Kanvas Aksara

Kanvas Aksara
MEREKA YANG DITINGGALKAN


__ADS_3

KANVAS 19


[MEREKA YANG DITINGGALKAN]


/•


\•/


Mendung menyelimuti kota, gerimis juga turun menyertainya. Pagi ini begitu menyedihkan. Bumi lagi-lagi ditinggal pergi salah satu penghuninya.


Akibat kecelakan beruntun yang terjadi di kawasan pusat kota tadi malam, banyak korban berjatuhan. Dan Siena menjadi satu diantara tiga korban yang meninggal dunia. Pedihnya lagi, gadis itu pergi tanpa kata, ia beranjak tanpa pamit. Tidak ada selamat tinggal terucap, ia meregang nyawa sebelum sempat mendapat pertolongan.


Dan pada pagi dimana matahari harusnya telah tinggi, pusat tatasurya itu sama sekali tak nampak hingga kini. Seolah ia bersembunyi, ikut merana dengan nasib tragis yang menimpa anak manusia itu. Langit mengirimkan rinainya mengiringi raga Siena yang terbenam ke dalam bumi. Payung-payung hitam terkembang, kalimat-kalimat tabah dilontarkan, isak tangis saling bersahutan.


Namun, diantara semua itu yang paling menyayat hati adalah tangis pilu seorang adik yang tidak rela ditinggal pergi kakaknya. Panji meraung dalam pelukan Bunda, memaksa lepas dan ingin mencegah orang-orang membawa raga kakaknya. Bunda sendiri kewalahan dengan raungan putranya. Ia hanya mampu menahan pedih menyaksikan anak gadis semata wayangnya diangkat menuju peristirahatan terakhir. Bagi Bunda, meski sudah belasan tahun berlalu tapi kematian Pandu terasa masih sangat baru. Dan kini tanpa ia diberi kesempatan untuk bernafas barang sejenak, dia kembali dihadapkan dengan kehilangan serupa. Dua dari buah cintanya pergi begitu dini. Tanpa peringatan, tanpa pemberitahuan. Kepergian tanpa salam perpisahan yang sama-sama menyakitkan.


"Bunda... bawa Yaya pulang! Yaya harus pulang, gak boleh disini. Kakakku gak mungkin ninggalin aku Bundaaa....!"


Entah sudah berapa banyak air mata yang terurai darinya. Namun Panji masih juga menangis. Seakan sedih itu tidak akan pernah ia sudahi, seakan tabah hanyalah sebuah omong kosong yang tak mungkin ia lakukan. Tak ada yang menyenangkan dari sebuah kehilangan. Mustahil untuk melepas suatu kepergian dengan senyuman. Mustahil merelakan suatu perpisahan yang tak direncanakan.


Panji menyesal.... Ia menyesal pernah berkata dengan begitu kejam pada Siena. Bicara seolah Siena tak tau apa-apa, seolah Siena adalah sosok egois yang terus memunggungi sakit yang Panji derita. Pada kenyataannya, Siena-lah satu-satunya yang paling tau dia. Paling tau apa yang Panji rasakan, apa yang Panji butuhkan. Dan kini setelah Siena pergi, dimana lagi Panji mencari sosok yang akan memahami rasa sakitnya sepenuh hati?


Luka akibat ditinggalkan Pandu belum sempat terobati. Lantas dengan kejam takdir membecut luka yang lebam membiru di hati Panji dengan sebuah kehilangan lagi. Menangis? Panji sudah terlalu banyak menangis. Merintih? Panji sudah terlalu sering merintih. Mengadu? Apa gunanya ia lakukan? Bahkan ia meraung sampai putus pita suaranya pun, Siena tak mendengarkan. Siena hanya diam, terbujur kaku dengan mata terpejam. Lantas belum sampai Panji mencerna semuanya, raga Siena telah hilang dari pandang matanya. Hanya tinggal gundukan tanah merah yang basah tertimpa gerimis, dengan taburan mawar dan sebuah nisan berukirkan nama Siena.


