga masuk langkahnya sudah terhenti akibat seseorang yang tengah duduk sendirian di kursi yang disediakan di depan minimarket.


Aeera menatap cukup lama hingga akhirnya ia mendekat meraih kaleng bir di tangan orang itu dan meneguknya dengan sembrono. Ia lantas duduk di sebelahnya dan menyapa dengan senyum lebar.


"Long time not see, Panca."


Panca yang mendapati keberadaan Aeera di dekatnya hanya tersenyum singkat, "Ditya."


"Huh?" Heran Aeera seraya meneguk kembali minuman di kaleng.


"Dulu lo manggilnya Ditya, bukan Panca."


Aeera mengibaskan tangan lalu melemparkan kaleng bir yang telah ia kandaskan ke tong sampah terdekat dengan tepat sasaran.


"Alah, masalah begitu doang di ribetin."


Panca menatap sengit gadis itu, "Lo itu memang berkepribadian ganda, ya?"


Aeera mendengus mengetahui maksud Panca. Jelas, dia yang blak-blakan di depan Panca sekarang berbanding terbalik 360° dengan dia yang biasanya muncul di hadapan publik.


"Biasalah, pencitraan itu perlu," sahut Aeera santai. Lalu ia melirik anak dari sahabat mendiang Ayahnya itu, "Ngapain lo ngegelandang di depan toko orang begini?"


Panca mendengus lalu menirukan cara bicara Aeera tadi, "Biasalah, pembodohan itu perlu."


"Lo udah bego banget begini masih dibodohin lagi, lah jadinya apaan nanti? Senewen?"


Panca tergelak. Lalu tatapnya menerawang ke depan. Menatap ramainya lalu lintas malam ini. Sejenak mereka terdiam. Ini reuni paling absurd yang pernah ada. Dua sahabat karib yang terpisah belasan tahun dan hanya saling mengetahui kabar masing-masing dari orang lain, apa wajar mereka menggila di pertemuan ini?


Dulu sekali, Panca, Aeera dan Aaron adalah sabahat karib. Mereka terikat dalam jalinan seperti itu berkat hubungan persahabatan diantara kedua orangtua mereka. Namun, menginjak usia remaja, masing-masingnya mulai memisahkan diri untuk menyelam dalam genangan takdir mereka tersendiri. Tepatnya perpisahan itu terjadi setelah insiden penyerangan di lab. Panca yang melarikan diri dari luka karena kehilangan yang menyakitkan. Aaron yang harus menggantikan posisi Ayahnya sebagai kepala keluarga. Lalu Aeera yang harus segera mengambil alih bisnis keluarga ibunya yang saat itu diambang kehancuran.


"Udah lama juga ternyata...."


Panca tersenyum tipis menoleh pada Aeera, "Iya, ternyata udah selama itu," sahutnya. Lalu matanya menangkap keberadaan cincin yang tersemat di jari manis tangan kiri Aeera.


"Widih, kece juga tuh cincin!"


Aeera menunduk menatap cincin di tangannya, ia menyelipkan helaian rambutnya ke belakang telinga lalu tersenyum teduh.


"Iya, kayak yang ngasih."


Panca tergelak, lagi. Tapi itu jenis tawa yang tak menyenangkan di telinga Aeera. Ada luka yang tersemat di dalamnya, "Udah berapa tahun ini? Masih juga disimpan," ujarnya berbisik.


Aeera mengusap cincin yang melingkari jemarinya itu lalu bersandar di bahu kokoh Panca. Lantas dengan nada yang sama, ia balas berbisik sembari memejamkan mata.


"Udah berapa tahun ini? Masih juga gak bisa lupa."


Dan Panca menangkap dengan jelas, nada pahit dalam suaranya.


__ADS_1


__ADS_2