Kanvas Aksara

Kanvas Aksara
MELANJUTKAN LEMBAR LAMA


__ADS_3

Bagian 25


[MELANJUTKAN LEMBAR LAMA]


Sepertinya, dalam hidup ini masalah percintaan adalah satu-satunya hal yang memiliki nilai minus bagi Jordan. Betapa panjang perjalanan hidupnya, juga berapa banyak kisah asmara yang sempat dirasanya. Tak ada satu pun yang berhasil. Bahkan terakhir kali, ia kehilangan orang yang ia cintai di depan matanya. Sepertinya hal-hal semacam itu memang mustahil dapat ia nikmati.


Tapi, Jordan juga tidak menyesali semua waktunya di masa lalu. Semua yang telah terlewat, berbagai kisah, berbagai kenangan. Jordan tak pernah menyesali semuanya sekalipun. Biasanya memang begitu. Ya, biasanya. Karena kali ini sama sekali tidak biasa. Ia merasa, kali ini akan sulit untuknya lepas dari kukungan perasaan itu. Rasa ketergantungan dan keterikatan pada seseorang yang kini telah tiada.


"Ngapa lagi lo?" Tegur Moreo ketika dilihatnya Jordan yang melamun sedari tadi.


Arka yang sedang main catur di lantai dengan Yogi menyahut, "Biasalah, ngegalau. Sadboy."


"Gak produktif banget hidupnya, menuh-menuhin bumi aja sih manusia kayak gitu," Yogi ikut-ikutan sambil menjalankan kudanya. "Skak!"


Jordan melengos, "Ya karena gue konsumen bukan produsen. Makanya bisanya cuman konsumtif, bukan produktif."


"Ngejaaawaab aja bisanya," Yogi lagaknya sudah seperti orangtua yang memarahi anaknya.


"Tugas praktikum kalian mana?"


Mereka berempat kompak menoleh pada orang yang barusan bicara. Dia adalah ketua kelas ini. Tipikal anak yang tampilan culun tapi bermental preman. Ketua kelas selalu tegas dalam urusan tugas. Pokoknya terserah mau anggota kelas merusuh bagaimana pun selagi mereka belajar dengan baik dan mengumpulkan tugas tepat waktu. Ia tidak mau repot diomeli guru karena ada anggota kelasnya yang nilainya bermasalah.


Setelah selesai dengan keempat orang itu, ketua kelas beralih pada anak lainnya. Kemudian dia keluar dari kelas untuk mengumpulkan tugas teman-temannya ke ruang guru. Namun, langkahnya tertunda karena seseorang yang hanya berdiri diam di depan kelas.


"Oh.... Adiknya Siena, ya?"


Mendengar nama Siena samar-samar disebut Jordan jadi ikut menoleh keluar. Disana ia melihat Panji berdiri canggung di hadapan Ketua Kelas. Anak itu menyerahakan sebuah paperbag lalu sedikit menunduk dan pergi.


"Mau kemana lo?"


Jordan hanya menyahut dengan lambaian lalu keluar menghampiri Ketua Kelas yang mematung menatap arah kepergian Panji.


"Apaan, dah? Dia pakai bahasa kalbu apa gimana? Ini buat gue, nih?"


"Isinya apaan?" Jordan bertanya dan ikut mengintip saat Ketua Kelas melihat isinya.


"Buku?"


"Lah, ini kan buku latihan gue yang hilang itu!" Seru Jordan. Sudah cukup lama sebenarnya ia kehilangan buku itu. Tapi dia masih ingat karena gara-gara buku ini tidak ada ia jadi tidak bisa mengumpul tugas waktu itu dan mendapat amukan Ketua Kelas.


Ketua Kelas akhirnya memberikan paperbag itu pada Jordan. Dia melanjutkan tugasnya sementara Jordan memilih menyusul Panji. Tidak sulit menemukan anak itu karena Panji langsung kembali ke kelasnya. Jordan berhasil menyusulnya saat Panji akan meninggalkan gedung tingkat IV.


"Aksa!"


Jordan menyejajarkan langkah dan berhenti saat Panji turut berhenti. Panji menoleh dengan tenang menatap Jordan, tapi entah mengapa perasaan Jordan tidak enak tentang ini.


