Kanvas Aksara

Kanvas Aksara
LUKA YANG MEMINTA DISEMBUHKAN


__ADS_3

Bagian 23


[LUKA YANG MEMINTA DISEMBUHKAN]


Rumah kayu sederhana itu masih sama seperti terakhir kali Regan datang. Baik di hari kedatangannya yang pertama, kedua, maupun yang ketiga saat ini, ia selalu menemui sosok yang sama. Dia selalu tampak duduk di dipan bambu yang ada di teras rumah setiap kali Regan datang. Dengan kaca mata baca dan pensil serta berlembar-lembar kertas di tangan.


Sosoknya yang seperti sama sekali tidak berubah di mata Regan. Baik hari ini, maupun belasan tahun silam. Orang itu masih terlihat sama. Hanya saja kerutan yang samar-samar mulai tampak di kulit wajah serta beberapa helai rambut yang mulai memutih, menunjukkan bahwa dia telah bertambah tua.


"Kamu datang lagi."


Dan dia juga selalu menyambut Regan dengan senyuman. Di masa lalu maupun masa sekarang, Regan selalu melihat pria itu tersenyum diberbagai kondisi. Dia tidak pernah kehilangan senyumnya, dia selalu tampak tenang dan berwibawa, terlihat lembut tapi juga tegas disaat bersamaan. Meski satu hal yang Regan sadari, pendar di mata pria itu telah kian memudar dari waktu ke waktu. Dunia memang kejam, mengikis kehidupan orang sebaik dia secara perlahan.


"Bukannya hari ini adalah hari penting? Kenapa kamu kesini?"


Pria yang Regan kenal sebagai teman dekat ayahnya itu dulu pernah datang memberikan topangan untuk bangkit baginya. Dengan sebuah buku bersampul biru tua yang lusuh, dia memberi Regan modal untuk melanjutkan hidup. Dan kini, Regan membawa kembali buku itu. Dikeluarkannya tepat di hadapan pria yang kerap ia panggil Profesor itu.


"Anda tau sendiri, di hari yang penting tentu harus mendatangi tempat yang juga sama pentingnya," tutur Regan sambil memangku buku tersebut dan membuka lembar pertama.


"Kamu masih saja bersikap formal. Anak Argus, anakku juga. Panggil Ayah saja untuk ke depannya."


Tangan Ayah menyapu permukaan rambut Regan. Seketika perasaan de ja vu itu menghampirinya. Ia terhenyak untuk sesaat, kemudian kembali pada halaman buku yang berisi beragam not di pangkuannya.


"Hari ini, tepat dua belas tahun setelah kejadian itu," gumam Regan seakan sedang menggenangkan sesuatu sembari mengelus lembaran buku di pangkuannya. "Pasti sulit untuk Panji."


Ayah menghela nafas sejenak lalu melepas kacamatanya. Mendengar nama putranya disebut membuat ia merasakan kembali beratnya beban yang bergelayut di pundaknya. Pria itu menerawang ke arah langit biru yang sangat Panji sukai. Disaat bersamaan angin berhembus pelan dengan membawa kenangan demi kenangan juga kerinduan akan masa silam yang penuh kebahagiaan.


12 tahun yang lalu ditanggal yang sama, langit tidak secerah sekarang. Dulu, awan pekat menghitam. Gemuruh bersahut-sahutan diringi badai mengerikan. Hari itu sama mengerikannya dengan apa yang Ayah lihat di depan matanya. Dan ia mengira hari itu akan menjadi hari paling menyakitkan dalam hidupnya. Dimana kerja kerasnya, rekan-rekannya, sahabatnya, bahkan buah hatinya direnggut pada hari yang sama. Tapi, sekian tahun berlalu, siapa sangka tiba saatnya ia merasakan sakit yang sama kedua kalinya. Bahkan jauh lebih menyiksa. Perasaan tak berdaya kehilangan putri satu-satunya dan juga rasa gagal melihat keadaan Panji yang mengenaskan setelah kehilangan Siena.


"Berbicara tentang kesulitan... kita semua sama-sama merasakannya. Tapi, bagaimanapun semua selalu sebanding."


Regan mengulas sedikit senyum, "Benar, jika kita diberi kesulitan maka akan diberi kemudahan juga."


