
KANVAS 20
[AFTER YOU GO]
Rumah kediaman Batara di pinggiran kota itu masih terus didatangi berbagai duka cita meski sudah seminggu berlalu. Lagipula waktu satu minggu setelah hari penuh tangisan itu masihlah sangat baru. Tentu tak secepat itu mereka bisa lupa, tak sesegera itu mereka akan sembuh dari berbagai luka akibat duka yang mendera.
Beberapa kerabat masih rutin berdatangan mengangsurkan ribuan kalimat tabah penenang hati. Kenalan dan teman dekat juga kadang datang menengok keadaan anggota keluarga yang ditinggalkan. Tak banyak yang terjadi seminggu ini. Kecuali tangis yang kerap terdengar ditengah malam, atau pun penampakan sosok yang kerap termenung di teras depan memandang kosong entah kemana.
Tapi, sempat ada kejadian yang mengusik keluarga itu. Kejadiannya dua hari setelah pemakaman dilangsungkan. Seorang pria awal 40-an datang ke rumah dengan tangan digips. Ia tersungkur bersujud memohon maaf dengan tersedu-sedu di hadapan Ayah dan Bunda.
Pria itu adalah sopir truk yang menjadi awal mula kecelakaan maut itu terjadi. Kecongkakannya membuat ia berani mengemudi dengan ugal-ugalan, dalam keadaan mabuk pula. Namun, mendapati dirinya hidup dengan sehat dan hanya mengalami cidera yang tak berarti, sedang orang-orang tak berdosa yang ia seret ke gerbang maut telah meninggal dunia. Ia kemudian mendatangi tiap-tiap anggota keluarga yang dibuat bersedih karena perbuatannya, hingga kemudian menunggu untuk diadili dan mendapat hukuman yang setimpal.
Telah banyak rumah ia datangi dengan raungan permohonan maaf dan tangis penyesalan. Telah banyak pula sumpah serapah dan caci maki ia dapatkan dari tiap-tiap keluarga korban. Sampai, di rumah terakhir yang ia datangi, di kediaman Batara. Tangisnya di sahuti dengan senyuman, sedang sesalnya dibalas dengan penerimaan maaf yang menenangkan.
Pria itu makin merasa remuk di dalam hatinya. Ia tak mengharapkan mendapat maaf, karena dia tau pasti perbuatannya sangat tak bisa dimaafkan. Namun, keluarga itu membuat ia tertunduk dalam dengan beban penyesalan yang teramat dalam. Terlebih saat ia tau korban yang telah terenggut nyawanya itu adalah satu-satunya anak perempuan yang masih panjang perjalanannya. Dia makin terisak keras saat melihat potret mendiang Siena tersenyum cerah tanpa beban.... Pria itu mengenalnya....
"Dia.... Dialah gadis yang disebut-sebut sebagai malaikat oleh p-putra saya. Ma-malaikat yang... menyelamatkan ke-luarga kami...."
Jika tidak ditahan oleh Panca, Panji pasti sudah menerjang pria itu dan memusnahkannya dari dunia ini. Orang seperti itu sama sekali tidak pantas mendapat kebaikan dari Kakaknya! Namun, sekuat apapun Panji meraung mengeluarkan sumpah serapah dari mulutnya, maka Panca akan memeluknya lebih erat lagi. Membisikkan kata-kata tabah yang memuakkan di telinga Panji walau ia sendiri setengah mati bertahan untuk tetap pada kewarasannya.
Siena pergi dari mereka tanpa perpisahan yang layak, dan pelaku utama dari semua itu? Dia bahkan masih sanggup menarik nafas dari udara dengan bebas! Jelas hal itu membuat Panji menggila. Apalagi Panca yang terus-menerus berusaha kuat menahan gejolak emosinya. Hanya Ayah dan Bunda yang tampak masih tenang, mengangguk menerima permohonan demi permohonan maaf yang pria itu lontarkan. Beberapa orang yang datang mengucapkan kalimat duka hari itu hanya mampu terdiam menyaksikan.