"Panji."


"Eh?" Jordan kebingungan.


"Panggil Panji aja."


Apapun itu, tapi Jordan rasa ia telah melakukan kesalahan. Ia pikir Panji memang biasa dipanggil begitu, ia hanya ikut-ikut Siena saja memanggil anak itu dengan nama tengahnya. Tapi sepertinya panggilan itu hanya dikhususkan bagi orang-orang tertentu saja.


Jordan mengusap tengkuknya dengan canggung, "Ekhm, oke Panji. Gue Jorda—"


"Iya, tau."


Jordan kesal rasanya ketika ucapannya dipotong begitu saja. Tapi baiklah kalau anak itu sudah tau, ia langsung saja.


"Kenapa buku gue bisa ada sama lo, ya?"


Panji melirik paperbag di tangan Jordan. Benda itu tak sengaja ia temukan saat mengosongkan apartemen Siena kemarin bersama Panca. Sepertinya sudah disiapkan dari jauh-jauh hari. Bahkan ada suratnya juga.


"Baca suratnya."


"Surat?" Jordan mengecek lagi isi paperbag itu. Ia mengeluarkan bukunya tapi tidak ada apa-apa lagi selain itu.


"Dalam buku."


Setelah mengatakan itu Panji pergi begitu saja meninggalkan Jordan yang kebingungan.


Jordan melihat punggung yang semakin menjauh di depannya. Sudah beberapa bulan berlalu setelah Jordan melihat Panji yang hancur dihari pemakaman Siena. Anak itu bahkan tidak masuk sekolah sejak semester baru dimulai. Jordan baru melihatnya lagi hari ini. Sepertinya, Panji telah melewati hari-hari yang berat. Dia tampaknya telah bertarung habis-habisan melawan kesedihan sebelum muncul hari ini. Dan Jordan merasa lega melihatnya baik-baik saja. Karena satu-satunya kecemasan Siena adalah Panji. Ketika Panji sudah baik-baik saja...


"... lo bisa tenang sekarang, Na."


Jordan menerawang ke arah langit, melihat himpunan awan bagai kapas yang bergerak pelan di angkasa. Setelah dirasa puas, dia berbalik lagi menuju kelasnya. Sambil mengingat instruksi Panji, Jordan memeriksa lembar dalam bukunya. Dan ia benar-benar menemukan sepucuk surat disana. Tidak bisa dibilang surat juga. Itu hanya selembar kertas yang disobek asal dengan beberapa kalimat di dalamnya. Khas Siena sekali.


'Gue gak mau ngomong apa-apa karena gue cuman nulis, sih. Buku lo gak sengaja kemasukin dalam tas. Gue gak nyadar, tambah lagi ketimbun buku-buku lain. Ini gak sengaja nemu pas gue ngacak-acak kamar. Mau balikin tapi gak guna juga karena latihannya udah lo bikin ulang. Gue kepikiran aja, katanya bentar lagi lo ulang tahun. Kado ultahnya ini aja gak apa kan, ya? Gue males mikir.'


Ah, sial. Tulisannya pun khas Siena sekali. Jordan jadi ingin menangis rasanya.


"Padahal ultah gue hari itu, tapi gak lo kasih. Bego."


Ya hari itu. Hari terakhir Jordan bisa mendengar Siena dengan leluasa. Hari dimana Jordan mengira masih ada hari esok untuk mereka. Namun kenyataannya, esok itu memang ada, tapi tak ada nama Siena terselip bersamanya.


"Hoi! Keluyuran kemana sih, lo? Jam olahraga mau mulai, buruan ganti sana!"


Moreo bersorak dari ujung koridor, Arka dan Yogi juga ada disana.


Yah, kehilangan satu orang tak lantas akan membuat Jordan kehilangan seluruh hidupnya bukan? Siena memang telah pergi, tapi Jordan masih disini. Masih harus melanjutkan hidup sebagaimana manusia lainnya.


Karena waktu tidak pernah mengenal kata tunggu, kita akan tertinggal apabila tak mengejar. Untuk itu Jordan melanjutkan langkahnya, menyelami masa depan dan meninggalkan masa lalu di belakangnya dengan langkah ringan tanpa beban.