Setelahnya Regan menutup bukunya dan beranjak bangkit. Ia berpamitan lalu segera memasuki mobilnya. Tujuan Regan untuk datang adalah menemui Panji sama seperti kedatangan sebelumnya. Namun, hari ini ia mendadak memikirkan sesuatu yang lebih baik. Daripada memaksa Panji keluar dari persembunyiannya, lebih baik Regan menarik diri sampai Panji menemukan kemudahan untuk kesulitan yang dialaminya. Regan akan menunggu Panji mencari penyelesaian dari belenggu yang mengikatnya kuat. Sama seperti Regan yang berhasil lepas dari cengkraman Ibunya.


Sepanjang perjalanan pulang Regan sesekali bersenandung pelan. Kadang juga bergumam sendiri diantara alunan instrumen piano yang diputarnya. Lalu untuk kesekian kali ia pasti akan melirik buku musik bersampul biru tua yang ia letakkan di dashboard.


Saat mobilnya berada di atas jembatan di dekat air terjun, Regan berhenti sejenak. Ia meraih ponsel dan mengabadikan pemandangan di luar sana dengan kamera ponselnya. Kemudian ia mengirimkan hasil gambar itu dengan sebait pesan menyertainya.


'Bagus, tidak? Mau main keluar?'


Yang mana langsung mendapat balasan; Alena: 'Don't disturb'.


Mendapat balasan seperti itu Regan justru tersenyum dan tanpa ragu menghubungi nomor Alena. Ia memasang earphone kemudian melajukan mobilnya kembali.


"Apa?"


"Kamu masih sembunyi rupanya?"


Tak ada jawaban. Regan mengulas senyum meski tau orang di seberang sana tak akan bisa melihat senyum itu. Ia menumpukan satu tangan di dekat jendela dan kembali bicara.


"Alena, kamu mau nangis lagi kayak di perpustakaan waktu itu?"


"Berisik!"


Mendengar nada ketus Alena membuat Regan tergelak. Dia memang mudah sekali tertawa akhir-akhir ini. Rasanya lebih lapang dan tenang. Regan mampu menjalani hari-hari dengan lebih baik. Dan karena ia bisa, maka ia juga akan memastikan Alena bisa melakukan hal yang sama. Bagaimanapun Regan dan Alena telah lama mengalami kesulitan bersama-sama. Mereka akan terus saling topang menopang untuk bisa berdiri tegak dengan benar.


"Apapun itu, Alena, ingatlah kalau kamu masih punya beberapa penyangga untuk diandalkan. Kita sudah jatuh berkali-kali, rasa sakitnya juga bukan masalah lagi. Sekarang oleng sedikitpun tidak masalah. Kalau jatuh lagi pun juga tak apa. Kamu masih punya pegangan, masih mampu tegak kembali. Kamu orang yang keras kepala, Alena. Maka jangan sampai hal apapun membuat kamu menyerah. Sudah jatuh berkali-kali tidak mungkin kamu tak belajar dari pengalaman, kan?"


"Berisik, Regan."


Suara Alena terdengar lebih lirih. Namun, Regan tau gadis itu tengah memikirkan ucapannya dalam-dalam. Hanya sampai disana, Regan rasa sudah cukup. Saatnya ia membiarkan Alena mengurus sendiri dari sini. Dengan begitu Regan mengakhiri sambungan telepon itu dengan meninggalkan beberapa kata untuk Alena.


"Lakukan seperti yang kamu inginkan, bukan seperti yang orang-orang perintahkan. Membangkang itu juga adalah bagian dari pertumbuhan, Alena."

__ADS_1


<<<<<<<<<<<


Pemandangan pertama yang Regan dapati ketika memasuki rumah adalah keberadaan kedua kakaknya yang tampak sedang berbincang di ruang tamu. Dia memutuskan untuk menuju ke kamarnya karena merasa canggung jika bergabung dengan mereka. Namun, hal itu urung Regan lakukan ketika Aeera memanggilnya untuk ikut duduk bersama mereka.


"Kamu dari mana?" tanya Aeera, sedang Aaron di sampingnya cenderung diam dan sibuk memeriksa surel yang masuk di gawainya.


Regan mengambil tempat untuk duduk, "Dari rumah teman. Juga mengunjungi Papa."


"Kami tadi juga habis dari sana. Lain kali mari pergi bersama-sama," tutur Aeera mengulas senyum lebar. Kemudian dengan cepat ia sudah mengalihkan topik pembicaraan.


Ternyata tadi mereka membicarakan tentang acara pertunangan Aeera yang akan segera dilangsungkan. Regan mengetahui itu setelah mendengar penjelasan Aeera mengenai pertemuan kedua keluarga yang akan dilangsungkan malam ini.


