
...[ZERO CLASS, ROOFTOP, DE FORNAX]...
.../•...
...\•/...
Ruang kelas II Bahasa 00.
Tempat itu tidak sunyi seperti saat Panji 'disidang' Capt Cel sebelumnya. 20 murid terdaftar semuanya hadir di ruang kelas. Tidak ada guru karena sekarang adalah jam istirahat pertama. Entah untuk alasan sama atau berbeda mereka serempak menghabiskan jam istirahat di kelas.
Kebanyakan penghuni kelas itu duduk di tempat masing-masing, tidak peduli sekitar. Lainnya sudah berpindah-pindah, ada yang bersantai di meja guru, berjongkok menghadap dinding di pojok ruangan, tidur berbantalkan ransel di barisan belakang, tidak bisa dideskripsikan satu-satu apa saja aktivitas penghuni kelas itu hari ini.
"Ish apasih! Kayaknya mau matahari semedi di utara pun gak bakal kelar, deh." Jingga menggerutu, sejak tadi pusing dengan game loop di ponselnya.
Gani yang semula menelungkupkan kepala di atas meja, melongok ke arah Jingga di sampingnya. Jemarinya terangkat menyentuh layar, hanya satu sentuhan dan permainan itu usai berlanjut ke level berikutnya. Mulut Jingga membulat, ber-O panjang tanpa suara lalu cengengesan. Gani kembali menyembunyikan kepala dilipatan lengannya. Beberapa detik Jingga mengeluh lagi, Gani merespon lagi. Begitu terulang sejak tadi dan seterusnya seakan tak ada bosannya mereka pada siklus itu.
"Adel.... Adel.... Adeliaaa...."
Lemparan buku setebal 10 senti menghantam tepat di tengah jidat Laskar membuat ia terjengkang kebelakang dan jatuh merasai kerasnya lantai. Hiro, Alwi dan Lintang menirukan sirine ambulan berlagak menjadi tim medis dan dengan sigap menangani pasien mereka, Laskar tentunya.
"Pasien cidera, benjol di jidat mengakibatkan radang otak." Alwi berseru heboh setelah asal-asalan memencet memar di kening Laskar yang terlentang di lantai pura-pura pingsan, sangat mengahayati peran sebagai korban.
"Darurat!" Hiro ikut heboh, panik layaknya akan ada yang meregang nyawa. "Pasien butuh sianida segera!"
"Woi! Mati dong gue?!" Laskar berseru tidak terima, membuka sebelah mata mengangkat sedikit kepala.
"Sianida siap!" Lintang muncul entah habis dari mana menyodorkan botol silinder bening dengan cairan pekat di dalamnya.
Seketika Laskar terlonjak bangun menuding ngeri botol kecil yang kini berpidah tangan ke Alwi. Hiro dan Lintang memblokir pergerakan Laskar membuat ia berontak dan meraung-raung minta dilepaskan. Seketika korban kekerasan berubah jadi pasien sakit jiwa yang lost control.
Di samping aksi pasien mengamuk itu, Ricky dan Petra berperan layaknya polisi mengacungkan jari mereka yang membentuk pistol ke arah Adelio, Sang Tersangka pelempar buku.
"Angkat tangan!" Petra berlindung di balik meja dengan 'pistol'-nya menuding ke arah Adelio.
Sementara Ricky menggulung sebuah buku tulis untuk dijadikan toa darurat, "Anda sudah dikepung! Harap segera menyerahkan diri, jangan melawan demi kesejahteraan bersama!"
Petra yang sedang serius-seriusnya membidik 'pelaku' gagal fokus, "Kayak pernah denger kalimatnya...." Ia bergumam tanpa sadar kalau Adelio mendekat perlahan seperti predator mengintai mangsa.
"Darurat! Darurat! Woi! Elah! Gak lucu sampe ada berita polisi mati digrebek pelaku saat sedang ngayal!"