Panji tak bisa menerimanya! Tidak akan pernah bisa! Tapi bagaimana pun ia meraung memohon agar Siena kembali padanya, seorang pun tak mendengarkan. Mereka hanya menyuruh Panji untuk tabah, mereka meminta Panji berbesar hati menerima semua yang terjadi. Dengan mengatasnamakan takdir, mereka berkata bahwa inilah kehendak semesta. Cuih! Memang semudah itu berbicara. Pada kenyataan yang Panji rasakan, tindakan tak semudah lisan. Membuat hatinya merelakan tak semudah memaksa mulutnya mengiyakan.


"Sudah, Nak.... Jangan begini...." tangan Bunda gemetar kala ia memeluk dan mengusap punggung Panji. Getaran yang sama juga terdengar pada suaranya yang parau. Bunda menangis. Jelas. Ia seorang Ibu yang ditinggal pergi darah dagingnya. Anak yang ia perjuangkan dengan mempertaruhkan nyawa, kini hilang darinya begitu saja.


Ayah juga disana, memeluk Panji yang masih tak terima atas kehilangan kakaknya. Walau seperti apapun Ayah mencoba tegar, tangis itu tetap tak dapat ia tahan. Tangannya sendiri yang menganggkat Sang Putri waktu terlahir ke bumi, dan kini tangannya juga yang mengantar anak itu menuju pada kedamaian abadi. Ia seorang orangtua yang ditinggal anaknya, mustahil untuk Ayah mencoba agar terus terlihat baik-baik saja.


Satu persatu pelayat mulai beranjak pergi. Pemakaman yang ramai karena banyaknya orang yang datang perlahan kembali lengang.


Di tengah semua itu, tangis Panji masih terdengar. Dan Panca berdiri kaku seperti mayat hidup demi menatap orangtua dan adiknya jatuh berlutut di tanah yang basah meraungkan luka yang sama.


"Jangan kelayapan kemana-mana lo, langsung pulang!"


"Iya, iya, pulang kok ini, pulang!"


Sekilas percakapannya semalam dengan Siena di telepon terngiang lagi. Panca tak menyangka bahwa itu akan menjadi kali terakhir ia mendengar suara adiknya. Andai Panca tau, maka ia tak akan bicara seketus itu. Andai Panca mengetahuinya, maka akan ia katakan lebih banyak hal lagi.


"Katanya lo bakal pulang, Na.... Kenapa justru berakhir di sini?"


Kalimat Panca begitu lirih, juga bergetar karena menahan tangis. Ia mencoba untuk tidak terlihat lemah. Mencoba untuk menjadi kuat dan membiarkan keluarganya bersedih di bawah naungannya. Tapi Panca gagal.... Panca gagal menahan tangisnya. Tangis yang ia tahan sejak awal kabar itu datang ke rumah mereka, yang masih terus ia tahan saat berlari seperti orang gila menelusuri lorong rumah sakit mencari-cari keberadaan Siena, hingga pagi ini ia masih terus menahannya. Dan ternyata Panca tak sekuat itu untuk menahan lebih lama.


Mungkin sosok Panca masih tampak berdiri tegak dengan begitu kokoh. Namun tangisnya membuat ia tak setegar kelihatannya. Mengubur raga Sang Adik dengan tangannya sendiri adalah hal paling mengerikan yang pernah Panca lakukan. Dan diantara kengerian yang ia rasakan, pedih akan kehilangan itu menusuk hatinya lebih dalam. Panca terisak dan tergugu, menggumamkan maaf yang tak sempat ia sampaikan, meraungkan sesal yang seakan membunuhnya perlahan. Dalam tangis itu pun Panca mulai berandai-andai, andai ia tak membiarkan Siena pergi waktu itu, andai ia bisa lebih cepat tenang dari emosi yang membekapnya, andai ia teruskan untuk menjemput Siena kemarin malam, andai... andai ada satu keajaiban saja di dunia ini, maka Panca rela menukar nyawanya agar Siena tak dibawa pergi.


