
KANVAS 08
[NAMANYA BUNGA...]
/•
\•/
"Uwaahh!"
Panji menyibak kasar selimut di tubuhnya. Ia langsung bangkit tanpa ancang-ancang sedikitpun. Beberapa detik lalu ia terbangun dari tidurnya karena hawa panas yang membuatnya terusik. Dan sekarang....
Lelaki itu hanya bisa memelototi jam weker yang tak bersalah. Waktu sekarang menunjukkan pukul setengah sepuluh pagi. Pantas saja panas matahari terasa menyengat. Apalagi rumah tidak dilengkapi AC, Ayah dan Bunda lebih suka AC alami dari pepohonan di sekitar rumah untuk menjadi penyejuk rumah mereka.
Panji merasa lengket dan tidak nyaman karena keringat yang membanjiri tubuhnya. Ia berniat berdiam di bawah shower, namun baru juga menurunkan kaki ia sudah dibuat makin suram. Di lantai buku sketsa dan kanvas serta alat-alat lukis lainnya berserakan. Ruangan kamar Panji sangat berantakan. Belakangan ini ia sering begadang karena ide melukis yang berbanjiran yang berujung ia tertidur saat fajar menyingsing dan membuatnya harus bolos sekolah. Ini sudah hari ketiga ia tidak masuk, entah sudah berapa angka minus masuk ke keranjang poinnya.
Bukan itu. Sekarang yang harus Panji pikirkan adalah bagaimana ia harus mengurus lukisan-lukisan ini. Kalau Ayah dan Bunda pulang dan kamar Panji masih amburadul begini, bisa dipastikan Ayah akan menyemprotnya habis-habisan. Ayah memang maniak kebersihan dan kerapian, sedang Bunda adalah orang yang paling cuek tentang hal itu. Kata Bunda selagi kita nyaman biarkan saja. Entah bagaimana Ayah dan Bunda bisa bersatu dulunya.
Oke. Berhenti memikirkan hal tak berguna. Panji mulai mengemas barang-barang yang berserakan dan menyusun dengan rapi. Sesekali ia terhenti untuk mengamati lukisan yang ia buat. Objeknya bermacam-macam, ada pemandangan alam, seperti sungai, langit berawan, lalu hewan-hewan seperti kumbang, jangkrik yang masuk ke kamarnya tempo lalu, ulat yang ia temukan di apel yang akan ia makan, sampai nyamuk yang pernah menghisap darahnya pun Panji abadikan dalam lukisan. Entah itu bisa disebut sebagai ide yang berbanjiran ataukah sebuah bentuk kebosanan yang tak tertahankan.
Dalam beberapa menit Panji selesai merapikan barang-barangnya menjadi beberapa tumpukan. Dan sekarang, harus ia apakan? Benda-benda itu mengambil cukup banyak ruang, ia tak suka kamarnya terlalu penuh.
"Jelek," komentar Panji pada hasil kerjanya sendiri. Keningnya berkerut lalu matanya mengerjab beberapa kali, ia sedang berpikir. Sampai ia teringat pada gudang di samping rumah. Gudang itu menyatu dengan bangunan rumah tapi pintu masuk satu-satunya berada di luar, di dalam rumah tidak ada pintu yang menghubungkan menuju gudang.
Seingat Panji gudang itu sudah lama tidak dimasuki. Terakhir kali Bunda menyuruhnya menyimpan botol-botol bekas minyak urut disana. Itupun kalau tidak salah sudah setengah tahun lalu.
Gudang itu tidak dikunci, cukup menarik kayu penyangga gagangnya dan pintu sudah bisa dibuka. Ruang di dalam gudang tidak terlalu gelap kerena dindingnya terbuat dari kayu-kayu yang sengaja disusun agak renggang. Keadaan di dalam cukup rapi dan memiliki banyak ruang kosong. Hanya saja karena sudah lama tak dimasuki jadi debu menumpuk dan sarang laba-laba berseliweran di sana sini.