"Eh?" Petra linglung melihat Ricky yang mencak-mencak di sudut ruangan menunjuk-nunjuk dirinya lalu memukul-mukulkan buku ke meja, panik level akut. Hingga kemudian Petra dibuat berseru ngeri saat Adelio muncul di depan mukanya tiba-tiba. Membuat ia pontang-panting ingin lari tapi terhambat oleh jejeran meja dan kursi. Petra terjatuh, ia semakin histeris meraung ngeri saat Adelio meraih kakinya dari sela-sela kali meja. Persis seperti adegan film horor, Petra yang ditarik kakinya berontak memeluk kaki meja di dekatnya. Ia merinding ngeri saat Adelio dengan senyum angker menampakkan diri di sela-sela kolong meja.
"Ampun! Ampun! Ampuuuun!!!"
Dan berlanjutlah drama polisi yang berubah genre dari action menjadi horor di pagi itu. Sementara keributan dari Si Pasien tadi masih berlanjut karena Laskar berhasil kabur dan sekarang justru jadi main kejar-kejaran dengan Hiro, Alwi dan Lintang.
Mahesha a.k.a Esha yang berjongkok menghadap dinding di pojok ruangan tidak sengaja tersenggol Laskar. Yang mana mengakibatkan Laskar tersungkur dan langsung di sekap oleh tiga 'dokter'-nya. Esha yang tidak terima semedinya diganggu ikut meringkus 'Si Pasien'. Yang berbuntut Laskar meraung panjang meminta pertolongan, yang sayangnya tidak ditanggapi oleh siapapun.
Ricky yang beralih profesi dari polisi menjadi zombie kini berguling-guling dilantai dengan Adelio 'memangsa' Petra.
Lengkap sudah kegaduhan hari itu hingga bel pertanda masuknya jam ekskul berbunyi.
Di tengah kegaduhan itu, Panji terpekur pada buku di tangannya. Sama sekali tidak terusik, ia membalik lembar demi lembar. Baru berhenti setelah lima menit bel berbunyi. Lalu keluar dari kelas paling terakhir diantara murid lainnya.
Panji menuju loker mengambil seragam ekskulnya. Di ZHS setiap ekskul punya seragam masing-masing, karena ekskul terhitung dalam jam efektif sekolah. Panji mengikuti ekskul seni, tepatnya bagian seni rupa cabang melukis. Kegiatan yang tidak memerlukan banyak komunikasi ia bisa fokus pada diri sendiri. Yang paling penting, tenang tidak berisik. Hanya terdengar goresan kuas, guratan pensil dan desiran lembaran kertas dalam ruang ekskul itu.
Hari ini Panji tidak duduk di depan kanvas. Ia menepi di balkon duduk di atas tembok pembatas dengan pensil dan buku sketsa. Tak ada yang peduli padanya, di tempat ini setiap orang sibuk pada dunia mereka masing-masing.
Tangan Panji mulai bergerak di atas kertas itu, menggoreskan ujung pensil membentuk guratan awal. Dalam hitungan detik, ia sudah sepenuhnya tenggelam dalam dunianya sendiri. Sibuk dengan goresan-goresan tangannya dan seperti yang sudah-sudah waktu pun berlalu begitu saja. Bergulir cepat tanpa disadarinya.
<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<
"Ada apa?"
Alena membuka loker dan sibuk dengan barang-barangnya, tepatnya pura-pura sibuk. Sementara Panji berdiri di belakangnya, berkali-kali tampak membuka dan mengatupkan mulut tapi tak satupun kalimat terlontar olehnya. Disana hanya tertinggal mereka berdua, murid lain sudah pulang. Lagipula sekarang sudah pukul 5, sudah 2 jam setelah jam bubaran sekolah.
Lama menunggu juga karena sudah tidak tau harus sibuk dengan apalagi, Alena pun berbalik menghadap Panji. Panji masih dibelakangnya, masih diam seperti yang sudah-sudah. Padahal lelaki itu yang meminta untuk bicara.