Kemudian pihak kepolisian yang mengawal pria itu segera membawanya untuk mendapat penghakiman. Keesokan harinya seorang wanita dan anak laki-laki penderita autisme datang dengan tangis dan sesal yang sama. Mereka adalah anak dan istri pria supir truk yang datang sebelumnya.
Panji mengunci diri dalam kamar dan menutup telinga kuat saat dua orang itu datang ke rumahnya. Ia berusaha untuk tidak mendengarkan tapi tangis yang bersahut-sahutan di lantai bawah masih juga merasuk ke telinganya. Juga bagaimana cerita heroik Siena mengalir dari wanita itu membuat ia menghempaskan apa-apa saja yang mampu diraihnya. Siena membantu keluarga itu untuk hidup lebih layak, dan membiarkan anak penderita autisme itu mendapat perawatan yang seharusnya. Cerita yang klise dan mungkin banyak ditemui. Namun, Panji tak bisa menerimanya! Ia tak bisa terima dengan apa yang terjadi pada Siena setelah semua yang gadis itu lakukan.
Kemudian malamnya Panji dilarikan ke rumah sakit karena demam tinggi. Ia seharusnya dirawat beberapa hari, namun dia bersikeras untuk pulang. Mau tak mau Ayah dan Bunda menuruti keinginannya daripada anak itu berbuat hal yang tidak diinginkan seperti hari pertama kepergian Siena. Panji yang terguncang karena ditinggal Siena, ditambah trauma karena kembalinya ingatan masa lalu, dipaksa untuk melakukan pengobatan. Namun, akibat dari hal itu nyaris saja Panji memutus nadi di pergelangan tangannya. Beruntung Panca bisa menghentikannya tepat waktu.
Ah, ternyata setelah dibahas kembali seminggu yang telah terlewati ini tak setenang kelihatannya. Rupanya begitu runyam dan menyedihkan. Banyak hal terjadi pada hari-hari awal. Kemudian, semakin kesini suasana jadi semakin tenang. Tapi sekali lagi, semua tak pernah benar-benar setenang kelihatannya.
Pagi ini, mendung yang menggelayuti nyaris setiap hari selama seminggu belakangan tampak mulai menghilang. Matahari terlihat mulai bersinar lagi dengan cerahnya. Seolah menyuarakan pada setiap orang yang berduka, semua harus segera disudahi.
Rutinitas di kediaman Batara pagi ini tak begitu padat. Malah bisa dibilang tak ada pergerakan apa-apa dari keluarga itu.
Bunda masih di kamar, enggan membersihkan diri dan membiarkan tubuhnya dibaluti piyama tidur yang ia pakai semalam. Yang dia lakukan hanya duduk di pinggir ranjang dengan kedua tangan menggenggam sisi ranjang. Mata Bunda jelas memandang dinding di depannya. Dimana potret besar keluarga mereka terpajang disana. Dan sosok Siena disana lagi-lagi menyita perhatian Bunda seutuhnya. Hanya sepersekian detik hingga air matanya meluruh. Menggigit kuat-kuat bibirnya, Bunda membiarkan tangis itu ia telan dalam-dalam.
Sedang Ayah saat itu tengah menyeduh air untuk membuat teh. Namun, ia justru termenung di depan kompor membiarkan air yang direbusnya mendidih dan perlahan menguap ke udara. Cangkir yang telah terisi gula dan teh pada akhirnya hanya tergeletak begitu saja. Ayah mematikan kompor begitu sadar air yang direbusnya telah kering. Alih-alih menikmati teh pagi itu sembari duduk membaca koran di ruang depan, Ayah justru berakhir duduk menyendiri di gudang. Pria itu tanpa disadarinya berusaha mengais lagi kenangan yang harusnya telah dilupakan.
Berbeda dari kedua orangtuanya, Panji sama sekali tidak tidur dari semalam. Entah sudah berapa lama ia duduk di lantai menatap keluar melalui dinding transparan kamarnya. Ia menempelkan pipi pada kaca yang terasa dingin itu membiarkan hembusan nafasnya membentuk embun di permukaan kaca.
