Kanvas Aksara

Kanvas Aksara
BULAN SABIT


__ADS_3

KANVAS 12


[BULAN SABIT]


/•


\•/


Masih sangat pagi saat Regan menggiring tubuhnya di lorong beraroma kloroform itu. Penampilannya pagi ini tampak misterius sekali dengan warna hitam mendominasi dari atas ke bawah. Kepalanya tertutup tudung hoodie yang ia kenakan, lantas sebuah masker hitam ikut menyamarkan wajahnya.


Di ujung lorong, Regan akan berbelok ke kiri ketika seseorang menyerukan namanya dari arah berlawanan. Regan terhenti, berbalik untuk menemui pemilik suara itu yang sudah sangat ia kenal.


"Obatnya habis lagi?"


Regan menatap sebentar pria berusia 30-an yang memakai jas putih khas dokter itu. Baru ia akan bicara, namun pria itu lebih dulu menyela.


"Bicara di ruanganku saja," ujarnya lalu memimpin jalan menuju arah yang awalnya ingin di tuju Regan.


Regan menurut. Sambil berjalan pria itu mengajaknya mengobrol yang ia tanggapi dengan balasan singkat. Di luar sana mungkin ia memanglah sosok yang terkenal hangat dan ramah. Orang-orang mengenal dia seperti itu, seperti apa yang Regan ciptakan untuk mereka. Regan tampil sempurna dengan topeng yang ia pahat begitu indah, sampai tak ada yang sadar bahwa dia masihlah juga seorang manusia. Seorang anak manusia yang rentan dan penuh kekurangan.


"Kamu sudah makan? Walau terburu-buru tapi jangan mengabaikan tubuhmu juga."


Dan di hadapan pria ini, Regan dipaksa melepas topengnya...


"Apa belakangan ini kamu sulit tidur? Kantung mata kamu itu parah sekali."


... dan menjadi dia yang apa adanya. Tanpa perlu susah-susah memaksa bibirnya tersenyum. Tidak harus menjaga kata dan tindakannya. Regan hanya perlu menjadi dirinya sendiri.


"Susu vanila atau coklat?"


"Kopi."


Mereka sudah sampai di ruangan milik pria yang biasa Regan panggil dokter Wen itu. Regan duduk di sofa single dekat jendela yang terbuka. Ia memandang keluar dan tanpa sadar memejamkan mata saat hembusan angin dingin menyapu wajahnya.


"Minum selagi hangat," Dokter Wen tidak benar-benar menyajikan kopi. Ia meletakkan segelas susu coklat di meja kecil dekat Regan duduk. Lalu ia menarik kursi kerjanya untuk dirinya sendiri.


Regan mengabaikan gelas yang mengepulkan uap itu, "Obatnya."


"Kenapa terburu-buru sekali?"


"Sekolah."


Dokter Wen tertawa pelan. Ia melirik jam di pergelangan tangan lalu mengerling jahil. "Jadi, kamu akan menghabiskan susu coklat yang aku hidangkan sepenuh hati disini selagi menunggu?" Tanyanya retoris seraya bangkit dan meregangkan badan.


Regan melotot penuh protes. Ia sudah akan menyuarakan penyanggahannya saat seorang perawat menyembulkan kepalanya dari balik pintu. Dengan begitu Dokter Wen tidak perlu menjelaskan apapun lagi dan pergi begitu saja.


Regan menghela nafas. Memilih kembali menikmati pemandangan taman rumah sakit dari lantai dua tempat ia berada. Matahari bahkan belum muncul memecah embun saat tadi ia mengendap-endap dari penjagaan ketat di rumahnya.


Aroma susu coklat mengusik Regan. Ia akhirnya meraih gelas di depannya dan menangkup dengan kedua tangan. Hawa hangat dari gelap merayapi tangan Regan yang memucat kedinginan. Ia sesap perlahan minuman itu kemudian kembali tenggelam memandang ke luar jendela.


Rasa manis yang khas menyapa indra pengecap Regan. Selagi dia menikmati minuman itu, pikirannya berkelana dalam berbagi potret kenangan yang ia simpan.

__ADS_1


'Coffe is bad, Pa.'