__ADS_1
"Kalau memang tak ada yang mau dibicarakan, aku duluan. Dah!" Ujar Alena seraya menyampirkan ransel di pundak lalu beranjak pergi.
Panji membuka mulut ingin bicara, tapi lagi-lagi kalimatnya hanya tertahan di kerongkongan. Ia tidak bisa bersuara bahkan sekedar untuk menghentikan Alena. Dan pada akhirnya yang Panji lakukan hanyalah menatap punggung Alena yang semakin menjauh kemudian hilang di telan jarak.
Kosong. Tinggal ia sendiri. Panji tertunduk bersandar di loker. Menatap ujung-ujung sepatu dan tidak ada lagi yang terpikir olehnya untuk dilakukan. Bahkan sekedar beranjak pulang pun ia enggan.
Kenapa rasanya sulit sekali? Panji telah berusaha keras untuk bicara, tentang mereka yang semakin menjadi rumit. Panji mencoba untuk bertanya, tentang teka-teki rasa yang tak terpecahkan. Tapi tidak satupun yang berhasil ia lakukan. Tidak sedikitpun resahnya tertuntaskan. Hubungan apa yang sebenarnya tengah ia jalani kini? Relasi sepihak yang menyesakkan.
"Panji!"
Entah kapan, tapi Alena sudah berdiri lagi di hadapan Panji. Sepasang matanya menghujam lurus ke dalam netra biru kelam Panji. Siluetnya tampak begitu apik berpadu tempias cahaya jingga sore yang menyusup lewat celah ventilasi.
"Alena...." Berbeda dengan panggilan sebelumnya, nada Panji terdengar seperti keluhan. Ia mengeluh entah untuk apa. Dan Alena dibuat bungkam demi melihat kilau sendu tak tertahan dari sepasang matanya.
Panji merangsek maju, satu tangannya mencengkram lengan Alena satu lagi meraih jemari lentik gadis itu. Ia meletakkan kepala di pundak Alena, terkulai pasrah disana. Sungguh Panji sangat lelah dengan semua ini, jadi biarlah terjadi. Persetan dengan semuanya, dia hanya akan pasrah, dia akan menyerah jika dengan itu bisa membuatnya untuk tetap bisa berada disisi Alena. Sepenuhnya Panji akan menyerah....
"Sepenuhnya aku akan menyerah... kepada kamu. Jadi Alena...," terdengar semakin lirih dan lebih lirih. Panji menarik nafas panjang sebelum akhirnya dihembuskan dengan penuh beban. Ia semakin menunduk menenggelamkan wajah di antara bahu Alena, "Jangan pernah paksa aku untuk menjauh, atau berhenti di titik yang kamu ingin aku untuk berhenti. Karena aku sudah terlanjur egois, terhadap kamu Alena. Apapun itu tentang kamu, maka aku akan egois. Tak apa kan?"
Berapa lama? Dari hitungan hari ke minggu, minggu ke bulan. Mereka baru saling mengenal beberapa bulan lalu, saling memutuskan berhubungan beberapa bulan lalu. Dan dalam beberapa bulan itu saja sudah lebih dari cukup membuat Panji menyerahkan seluruh hidupnya. Tanpa Alena pernah tau, bahkan di detik pertama pertemuan mereka Panji sudah menyerah sepenuhnya. Panji menyerah pada Alena sedari awal, bahkan lebih awal dari yang dapat diperkirakan.
Bukankah hati dan perasaan memang hal yang paling mengerikan? Sesuatu yang tidak dapat dikendalikan bahkan oleh pemiliknya sendiri. Dan Panji tidak pernah menyangka bahwa ia akan dihancurkan oleh perasaannya sendiri hingga seprti ini. Ini sangat tidak terduga bagaimana hatinya menyeret ia dalam belenggu luka yang begitu menyiksa. Ia kesakitan bila melepaskan tapi juga akan terluka parah bila bertahan.