Keadaan Panji jelas tak bisa dibilang baik-baik saja. Pipinya tampak lebih tirus dari sebelumnya. Kantung mata yang parah, rambut yang mulai memanjang melewati telinga, serta yang paling mengerikan bekas-bekas kemerahan yang ia sembunyikan di balik lengan bajunya.
"Kak...."
Bersamaan dengan itu Panji melepas sebulir air mata yang terjebak di kelopak matanya semula. Ia terkekeh sendiri menyadari itu pertama kalinya mulutnya memanggil Siena dengan sebutan itu. Panji ingat ketika kecil Siena seringkali marah-marah karena Panji suka memanggilnya asal-asalan. Entah sudah berapa kali gadis itu memohon dengan lesu meminta Panji memanggilnya kakak. Siena tak mau kalah dari Panca yang dipanggil Abang oleh adik-adiknya.
Adik-adik?
"Ha... haha...."
Panji tertawa sendiri mengingat bagaimana Pandu selalu meniru panggilan-panggilan yang Panji berikan pada Siena. Membuat Siena semakin putus asa dan merengut pada mereka.
"Haha.... Ha-hah...."
Deretan gigi putih rapi Panji sampai terlihat saking lebarnya ia tertawa. Namun, perih di kedua matanya tak mampu memperindah tawa itu. Yang tampak dari Panji hanyalah seraut kosong tanpa makna. Sampai tawa itu berubah jadi isakan dan tangisan yang membuatnya tampak begitu menyedihkan.
Dan lagi-lagi, untuk kesekian kali Panji meringkuk menangisi seseorang yang tak mungkin akan hadir memeluknya kembali.
Sementara itu, jauh dari keluarganya Panca menepi seorang diri. Ia duduk di bawah pohon Linden di pinggir sungai belakang rumah mereka. Entah apa yang ia lakukan pagi-pagi begini disana.
Semilir angin berembus pelan membawa sejuk di bawah panas yang mulai terasa akibat matahari yang semakin naik. Sehelai daun kecoklatan dari pohon Linden jatuh tepat ke permukaan sungai yang bergemericik. Tentu saja daun itu segera hanyut terbawa arus. Disamping itu juga tampak gerombolan ikan-ikan air tawar yang berenang melawan arus.
"Banyak orang berlagak mau menentang arus, padahal nyatanya mereka hidup mengikuti arus yang diciptakan takdir."
Panca seakan melihat Siena berjongkok di pinggir sungai menyentuhkan ujung-ujung jarinya pada permukaan air yang bening. Gadis itu tersenyum ke arahnya begitu cerah sampai kedua matanya membentuk garis lurus. Panca balas tersenyum. Baru saja ia beranjak ingin menghampiri, namun Siena hilang begitu saja dari pandangannya. Panca tertegun. Meneguk ludah, lalu ia tersenyum getir menyadari kebodohannya yang mengharapkan kehadiran adiknya itu disini.
"Lo benar, hidup kita memang mengalir mengikuti arus," ujarnya dengan tatapan kosong. "Yang telah berlalu benar-benar berlalu, gak akan terulang. Yang orang-orang sebut takdir itu... memang kejam," suaranya semakin melirih seiring dia membawa tubuhnya ke tepi sungai menunduk menatap pantulan dirinya di permukaan air yang berombak-ombak.
Panca cukup lama berada disana. Ia beranjak pulang saat matahari semakin meninggi. Dari sembab di matanya jelas membuktikan, ada tangis yang ia tinggalkan di aliran sungai yang terus berjalan.