Dan potongan kisah silam itu pun muncul. Dari jendela kaca yang mengembun, Regan seolah bisa melihat bayangan sosok mendiang Ayahnya yang tertawa sambil menyeruput segelas kopi. Dan di pangkuan pria itu, Regan kecil mendongak melihat wajah Sang Ayah.


'Why it's bad, son?'


'Cause... Itu pahit.'


Tawa Sang Ayah yang menggema saat itu seolah terulang kembali dengan nyata terdengar di telinga Regan. Slide kenangan itu masih berlanjut. Regan kecil yang melihat Sang Ayah begitu menikmati minuman berkafein itu menjadi penasaran. Dia memang belum pernah mencicipi rasa kopi itu sendiri, hanya dengan omongan Sang Mama yang berkata bahwa kopi itu pahit. Lantas dengan rasa penasaran itu Regan kecil meraih gelas Sang Papa dengan kedua tangan mungilnya. Dibantu dengan tangan besar Ayahnya, dia akhirnya bisa merasakan rasa dari minuman hitam pekat itu.


'Eug, pahit....'


Regan mendengus geli sewaktu mengingat ekspresinya saat itu. Dia juga masih ingat betapa pahitnya minuman favorit Ayahnya tersebut. Sejak saat itu ia tidak lagi berani mencicipi kopi, Regan benci rasanya, pahit. Dan sama sekali ia tidak menyangka bahwa setelah kepergian Sang Ayah, minuman yang ia benci itu menjadi cara ampuh untuk ia melepas rindu.


Berbeda dengan ibunya, Regan sangat menyayangi Sang Ayah yang begitu dekat dengannya. Hingga saat pria itu menghembuskan nafas terakhirnya tanpa peringatan apapun, Regan merasa dunianya hancur. Kehilangan sosok yang begitu ia puja itu membuat Regan kehilangan tempat bergantung. Ia linglung, seolah dirinya dicampakkan di padang yang luas tanpa batas. Regan berencana hanya akan diam di tempatnya, tak ingin beranjak mencari jalan keluar apapun. Namun, orang itu menyelamatkannya.


Seminggu setelah pemakaman Ayahnya, salah seorang sahabat Ayahnya datang menemui dia. Regan kenal sekali dengan orang itu, dia adalah sahabat sekaligus Ilmuan yang bekerja sama dengan Ayahnya dalam sebuah proyek yang akan membuat gebrakan baru dalam perkembangan teknologi. Dan pada akhirnya proyek itu jugalah yang merenggut nyawa Ayahnya, Argus De Fornax, yang dikabarkan meninggal karena sebuah kecelakan. Pada kenyataannya pria yang menjabat sebagai Menteri Militer itu tewas dalam insiden besar yang dikubur dari dunia luar.


Lab tempat Argus dan Sahabatnya mengembangkan proyek mereka diserang oleh kelompok ******* yang berencana mengambil alih teknologi baru yang mereka ciptakan. Saat insiden itu terjadi Regan sedang demam, jadi ia yang biasanya selalu dibawa kemana-mana oleh Sang Ayah dalam berbagai urusan untuk saat itu ditinggal di rumah. Dan siapa sangka hal itu justru menyelamatkan nyawanya? Jika saja Regan ikut dengan Ayahnya ke lab saat itu.... Kecil kemungkinan dia untuk keluar hidup-hidup.


Dalam insiden besar itu, Regan kehilangan dua orang yang sangat berharga dalam hidupnya. Ayah yang begitu ia puja, dan... seorang sahabat yang menjadi alasan ia bertahan hingga saat ini.


Pandu. Namanya Pandu, anak dari sahabat Ayahnya. Bocah itu harusnya memakai seragam yang sama dengan Regan saat ini bila saja ia tidak ikut tewas dalam insiden lab itu. Harusnya, Pandu dengan segunung mimpinya duduk di depan piano menekan tuts hitam putih yang mengalunkan melodi yang indah. Harusnya, ya harusnya memang begitu. Tapi Pandu malah telah terbaring di bawah tanah sejak 11 tahun silam.