Panji mulai dengan mengosongkan rak di sudut ruangan. Ia berencana menyimpan buku sketsa disana. Untuk lukisan mungkin ia bisa menggulung kanvasnya dengan karton dan menyimpan dalam lemari di samping rak. Panji menurunkan kaleng cat yang memenuhi rak beserta beberapa alat lain seperti gergaji, palu, lalu ada juga sekotak paku yang telah berkarat. Barang-barang itu biasanya di pakai Ayah untuk membuatkan tempat bagi tanaman hias Bunda, atau membuat pagar baru bagi sepetak kebun anggur kesayangan mereka. Tapi sekarang sudah tak terpakai karena Ayah dan Bunda semakin disibukkan oleh pekerjaan lain. Mereka jarang ada waktu luang untuk bersantai di rumah.
"Hatchi!"
Panji benci debu. Walau Bunda bilang Panji itu anak yang jorok karena seringkali membiarkan kamarnya acak-acakan, tapi Panji sangat benci debu. Hidungnya sangat sensitif, hingga menghirup debu sedikit maka ia akan terus bersin-bersin sampai hidungnya memerah dan membuat tenggorokannya sakit.
"Bundaaa.... Hatchi!"
Panji menutup hidung dengan tangan, tapi ia lupa kalau tangannya sudah terkena debu karena memindahkan kaleng bekas cat. Dan ia tak bisa berhenti bersin sampai kemudian dia menyerah dan memutuskan untuk keluar. Walau Panji mengeluh dengan memanggil Bunda, sebenarnya yang ia harapkan segera datang adalah Ayah. Karena Ayahnya rajanya bersih-bersih.
Situasi menjadi kacau saat Panji tidak bisa berhenti bersin dan kakinya tanpa sengaja menendang kaleng-kaleng cat sampai kaleng itu berserakan dengan bunyi riuh. Salah satu kaleng menyenggol miniatur gedung bertingkat di lantai mengakibatkan gedung mini itu roboh menimpa balok yang tersandar di depan pintu lemari hingga balok itupun oleng sedikit, diam, dan lalu pada akhirnya jatuh juga.
Krieett
Bunyi dari engsel berkarat itu mengudara saat pintu lemari terbuka setelah balok yang menyangga di depannya terjatuh. Panji menggosok hidungnya yang sudah memerah sambil memandang dari atas kebawah isi lemari berukuran setinggi dua meter itu. Meski sempat mereda sebentar tapi Panji bersin lagi. Ia memutuskan meninggalkan kekacauan di sana dengan membawa sebuah box plastik menengah yang ia dapat dari dalam lemari.
Panji penasaran dengan isi box itu karena hanya itu yang tampak berbeda dari isi lemari yang lain. Lemari itu seutuhnya di penuhi oleh buku-buku milik Bunda, sedang box hitam itu tampak mencolok di rak paling bawah. Panji menyimpannya di kolong tempat tidur. Kemudian ia mulai mengungsikan puluhan buku sketsa serta lukisan-lukisan lainnya ke gudang.
Pekerjaan ini harus cepat selesai. Panji ingin cepat mandi dan terbebas dari debu yang membuatnya sedari tadi bersin tanpa henti.
"Hatchi! Oke, ini yang terakhir."
Brak!
"Panji, sedang apa? Ugh, kamu terlihat sangat lusuh."
Salah seorang pekerja kebun menyapa Panji yang akan menaiki tangga menuju balkon kamarnya. Panji menggosok hidungnya yang terasa gatal dan geli, "Hanya bersih-bers--hatchi!"
"Kamu sakit?"
"Aku harus mandi."
<<<<<<<<<<<<<<<<<<<
[KAWASAN PERUMAHAN BATARA]
Tulisan itu terpampang besar-besar di gerbang memasuki kawasan perumahan pinggir kota tersebut. Menurut petunjuk dari Siena, sehabis memasuki gerbang ini, Alena masih harus melajukan mobilnya belasan kilometer lagi untuk sampai ke rumah Panji. Tidak sulit mencari alamatnya, karena Alena hanya perlu mengikuti jalan dari gerbang masuk sampai tiba di ujung jalan itu tanpa harus berbelok-belok terlebih dahulu.