Tapi, memangnya apa yang bisa dilakukan terhadap sebuah kehilangan selain tangisan dan penyesalan? Kesedihan berkelanjutan, luka berkepanjangan, kehilangan memang tentang semua hal yang menyakitkan.


<<<<<<<<<<<<<<<


Prosesi pemakaman Siena dihadiri oleh banyak orang. Baik itu kerabat, ataupun orang-orang yang sekedar mengenal gadis itu. Murid ZHS juga banyak berdatangan, entah itu dari tingkat IV ataupun tingkat di bawahnya. Para staf, tenaga pengajar bahkan orang-orang penting di ZHS sampai Kepala Sekolah pun berkumpul di bawah gerimis yang mengembun mengantar Siena menuju jalan keabadian.


Satu rahasia yang baru kita ketahui di hari penuh duka cita ini, bahwa ZHS berada di bawah naungan nama besar Batara. Kepala sekolah yang menjabat saat ini adalah salah seorang kerabat jauh dari Ayah Panji. Dan dari pria itu juga Panji tau bahwa Kelas Zero, kelasnya, dibentuk atas permintaan Siena.


"Katanya, dia ingin teman-teman terbaik untuk adiknya," begitu tutur Kepala Sekolah yang berdiri memandang penuh kenang pada gundukan tanah yang di dalamnya terbaring raga Siena. Setelah menepuk pundak Panji dua kali, ia kemudian berbalik. Melangkah meninggalkan raungan Panji yang terdengar memilukan.

__ADS_1


Siena memanglah murid baru di ZHS. Tapi, hal itu tak membuat orang-orang tak menghargai keberadaannya. Gadis itu punya arti tersendiri dalam diri setiap orang. Dia yang selalu punya cara untuk membuat dirinya tampak begitu bersinar bahkan dalam kelam yang mengerikan. Dia mungkin memang tidak dikenal sebagai Si Dewi Cantik Baik Hati, tapi setidaknya semua orang mengenalnya sebagai Siena. Dia Siena, murid baru di tingkat IV kelas unggulan Sains.


Dan Alena termasuk salah satu diantara sekian banyak orang yang mengenal Siena tanpa sengaja. Alena hanya mengantarnya mengelilingi sekolah saat pertama kali tiba. Mereka hanya berpapasan berapa kali. Hanya berbicara beberapa patah kata. Tapi anehnya, Alena menangis untuknya. Alena menangis ketika berita itu sampai padanya. Alena menangis ketika netranya melihat langsung tubuh kaku Siena yang tak bernyawa. Alena menangis ketika sosok gadis itu tak lagi terlihat di pandangannya berganti nisan sederhana yang berisi deretan nama Siena.


Mereka hanyalah orang asing yang saling tidak tau satu sama lain. Hanya orang yang kebetulan hadir dalam hidup masing-masingnya. Hanya dua manusia yang menjalani hidup tersendiri. Tapi kenapa? Kenapa Alena harus bersedih untuknya? Kenapa Alena harus menguras air mata untuknya? Kenapa?


Alena masih berdiri tak jauh dari tempat Siena dimakamkan. Ia tak berani mendekat. Mereka hanya orang asing. Alena tak ingin perasaan yang merepotkan ini terus menerornya. Alena tidak ingin merasakan sakitnya, tidak ingin terluka untuk hal-hal yang sama sekali tidak penting dalam hidupnya. Namun....


Ketika akhirnya Alena berhasil berhenti dari tangis itu, ia masih tak juga merasa lega. Dadanya masih sesak, sakit disana masih begitu jelas terasa. Dan luka baru seakan datang menindih luka lama, kala dengan begitu jelas Alena melihat sosok Panji yang menyedihkan di sana. Di hadapan nisan Siena... Panji dan sosok yang ia kenal sebagai Achroma....