Pada seminggu sesudah berita duka yang mengguncangnya, Regan seakan mendapat dorongan kuat untuk bangkit dari keterpurukan. Sahabat Ayahnya, yang tak lain adalah Ayah dari Pandu datang padanya dengan sebuah buku usang. Tau apa isi buku itu? Lagu-lagu milik Pandu yang belum sempat di perdengarkan. Lagu-lagu yang Pandu buat sepenuh hati dalam perjuangannya untuk bertahan hidup dengan tubuh yang lemah.


Pandu yang masihlah anak-anak, yang harusnya hanya memikirkan main dan main saja. Bocah lekaki itu menjadi lebih cepat dewasa karena penyakit yang dideritanya. Ketergantungan obat-obatan dan terkurung dalam ruang penuh alat penunjang kehidupan membuat Pandu lebih cepat mengerti akan arti kehidupan.


Jangan menganggap bahwa Regan akan menyerah terhadap piano. Tidak, dia tidak akan semudah itu melepas hidupnya. Hanya saja, Regan juga manusia. Bolehkan ia merasa lelah di fase ini?


"Regan...."


Suara pintu terbuka berikut kepala yang menyembul di baliknya untuk mengintip keadaan dalam ruangan. Sosok dengan rambut sepunggung bewarna kecoklatan itu mengedarkan pandangannya sampai ia menemui sosok Regan yang duduk di sofa pojok ruangan. Seketika kedua sudut bibirnya tertarik membentuk senyum lebar dengan mata yang turut tersenyum. Ia melangkah masuk lalu mengangkat botol silinder kecil berisi beberapa tablet obat bewarna putih.


"Dokter Wen titip ke aku, katanya gak sempat nemuin kamu karena ada operasi mendadak."


Regan tak bereaksi untuk beberapa saat. Hingga kemudian ia meletakkan gelas yang semula ia genggam dan memasang masker yang semula ia simpan dalam saku hoodie. Setelah mengambil tangan gadis itu untuk ia genggam, baru kemudian senyumnya mengembang di balik masker.


"Alena...."


Alena menurut saja saat Regan menggiringnya keluar sembari bergandengan tangan. Ia memasukkan obat dari dokter Wen ke dalam saku hoodie Regan tanpa merasa keberatan dengan Regan yang menyusupkan jemarinya disela jemari milik Alena.


"... I'm glad that you are here."


Alena memamerkan deretan gigi rapihnya yang putih bersih. Awalnya ia ingin membalas ucapan Regan, tapi lebih dulu teringat hal yang lebih penting. "Kamu... yakin gak mau coba kemoterapi? Kalau takut sendirian, aku bisa nemenin," ujarnya dengan nada hati-hati.


Regan terdiam sesaat. Mengganti fokusnya untuk melihat ke depan. Beberapa perawat dan pasien tampak mulai beraktivitas sementara di luar sana cahaya fajar sudah semakin terang.


Regan mengeratkan lagi genggamannya di tangan Alena. Masih banyak yang harus ia lakukan, banyak yang ia inginkan, maka dari itu dia tak akan berhenti sampai disini. Regan tidak akan merasa cukup dengan hidup penuh kekangan yang menyiksa ini. Jadi, dengan pasti ia mengangguk, "Aku akan coba."


Bersamaan dengan itu mereka keluar dari pelataran rumah sakit. Regan merasa langkahnya begitu ringan saat mereka menuju ke area parkir.

__ADS_1


"Langsung ke sekolah?" tanya Alena.


Regan melirik gadis dari atas ke bawah, "Kamu udah seragam lengakap begini, jadi langsung aja. Aku ada seragam cadangan di loker."


Alena mengangguk dan masuk ke dalam mobil saat Regan membukakan pintu untuknya. Saat Regan menutup pintu ketika ia telah duduk di kursi penumpang depan, dengan sigap Alena menahan pintu dengan kakinya.


"Sebentar."


Regan menatap bingung, "Kenapa?"


Alih-alih menjawab Alena justru menunjuk ke arah langit biru cerah tak berawan. Regan mengikuti arah telunjuk Alena dan penampakan bulan sabit yang samar seketika tertangkap oleh netranya.


"Bahkan udah pagi, bulannya masih ada. Indah, ya...."


Ya, memang indah. Regan mengakuinya. Meski tak berkilau seperti saat malam hari, bulan itu tampak lebih indah dilihat saat ini. Karena dia tidak bersembunyi di kegelapan untuk menunjukkan terangnya, melainkan muncul menyaingi matahari dengan berani walau tau pada akhirnya ia akan tiada.