Sepanjang perjalanan, bisa Alena ketahui bahwa kawasan perumahan ini berbeda dengan kawasan lainnya. Tempat ini sangat asri didominasi oleh hutan berpadu perkebunan dan pesawahan. Rumah penduduk juga tidak seberapa, bahkan jarak dari rumah kerumah pun terbilang cukup jauh, berkisar ratusan meter. Nuansa perumahannya pun nampak senada, seperti kastil sederhana bernuansa klasik dan elegan. Setiap rumah dipagari oleh pagar besi yang menjulang tinggi. Cerobong asap di atapnya juga membuat kita tahu bahwa ada perapian didalam rumah itu, memperlihatkan jelas gaya klasiknya.
Semakin jauh mengikuti jalanan aspal, Alena tidak melihat ada rumah-rumah lain lagi. Ia sempat ragu untuk melanjutkan melihat makin kesini suasana hutan yang makin mendominasi. Bahkan ia nyaris menabrak rusa liar yang tiba-tiba meloncat ke tengah jalan dari semak-semak. Suhunya juga terasa semakin dingin memasuki area paling ujung, juga hawanya terasa lembab. Sepertinya karena rerimbunan pohon di kiri kanan jalan yang menghambat masuknya cahaya matahari sehingga terjadi perbedaan suhu dan kelembapan disini.
Mobil Alena menaiki jalan menanjak, lalu ketika sampai di atasnya ia dibuat terpesona dengan jembatan raksasa yang kini dilaluinya. Dibawah jembatan itu terdapat sungai deras yang mengalir dengan air sebening permata. Ditambah lagi dengan air terjun yang mengapit sisi kiri dan kanan jembatan, warna-warni terlihat dari pembiasan cahaya pada derasnya air terjun. Pada tahap melalui jalan ini, Alena spontan memperlambat lalu mobilnya. Ia menurunkan jendela dan angin sejuk serta butiran air yang halus menyapanya. Dihirupnya dalam-dalam aroma segar perpaduan hutan dan air, serta didengarnya desir angin berpadu derasnya aliran air, sangat nyaman dan tenang. Sampai mobil Alena berhenti seutuhnya di tengah jembatan. Matanya tak lepas memandang pemandangan sejuk yang belum pernah dilihatnya. Sangat menenangkan.
Alena merasa terpanggil untuk menikmati keindahan ini. Ia keluar dari mobil mendekat pada salah satu sisi jembatan. Di dekat beton pembatas setinggi satu setengah meter, Alena melongok ke bawah melihat aliran sungai dibawah sana. Butiran-butiran halus air terjun yang diterbangkan angin menyinggahi wajah dan rambutnya. Ia memejamkan mata, menikmati ketenangan yang belum pernah dirasakannya. Tempat ini ajaib, seolah menjadi terapi yang menguras habis seluruh beban yang Alena punya. Ia merasa ada beban berat yang luruh dari kepalanya, mengalir jatuh dan seolah hanyut bersama aliran bening sungai dibawah sana. Alena tidak pernah merasa begitu lapang seperti ini sebelumnya. Sangat tentram dan damai.
__ADS_1
Di tengah acara menikmati suasana baru itu, Alena teringat Panji. Semua terasa mendadak hening. Aliran waktu seakan terkunci ketika bayang Panji hadir di benak Alena. Sosok yang tenang, tanpa ekspresi. Panji bukannya terlihat suram atau menakutkan, wajahnya tampak menyenangkan walau tidak ada secercah senyuman. Netra biru kelamnya seakan sihir yang mampu menenangkan. Diam... tenang... dan juga penuh misteri. Panji memang seperti itu.
Alena memutuskan untuk kembali melanjutkan perjalanan. Dan ternyata ia benar-benar menemui sebuah rumah lagi di ujung jalan. Dan itu memang sungguh berada di ujung jalan, karena jalanan beraspal berakhir disana juga tidak ada persimpangan lainnya. Dan disini Alena menemui pemandangan berbeda. Rumah kayu sederhana yang dipagari oleh berbagai jenis pepohonan dan tanaman hias itu membuat Alena cukup terkejut. Rumah itu lebih sederhana dari rumah lain yang ia temui, juga lebih kecil serta tanpa pagar besi yang menjulang di depannya. Namun, rumah itu tampak begitu apik di kelilingi oleh perkebunan yang luas disekitarnya. Dan diantara banyaknya pepohonan, pohon apel yang paling mendominasi dengan buah yang tampak tengah memerah, merah berkilau. Alena seolah menemui negri dongeng yang tersembunyi, dimana setelah cukup lama menempuh kawasan berhutan yang gelap, ia menemui tempat ini yang cerah disinari cahaya matahari.