>>>>>>>>>>>>>>>>

__ADS_1


"Lima meter!"


Alena berkacak pinggang melotot pada Adimas agar menjaga jarak darinya. Bagaimana pun, Alena masih dendam pada laki-laki itu.


"Papa minta maaf."


Ah, itu lagi. Alena sudah muak rasanya terus mendengar hal itu selama sebulan belakangan ini. Aneh saja rasanya, Adimas yang biasanya bersikap dingin itu memelas minta maaf padanya. Alena tidak tau semua ini bermula dari mana. Semua terjadi begitu saja, Adimas tiba-tiba datang padanya dan memeluknya sambil menggumamkan kata maaf.


Diingat-ingat lagi, Alena merasa merinding sendiri dengan Ayahnya yang menangis waktu itu.


"Mending Papa kerja sana, biaya sekolahku mahal tau!"


Adimas mengangguk, "Iya tau, duit Papa banyak kok."


Alena tidak menyangka Adimas juga punya sisi seperti ini. Kalau begitu sekalian saja.


"Kalau memang banyak, aku mau pindah ke sekolah yang lebih mahal," ujar Alena sambil duduk di meja makan dan memakan roti yang sudah diolesi selai oleh Nenek.


"Boleh," Adimas menjawab enteng.


"Aku mau apartemen juga karena sekolahnya jauh dari rumah."


"Bisa Papa urus."


"Kalau gitu Papa bisa urus surat pindahnya mulai sekarang."


"Oke."


"Aku mau pindah ke sekolah khusus tata boga yang ada di ibukota."


"Oke."


Alena menoleh pada Adimas yang sedang mengolesi roti dengan selai. Padahal Alena hanya asal bicara tapi ternyata disetujui.


"Papa dengar aku ngomong gak, sih?"


Adimas menghela nafasnya, "Kamu mau pindah ke sekolah tata boga di ibu kota dan pindah ke apartemen karena jaraknya jauh dari rumah."


Alena jadi terdiam. Rasanya ia seperti mendengar hal paling konyol sedunia. Orang yang ambisius seperti Adimas, menekan egonya untuk menuruti keinginan Alena. Bukannya hal ini lebih terlihat seperti mimpi? Tidak mungkin sekali kalau ini nyata.


Tapi, begitu Adimas mengusap puncak kepalanya, Alena jadi tersadar. Bahwa ini nyata. Ini bukan mimpi. Bahwa ternyata setelah sekian lama ia akhirnya terlepas dari belenggu yang selama ini mengikatnya. Bahwa pada akhirnya Alena bisa menentukan pilihan untuk hidupnya sendiri.


"Eh, kenapa nangis?"


Adimas terkejut melihat mata anaknya yang berkaca-kaca. Entah perasaannya saja atau bagaiamana, tapi tatapan Alena itu penuh permusuhan sekali. Apa dia melakukan kesalahan lagi? Siapapun, tolong beritahu Adimas apa salahnya kali ini?


"Karena Papa jelek!"


Alena mengusap matanya dengan punggung tangan lalu meraih ranselnya dan pergi begitu saja. Sementara Adimas....


Kedua orang tua itu hanya menghela nafas berat dan menggeleng pelan. Menatap prihatin pada putra mereka itu.


Adimas frustasi dibuatnya, "Gak cuma wajah, tapi temperamennya itu mirip sekali dengan Mamanya. Memang buah jatuh dari pohonnya."


Saking frustasinya Adimas sampai salah menyebutkan peribahasa.


>>>>>>>>>>>>>>>


"Acaranya minggu depan, datang ya."


Regan mengangsurkan tiket untuk konser perdananya. Ia tersenyum lebar, sama sekali tak bisa menutupi binar bahagia yang begitu besar tengah dirasanya. Sementara dua orang yang diberikan tiket itu hanya memberi respon acuh tak acuh. Yah, Regan sudah menduganya. Apa yang bisa ia harapkan dari mereka?


"Oke, lihat nanti," sahut Alena menerima tiket dari Regan.