Ah, itu jadi mengingatkan Regan pada Pandu dan Panji di saat bersamaan. Mereka berdua memiliki kesamaan yang membuat Regan merasa begitu familiar. Panji dengan segala sikap tenang dan diamnya, persis seperti Pandu. Regan juga sudah lama memikirkan ini tapi ia tak dapat menebak kemungkinan apapun.


Dan juga.... kalung milik Panji yang menjadi penyebab utama ia menyapa lelaki itu untuk pertama kali.... Kalung dengan bandul bulan sabit hitam.... Kalung yang bisa Regan pastikan hanya ada satu di dunia.... Yang memiliki ukiran emas disepanjang sisi pinggirnya....


Dan juga merupakan kalung yang sama yang pernah Regan lihat menggantung di leher Pandu sebelas tahun silam.


<<<<<<<<<<<<<<


Tengah malam Panji dipaksa bangun dari tidurnya akibat sepotong mimpi buruk yang datang tiba-tiba. Ah, ini terlalu nyata untuk disebut sebagai mimpi. Bahkan rasa sakit dan ketakutan dalam mimpi itu ikut terbawa saat ia telah mendapatkan kesadarannya.


Sembari menghela nafas lelah, Panji meletakkan salah satu lengannya di dahi. Untuk beberapa saat kemudian, lengan itu ia geser turun menutup matanya yang berair. Malam ini, di malam kesekian dirinya mendapat mimpi buruk yang sama, Panji menangis tanpa suara, lagi.


Rasanya Panji tidak sanggup dengan sesak yang menghimpit dadanya tanpa belas kasihan. Potongan demi potongan mimpi itu terasa bagai memori yang kembali terbangkitkan. Setiap peristiwanya tampak semakin jelas. Panji semakin sulit lupa akan mimpi buruk yang terus-terusan menerpanya. Ia sudah melakukan banyak cara untuk terhindar dari ketakutan semu itu. Dan salah satunya....


Panji mengusap kasar matanya lalu beranjak bangkit. Ia menghidupkan lampu nakas, dari cahaya temaram dapat terlihat jejeran kanvas yang penuh lukisan. Cara Panji untuk terhindar dari mimpi buruknya, salah satunya adalah dengan melukis.


Lampu di ruangan itu dihidupkan dan seketika Panji sudah duduk di depan salah satu kanvas kosong yang putih bersih. Ia menatap lukisan lainnya yang sudah selesai ia kerjakan pada malam-malam sebelumnya.


Suram. Semuanya dipenuhi goresan warna yang kelam. Dan kali ini, untuk kesekian kali, Panji kembali menorehkan warna kelam yang sama di atas kanvasnya.


Dan itu juga adalah kali kesekian bagi Siena mendapati lampu kamar Panji menyala di tengah malam. Entah sudah berapa lama, dia bahkan lupa menghitung, Panji terus-terusan terjaga dengan tangis pilunya.


Siena bersyukur dengan pilihannya untuk menginap di rumah dan tidak kembali ke apartemennya. Jika tidak, mungkinkah adiknya itu terus menyiksa diri dengan menelan lukanya seorang diri.


Tidak. Siena tak akan biarkan Panji menderita terus-menerus seperti ini. Dan ia sepenuhnya sadar, bahwa tidak selamanya Panji akan bisa melarikan diri dari kenangan kelam itu. Cepat atau lambat, Panji pasti akan mendapatkan kembali ingatannya dan jatuh pada ketakutan yang sama.


Siena terjebak dalam kecemasannya. Sampai saat pagi tiba. Ketika ia bicara pada Ayah dan Bunda tentang semuanya. Sepenuhnya Siena lupa...


... bahwa Panji masih belum membuka pintu untik siapapun masuk dalam ruang kelamnya.


Dan Siena baru saja mendobrak masuk, yang mana ia pikir itu untuk menyelamatkan adiknya. Tapi justru hal itu malah semakin menyakiti Panji dengan kepingan pintu yang dihancurkan Siena.


Siena benar-benar lupa...


... bahwa Panji paling benci siapapun yang memaksa masuk dalam teritorialnya.

__ADS_1



__ADS_2