Alena memarkir mobilnya dihalaman yang ditumbuhi rumput beludru yang menghijau. Pertama kali melangkah keluar kakinya sampai terbenam dalam kerimbunan rumput itu. Ia mengedarkan pandang menyapu area sekitar, dan bisa dipastikan hanya rumah ini satu-satunya disini. Tempat ini juga sangat sunyi, padahal Siena bilang kalau disini selalu ramai oleh pekerja kebun setiap harinya. Alena mengedikkan bahu dan berprasangka dalam hati, mungkin para pekerja sedang libur.
Setelah memeriksa ponsel sebentar untuk melihat arahan selanjutnya dari Siena, Alena disuruh langsung ke halaman belakang. Sehingga ia berjalan memutari rumah itu, dan lagi-lagi ia dibuat terkagum-kagum dengan hamparan perkebunan yang sepertinya sedang digarap kembali setelah panen. Selain perkebunan luas, Alena juga mendapati sepetak kebun anggur yang berbuah lebat. Bahkan, samar-samar juga terdengar gemericik air sungai hanya saja Alena tidak bisa menemukan dimana letak sungai itu.
Melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda karena mengagumi area itu, Alena kemudian menemukan sebuah tangga yang terhubung dengan ballon di lantai atas. Persis seperti informasi Siena. Katanya tangga ini akan membawa Alena pada kamar Panji.
Ketika mendongak ke atas, Alena bisa melihat balkon yang sederhana dipenuhi deretan kanvas besar dan kecil. Setelah sampai di atas sana, Alena bisa memandang dengan bebas beragam lukisan didalam kanvas putih yang dijejerkan diterali pembatas tepian balkon. Di lantai balkon yang terbuat dari kayu, buku sketsa dan alat-alat lukis lainnya berserakan disana.
Jika ruangan yang bersekat kaca didekat balkon ini adalah kamar Panji, maka dapat disimpulkan bahwa semua lukisan dan peralatan itu adalah milik lelaki tersebut. Cukup mengejutkan bagi Alena. Ia baru tau kalau Panji pandai melukis. Alena juga baru tau kalau rumah Panji ada perkebunannya. Alena baru tau Panji tinggal di kawasan Batara. Rasanya semua tentang Panji baru mulai Alena ketahui saat ini. Tidak, tepatnya baru mulai Alena cari tau saat ini karena selama ini ia selalu bersikap acuh terhadap segala hal tentang Panji. Sehingga dengan semua ini membuatnya seakan baru saja mengenal Panji, padahal mereka sudah saling kenal berbulan-bulan lamanya.
Dari semua sisi rumah, hanya ruangan dekat balkon inilah yang berdinding kaca. Dan tempat itu yang merupakan kamar Panji. Harusnya Alena bisa melihat pemandangan didalamnya melalui dinding kaca, namun sayangnya itu bukan kaca transparan melainkan cermin yang turut memantulkan bayangan Alena. Ia meraih gagang pintu dan menggeser pintu kaca tersebut. Tirai putih yang tipis menyambut Alena setelah pintu terbuka. Ia menyibakkan tirai itu dan melangkah masuk.
Pertama kali yang Alena dapati adalah aroma sabun segar yang menguar di sepenjuru ruangan. Lalu ia terfokus pada ruangan temaram dengan tatanan sederhana. Ada sebuah ranjang di tengah ruangan dengan lemari kayu berukuran sedang mengapit sisi kiri dan kanannya. Selain itu tidak ada furnitur lain lagi yang mengisi ruangan ini. Ah, tidak, ada satu lagi. Sebuah sofa single bewarna hitam nyaris luput dari pandangan Alena. Sofa itu terletak di pojok ruangan, dan seorang Panji Aksara Yudha tertidur disana dalam posisi duduk.