Ya Tuhan! Alena seketika jatuh terduduk di atas rumput hijau yang menyelimuti tanah. Bibirnya bergetar, tangannya meraba mencari pegangan pada pohon besar di dekatnya. Apa-apaan ini? Rasa bersalah begitu saja merayap jauh menelannya dalam sekejab mata.


"Maaf...."


Alena bahkan kesulitan untuk mengatur nafasnya. Ia masih mencerna semuanya. Menghubungkan berbagai kejadian sampai akhirnya sesal itu ia dapatkan.


"Maaf.... Maaf! Maaf! Maaf!"


Dia tampak begitu terpukul dengan apa yang baru saja di ketahuinya. Isakannya bergumul dengan kata maaf yang terucap. Maaf yang ia gumamkan dalam rasa bersalah yang kian menghimpit dadanya. Maaf teruntuk sesal yang begitu mencekiknya. Maaf yang terlontar kepada seseorang yang telah tiada...


"Siapa?"


Siena tersenyum cerah, "Bukan siapa-siapa."


"Tapi, kenapa harus Panji?"


"Karena dia membutuhkannya."


Dan sekarang baru Alena menyadarinya. Bahwa Panji memang membutuhkan Siena. Sangat butuh.... layaknya manusia yang butuh tetap bernafas untuk mempertahankan hidupnya. Panji membutuhkan sosok Siena untuk memperbaiki kerusakan dirinya.


Betapa bodohnya... betapa bodohnya Alena yang tidak mengetahui fakta bahwa Siena menyayangi Panji setengah mati, lebih dari apapun di dunia ini. Siena... Siena yang merupakan seorang kakak yang berusaha melakukan apapun untuk secercah senyum di bibir adiknya. Dan Alena merasa begitu bodoh tidak menyadari bahwa manusia yang begitu beruntung menjadi adik Siena itu adalah Panji.


... maaf karena telah menghancurkan dia yang begitu kamu sayangi.


<<<<<<<<<<


Tak dapat dipercaya. Setelah belasan tahun berlalu, kini Regan kembali diperlihatkan pada kehancuran keluarga itu. Kehilangan tak terduga yang lagi-lagi menimpa keluarga Batara dengan begitu kejamnya. Yang lebih tak dapat ia percayai lagi, berita yang baru sampai ke telinganya pagi ini.


Pandu.


Regan akhirnya mengetahui fakta itu. Tentang bagaimana Panji terasa begitu akrab baginya. Jelas saja itu terjadi! Laki-laki itu adalah saudara kembar Pandu, sosok yang selalu Pandu ceritakan dengan binar penuh kebahagiaan. Sosok yang menjadi inspirasi dalam lembar demi lembar lagu yang Pandu tuliskan. Piano adalah hidup Pandu, dan Pandu hidup untuk Panji! Sosok yang menjadi sumber inspirasi setiap nada yang Pandu rangkai begitu indahnya. Dengan harapan demi harapan yang ia selipkan di setiap lagunya.


"Aku ingin melihat dia tumbuh dewasa dan melukis banyak hal. Walau tak bisa dewasa bersamanya, tapi aku ingin... melihatnya saja sudah cukup."


Regan bahkan tak menunda-nunda untuk membiarkan air mata mengalir di pipinya. Rasa haru itu menggerogoti dadanya. Kenyataan dimana Panji tumbuh dewasa seperti yang Pandu harapkan membuat beban yang menghimpit dadanya selama ini terangkat dalam sekejab. Regan merasa sesak, menyadari sosok yang menjadi alasan ia hidup selama ini ternyata ada begitu dekat dengannya.


Pandu adalah teman pertama yang begitu tulus bagi Regan. Pandu adalah sahabatnya. Sosok yang begitu berharga, yang mengajarkan notasi-notasi indah padanya. Pandu yang membuat Regan mengenal piano, Pandu membuat Regan menemukan tujuan hidupnya. Dan ketika Pandu pergi tanpa penyelesaian yang pantas, Regan berjanji untuk memastikan semuanya selesai untuk Sang Sahabat. Belasan tahun ia membawa-bawa harapan yang selalu Pandu lontarkan, seakan dia mengharuskan Regan memenuhi itu untuknya. Harapan yang Pandu simpan, teruntuk adiknya, Panji.