Ketika sampai di halaman depan rumahnya, Panca tidak dibuat heran lagi dengan beberapa kendaraan yang terparkir. Entah kapan itu akan berkahir, tapi setiap hari selalu saja ada yang datang setelah pemakaman Siena minggu lalu. Panca berharap besok tidak ada yang datang lagi. Ia tidak nyaman dengan orang-orang yang terus menuturkan kalimat duka tanpa tau kalau hal tersebut memperdalam luka di keluarganya. Ditambah lagi setelah kedatangan supir truk yang meminta maaf beberapa hari lalu. Dipikir berapa kali pun Panca masih tak terima dengan kenyataan pria itu yang masih hidup hingga kini, sedang adiknya telah terbujur kaku di dalam tanah.
"Hari ini terakhir sekolah, besok mulai libur semester,"
Panca yang baru saja masuk lewat pintu depan menarik perhatian orang-orang di ruang tamu. Tidak seperti dulu dimana ada kursi rotan dan meja kecil, sekarang disana hanya ada karpet tergelar. Sengaja dibuat seperti itu agar lebih lapang.
Sekarang beralih pada tamu-tamu berseragam sekolah yang duduk bersama Ayah dan Bunda. Juga ada beberapa barang yang sepertinya bawaan tamu itu diletakkan di tengah. Mereka adalah teman sekelas Panji. Panca mengenal mereka dihari pemakaman Siena. Tentu saja bukan Panji yang memperkenalkan, anak itu terlalu sibuk meratapi Siena sehingga tidak akan peduli pada orang lain. Dan, ya, lagi-lagi Siena yang jadi penghubung disini. Mereka, murid kelas Zero mengenal Siena begitu baik. Sudah dibilang, kan, kalau kelas Bahasa 00 itu adalah bentukan Siena?
Saat mengantar kepergian Siena, seluruh murid kelas Zero hadir. Seragam mereka yang mencolok membuat mereka tampak memiliki kelompok tersendiri di antara murid ZHS lainnya. Kehadiran mereka hari itu juga sekedar hadir saja menurut Panca. Seorang pun tak ada yang menghampiri Panji. Bahkan setelah hari itu, tak ada dari mereka yang datang ke rumah berbela sungkawa seperti beberapa murid ZHS lain yang Panca dapati sempat datang. Panca pikir itu karena kehadiran mereka hanya sekedar formalitas sebagai teman sekelas Panji. Panca sudah mengira adiknya tak memiliki seorang pun yang bisa dikatakan sebagai teman. Namun, nyatanya hari ini semua pikirannya terbukti salah total. Itu ia ketahui setelah dia mendudukan diri untuk turut bergabung bersama mereka di ruang tamu.
__ADS_1
"Festival tahunan sudah selesai kemarin," yang berbicara adalah seorang siswi bernama Rainy. Ia mengambil sebuah toples plastik menengah diantara barang yang terletak di tengah.
Ketua kelas bernama Zaka ambil alih bicara saat Rainy mengangsurkan toples bening itu kepada Bunda, "Waktu Festival kelas kami jualan kuaci tapi gak laku, jadi dibagi rata satu toples perorang. Itu buat Panji."
Baik Ayah, Bunda maupun Panca melongo mendengarnya. Jualan kuaci katanya? Apa mereka sebegitu buntunya? Tidak mendapat ide lantas menjadikan kuaci sebagai jalan keluar? Entahlah itu bisa dibilang kreatif atau bodoh.
Belum selesai disana, satu lagi murid bernama Cakra mengeluarkan rubik dari ranselnya. Ia letakkan benda itu tanpa berkata apa-apa sehingga Zaka pun kembali bicara.
"Kata Cakra, Panji suka mainin rubik kalau gabut. Jadi dia kasih, siapa tau butuh."
Panca angguk-angguk sedikit mengiyakan dengan tergagap karena rubik itu disodorkan padanya. Ia jadi teringat saat Panji melemparnya dengan benda kubus itu, Panca menyembunyikan barang tersebut dalam lemari takut dilempari adiknya lagi.
"Nah, ini..." kali ini yang berbicara Jingga. Ia menepuk-nepuk kresek berlogo minimarket yang teronggok di tengah, "... telur buat bikin omelet. Panji kan suka omelet."