Lelaki itu mengenakan celana levis selutut dan baju kaos polos warna hitam. Sebuah handuk tersampir di bahu kirinya, yang mana membuat Alena menyimpulkan kalau Panji baru selesai mandi. Tebakan Alena terbukti benar ketika ia mendekati Panji dan menemukan titik-titik air yang jatuh dari ujung rambut lelaki tersebut.
Tangan Alena gemas sendiri, ia meraih handuk untuk menyeka tetes air yang mengalir dari pelipis dan jatuh ke leher Panji. Kegiatannya berlanjut mengeringkan rambut Panji yang sudah setengah basah karena dibiarkan saja.
Kening Panji mengernyit samar. Ia seakan berdebat panjang dengan dirinya sendiri untuk membuka mata. Tak lama kelopak matanya terbuka, terlihat sangat enggan. Panji terlihat mengantuk sekali, membuat Alena teringat ketika pertama kali gosip antara mereka menyebar di ZHS. Waktu itu dan sekarang tak ada ubahnya, Panji sama-sama hadir dengan tampang ngantuk beratnya.
"Alena....?" Panji bertanya dengan suara serak khas bangun tidur, ia terdengar bergumam pelan tidak jelas apa yang dikatakan. Matanya mengerjab beberapa kali, kemudian tak lama setelahnya ia menghela nafas panjang.
Alena tidak menyahut, ia beranjak menyibak tirai-tirai yang melingkupi setiap sisi ruangan. Dari sana, Alena kemudian tau bahwa dinding kaca kamar Panji ini adalah cermin searah. Terbukti dari dalam sini, ia bisa melihat jelas pemandangan di luar sementara dari luar sama sekali tidak ada celah untuk melihat ke dalam.
Panji merenggangkan tubuhnya kemudian bangkit. Ia semula akan mendekati Alena yang tampak terpukau melihat pemandangan di luar sana. Namun kemudian ia mengurungkan niatnya dan memilih menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang. Lelaki itu berbaring dengan posisi telungkup dengan kepala yang dibenamkan dalam bantal. Jujur saja ia sudah bisa menduga bagaiamana Alena bisa sampai ke sini, namun yang tidak bisa Panji perkirakan alasan apa yang Alena punya sehingga bisa tiba disini.
"Kenapa gak sekolah?" tanya Alena sembari duduk di pinggir ranjang. Namun beberapa menit berlalu, sama sekali tidak ada sahutan. Sehingga ia memutuskan kembali bicara, "Aku nyari kamu ke kelas tapi gak ada. Terus ketemu Siena. Kayaknya dia tau banyak tentang kamu."
"Iya."
"Hm?" Alena menoleh kebelakang dan mendapati Panji telah mengubah posisi menjadi terlentang.
"Dia memang tau banyak," Panji memperjelas, sedang Alena tersenyum kecut.
"Iya, memang tau banyak."
"Kamu kenapa?"
"Kenapa apanya?"
"Aku nanya duluan, Alena."
"Dan aku butuh jawaban duluan, Panji."
Mulut Alena langsung terkatup rapat saat menyadari pembicaraan mereka yang hampir sama persis dengan pembicaraannya bersama Regan pagi tadi. Regan... Alena jadi ingat kalau Regan meminta bertemu sepulang sekolah di gedung Astronomi.
"Pan---" Alena menoleh ke belakang tapi suaranya mendadak hilang saat mendapati wajah Panji terpaut beberapa senti dari wajahnya. Aroma segar menguar dari rambut... dan juga nafas Panji yang hangat menerpa wajah Alena. Namun, hal terbesar yang mencuri fokus Alena adalah sepasang netra biru kelam lelaki itu. Awalnya tenang seperti biasa, lalu entah mengapa berubah sendu secara tiba-tiba. Seakan Panji baru saja membaca sesuatu di wajah Alena dan hal itu membuatnya sangat terluka. Kenapa? Ingin Alena bertanya begitu, tapi Panji lebih dulu bersuara.