Nah, bila begitu maka ia akan siap untuk dihancurkan. Tetap berada disisi cintanya sampai detik terakhir, bahkan sampai seruruh dirinya hingga ke dasar-dasar jiwanya hancur lebur, Panji memilih bertahan. Daripada tersiksa di kesepian karena melepaskan, lebih baik ia musnah dalam pilihan untuk bertahan.
Meski harus dengan keegoisan, demi tetap bersama, maka akan ia lakukan.
<<<<<<<<<<<<<<<
Atap gedung Astronomi. Berbulan-bulan lalu.
Siang itu langit mendung. Udara lembab menyapu bumi. Tidak ada hujan, tapi tetap membuat sebagian besar orang kedinginan. Aneh sekali, langit semuram itu tapi masih saja menahan bebannya. Apalagi yang ia tunggu dengan awan kelabu menghitam itu?
Tidak bisa melihat hujan dari langit, Panji justru dihadapkan pada rinai di sepasang mata milik Alena. Detik itu, saat itu juga, ia telah menyerah seutuhnya. Menyerah sepenuhnya. Sedari awal, bahkan lebih awal dari yang diperkirakan, lebih awal dari yang dapat diperhitungkan. Dan sama sekali Alena tidak pernah menyadari hal itu. Hingga berbulan-bulan berikutnya pun, sepanjang mereka semakin saling mengenal, sedetik pun bahkan seinci pun, Alena masih juga tidak dapat menyadarinya.
<<<<<<<<<<<<<<<<<<
Matahari telah hilang beberapa saat lalu menyisakan lembayung yang melukis indah bentangan langit luas. Satu dua bintang yang paling bersinar mulai menampakkan diri. Ah, satu fakta yang terlupakan, bintang yang paling terang, bintang yang paling indah itu adalah bintang yang berumur pendek. Miris. Tapi ternyata benar adanya setiap kelebihan selalu dilengkapi kekurangan.
Panji tengah menimang-nimang hal itu kini. Kekurangan? Kelebihan? Kesempurnaan? Kalau bisa memilih akan ia pilih untuk hidup sempurna, sesempurna mungkin hingga tak perlu lagi segala kekosongan yang ia rasa selama ini. Tapi, takdir manusia itu memang menyedihkan, ya? Tidak bisa memilih sesuatu yang begitu kita inginkan, tidak bisa memilih bahkan untuk diri kita sendiri. Karena katanya, takdir manusia itu sudah ditentukan. Lelucon macam apa itu?!
Pertama kalinya, Panji merasakan sakit tak tertahan. Sakit yang menyiksa, yang membuatnya gelisah, membuatnya resah. Ada rasa ingin mencabik-cabik guratan luka itu tapi ia sendiri tak dapat menemukan dimana luka tersebut. Goresan-goresan pedih itu tak kasat mata tapi sangat jelas terasa. Membuat Panji seakan mau gila, tidak tau bagaimana harus menyikapinya.
Benar-benar mengerikan. Hati dan perasaan adalah hal paling mengerikan dari yang paling mengerikan. Harusnya Panji berhenti ketika ia sudah menyentuh perasaan itu, harusnya ia berhenti didepan pintu masuknya, berhenti dan merasa cukup sampai disana. Tapi, benarlah manusia itu terlalu serakah. Ia ingin lebih dan lebih. Masuk lebih dalam, menyentuh lebih dalam, menggenggam, mendekap erat tak lagi ingin ia lepaskan. Ia telah ditelan oleh perasaan yang mengerikan, ia terbelenggu oleh hati yang menyeramkan. Sudah terlanjur jauh, Panji sudah jatuh terlanjur jauh. Dan bukannya merangkak untuk naik ia malah membawa dirinya semakin dalam lagi. Lebih dan lebih dalam lagi.
Bahaya! Kini ia mencapai puncak keegoisan tergila seorang manusia.