Beda lagi dengan Panji yang bahkan tak mengambil uluran dari Regan. Ia hanya menatapnya saja sehingga Regan jadi merasa canggung.


Entah bagaimana awalnya tapi mereka jadi bisa duduk di meja yang sama. Hari ini adalah hari pertunangan Aeera, Kakak perempuan Regan. Keluarga mereka saling kenal, sehingga mereka digiring untuk berkumpul seperti ini.


Suasana antara Panji dan Alena juga tampak tak baik. Regan tidak tau bagaimana kelanjutan mereka setelah Alena mengakhiri hubungan mereka di perpustakaan waktu itu. Ia sudah berusaha untuk mencairkan suasana, tapi dua manusia itu sifatnya nyaris sama. Terlebih Panji, ia bahkan tidak ada bicara dari tadi.


"Kasih orang lain aja," kata Panji akhirnya.


Regan merasa tak enak, sebelumnya hubungannya juga tak terlalu baik dengan Panji. Apa anak ini masih dendam padanya?


"Minggu depan aku sudah pindah. Jadi gak bisa datang."


"Pindah?!"


Belum sempat Regan merespon, Alena sudah bereaksi lebih dulu. Tapi kemudian dia menjadi salah tingkah sendiri. Akhirnya Alena memilih menyapa Aeera dan meninggalkan Regan dengan Panji.


Suasana meja itu hening lagi. Padahal di sekitar mereka sangat ramai karena suara-suara dari tamu lain.


"Ah, tunggu sebentar, ya."


Panji hanya mengangguk saat Regan bangkit dan berjalan tergesa meninggalkan aula tempat acara berlangsung. Tak lama ia kembali lagi membawa sebuah buku di tangannya.


"Ini...." Panji menatap Regan penuh tanya saat buku bersampul biru tua itu disodorkan padanya.


"Buku ini punya Pandu."


Rasanya sudah lama Panji tak mendengar nama itu. Rupanya Pandu juga meninggalkan kenangan pada orang-orang di sekitarnya. Senang rasanya memgetahui bahwa ada orang lain yang masih menjaga saudaranya tetap hidup dalam hatinya.


"Semua lagu di dalamnya, dia yang menciptakan. Hebat, kan? Padahal waktu itu dia masih sangat kecil."


Panji mengulas senyum tipis. Sangat tipis sekali sampai nyaris tidak terlihat. Tanpa merasa perlu untuk melihat buku itu lebih lanjut, Panji mendorongnya kepada Regan.

__ADS_1


"Simpan saja. Buku ini sudah berada di tangan orang yang tepat."


Setelah itu Panji tidak lagi menahan senyumannya. Dia terlihat begitu tenang, ada gurat kelegaan yang tergambar jelas di wajahnya. Sekarang, dada Panji sepenuhnya terasa lapang.


"Kenapa? Ini penting untuk kamu, kan?" Regan merasa harus bertanya. Ia tak mengerti dengan Panji yang begitu mudahnya memberikan hal seberharga itu padanya. Bahkan ia sama sekali tak melihat isinya. Padahal semua yang Pandu tulis di dalam itu adalah tentang Panji. Tentang seorang adik yang ia sayangi. Buku itu adalah bentuk perasaan Pandu. Dan Panji melepasnya dengan mudah.


"Bukan bukunya, tapi yang penting itu adalah dia."


Regan kehilangan kata. Panji menjawab dengan tepat dan benar.


"Kita berpikir sudah membuka lebar baru. Tapi itu salah. Tidak ada lembar baru. Kita hanya melanjutkan yang lama sambil berusaha agar selanjutnya lebih baik dari sebelumnya."


Sudahlah. Regan tak ingin bertanya lagi. Semua pertanyaannya terjawab begitu saja. Bahwa Panji tengah mencoba melanjutkan hidupnya, menerima apa-apa yang sudah terlalui dan bersiap untuk apa-apa yang akan terjadi nanti.


Tak lama Alena kembali bergabung dengan mereka. Regan memberi ruang untuk dua orang itu. Hingga kini yang tersisa hanya Alena dan Panji.


"Alena, mau keluar sebentar?"