Perbincangan itu pada akhirnya didominasi oleh Aeera dan Regan. Akhir-akhir ini memang Regan memiliki kesan berbeda terhadap kakak perempuannya itu. Aeera juga jadi lebih sering berbicara padanya belakangan ini.


"Bagaimana persiapan konser kamu, Regan?"


Obrolan Aeera dan Regan terhenti oleh pertanyaan Aaron. Orang itu akhirnya berbicara setelah bosan hanya diam saja sedari tadi. Dan itu juga merupakan pertama kalinya bagi Regan ditanyai seperti itu oleh Kakak tertuanya.


Dengan mengulas senyum simpul, Regan menjawab tenang, "Sejauh ini semuanya lancar. Persiapannya sudah selesai tujuh puluh persen."


Nada riang yang tak bisa Regan tutup-tutupi itu membuat Aaron tertegun. Baru kali ini ia tau, seseorang bisa sesenang itu hanya karena membahas apa yang disukainya. Baru kali ini juga Aaron melihat adiknya bisa tersenyum lepas tanpa beban. Senyum tulus yang bukan hanya formalitas semata.


Di titik ini, Aaron terpaku menatap kedua adiknya. Aeera yang sebentar lagi akan menempuh kehidupan baru dengan orang pilihannya. Regan yang berkecimpung dalam dunia yang dicintainya. Mereka berdua tampak bahagia. Syukurlah, Aaron merasa lega melihatnya.


Perlahan senyum itu pun terbit dibibirnya. Pandangan Aaron tampak teduh. Lalu pertanyaan itu pun terlontar dari mulutnya. Pertanyaan yang harusnya ia tanyakan sedari awal. Pertanyaan yang telah lama tertimbun diantara kecemasan yang menggunung.


"Apa kalian baik-baik saja selama ini?"


Apakah dia baik-baik saja? Jawabannya adalah 'tidak'. Regan tidak baik-baik saja selama ini. Ia telah jatuh dan terluka berulang kali. Namun, ia juga sepenuhnya sadar bahwa bukan dia seorang saja yang tertatih selama ini. Dengan ini, ia pun memberikan jawaban untuk pertanyaan Aaron.


"Tidak ada seorang pun dari kita yang benar-benar baik-baik saja selama ini. Kita pernah jatuh, pernah terluka, pernah juga tertatih nyaris menyerah karenanya. Karena itu, tak seorang pun yang baik-baik saja."


Melihat Aaron terdiam, Regan bicara kembali, "Bukan baik-baik saja, tapi kami telah baik-baik saja. Kami sudah melalui masa sulit itu dan menjadi baik seiring berlalunya waktu."


Dua orang yang Aaron anggap lemah dan rapuh itu ternyata telah melampaui dirinya. Mereka yang selama ini ia lindungi dibalik punggungnya, justru telah berpindah memunggungi dirinya dengan berani.


Dan dengan sendirinya, beban itu sepenuhnya lepas dari pundak Aaron. Ia merasa lega, benar-benar lega. Tanpa beban. Tanpa kekhawatiran. Aaron akhirnya bebas dari belenggu yang mengerikan.


Kelegaan yang Aaron rasakan menular pada seseorang yang memperhatikan ketiga kakak beradik itu dari pinggiran tangga di lantai dua.


"Mereka anak-anak yang hebat, bukan?"


Irine tersenyum bangga melihat putra putrinya yang tumbuh dengan tegar. Kegamangannya karena kepergian Argus teratasi hari ini.


"Iya, seperti Kakak, mereka hebat."


Mendapati pujian itu, Irine menoleh pada Sang Adik. Si Bungsu dari keluarga Galilei yang memutuskan keluar dari keluarga mereka beberapa tahun lalu, Denada.


"Bagaimana dengan Dokter Wen?"


Denada menumpukan sikunya di terali dengan mata terfokus pada satu sosok di bawah sana. Sosok yang merupakan keponakan sekaligus muridnya di ZHS, Regan. Kira-kira apa anak itu akan membencinya atas apa yang ia lakukan terakhir kali?


"Dokter Wen sudah kembali ke negara asalnya setelah Regan menyelesaikan pengobatannya. Dia memastikan Regan telah sembuh total."


Dokter Wen adalah dokter muda yang jenius. Irine mendatangkannya dari negara tetangga untuk membantu pengobatan Regan. Irine juga menempatkan Denada di ZHS untuk memantau Bungsunya itu. Selama ini diam-diam ia selalu menjaga anak-anaknya dengan caranya tersendiri. Memastikan mereka untuk tetap baik-baik saja.