<<<<<<<<<<<<<<<<
Gemuruh terdengar dari arah langit membuat Siena mendongak melihat pekatnya mendung yang menghiasi di atas sana. Ia berdecak pelan saat rintik air luruh dari awan satu demi satu. Sementara tak jauh dari tempatnya berdiri, Panji masih asik berkelana dengan pikirannya. Entah apa pula yang dipikirkan anak itu dengan wajah syahdu memandang langit lepas.
"Ayo pulang, sebelum hujannya lebat," ajak Siena sambil melangkah mendekati posisi Panji yang duduk menjuntai dipinggir atap.
"Hilang."
Siena mengernyit mendengar balasan adiknya. Ia turut duduk di samping Panji dan memandang ke arah yang sama. Tapi tidak ia temui apa yang membuat Panji betah berlama-lama di atap gedung astronomi ini. Bagi Siena alasan Panji teralalu abstrak, sulit ia mengerti tapi miliki bentuk pasti.
"Bintangnya hilang," Panji memperjelas seolah tau dengan ketidak mengertian Siena.
Sesaat Siena merasa tercekat. Untuk dirinya dan orang lain, Panji itu terlalu rumit. Sulit untuk dipahami, sukar sekali membaca kecamuk rasa yang membuncah dalam diri anak ini. Panji itu terbiasa diam, entah karena faktor apa sehingga dia selalu mengekspresikan diri melalui kebungkaman. Dan hal itu pulalah yang membuat Siena merasa dadanya dihantam kuat tiap kali ia gagal memahami Panji. Tidak ada orang yang benar-benar mengerti Panji, dan bila Siena pun gagal memahaminya maka Panji benar-benar akan merasa sepi.
Sejak umur 6 tahun, Siena telah beranjak meninggalkan rumah. Ia sibuk menjelajah dunia luar yang tanpa batas. Mengepak sayap ke sana sini, mencoba berbagai hal baru melakukan apa yang ingin ia lakukan. Ayah dan Bunda tidak pernah mengekang keinginannya, semua keputusan akan hidupnya adalah miliknya. Hingga dengan begitu, Siena bergerak cepat memuaskan rasa ingintahunya akan luasnya dunia yang tak berhingga.
Ia pikir Panji akan baik-baik saja dengan ini. Ia pikir Panji juga akan memilih jalan tersendiri layaknya dirinya dan Panca. Namun, nyatanya Panji hanya menetap dalam hening dan sepi. Anak itu tertinggal jauh dibelakang. Yang mana saat Siena mengira dia akan menyusul, rupanya ia terdiam tak tau caranya untuk terbang. Harusnya Siena paham, bahwa Panji butuh dituntun dan diajari untuk bisa terbang sendiri. Namun, Siena terlalu larut dalam keterpukauannya pada semesta hingga lupa dengan Panji yang menunggu untuk ia tarik pergi. Ia meninggalkan Panji yang tertatih seorang diri, sampai kemudian anak itu menyerah dan menepi dalam sepi. Panji menyerah akan usaha untuk beranjak pergi dan hanya mampu menatap Siena yang telah terbang tinggi.
Mengingat hal itu, membuat Siena malu akan dirinya sendiri. Ia terlalu malu hingga tak sanggup jika harus menetap di atap yang sama dengan Panji. Karena itu Siena memutuskan untuk tinggal di tempat terpisah, memilih untuk menjauh namun masih juga berusaha mendekati. Siena mencoba, meski dikatakan sudah terlambat pun, ia tetap akan berusaha untuk memahami Panji, mengerti dengan apa yang anak itu simpan di bilik tersembunyi yang penuh kunci misteri.
"Kalau hujannya reda, nanti bisa lihat bintang lagi," tutur Siena yang telah lupa akan tujuan untuk segera pulang. Ia membiarkan gerimis menyapa mereka dan menikmati saat-saat ia harus berpikir keras menerjemahkan tiap guratan di wajah Panji.
