
Bagian 24
[LUKA YANG MENEMUKAN OBATNYA]
Malam semakin dingin seiring bertambahnya waktu. Suara-suara alam yang bersahutan seakan mencoba menyelami kelam lebih dalam. Sementara di angkasa sana, sebuah bundaran perak raksasa seakan tengah mengawasi gerak-gerik bumi di bawahnya.
Entah untuk alasan apa, di malam selarut ini pintu balkon Panji masih terbuka lebar. Angin yang berhembus malam itu jadi mendapat akses masuk membuat gorden tipis disana melambai-lambai tertiup angin.
Tidak ada penerangan lampu. Hanya cahaya rembulan yang berpendar memberi sedikit penerangan. Sementara di antara remang-remang cahaya itu, Panji tampak berdiri diam di hadapan sebuah kanvas yang disana terdapat lukisan yang hampir ia selesaikan.
Semilir angin terdengar di kesunyian yang mencekam. Berbaur dengan lembaran kertas yang saling bergesekan karena tertiup angin. Kertas-kertas itu bertebaran di lantai. Tidak lagi dalam keadaan utuh.
"Apa gunanya...."
Suara itu terdengar begitu pelan berbisik. Ada getaran yang bisa ditangkap dalam suaranya yang begitu putus asa. Sementara matanya menatap kosong pada guratan pada kanvas di depannya.
"Apa gunanya semua ini? Sebenarnya untuk apa?"
Entah kepada siapa, tapi Panji terus menggumamkan berbagai tanya. Mungkinkah ia tengah berbicara pada lukisan di depannya? Pada kanvas berisi lukisan Siena?
"Sien...." Suara Panji tercekat begitu ia menyebut nama itu. Sudah lama sekali. Sudah lama sekali ia tak menggunakan panggilan itu. Panji juga tak terlalu tau, Siena suka atau tidak dengan berbagai nama panggilan yang ia sematkan. Ah, bukan, dia hanya tak pernah bertanya. Apakah Siena mempersalahkan Panji yang tidak mau memanggilnya kakak atau tidak? Apakah Siena kerepotan dengan adik seperti dirinya? Dan apakah Siena bahagia selama menjadi kakaknya?
Apa dia bahagia?
Apa Siena pernah bahagia?
Panji tertegun. Seakan baru menyadari hal itu. Ia belum pernah menanyakannya. Selama ini Siena sibuk mengurusi sebuah kebahagiaan kecil untuk Panji. Tapi, apa perempuan itu sempat memikirkan akan dirinya sendiri?
"Hah... hahahah...."
Tawa kosong tanpa makna itu perlahan berubah menjadi tangis yang pilu. Kedua tangan Panji menutup mukanya. Tapi, dari sela jari masih juga terlihat senyum Siena yang tercetak sempurna di atas kanvasnya.
"Aaarrgghh!!!"
Teriakan prustasi yang memprihatinkan berpadu dengan isak tangis yang menyesakkan. Panji jatuh begitu saja. Terduduk di lantai memeluk erat-erat dirinya. Mencoba mencari kehangatan yang telah hilang darinya. Dalam sunyi, diantara tangis dan deru nafas yang tersengal ia masih mencoba mengais kenangan demi kenangan tentang sosok Sang Kakak.
"Sien...."
Ia terlihat seperti kucing kecil yang malang. Merintih sendirian karena kedinginan. Dingin yang begitu menusuk, yang bahkan menembus hingga ke dasar-dasar hatinya.
Hingga di ujung keputusasaannya, Panji berharap akan suatu keajaiban. Menatap dengan segunung doa pada kanvas di depannya. Menanti kemungkinan wujud yang terlukis indah disana bisa menjadi nyata.
"Aksa....?"
Pintu dibuka dari luar. Sosok Panca tampak mematung memegang gagang pintu. Dalam remang-remang cahaya bulan, terlihat olehnya sosok sang adik yang mengenaskan. Panji meringkuk di depan kanvas. Menatap memuja pada lukisan di depannya. Dan ketika anak itu menoleh padanya, Panca dapati sesuatu yang hancur dari pandang matanya.