"Aku tau," begitu katanya. Ia tampak menelan salivanya dengan susah payah sebelum bicara. Mulutnya terbuka dan terkatup berulang kali, namun tetap tidak ada kata yang terucap selanjutnya. Tak lama, Panji kemudian menarik wajahnya menjauh lalu turun dari ranjang. "Aku ke bawah sebentar," ucapnya kemudian pergi menuju pintu kayu yang sepertinya menghubungkan kamar ini dengan ruangan lain dalam rumah.
Alena duduk diam, menatap arah kepergian Panji. Lalu ia menolehkan kepala menatap pemandangan dari luar melalui dinding kaca. Bukannya tidak sadar dengan Panji yang seakan menutupi sesuatu darinya, hanya saja Alena membebalkam hatinya untuk menjadi sosok yang tidak tahu-menahu seperti biasanya.
<<<<<<<<<<<
"Aku tau...."
Panji bersandar pada sisi pantry dengan satu tangan bertumpu menahan berat tubuhnya dan satu lagi tergantung menggenggam sebuah gelas kaca bening berisi air putih dingin setengahnya. Ia mendongak, menghela nafas dengan berat. Dalam matanya yang biru kelam, terbaca jelas kegelisahan yang kentara.
"Aku tau ketika kamu teringat akan dia... aku tau bagaimana mata kamu berbinar dengan kepala merekam jelas jejaknya... aku tau... aku tau kamu yang menyimpan dia sebegitu amannya di hatimu. Dan tak ada lagi yang bisa mengusiknya... tak ada.... Tidak akan pernah ada."
Panji pernah bilang tentang keegoisan pada Alena. Panji pernah menyatakan tentang klaim penuh pada Alena. Namun Panji lupa bertanya, bersediakah Alena menerima keegoisannya? Panji lupa, bersediakah Alena diklaim oleh dirinya?
Semakin runyam saja. Rasanya ikatan mereka semakin kusut akibat besarnya jarak yang memisahkan. Jarak yang tak akan pernah bisa Panji hapuskan. Sebuah jarak antara dirinya dan Alena, sebuah jarak yang memiliki nama, dia Regan. Regan adalah jarak terbesar dalam hubungan Panji dengan Alena yang tak akan mungkin bagi Panji untuk menghapusnya. Karena Alena sendiri yang menginkan jarak itu, Alena yang menginginkan Regan.
Panji terbatuk dan spontan gelas ditangannya meluncur jatuh ke lantai. Airnya tumpah membentuk genangan kecil di atas lantai kayu itu, pecahan kaca berpadu di dalamnya. Saat itu, melihat pecahan kaca di ujung kakinya, Panji hanya mampu tersenyum getir. Pegangan tangannya pada gelas yang lemah ditambah dengan embun dari air es didalamnya membuat gelas itu terlepas dengan mudah hingga hancur berkeping-keping seperti sekarang. Ia seolah sedang diberitahu bagaimana nasib hubungannya dengan Alena kedepannya. Seolah alam membantunya meramal kekalahan yang sudah sedari awal melekat pada dirinya. Sial!
"Panji...?"
Siluet Alena tampak menuruni anak tangga hingga tiba di penghujung tangga gadis itu tertegun disana. Ia mendapati Panji masih terpaku menatap lantai dimana pecahan kaca berserakan disana. Lelaki itu tak merespon dan justru beralih duduk disalah satu kursi, membelakangi Alena. Namun, dari punggung tegapnya saja Alena sudah bisa menduga seberapa pekat mendung yang menderanya.
__ADS_1
Alena memilih mendekat, berjalan menghindari pecahan kaca yang dibiarkan berserakan di lantai. Kemudian ia telah tepat berdiri di hadapan Panji. Lekaki itu mendongak dari posisi duduknya menatap ke arah Alena. Dari sepasang netra Panji, Alena dibuat tersesat di dalamnya. Seolah hanya dari tatap matanya, Panji menyampaikan kekusutan yang tengah menerpanya. Seakan Panji tidak akan menutupi apapun dari Alena, seakan lekaki itu membuka lebar luka-lukanya dihadapan Alena. Dihadapan sumber dari semua resah dan gelisahnya.
"Kenapa?"
Bukankah seharusnya Alena yang bertanya begitu? Tapi Panji yang justru mengutarakannya. Mengutarakan tanya teruntuk Alena, teruntuk dirinya, untuk mereka.