Ia pikir itu adalah cara terbaik melindungi anak-anaknya. Namun, tanpa ia sadari caranya itu justru menyakiti mereka. Seperti ketika ia menghentikan Regan untuk bermain piano. Ia pikir itu adalah cara terbaik agar Regan fokus pada pengobatan penyakitnya. Tapi itu malah membuat Regan semakin jatuh dan terluka. Meski pada akhirnya, putranya itu bisa mengatasi semuanya.


"Maaf, karena aku, kamu jadi dibenci oleh Regan."


Denada mendengus geli mendengar Kakaknya yang angkuh meminta maaf padanya.


"Tak masalah. Lagipula dia menderita selama ini juga karena kami yang pengecut dan meninggalkan kakak sendirian."

__ADS_1


Denada tak pernah membenci Irine. Sebagai anak tertua, Irine sudah menjadi kakak terbaik baginya. Dulu ia pergi dari rumah tanpa tujuan dan Irine menyediakan tempat untuknya bernaung tanpa seorang pun yang tau. Denada bisa hidup bebas tanpa belenggu Galilei sekarang adalah karena pengorbanan Irine yang memilih untuk terus terikat dengan belenggu Galilei.


Tak hanya dirinya yang diselamatkan Irine, tapi juga Kakak keduanya. Satu-satunya anak laki-laki di keluarga Galilei yang dikabarkan menghilang bertahun-tahun silam. Nyatanya anak itu kini hidup dengan tenang di belahan dunia lain. Membangun keluarga kecil yang sederhana dan bahagia.


"Bagaiamana kabarnya?"


"Bulan lalu anaknya yang bungsu berusia dua tahun. Lalu anak tertua yang bersekolah di ZHS naik ke tingkat III dengan perolehan poin tertinggi di kelasnya."


Irine memjamkan matanya sejenak kemudian mengulas senyum tipis. "Syukurlah, kalian sepertinya telah hidup dengan baik," tuturnya penuh kelegaan.


Denada menegakkan tubuhnya dan merangkul tubuh Irine dari belakang, "Kami hidup dengan sangat baik selama ini, jangan pikirkan kami lagi. Kakak harus istirahat dan menikmati hidup dengan benar mulai detik ini."


Menepuk sekilas pipi adik bungsunya yang menumpukan kepala di pundaknya, Irine lalu mengangguk dengan tenang.


Ia akan istirahat dengan baik setelah ini.


<<<<<<<<<<<


"Lakukan seperti yang kamu inginkan, bukan seperti yang orang-orang perintahkan. Membangkang itu juga adalah bagian dari pertumbuhan, Alena."


Alena membiarkan ponselnya jatuh ke lantai begitu saja setelah kalimat Regan rampung memasuki telinganya. Ia meringkuk di depan meja belajarnya. Memeluk diri sendiri erat-erat dengan rahang terkatup rapat.


'Seperti yang aku inginkan, ya?'


Netra Alena tertuju pada gunting di atas meja. Mendapati serpihan kertas yang menempel di sela-sela gunting itu, perlahan bibirnya menyunggingkan sebuah senyum miris. Tawa Alena terdengar di ruang itu. Begitu sendu dan menyedihkan. Yang pada akhirnya berubah menjadi isakan yang tak tertahankan.


Sementara di luar sana, Nenek berdiri canggung di depan pintu. Hendak mengetuk tapi ia tau persis Alena paling benci orang lain mengetahui sisi lemahnya. Pada akhirnya yang ia lakukan hanyalah berpindah duduk di tempat terdekat. Dengan kaki gemetar ia perlahan mendudukkan dirinya dengan sebuah album foto di pangkuan. Dengan tangan ringkihnya, ia membalik lembar demi lembar dengan gemetar. Melihat perkembangan Alena yang di abadikan dalam bentuk gambar.


Satu hal yang Nenek sadari, bahwa cucu semata wayangnya itu telah kehilangan senyumnya dari waktu ke waktu.


Senyum dan kebahagiaan yang dikikis dari Alena secara perlahan, kehidupan ini begitu kejam.


<<<<<<<<<<<<<<<<


Ruangan itu bernuansa putih dengan salah satu sisinya terbuat dari kaca. Semua furnitur di ruangan itu tersusun rapi. Kecuali pada satu sisi. Dimana sebuah bingkai besar tergeletak mengenaskan di lantai. Dengan kaca yang sudah pecah dan berserakan serta gambar di dalamnya yang sudah dicabik-cabik dengan brutal.