Sekarang Panca tak dapat lagi menilai apa mereka datang karena Siena atau karena Panji. Seorangpun tak ada yang membahas perihal kepergian Siena. Tak ada wajah-wajah berduka seperti yang Panca lihat di pemakaman seminggu lalu. Mereka bersikap seolah sedang menjenguk teman sekelas yang sedang sakit. Tapi, yang membuat Panca bingung, apa ada orang yang menjenguk orang sakit membawa kuaci, rubik, telur, lalu apa itu?! Panca rasanya mau pingsan saat melihat kemasan yang terletak di dekat telur itu.
"Ini.... Titipan Adelio, katanya buat anak angkat Panji," yang berbicara ragu-ragu itu adalah Alya. Dia mengedip sebentar seolah sedang meyakinkan diri lalu menyerahkan berbungkus-bungkus makanan kucing kepada Panca.
Ini sebenarnya tujuan mereka kesini tuh apa?!
"Awalnya sekelas mau datang," Zaka bicara sambil menggaruk tengkuk yang padahal tidak gatal. "Tapi sebagian-eh tiga perempat dari kami di tinggal karena suka rusuh. Jadi yang datang hanya kami berlima-"
"Berenam," potong Jingga melirik seorang lagi anggota mereka yang duduk paling belakang dan hanya diam sedari tadi.
Zaka melirik ke belakang lalu menyengir, "Oh, ya berenam. Ada Gani rupanya."
Gani hanya melirik sekilas pada ketua kelasnya itu lalu terfokus ke depan lagi. Entah apa juga yang ia lihat.
Bunda tersenyum, dalam hati membenarkan ucapan Kepala Sekolah ZHS seminggu lalu perihal teman-teman terbaik yang Siena pilihkan untuk Panji. Melirik pada Ayah, ternyata pria itu juga memikirkan hal yang sama. Ayah dan Bunda saling bertukar pandang berkomunikasi lewat isyarat mata. Tidak dipungkiri, ada kelegaan di wajah mereka. Rasa lega karena mengetahui bahwa Panji tidak benar-benar sendirian selama ini.
"Oke, kalau gitu, Om, Tante, Abangnya Panji, kami pamit pulang sekarang."
Zaka tersenyum sumringah sembari bertepuk tangan satu kali.
"Gak ketemu Panji dulu?" Gani akhirnya bersuara, ia bertanya dengan melirik ketua kelasnya itu dengan penuh keheranan. Begitu pun dengan teman-temannya yang lain.
Zaka mengibaskan tangannya, "Alah, semester depan juga bakal ketemu. Kalau ketemu sekarang takut anaknya ngamok, Adelio beliin makanan murah buat anak angkat Panji."
Mereka manggut-manggut. Entah berdiskusi seperti itu dalam keadaan sadar akan keberadaan tuan rumah atau tidak. Ayah jelas speechless mendapati kelakuan mereka yang benar-benar unik sesuai kata sepupunya yang merupakan kepala sekolah ZHS. Bunda tersenyum maklum. Dan Panca, dia mati gaya. Biasanya manusia paling absurd di rumah adalah dia. Tapi melihat teman-teman sekelas Panji, dia jadi insecure.
Pada akhirnya mereka benar-benar pulang tanpa bertemu dengan Panji. Bunda sempat menawarkan untuk makan siang bersama karena memang sudah masuk waktu makan siang. Tapi, tidak seperti kebanyakan orang yang menolak dengan sungkan, mereka malah meminta apel yang mulai memerah di halaman depan sebagai ganti makan siang.
Bunda yang sedang menyusun barang-barang yang dibawakan untuk Panji, hanya bisa geleng-geleng kepala melihat anak sulungnya. Diam-diam juga merasa berterimakasih pada murid kelas Zero. Berkat kedatangan mereka, mendung di rumah ini sedikit tersibak.
Sedang Ayah masih mematut-matut toples berisi kuaci. Dalam hati masih tidak habis pikir, bisa-bisanya anak-anak itu kepikiran untuk jualan kuaci?