"Kenapa?" Alena balas bertanya, sementara sebelah tangannya terangkat naik menyentuh ujung-ujung rambut yang menutupi dahi Panji. Ia tersenyum simpul saat aroma segar dari rambut Panji menguar ke udara tertiup angin yang masuk dari jendela yang terbuka.
Panji menangkap tangan Alena yang bermain di rambutnya, bersamaan dengan ia berdiri dari duduknya. Sehingga posisi mereka jadi saling berhadapan. Gantian Alena yang mendongak menatap Panji yang lebih tinggi beberapa senti darinya.
"Gak apa kamu telat pulang?" Tanya Panji tepat di depan wajah Alena. Tangannya yang masih menggenggam tangan Alena, kemudian beralih merengkuh pinggang gadis itu. Ia menumpukan dagunya dibahu Alena, "Temani aku sebentar lagi, ya?"
Dan Alena tersenyum semakin lebar disela kedua lengannya melingkar membalas pelukan Panji. Ia berdehem pelan kemudian menjawab, "Tapi aku mau pergi sekarang."
Tanpa ada jeda hitungan detik setelah kalimat Alena, Panji melepas pelukannya. Lelaki itu berdiri tegak, "Oh, oke," katanya singkat kemudian berbalik menuju tangga.
Apa-apaan?! Alena tercengang. Jauh dari yang diharapkan. Panji itu.... Benar-benar, ya, dia. Si Panji Aksara Yudha itu memang paling beda. Jelas sekali Alena melihat kerutan di kening lelaki itu dan juga kedutan kesal di sudut matanya. Jarang-jarang Alena bisa menemui Panji berekspresi layaknya manusia lainnya. Ah, bagaimana ini? Makin kesini Panji Aksara Yudha makin menarik saja. Alena jadi penasaran, kejutan apalagi yang akan Panji beri jika hubungan ini terus bertahan sesuai keinginan lelaki itu?
Alena mengikuti jejak Panji menuju ke lantai atas. Ia masuk ke kamar lelaki itu, tapi tidak ada siapa-siapa disana. Alena mengedarkan pandangnya dan menemui Panji tengah duduk dilantai balkon tepat dihadapan sebuah kanvas berukuran (50×50) cm. Lukisan di kanvas itu tampak baru setengah jadi. Tapi Panji tidak sedang memegang alat lukis, dia hanya duduk diam memandangi kanvas yang disandarkan pada terali pembatas itu.
"Tadi pagi aku udah beresin, tapi masih berantakan juga," ujar Panji ketika mendapati pandangan Alena tertuju pada buku sketsa dan alat lukis yang berserakan di lantai. "Gak sempat mindahin semua ke gudang, keburu dapat ide. Aku langsung ngelukis lagi dan gak jadi lanjut bersih-bersih gara-garanya."
Panji jadi banyak bicara akhir-akhir ini. Alena sudah memperhatikan itu sejak mereka sering menghabiskan waktu bersama.
"Aku baru tau kamu bisa lukis," tutur Alena seraya turut duduk di samping Panji.
Lelaki itu menoleh, "Kamu suka lukisan?" tanyanya.
Loh, loh, mana raut kesal yang anak itu perlihatkan tadi?
"Gak." Alena menjawab pendek.
"Oh," dan Panji menjawab dengan lebih pendek.
"Suka...?" Alena mengganti jawaban, juga mempertanyakan bagaimana respon Panji terhadap hal itu.
Hanya lirikan sekilas, lalu lelaki itu kembali pada kanvas di depannya. Itulah jawabannya. Alena tambah kesal jadinya. Rasanya ia sering sekali kesal akhir-akhir ini karena penyebab yang sama, Panji Aksara Yudha.
Tanpa Alena sangka, Panji meraih salah satu pensil yang berserakan di lantai. Lelaki itu menorehkan ujung pensilnya ke atas kanvas, membuat perbedaan mencolok antara sapuan kuas dengan goresan pensil. Tangan Panji cekatan sekali membuat manuver-manuver dengan pensilnya. Lukisan setengah jadi itu mulai terbentuk secara sempurna dengan bentuk setengah bewarna setengah hanya hitam dari sapuan pensil.