"Apa pantas jika dia pergi seperti ini?" Panji meracau, dengan pandangan memelas dan berlinang air mata bertanya pada Panca. "Apa baik jika begini?"
Di dalam benaknya, Panca sudah mempunyai seribu satu kalimat tabah yang akan dilontarkannya. Namun, satu sisi dari dirinya menolak bicara. Menolak melontarkan barang sepatah kata untuk memperbaiki Panji. Karena pada dasarnya, ia juga sama rusaknya. Ia juga terluka oleh bencana demi bencana yang datang pada mereka.
"Sekian banyak manusia, kenapa harus dia? Kenapa harus Kakakku, bang?!"
__ADS_1
Sepasang lengan Panca melingkupi anak itu. Memeluknya yang meraung dengan pilu. Mempertanyakan takdir yang kejam yang mempermainkan mereka. Panca ingin berkata baik-baik saja. Berkata bahwa mereka masih akan bisa menjajah hari esok bersama. Bahwa semua masih bisa mereka lalui meski tak akan lagi sama seperti sebelumnya. Tapi, Panca tak mampu menyuarakannya. Seolah kata-kata penenang semacam itu, kalimat tabah yang penuh omong kosong itu, hanya akan menabur garam diatas luka yang masih baru dan basah.
Maka yang Panca lakukan setelahnya hanyalah memeluk erat Sang Adik. Menepuk pelan punggungnya. Dan menangis tanpa suara, ikut merintih atas luka-luka yang ia miliki. Seakan berusaha saling membagi resah dan saling menopang satu sama lain. Membagi beban yang telah melebihi kemampuannya untuk menahan.
Elegi kakak beradik itu sampai pada Ayah dan Bunda. Tak ada yang bisa mereka lakukan. Agaknya juga mereka telah muak bersikap tabah selama ini.
Dan malam ini tangis keluarga Batara pecah. Mereka yang terluka, mencoba saling menguatkan di antara isak yang terdengar. Saling mencoba menyalurkan sisa-sisa kehangatan yang mereka miliki untuk mengeringkan basah akibat badai yang mendera. Saling menopang untuk kembali berdiri, setelah sempat rubuh akibat bencana yang datang tiba-tiba.
Dan dalam tangis yang bersahut-sahutan, mereka menemukan hal yang mereka perlukan. Obat terbaik untuk mengobati luka hati yang telah lama membusuk. Dan itu adalah keluarga.
Karena sejatinya semua anggota keluarga adalah satu kesatuan. Mereka terluka bersama, maka juga harus mengobati bersama. Bukan hanya memendam dalam diam seorang diri semua beban.
Karena untuk mencapai keseimbangan, kita tidak hanya harus membagikan kebahagiaan. Berbagi kesedihan juga merupakan hal yang baik untuk dilakukan.
>>>>>>>>>>>
Panca memunguti satu persatu potongan kertas di atas lantai. Sesekali ia melihat guratan pensil di atas kertas itu dengan tatapan lamat. Seolah menyayangkan, karya seindah ini harus berakhir menjadi sampah yang menyedihkan.
"Ini juga... buang."
Begitu menoleh, didapatinya Panji menyodorkan gulungan kanvas padanya. Tapi karena ia hanya diam, Panji mengambil inisiatif sendiri memasukkan gulungan kanvas itu ke dalam kantong sampah di tangan Panca.
"Ini juga."
Kali ini anak itu mengambil buku sketsa yang masih utuh di atas nakas dan memasukkan begitu saja ke kantong sampah. Panca tidak tau bagaimana menanggapinya. Adiknya itu terlalu minim ekspresi, membuat ia sulit menafsirkan isi hati anak itu saat ini.