"Bang, kasihin Aksa, deh."
Panca menoleh pada Ayahnya lalu segera duduk. Ia mengambil alih toples kuaci di tangan Ayah, "Beneran ku kasih, nih? Sama rubiknya juga? Entar aku dilempar lagi kayak waktu itu."
"Kalau kamu dilempar malah bagus," jawab Ayah tanpa rasa bersalah.
Panca melotot tapi tak urung beranjak juga membawa setoples kuaci dan sebuah rubik. Sebenarnya ucapan Ayah tidak salah. Kalau Panca dilempar oleh Panji artinya bagus, anak itu baik-baik saja.
"Sekalian ini, makanan kucingnya. Nanti kamu bantu kasihin juga, kayaknya Aksa kelupaan sama mereka."
Panca menerima satu bungkus makanan kucing dari Bunda. Kemudian ia melangkah ke lantai dua. Perjalanan ke kamar Panji tidaklah jauh, tapi terasa begitu lama bagi Panca. Entah mengapa disaat-saat menyesakkan begini waktu selalu berjalan dengan lambat.
"Dek," panggil Panca mengetuk pintu beberapa kali. Ia memutar gagang karena tidak ada sahutan. Dan pemandangan yang ia temui adalah Panji yang duduk di pinggir ranjang membelakanginya.
"Tadi teman kamu kesini, mereka bawaiin ini."
Pertama-tama Panca meletakkan toples kuaci di nakas. Lalu ia menyerahkan rubik langsung ke tangan Panji, namun tidak di respon oleh anak itu hingga rubik tersebut jatuh ke lantai. Hal yang membuat Panca tersenyum miris, karena itu seolah menegaskan lagi bahwa adiknya tidak baik-baik saja.
Panca biarkan rubik itu tergeletak di lantai. Ia bernjak menghampiri kucing-kucing Panji yang mengeong di kandang. Dibukanya pintu kandang sehingga ketiga anak angkat Panji tersebut berlari mengerubunginya. Ia memejamkan mata sesaat ketika ketiganya makan dengan begitu lahap saat ia menuang makanan untuk mereka.
"Teman sekelas kamu katanya jualan kuaci pas festival tapi gak laku. Jadi kuacinya dibagi-bagi," jelas Panca saat ia mendapati Panji menatap toples kuaci yang ia letakkan di nakas.
Panca berniat menghampiri adiknya itu, tapi ia terhenti saat kakinya tidak sengaja tersandung palet yang tergeletak di lantai. Dia baru sadar kalau kamar Panji sangat berantakan. Buku sketsa, kuas, pensil, maupun kanvas berserakan di lantai.
Menghela nafas pelan, Panca berinisiatif membereskan kekacauan itu. Baru juga ia berjongkok menyentuh sebuah kuas, suara dingin Panji membuat ia terhenti.
"Jangan sentuh."
Saat mendongak yang Panca dapati adalah tatapan tajam adiknya. Panji sepertinya benar-benar tak mengizinkan Panca menyentuh barang-barangnya. Maka dari itu, Panca segera menjauhkan tangannya dan berdiri lagi. Meski pahit, tapi masih juga ia paksakan untuk tersenyum.
"Kalau kamu butuh apa-apa, bilang ke abang," hanya itu yang bisa ia ucapkan setelah terdiam cukup lama dan menelan ludah susah payah. Kemudian dia menuju pintu. Sebelum pintu ia tutup dari luar, Panca menyembulkan kepalanya lagi. Meski Panji masih membelakanginya tapi ia tetap bicara dengan mempertahankan senyum di wajahnya.
"Tadi teman kamu juga bawa telur, karena katanya kamu suka omelet. Bunda lagi bikin omelet, jangan lupa turun untuk makan siang."