Panji itu punya jari-jemari yang unik menurut Alena. Setiap jarinya tampak kokoh, lurus tanpa lekukan ruasnya yang menonjol. Tidak lentik, tapi bagi Alena jemari Panji itu cantik. Telapak tangan Panji juga lebar dengan tonjolan urat di punggung tangannya, sangat pas dan hangat jika bertautan dengan tangan Alena.
Panji menoleh sekilas disela kegiatannya, ia mendapati Alena yang sedari tadi tidak lepas memandanginya. Ia menyelesaikan guratan terakhir kemudian dihaluskan dengan sapuan kuas yang sebelumnya terendam dalam botol kecil berisi air. Panji menggerakkan kuasnya mengikuti garis dari pensil. Dengan begitu lukisan tersebut telah sempurna.
Di atas kanvas putih itu, Panji membuat sebuah bunga aneh dengan kelopak ganjil, 7 kelopak. 4 buah dari kelopaknya beserta inti sari bunga itu digambar bewarna dengan perpaduan warna hijau, biru, putih, merah dan kuning. Sementara 3 kelopak lagi yang digambar dengan pensil dibiarkan dengan warna hitam putih.
"Itu bunga apa?"
"Hm?" Panji menoleh, "Bunga." Begitu jawabnya.
"Iya, bunga. Tapi, bunga apa?"
"Bunga, Alena. Namanya bunga, hanya bunga. Gak ada marganya."
Astaga.Panji memang banyak bicara belakangan ini, tapi sejak kapan juga anak ini pandai bercanda.
"Aku Panji Aksara, kamu Alena Ghailin, dan dia bunga." Panji menunjuk bergantian pada dirinya, Alena, lalu terakhir mengetuk lukisan didepannya. "Paham?" Tanyanya tersenyum samar melihat kerutan di kening Alena tak kunjung hilang meski sudah ia jelaskan. Panji memajukan wajah, melihat Alena dengan lebih dekat.
"Kamu cantik, ya...."
Ya ampun! Panji ini salah makan atau bagaimana, sih. Alena jadi berasa seperti ABG labil sungguhan, dipuji begitu saja mukanya sudah memerah. Ditambah lagi kilat jahil dimata Panji membuatnya linglung. Makin pening Alena kala sapuan lembut bibir Panji berlabuh dibibirnya. Hanya sekilas, bahkan satu detik pun belum sempat berlalu saat Panji menarik wajahnya kembali. Sangat singkat, tapi tertinggal begitu lama dalam benak Alena. Astaga! Manusia satu ini benar-benar.... Lama-lama Alena bisa gila dibuatnya.
"Kalau aku tidak bisa memiliki kamu selamanya, maka aku ingin memiliki kamu seutuhnya. Apa bisa, Alena?"
Alena bungkam. Tidak ada kata yang terasa pantas baginya untuk diutarakan. Pertanyaan Panji membuat Alena berpikir ulang, dimiliki selamanya atau dimiliki seutuhnya, mana yang lebih baik diantara keduanya?
Mendapati Alena hanya diam, Panji menjatuhkan kepalanya bersandar dibahu Alena. Ia terdengar terkekeh pelan, namun juga disertai lirihan.
"Kebalik, ya? Mungkin aku bisa memiliki kamu selamanya, tapi tidak dengan seutuhnya, kan, Alena?"
Alena menelusupkan jemarinya dalam rambut Panji. Hanya sebentar saja ia memainkan surai selembut kapas itu sampai kemudian tidak lagi bergerak atau bertindak. Alena bungkam, sepenuhnya terdiam. Seiring desir angin mengobrak-abrik sudut hatinya. Dengan begitu saja, sebuah kata mengudara lirih nyaris tidak terdengar. Pertama kalinya Alena berkiblat pada rapuh hatinya dan membelakangi benteng kokoh egonya. Terdengar jelas olehnya Panji tertawa dengan nafas tercekat ketika satu kata darinya menguap bercampur dalam udara yang keluar dan masuk paru-paru mereka.
"Maaf."
__ADS_1