Panca tau betul, lukisan-lukisan ini adalah segalanya untuk Panji. Sampai saat ini pun masih tidak menyangka, bahwa akan ada masanya dimana Panji akan membenci dunia yang dulunya pernah ia cintai setengah mati.
Mendengar tanya yang disuarakan Panca, Panji berhenti mengeliminasi segala barang-barang di kamarnya. Ia menatap saudara tertuanya itu, lalu terdiam cukup lama.
"Iya." Hanya itu jawaban yang Panji berikan sebelum akhirnya ia memilih melangkah keluar.
"Kamu benar baik-baik saja?"
Sekali lagi Panji berhenti. Melepas tangannya dari gagang pintu lalu berbalik lagi pada Panca. Merebut kantong sampah dari tangan lelaki itu dan memasukkan sisa-sisa potongan kertas yang masih bertebaran dengan gerakan cepat.
"Ada kalian, aku lebih dari baik."
>>>>>>>>>>>>>>>>>>
"Jadi, Aksa, gimana menurut kamu?"
Panji meletakkan garpunya lalu beralih pada tablet yang sedang dipegang Panca. Mereka tengah mengulang rutinitas lama. Sarapan bersama sambil mendiskusikan beberapa hal. Barusan Ayah dan Bunda sudah menjelaskan mengenai kepindahan yang dulu sempat mereka rencanakan.
Rumah baru yang akan segera mereka tempati berlokasi di tanah kelahiran Bunda. Rumah itu sudah mencapai 90% pengerjaan. Dari gambar yang ada di tablet, Panji bisa melihat bahwa rumah itu jauh berbeda dengan rumah mereka disini. Bangunannya permanen, dengan desain modern yang bertolak belakang dengan rumah kayu sederhana disini.
Rumah tersebut terletak di atas tanah kosong seluas satu hektar. Awalnya disana adalah area perkebunan, tapi sekarang hanya ditumbuhi rumput dan beberapa batang pohon yang baru ditanam.
"Ini...." Panji berhenti pada suatu slide yang memperlihatkan ruang bernuansa putih dengan dinding cermin di tiga sisi. Ia mendongak menatap pada Ayah dan Bunda.
"Rencananya itu akan jadi kamar kamu. Posisinya bagus, karena bangunannya yang menjorok keluar dari bangunan utama. Selain itu kamu juga bisa melihat pemandangan matahari terbit dan terbenam dari sana," jelas Bunda.
__ADS_1
Ayah ikut menambahkan, "Letaknya di lantai dua. Juga ada tangga di balkon yang menghubungkan keluar."
Panji melihat layar tablet lagi. Ia termenung sejenak. Rencana kepindahan kali ini terasa begitu sempurna. Lokasi rumah yang nyaman. Kamar baru yang sempurna. Juga agenda keluarga yang telah lama dinantikannya. Setelah pindah kesana, Panji tidak lagi harus kesepian seorang diri. Pekerjaan Ayah dan Bunda kini hanya menetap di satu wilayah. Lalu Panca juga tidak lagi berkeliaran kesana sini. Mereka akan tinggal di rumah itu. Menjalani rutinitas harian lalu pulang dan berkumpul bersama. Seperti keluarga lainnya.
Ah, seandainya Panji tidak keras kepala dari awal, mungkinkah dia bisa menahan Siena untuk tetap bersama mereka? Kalau dipikir-pikir Panji tidak seharusnya menyalahkan siapapun atas kondisinya. Tak ada yang salah karena takdir memang selalu begitu. Lagipula tak ada yang menginginkan semua hal itu terjadi. Mereka tak mampu mencegah bencana itu, karena memang mereka tak mempunyai kekuatan untuk mengendalikan suratan alam yang telah mutlak ditentukan.
"Oh, iya!" Panca teringat sesuatu. Ia lalu mengambil alih tablet dari tangan Panji.
"Dek, lihat. Kamu pasti suka, deh."
"Hm?"