__ADS_1
Dan pintu tertutup meninggalkan Panji seorang diri. Sepeninggal Panca, anak itu termenung menatap telapak tangannya. Ia mendapat luka disana karena terlalu erat memegang kuas hingga tangkai kuas itu patah. Beberapa serpihan kayu dari tangkai kuas bahkan masuk ke dalam kulitnya. Masih ia biarkan disana, belum dikeluarkan padahal sudah sejam berlalu.
Panji ingin melukis. Dia ingin melukis semua yang ia ingat tentang Siena. Ia takut kalau dia akan melupakan Siena juga seperti ia melupakan Pandu. Jadi, bagaimana pun caranya ia harus melukis sebanyak mungkin. Tentang Siena. Tentang Pandu. Panji ingin mengabadikan mereka dalam kanvasnya. Agar mereka tak hilang lagi. Agar Panji bisa sedikit berangan bahwa mereka masih bersamanya. Namun, tiap kali ia mencoba melakukan itu, kenangan kelam di masa lalu justru ikut terbangkitkan. Panji disergap ketakukan dan ia gemtar duluan sebelum sempat melakukan apa-apa. Dan hasil akhirnya, kanvas itu masih juga kosong setelah ia berkali-kali berusaha menorehkan sedikit warna.
Aroma omelet menguar ke sepenjuru rumah. Ternyata Panca tidak bohong tentang Bunda memasak omelet untuk Panji. Tapi sayang sekali, sepiring omelet tak mampu menggerakkan Panji saat ini. Bahkan ketiga kucing kesayangannya pun ia abaikan. Panji benar-benar tak ingin peduli pada apa pun, bahkan tubuhnya sendiri.
Untuk saat ini... Panji menolak peduli.... Pada apa pun itu, ia tidak ingin peduli.
<<<<<<<<<<<<<<<<
"Bang, mau kuaci kagak?"
Mahesha atau yang biasa dipanggil Esha, melongok di pintu kamar menyodorkan setoples kuaci yang masih tersisa banyak. Awalnya ia memaksa dua adiknya untuk bantu menghabiskan, tapi belum setengah mereka sudah kabur. Lalu, ia merecoki kakak pertamanya, tapi justru dimarahi karena kakaknya sedang rapat virtual. Berakhirlah ia di kamar kakak keduanya. Biasanya hari libur seperti ini hanya anak nomor dua itu yang sibuk main game di kamar, memang dia manusia yang paling jadi beban di rumah ini.
Tapi, Esha nyaris dibuat jantungan saat melihat kamar abangnya yang biasanya berantakan sekarang rapi. Belum lagi, Si Pemilik kamar yang biasanya masih belekan duduk di depan komputer main game, sekarang sudah kinclong sehabis mandi-ya walau masih nongkrong di depan komputer juga.
"Lo aja yang makan."
Esha tidak peduli lagi dengan jawaban abangnya. Ia sudah lari ke lantai dua meneriaki kakak pertamanya.
"KAK ALE, BANG JO KESURUPAN!!"
Untung Alesha sudah selesai rapat, kalau tidak bisa dipastikan ia akan membogem mulut adiknya itu. Meski perempuan tapi Alesha itu sama sekali tidak ada sisi feminimnya, bisa dibilang ia tomboy.
"Rusuh aja, sih lu. Main kemana kek, sepet mata gue ngeliat muka lo mulu," sarkas Alesha sambil mengunyah permen karetnya.
Esha yang sudah kebal dengan mulut kakaknya itu jelas tidak peduli yang lebih penting sekarang adalah-
"Gue berub-"
"SETAN!"
Karena kaget abangnya datang tiba-tiba Esha reflek menabok muka lekaki itu. Alesha kontan tergelak melihat ekspresi adiknya saat ini. Tapi, saat ia sadar akan sesuatu ia langsung berdiri dari kursi kerjanya.
"L-lo Jordan?! Seriously?? Jordan Effendy??!"
Esha lari ke belakang kakak tertuanya mencari perlindungan, "Kaaann, apa ku bilang? Bang Jo itu kerasukan!"
"Heh! Gue gibeng lo sini!"