Tak peduli kalau Regan dianggap manusia biadab yang merasa lega ditengah bencana ini. Ia tak ingin memungkiri perasaannya. Bahwa ia merasa lega, ia merasa lega untuk Pandu. Berharap bahwa Pandu bisa melihat ini. Adik yang Pandu cintai, tumbuh dewasa seperti yang diharapkannya.


'Kamu lihat, kan?'


Gerimis mulai turun. Regan mendongak menatap langit saat dirasanya tetes air yang mengembun menyentuh wajahnya. Angin yang membawa rinai hujan beterbangan di udara membelai wajah Regan. Hal ini seolah Regan merasakan Pandu menjawab tanyanya. Bahwa Pandu mengatakan ia melihatnya.


Pada momen itu Regan memejamkan mata, meski tak mencegah air matanya untuk terus mengalir turun. Disana Regan berdoa sepenuh hati. Untuk Pandu. Untuk Panji. Dan untuk Siena yang telah membuka jalan untuknya. Sial! Regan merasa bodoh ketika baru sekarang disadarinya hal itu. Pantas saja Siena tau.... Pantas dia tau segalanya....

__ADS_1


"Dengan dua kakak monster seperti itu, bisa-bisanya adiknya terjebak dalam persembunyian di gedung tua yang terlupakan, ck, ck."


"Exander memang beda...."


Siena. Regan pikir gadis itu hanya tokoh sampingan yang hanya lewat dalam hidupnya. Tapi rupanya, hanya dengan beberapa kata ia membuat Regan menemukan jalan yang terang di tengah kabut yang menghalanginya. Ucapan Siena mendorongnya untuk akhirnya mencintai dirinya sendiri. Regan baru menyadarinya akhir-akhir ini.


"Exander memang beda...." Siena mengulangi kata yang ia ucapkan beberapa saat lalu. Ia pikir Regan akan tetap diam terpaku berdiri di anak tangga terakhir seperti itu. Namun, siapa sangka lelaki yang tengah memandang kosong koridor panjang di depannya itu mengukir senyum di sudut bibir. Dan kata yang Regan lontarkan membuat Siena tergelak dan semakin percaya...


"Iya, memang beda."


... ternyata benar-benar berbeda.


Regan memandang pada gadis itu, "Tak ada salahnya kan menjadi berbeda?"


Tanpa diduga Siena maju mendekatinya dan mendaratkan tangannya dipuncak kepala Regan. Lalu dia menepuk-nepuk kepala Regan seolah Regan baru saja melakukan hal yang membanggakan.


"Jangan melakukannya karena orang lain menjadi alasan untuk kamu. Lakukan itu hanya karena kamu benar-benar menginginkannya."


Hari itu jelas, Siena memberitahu Regan untuk tidak terpaku pada Pandu. Agar Regan berhenti hidup untuk Pandu. Agar Regan lebih mencintai dirinya sendiri daripada apapun di dunia ini. Karena pada kenyataannya, Regan selama ini memang menjadikan Pandu alasan untuk menentang ibunya, bermain piano. Namun, belakangan ia sadari tingkah pengecutnya itu sangat memalukan. Dan kini, Regan belajar dari itu, bahwa ia akan hidup untuk dirinya sendiri, untuk melakukan apa yang hatinya inginkan. Bukan orang lain, tapi dirinya sendiri.


"Setiap kehilangan memang seperti itu, penuh tangisan."


Regan menoleh pada kehadiran Aeera di sampingnya, ia juga melihat ibunya disamping Aeera menatap kosong pada keluarga yang tengah berduka. Regan memang datang bersama mereka dan juga Aaron yang sudah pergi beberapa saat lalu.