__ADS_1
"Hm." Panji berdehem singkat. Matanya masih terpaku menatap lurus entah apa yang menjadi fokusnya. "Ya, kamu pernah nanya kenapa harus Alena..."
Siena mengganti pandang menatap wajah adiknya yang tampak tengah menerawang memikirkan sesuatu diantara jeda kata yang ia ucapkan.
"... itu karena mau hujan ataupun tidak, mau mendung atupun cerah, dia selalu terlihat dimana saja."
Panji menunduk namun dapat Siena lihat kesenduan di sepasang netra biru kelamnya.
"Karena hal mudah bagi langit menemukan bumi yang dibawah naungannya."
Karena Panji mau bagaimanapun Panji mencoba menghindar, Alena akan selalu tampak dalam setiap rekam jejak yang dimilikinya. Bukan Alena yang datang, tapi Panji yang terlalu terikat, mematri kuat sosok Alena dalam benaknya.
Sudah begini Siena tidak dapat menyalahkan siapa-siapa, selain merasa miris akan takdir yang tak dapat kita baca. Takdir yang bukanlah hitam diatas putih, yang bukanlah sebuah suara yang bisa didengar. Takdir yang transparan, tidak terlihat namun ia memiliki sebuah keberadaan. Entah dimana, tapi takdir itu berjalan dan menuntun garis hidup seorang manusia.
<<<<<<<<<<<<<<
Rumah. Apa saja hal yang indentik dengan rumah?
Mungkin bagi orang lain itu hanya sebatas pertanyaan remeh, mudah sekali menjawabnya. Tapi, bagi Regan pertanyaan tersebut bahkan lebih sulit dari kumpulan reaksi kimia yang diselesaikannya, lebih menyebalkan dari sekumpulan angka matematika dan juga lebih mengesalkan dari tumpukan soal fisika. Jangankan hal yang identik dengan rumah, apa definisi rumah saja sudah membuat ia kalang kabut mencari maknanya.
Rumah itu apa?
Umumnya orang-orang menganggap rumah sebagai tempat berlindung. Pada kajian lain juga sebagai tempat pulang. Lebih dalam lagi, rumah sejatinya adalah tempat kita kembali. Sejauh apapun kaki melangkah pergi pasti akhirnya kita tetap akan kembali ke tempat itu. Tempat awal mula kita dilahirkan, tempat pertama kita hidup, tempat kita memulai kehidupan, tempat kita belajar banyak hal, menangis, tertawa dan melalui semua fase kehidupan di bawah atapnya. Jelaslah kalau rumah itu adalah suatu hal yang sangat berharga.
Berharga, ya?
Regan membawa tubuhnya memasuki bangunan mewah yang lebih menyerupai kastil ke timbang rumah itu. Disanalah ia tinggal, tempat yang orang-orang sebut dengan rumah. Terletak di pusat Vyen dalam kawasan pribadi milik keluarga De Fornax.
De Fornax disebut-sebut sebagai sumber hukum, bukan hanya di Vyen tapi juga merambah ke seluruh negara V. Dikabarkan bahwa De Fornax masihlah dalam satu garis keturunan dengan anggota kerajaan Aurig. Oleh karena itu keluarga ini sangat disegani dan diagungkan.
Garis keturunan De Fornax sendiri juga sangatlah cemerlang. Seluruh bagian keluarga mereka terlibat dalam hukum juga berkecimpung dalam pemerintahan. Kepala keluarga saat ini juga sangat mengemparkan dunia dan mencatat sejarah baru bagi keluarga mereka.