Jordan naik pitam. Ia sudah ancang-ancang untuk meringkus adiknya itu tapi dihalangi oleh Alesha. Seketika Jordan ingat lagi tujuannya hari ini. Reformasi! Perubahan! Hanya begitu saja ia tenang lagi.
"Lain kali yang sopan, ya, dek," ujarnya dengan senyum tabah. Pokoknya mulai hari ini Jordan ingin bahagia saja, dia tak mau marah-marah, tak mau emosi-emosi. Yang jelas harus tenang dan adem.
"Hiii.... Merinding. Kak tolong!" Esha menarik-narik kaos Alesha memelas. Ia punya firasat buruk tentang Jordan yang tiba-tiba memanggilnya 'dek'. Terakhir kali Jordan begitu, Esha dibuat demam seminggu penuh.
"Parah, nih, parah. Sekarang masih jam sepuluh, dan lo udah mandi bersih rapi. Trus gak ngamok-ngamok ke Esha," Alesha seakan sedang menganalisis sesuatu.
"Kamarnya juga rapi Kak. Rapiiii banget," tambah Esha masih bersembunyi di belakang Alesha dengan memeluk toples kuaci.
Alesha tentu saja melotot mendengar info itu, "Ngaku lo siapa?!" titahnya menuding Jordan dengan telunjuk.
"Gak guna amat ngeladenin kalian," tutur Jordan malas lalu melengos pergi.
"Padahal dia yang paling gak guna kan, ya?"
Pertanyaan retoris Esha nyaris membuat Jordan berlari ke arahnya untuk melayangkan sebuah tendangan maut. Tapi, Jordan tahan-tahankan dan kembali ke kamarnya. Tak lupa ia mengunci pintu takutnya ada yang akan mengganggu.
Jordan sudah duduk di depan komputernya, main game seperti biasa. Tak banyak yang berubah darinya kecuali perihal kamar rapi dan dia mandi pagi di hari libur. Selebihnya Jordan masih sama, dia hanya banyak-banyak bersabar. Selain itu juga sering senyum sampai kering giginya.
"Huufft...."
Ternyata Jordan tidak sama seperti biasa. Banyak berubah. Dan itu sesuai keinginannya. Menjadi lebih baik, untuk melewati hari-hari dengan baik juga. Jordan ingin tetap baik-baik saja dan menunjukkan pada seseorang di atas sana yang telah meninggalkannya begitu saja. Jordan ingin dimana pun Siena berada saat ini, ia harap gadis itu melihat seberapa baik Jordan hidup setelah ia tinggalkan. Jordan ingin Siena memiliki penyesalan karena meninggalkannya tanpa kejelasan. Dan sekarang, Jordan merasa benar-benar bisa melalui hari-harinya dengan lebih baik untuk ke depannya. Karena ia yakin Siena melihatnya. Selama itu terjadi dia akan terus baik-baik saja.
"Kayaknya Bang Jo masih syok ditinggal Kak Nana."
"Nana siapa? Ceweknya?"
"Ituloh, anaknya Achroma. Yang meninggal minggu lalu. Kakak datang juga kan pas pemakaman?"
"OMG! Dia pacaran sama Siena?"
"Bisa dibilang kayak makan kuaci, sih. Capek pedekate doang, jadian kagak."
Oke. Ini baru hari pertama dan Jordan sudah menyerah. Hanya karena dua manusia yang berbisik-bisik di depan pintu kamarnya ia sudah lelah untuk jadi manusia. Apalagi menjadi manusia yang baik? Hari ini Jordan angkat tangan. Bagaimana besok? Lusa? Seterusnya?
Terkekeh sendiri Jordan bergumam pelan menatap tampilan di layar komputernya, "Kayaknya gue gak bisa baik-baik aja tanpa lo, Na."
__ADS_1
Jordan melihatnya lagi. Foto Siena yang tersenyum cerah melambai ke arah kamera. Dan entah kapan itu, mata Jordan telah basah untuk kesekian kalinya karena penyebab yang sama.