Aeera memegang sebuah payung di tangannya, namun bukan untuk dirinya. Ia sepenuhnya mencondongkan payung hitam itu untuk menaungi Regan. Lantas kemudian ia mendongak menatap Regan yang jauh lebih tinggi dari dirinya.


"Terakhir kali aku melihat kamu menangis adalah saat Papa pergi dari kita. Dan kalau hari ini kamu menangis karena rasa sakit serupa, tak apa. Kita sudah sejauh ini, tertatih sedikit itu tidak masalah."


Baru kini Regan sadari. Senyum yang Aeera tunjukan selama ini... itu bukan palsu! Hanya dengan begitu saja nafasnya dibuat sesak, dalam sekejab tangis yang ia tahan-tahan berubah jadi sedu-sedan yang menyakitkan. Ia menangis seperti anak kecil yang mengadu pada ibunya. Ia terisak kuat membiarkan air matanya jatuh berbanjiran. Dan untuk pertama kalinya Regan bisa mengatakan pada seseorang apa yang ia rasakan.


"Aku sakit...."


Dan yang terjadi selanjutnya ia menangis terisak-isak di pelukan Aeera. Dalam kehangatan yang baru pertama kali ia rasakan, Regan tanpa ragu menumpahkan segala resahnya tanpa peduli apapun. Meski ketika melihat ibunya yang menatap lurus ke depan tanpa menghiraukan tangisannya, ia bertanya-tanya dalam hatinya. Apakah wanita itu pernah peduli tentang apa yang Regan rasakan? Apakah tidak ada sedikitpun penyesalan yang ia punya untuk Regan?


'Aku sakit, Ma....'


<<<<<<<<<<<<<<<<


"Mau ngedrama dulu, lah. Jadi kakak cantik baik hati meluk-meluk adek yang nangis kejer."


Itu adalah kalimat terakhir yang Jordan dengar dari Siena. Gadis itu berpamitan padanya untuk pulang. Tapi, belum juga Jordan memejamkan mata menyiapkan diri untuk hari esok, kabar itu datang padanya.


"Dia nangis, Na. Adek kesayangan lo itu nangis dari tadi tapi kenapa-hahh..." Jordan menghela nafas sejenak mengusir jauh-jauh sesak yang berusaha menyudutkannya, "... tapi kenapa lo gak meluk dia?!" sentaknya dengan suara tertahan. Ia menggigit bibir, memalingkan wajah ketika tubuh Siena diantar ke persinggahan terakhirnya.


Jordan berdiri di barisan murid-murid kelasnya. Ia di bagian paling depan, bersama Moreo yang tak mampu berkata-kata mendengarnya meracau seorang diri.


Jordan mengatupkan rahangnya kuat-kuat. Ia memejamkan mata, dan saat itulah setetes air mata akhirnya jatuh dari sela-sela kelopak matanya. Ia mengambil nafas berkali-kali dan menghembuskannya dengan perlahan. Berusaha untuk tetap tenang. Berusaha untuk tetap baik-baik saja.


"Gak tau lagi, deh. Gue curhat mampus aja sama lo, umur kan gak ada yang tau, ye kan?"


"Udah kayak wasiat aja, Na,"


Jordan tidak menyangka bahwa obrolan mereka kemarin malam adalah sebentuk salam perpisahan. Siena bilang untuk menyelesaikan semuanya, semua tentang mereka. Siena memintanya untuk menyerah, dia meminta Jordan untuk mundur secepatnya.


'Tapi, Na, meski lo udah pergi di depan mata gue sekalipun, gue masih belum bisa untuk menyerah. Sama sekali gak ada pikiran untuk mundur. Gila!'

__ADS_1


Jordan mendengus kala mendapati nama Siena terukir pada nisan di depannya. Sudutnya bibirnya terangkat. Ia tersenyum begitu cerah. Sampai-sampai tak seorang pun tau hatinya menggila, menangis dengan rasa sakit yang menyiksa.



__ADS_2