Shizuryan Aaron De Fornax. Mengemban tanggung jawab sebagai kepala keluarga di usia 13 tahun. Pemindahan jabatan itu terjadi lebih cepat karena kepala keluarga sebelumnya, yaitu ayah dari Aaron, mengalami kecelakaan tragis yang merenggut nyawanya. Aaron mengangkut beban yang berat di punggungnya, karena harapan para tetua hanya tertuju padanya. Hasilnya, anak itu tumbuh menjadi monster yang melahap perlahan hampir seluruh bagian baik di pemerintahan juga dalam dunia perbisnisan. Dia yang membawa De Fornax melesat puluhan kali lipat lebih cepat dibandingkan yang dulu. Padahal sempat terjadi kehebohan saat kematian Argus De Fornax, dikabarkan bahwa keluarga tersohor itu sempat berada di ambang ke hancuran. Namun, dunia kembali dibuat terpana dengan betapa cemerlangnya garis takdir keluarga itu. Aaron mulai menunjukan taringnya, mengaum kuat hingga menggetarkan seluruh dunia. Dia berhasil menunjukan, bahwa tidak akan ada kata 'kehancuran' dalam sejarah panjang De Fornax.
Kecermelangan Aaron, memang menjadi anugrah bagi keluarganya. Akan tetapi hal itu justru menjadi petaka bagi Regan. Dimana semua lukanya semakin melebar dari sana.
Regan Exander Galilei. Bungsu dalam keluarga De Fornax yang tidak bisa menyandang nama De Fornax di belakang namanya. Hanya karena, ia bukan anak pertama. Dalam sejarah panjang De Fornax memang hanya anak laki-laki tertua yang berhak menyandang nama De Fornax sebagai nama belakang mereka. De Fornax sangat mengagung-agungkan anak laki-laki tertua dari keturunan mereka. Juga ada perbedaan perlakuan yang kontras untuk anak laki-laki dan perempuan.
Argus De Fornax dengan istrinya Irine Giena Galilei, memiliki tiga anak, dua laki-laki dan satu perempuan. Anak tertua mereka adalah Shizuryan Aaron De Fornax, sedari lahir sudah ditetapkan sebagai penerus keluarga dan juga merupakan satu-satunya anak yang akan menyandang nama De Fornax. Anak tengah bernama Aeera Giena Galilei, satu-satunya anak perempuan yang ditunjuk sebagai penerus seluruh Imperium keluarga besar Galilei. Lalu Si Bungsu, Regan Exander Galilei, anak yang cerdas dan penuh prestasi, telah meraih berbagai penghargaan, mendapat puluhan sampai ratusan mendali, di bidang akademik maupun non-akademik, dia unggul disegala bidang. Namun sayang, gunungan riwayat prestasi miliknya masih belum mampu menyaingi kegemilangan dua kakaknya yang sudah memasuki dunia yang lebih besar dari sekedar batas 'sekolah'.
Sedari kecil, Regan satu-satunya yang tidak mencolok dari saudara-saudaranya. Segemilang apapun prestasinya, hal itu akan tenggelam dengan sendirinya saat Aaron dan Aeera bersinar ratusan kali lipat lebih terang darinya. Regan tidak bisa mengimbangi langkah mereka, apalagi sampai melampaui, mustahil baginya. Ia tidak akan bisa melewati batas tinggi yang dibuat kedua kakaknya, tepatnya ia tidak diizinkan melampaui batas itu. Sebagai anak terkecil, dia dihadirkan hanya sebagai pelengkap saja, atau hanya untuk pajangan saja? Lihat saja, Aaron mewarisi De Fornax yang tersemat di namanya, Aeera mendapatkan Galilei di tangannya, dan Regan? Apa yang tersisa untuk batu pijakannya menyusul mereka? Tidak ada sama sekali. Dia selalu dituntut untuk menjadi sempurna, bukan untuk dirinya, tapi justru untuk menyempurnakan orang lain. Ia layaknya tokoh pembantu dalam kisah heroik dua kakaknya, pada akhirnya sekeras apapun perjuangan tokoh sampingan tetap yang lebih dilihat adalah tokoh utama.
Hidup itu sulit. Dan Regan tau itu sedari awal. Sedari dulu ia dibecut dengan cambuk kelam persaingan, harus selalu menjadi yang nomor satu, tidak boleh ada sedikitpun kekurangan, dan pada akhirnya semua usahanya tidak pernah mendapat penghargaan. Bahkan orang tuanya sendiri memandang sebelah mata piala dan mendali yang dulu ia pamerkan, seolah mereka bilang: 'Sewajarnya seperti itu, dan seharusnya lebih dari itu.'