Dan Adimas tengah termenung memandangi figura yang telah rusak itu dari meja kerjanya saat ini. Terbayang lagi di ingatannya ketika tempo hari ia mendapati kegaduhan di ruang kerjanya. Dan ketika ia sampai, yang ditemuinya adalah figura foto pernikahannya yang sudah tak berbentuk. Serta Sang Pelaku yang berdiri tenang dengan gunting di tangannya.


Dia Alena. Anak itu membuat Adimas mati kutu dengan pendar yang redup di matanya. Tanpa bicara, hari itu Alena melewatinya begitu saja dengan pandangan dingin dan putus asa.


"Sampai kapan kamu akan terus terjebak dalam pandangan masa lalu?"


Pertanyaan itu membuat Adimas tersadar akan eksistensi lain selain dirinya di ruangan ini. Ia beralih pada pria tua yang duduk di sofa di sudut ruangan. Pria itu sudah berbicara panjang lebar sedari tadi, namun Adimas hanya larut pada pemikirannya sendiri.


Semua masih karena hal yang sama. Yaitu Alena. Anak itu.... Seberapa keras pun Adimas memikirkannya, ia masih tak mampu menerimanya. Terlalu mencintai Sang Istri membuat kebencian itu timbul dalam dirinya. Benci pada sosok Alena yang merupakan darah dagingnya sendiri, karena kehadiran Alena adalah sebab dari ia kehilangan istrinya.


Sampai sekarang Adimas masih tidak bisa menerima. Kenapa istrinya lebih mementingkan anak itu dibanding dirinya? Bukankah Adimas yang lebih lama bersamanya? Bukankah Adimas yang lebih mencintainya? Lalu kenapa dia meninggalkan Adimas hanya karena anak yang hadir beberapa saat dalam hidupnya?


"Tidak adil bagi Alena menerima kebencian dari kamu. Ingat Dim, bukan hanya kamu yang kehilangan. Alena juga sama, dia kehilangan sosok ibu yang harusnya ada di sampingnya," Kakek masih mencoba memberi pengertian pada anaknya yang keras kepala. Tapi, respon yang Adimas berikan hanyalah diam membeku di tempatnya.


"Dia sudah mengorbankan nyawanya demi mempertahankan anak kalian. Lalu dengan apa yang kamu lakukan sekarang, menurutmu bagaimana perasaannya jika melihat kamu sekarang ini? Dia mempercayakan Alena padamu, Dim. Dan kamu malah merusak kepercayaan itu."


Sampai saat sosok Kakek sudah berlalu dari ruangan itu, Adimas masih juga terlarut dalam pikirannya. Ia terpekur, mencerna kata demi kata yang dilontarkan Sang Ayah. Hingga kilasan-kilasan kenangan yang telah lama ia lupakan itu kembali bermunculan.


Bayangan ketika istrinya tersenyum bahagia mengetahui kehadiran buah hati mereka. Ketika Adimas kerap mendapati istrinya mengelus perutnya penuh sayang membayangkan Sang Buah hati yang ia dambakan akan segera terlahir ke dunia. Ketika istrinya selalu berbicara dengan bahagia, berangan-angan tentang calon bayi mereka. Hingga sampai pada masa ketika Sang Istri menanggung sakit yang tak terkira demi mempertahankan anak mereka. Juga ketika istrinya dengan wajah pucat bersimbah air mata memintanya berjanji akan menyelamatkan anak mereka bagaimana pun caranya.


Setiap bulir kenangan berhamburan. Seperti hujan yang mendadak berjatuhan dari luar sana. Dan ketika Adimas membawa ingatannya kembali ke hari dimana ia memeluk tubuh Alena yang masih sebentuk bayi merah, hari dimana tangis anak itu memekakkan telinga seiring nafas terakhir yang berhembus dari sela bibir istrinya. Adimas merasakannya lagi. Sesak tak terkira yang menghujani dadanya karena kehilangan yang menyakitkan.


Dan diantara rasa sakit itu ia menyadarinya. Lewat tangis Alena yang terngiang-ngiang di telinganya. Adimas menyadari, tentang hal berharga yang telah ia sia-siakan selama ini.


'Maafkan Papa, Alena.'


<<<<<<<<<<<<

__ADS_1



__ADS_2