Alena tidak menyangka kalau Panji akan mengambil inisiatif untuk bicara lebih dulu. Ia mengikuti lelaki itu. Mereka berakhir duduk di bangku taman menikmati gemericik air dari air mancur di tengah taman.


"Panji, aku minta maaf."


Setelah sekian lama diam, Alena akhirnya bersuara. Ia mengatakan hal itu sambil menunduk tidak menoleh pada Panji sedikit pun. Sampai kemudian ia dibuat terkejut oleh Panji yang tiba-tiba merebahkan kepala di bahunya.


"Kenapa minta maaf?"


Tubuh Alena kaku. Apa dulu Panji memang orang yang sesantai ini? Tapi, bukankah reaksi Alena ini berlebihan? Dulu mereka juga sering begini, tapi ia selalu menanggapinya dengan santai. Kenapa sekarang rasanya... suasana ini aneh.


"Alena, aku pernah bilang, kan? Setiap orang berhak merasa bersalah, dia juga berhak untuk tak disalahkan. Kamu gak perlu minta maaf, karena bukan salah kamu."


Alena menoleh pada Panji yang tampak memejamkan mata, "Bukan salah kamu juga."


"Ahahahah!"


Panji tertawa lepas. Dia menegakkan tubuhnya tidak lagi bersandar pada Alena, "Aku juga gak nyalahin diriku, tuh," ujarnya dengan sisa-sisa tawanya.


Gawat. Alena salah orang. Ini bukan Panji. Sama sekali tidak mirip Panji.


"Kamu mikir apa? Kenapa natap aku begitu? Ada yang aneh?"


"KAN!" Alena spontan berteriak dan memukul wajah Panji, "Kamu bukan Panji!"


"Duh," Panji mengusap wajahnya lalu gantian menatap aneh Alena. "Kamu kenapa?"


Bukannya menjawab, Alena justru bangkit, berniat pergi dari sana. Tapi, sepertinya gerakannya terlalu lambat karena Panji lebih dulu mencekal lengannya.


"Alena, tunggu."


"Apa?!"


"O-oh, b-bukan apa-apa."


Karena Alena terlihat marah Panji jadi merasa tidak enak. Meski harusnya ia yang marah disini karena dipukul tanpa alasan.


"Aku ada salah?" Panji bertanya hati-hati.


Alena jadi teringat, benar juga. Panji kan tidak salah.


"Y-ya enggak, sih. Maaf."


Kemudian mereka memilih untuk jalan-jalan di taman sebentar sebelum masuk lagi.


"Semester depan aku pindah."


Panji menatap Alena, "Pindah?"


Alena menyuguhkan senyumnya, "Ke Ibu Kota, sekolah khusus tata boga."


"Kamu... bisa masak?"


Senyum Alena luntur begitu saja, "Normalnya orang gak akan merespon begitu."


"Itu karena kedengaran mustahil," Panji menjawab enteng.


Alena berdecak. Kenapa Panji sekarang sangat menyebalkan? Lebih baik kalau dia tak banyak bicara seperti dulu.


"Aku juga mau pindah, sih," Panji berbicara setengah menggumam. Tatapannya menerawang tampak tengah memikirkan sesuatu.


Alena tidak terkejut lagi. Dia sudah tau tentang kepindahan Panji itu. Tapi, apa yang membuat Panji yang bukan pemikir sampai berpikir keras seperti ini?


"Kamu mikir apa?"


"Tempat liburan," Panji langsung menyahut. Ia menatap Alena, sedikit menunduk, "Libur kenaikan kelas dimulai besok , mungkin seminggu itu waktu terakhir kita bisa ketemu. Mau main sama-sama?"


Alena terkekeh, "Main? Boleh juga. Ajak Regan, ya?"


"Memangnya kita seakrab itu?"


Panji pergi mendahului Alena. Dan Alena menyusulnya. Mereka terus membicarakan perihal rencana 'liburan' mereka. Pada akhirnya Regan juga diajak dalam pembicaraan itu.


Lega rasanya. Karena beban itu terasa telah hilang sepenuhnya.


>>>>>>>>>>>>>>>>


__ADS_1


__ADS_2