Persaingan hidup masyarakat kelas atas itu lebih mengerikan dari perlombaan gelandangan yang mengais sampah jalanan. Hidup dengan dasar penilaian, unsur kepantasan, tuntutan kesempurnaan. Benar-benar mengerikan.
"Jam berapa sekarang?"
Saat baru melangkahkan kaki melewati pintu utama, ia digiring oleh kepala pelayan menghadap Ibunya yang tengah menikmati teh di ruang baca. Wanita itu menutup buku tebal di tangannya lalu beralih pada cangkir tehnya. Sama sekali tidak merasa perlu untuk menatap pada wajah lelah anak bungsunya.
"Terlambat pulang, juga bolos dua studi les, dan penurunan nilai serta poin di sekolah. Apa kamu merasa sudah sangat baik sampai melalaikan itu semua?"
Wanita itu tampil elegan dan glamour, masih terlihat cantik diusianya kini. Gurat wajahnya lembut namun penuh kharisma. Nada bicaranya halus, namun menusuk.
Regan tidak bicara dan hanya berdiri tertunduk menatap ujung-ujung sepatu. Memangnya apa yang bisa ia katakan? Membela diri dengan bilang nilainya tetap paling tinggi di antara seluruh murid di sekolah? Heh, penurunan tetap penurunan. Tak ada gunanya ia memberi pembelaan apapun walau pada kenyataannya Ia masihlah siswa nomor satu disegala bidang di sekolah. Dan untuk les, antara Regan sudah muak dan juga karena ia harus menyelesaikan tugasnya sebagai Ketua Dewan Siswa hingga memakan waktu sampai larut begini. Sejatinya Regan itu anak yang gigih dan pekerja keras, ia begitu cemerlang dimata orang-orang di luar sana. Tapi kekaguman orang lain tidak berarti apapun bagi keluarganya, bagi keluarganya Regan masih kurang, masih dan masih kurang lagi. Hingga sebesar apapun usahanya sama sekali tidak akan pernah terlihat oleh mereka.
"Sepertinya aku yang lalai mengawasimu akhir-akhir ini. Mulai besok jadwal kamu akan berubah, dan tidak ada lagi piano."
Seketika kepala Regan tegak mendengar kata terakhir itu. Bagaimana ibunya tau? Memang faktor terbesar dari penurunan Regan belakangan ini adalah Piano. Mimpi terbesar yang ingin diraihnya, menjadi seorang Pianis ternama. Tapi justru hal itu dianggap rendah oleh ibunya. Regan dituntut untuk menjadi lebih dari itu. Sampai ia diam-diam membuka kelas piano sendiri, mendatangkan guru sendiri, mengikuti kompetisi sendiri dengan nama Exander. Ia sudah menyamarkan Identitasnya, menutupi jati dirinya serapi mungkin, dan muncul di publik sebagai Exander Sang Pianis. Tapi kenapa?
"Tidak ada lagi piano, dan tidak akan pernah ada."
Tidak! Piano sudah menjadi bagian hidupnya, piano sudah melekat dalam jiwanya. Nada-nada setiap tuts sudah mengalir dalam nadinya, komposisi melodi mengalun dalam relungnya. Tidak bisakah ia memohon untuk satu hal ini saja?
Namun sayang sekali, jangankan untuk memohon pada ibunya, sedikit menyela saja Regan tak kuasa. Ia memang pengecut, terlampau takut dan itulah yang membuatnya benci pada dirinya, hidupnya dan segala tentang dia. Dibanding aturan jahanam keluarga, Regan ratusan kali lipat lebih benci pada dirinya sendiri.
Benci. Ia sangat benci sampai rasanya mau mati.
__ADS_1