Panji mengikuti instruksi Panca melihat slide di tablet yang sudah berganti. Tampak sebuah ruang kosong yang sepertinya terletak di lantai dasar. Ruangan itu mempunyai banyak jendela kaca yang besar. Dan dari jendela itu bisa dilihat pemandangan kolam diluarnya.
"Ruangan ini punya kamu, terserah mau dipakai untuk apa. Lalu, kolam diluarnya nanti diisi ikan hias. Di sekitar kolam juga akan dibuat taman," terang Panca menunjukkan slide lainnya yang memperlihatkan berbagai sisi dari ruangan itu. Awalnya, itu akan dijadikan galeri lukis untuk menampung hobi Panji. Tapi, karena kejadian kemarin malam Panca jadi berpikir ulang mengatakan yang sebenarnya.
"Untuk tidur?"
Panca melihat adiknya itu dengan tatapan datar, "Kalau gitu apa gunanya kamu punya kamar?"
Panji berpikir lagi sambil menyentuh dagunya, "Oh, ruang musik?"
Ayah dan Bunda yang tadi sedang mendiskusikan pekerjaan jadi berhenti.
"Boleh juga," kata Ayah ikut berpikir.
"Memangnya mau diisi alat musik apa?" Kali ini Bunda yang bertanya.
"Piano."
Dengan satu kata itu saja mereka semua terdiam sepenuhnya. Piano. Benda itu berkaitan erat dengan luka yang mereka coba hindari. Sebuah kenangan dari masa lalu yang mereka coba untuk lupakan.
"Kamu yakin?"
Panji meraih lagi garpunya dan menusuk kentang goreng di piringnya. Awalnya mereka kira Panji mengabaikan pertanyaan Ayah. Tapi ternyata anak itu memberi jawaban setelah selesai mengunyah kentangnya.
"Kenapa gak yakin? Gak ada yang salah dengan piano, kan?"
Benar. Tak ada yang salah dengan itu. Selama ini, hati merekalah yang bermasalah. Sehingga segala sesuatu yang memiliki kemungkinan akan membangkitkan rasa sakit itu, mereka buang satu persatu.
"Eksa maupun Siena, mereka bagian dari keluarga ini. Fakta itu tak bisa dirubah. Bagaimana pun keadaannya, Eksa adalah kembaranku, Siena adalah Kakakku. Tidak adil bagi mereka kalau kita melupakan peran itu begitu saja. Benar, kan?"
Sekali lagi, Panji benar. Mereka yang pergi itu juga bukan karena ingin pergi. Pasti terbersit dalam hati mereka, baik itu Pandu maupun Siena, untuk bisa tetap bersama dengan keluarga ini selamanya. Di akhir hayat, saat nafas terakhir mereka hembuskan ke udara, pasti ada keinginan hatinya untuk tetap hidup dan menjalani kehidupan disini.
Sepertinya ada nilai baru dalam kehilangan yang mereka terima hari ini. Karena sejatinya kehilangan itu bukan hanya perihal mereka yang ditinggalkan, tapi juga tentang mereka yang meninggalkan. Karena sesungguhnya kesedihan itu bukan hanya bagi mereka yang kehilangan tapi juga ada pada mereka yang dipaksa hilang karena keadaan.
Maka dari itu, tak adil bila kita mencoba melupakan mereka yang telah pergi. Seolah kehadiran mereka tak pernah berarti. Padahal mereka ingin untuk dikenang, mereka ingin diingat lebih lama. Mereka ingin orang-orang tau bahwa mereka pernah ada di dunia ini. Pernah hidup dan menjalani kehidupan seperti orang lainnya.
Dan karenanya, melupakan bukanlah pilihan bijak untuk mengatasi kesedihan. Melanjutkan hidup tanpa penyesalan. Menerima keadaan dan menjaga mereka tetap hidup dalam lubuk hati terdalam. Itu adalah pilihan terbaik yang dapat dilakukan.
>>>>>>>>>>>>>>>>>
__ADS_1