
KANVAS 13
[MIMPI BURUK MASA LALU]
/•
\•/
"Yang kamu cari dari Alena, tuh apasih sebenarnya?"
Akhirnya, setelah sekian lama memendam kesal dan berpura-pura tidak peduli, Siena bisa menyuarakan apa yang ada di benaknya selama ini. Posisinya kini sedang duduk lesehan di bawah pohon Linden di dekat kolam hias. Di sebelahnya Panji duduk bersandar pada pohon yang tengah berbunga itu dengan mata memandang lurus pada gedung olahraga di seberang sana.
Gedung yang biasanya ramai hanya saat ada jam pelajaran olahraga itu pada hari ini sedang dijadikan tempat berlangsungnya salah satu studi. Panji awalnya hanya berencana untuk bolos di jam studi wawasan makanya dia memilih menyendiri di bawah naungan pohon Linden itu. Tapi naas, ia lagi-lagi harus melihat pandangan yang menyesakkan mata di seberang sana.
Tempat studi salah seorang atlet ternama sedang berlangsung itu memang ramai oleh murid lain. Tapi, diantara keramaian itu, Panji mengutuk matanya yang harus terfokus pada sosok Alena. Dari mula gadis itu diam mencatat di notesnya lalu kemudian berinteraksi dengan beberapa orang sampai ia maju ke depan mempraktekkan teknik taekwondo yang baru saja di peragakan oleh pengisi studi siang itu.
Biasanya Panji tidak pernah mempersalahkan apapun tentang Alena. Tapi melihat Regan yang terus menyambangi setiap langkah gadis itu membuat Panji ingin berteriak keras di hadapan gadis itu. Menyerukan kalimat yang ia lontarkan beberapa waktu lalu.
"Alena, aku pacar kamu."
Waktu itu Alena memang menjawab, 'iya'. Tapi jelas Panji menemui dengan nyata kekosongan dalam makna katanya. Dan Alena memang semudah itu mengobrak-abrik segenap hatinya.
Disaat seperti ini harusnya Panji berdiam seorang diri. Tapi Siena mengacaukan sedih yang nyaris ia telan dalam-dalam. Entah apa alasannya sehingga Siena masih berada di area sekolah saat murid tingkat IV lainnya telah berhamburan di luar sana. Dan pertanyaan Siena semakin memperdalam jatuhnya Panji dalam ruang gelap yang menyesakkan itu.
"Gak ada.... Aku gak nyari apa-apa," begitu jawabnya dengan pandangan menerawang.
"Kalau memang begitu, kamu gak harus sampai sejauh ini. Tolong berhenti sesegera mungkin, Aksa."
Panji menoleh dengan pandangan nanar menatap kakaknya itu, "Sayangnya aku memang sudah sejauh itu, Ya," jawabnya lirih.
Dan Siena tak mengerti lagi bagaimana harus menyikapi Panji yang seperti ini. Ia pikir ia sudah cukup dekat untuk bisa memahami adiknya itu dengan baik. Namun Siena salah, ia hanya mengetahui Panji sebagaimana orang lain juga mengetahui anak itu. Sedikitpun Siena tidak pernah berhasil menyelami Panji sedikit lebih jauh dari orang lain. Dan Siena tak tau harus menempuh jalan yang bagaimana lagi untuk sampai dititik dimana ia bisa dengan leluasa mengerti segala hal tentang Panji.
"Aku pernah bilang, kan? Kalau gak ada alasan kenapa aku memilih Alena. Sama halnya dengan sekarang, juga gak ada alasan kenapa aku harus berhenti seperti yang kamu bilang."
Rasanya ingin Siena berteriak di telinga adiknya itu sembari menunjuk ke seberang sana dan berteriak frustrasi, 'ADA AKSA! ADA! MEREKA ALASANNYA SEHINGGA KAMU HARUS BERHENTI!'.
Tapi, Siena benci dirinya yang tak bisa melakukan apa yang ia pikirkan dan hanya diam membisu di samping Panji. Menyaksikan anak itu yang mulai memejamkan mata menikmati hembusan angin yang menerpa wajahnya. Dan dia hanya bisa menahan sesal lantaran menyadari batas transparan yang Panji buat diantara mereka. Melihat adiknya mati-matian menahan luka, untuk kesekian kali Siena merasa gagal sebagai kakaknya.
"Ayah sama Bunda mulai bangun rumah sejak beberapa bulan lalu di negara X. Pekerjaan mereka banyak mengambil waktu disana, jadi mungkin akan menetap disana untuk selanjutnya." Jelas Siena sambil mengamati ekspresi yang akan ditunjukkan Panji.
Diluar ekspetasi Siena, Panji serta merta menatap marah padanya. Netra biru kelamnya memperlihatkan emosi yang bergejolak tiba-tiba. Siena tidak mengerti, bagian mana yang membuat Panji jadi seperti itu. Tapi satu hal yang ia tau, itu adalah pertama kali baginya melihat Panji semarah itu.
Lantas tanpa meninggalkan kata apapun untuk kebingungan kakaknya, Panji beranjak bangkit dengan segera. Berita yang Siena sampaikan sama sekali tidak bisa ia terima. Secara tak langsung Siena mengatakan bahwa mereka harus pindah ke tempat yang ia sebutkan itu. Mereka anggap Panji apa sampai hal sepenting ini pun tidak ada yang menanyai pendapatnya? Kenapa memutuskan seenaknya? Apa karena Panji terlalu mengiyakan semua yang orang-orang katakan sampai tidak ada yang merasa perlu atas persetujuannya?
Panji tidak sedang dalam keadaan baik untuk berpikir jernih. Ia kalut dan merasa di ujung tanduk. Hubungan rumit dengan Alena. Bongkahan ingatan yang belakangan datang bagai mimpi buruk. Lalu, tiba-tiba Siena mengatakan hal itu dengan entengnya. Panji kesal! Tidak, dia marah saat ini. Kenapa tak ada yang bisa mengerti dirinya? Tidakkah seorang pun paham akan apa yang ia rasakan?
"Kamu mau kemana?"
Panji menutup lokernya dengan kasar sehingga membuat Siena terlonjak kaget, "Pulang."
Siena buru-buru menghambat langkah Panji, tapi yang tidak ia duga....
"Minggir, Siena!"
Panji tidak pernah memanggilnya Kakak meski ia lebih tua tiga tahun. Ia tidak pernah mempersalahkan itu dan membiarkan Panji memanggilnya dengan panggilan berbeda-beda sejak kecil. Tapi, seumur hidupnya, Siena belum pernah mendengar Panji menyebut nama depannya. Terlebih dengan nada tinggi dan mata memerah menahan tangis, Panji tidak pernah begini sebelumnya.
"Aksa—"
Panji mengabaikan Siena yang akan bicara. Sehingga gadis itu harus menahan lengannya dengan tangan bergetar dan berkata dengan memelas.
"Oke, oke, kamu bisa pulang. Tapi harus sama aku. Ya, Aksa?"
Siena menelan ludahnya susah payah setelah berkata demikian. Tanpa menunggu jawaban Panji, ia kemudian menarik tangan adiknya itu untuk ia giring menuju parkiran. Di depan ruang guru ia memaksa Panji duduk di kursi panjang yang ada di koridor. Untuk bisa melewati gerbang Siena butuh alibi kuat agar lolos dari penjagaan yang ketat.
"Tunggu disini, dan jangan coba-coba pergi duluan. Oke? Aksa? Kamu dengar aku kan?"
Panji hanya diam, lantas dengan was-was Siena mulai memasuki ruang guru ingin segera menyelesaikan urusannya. Tanpa ia tau, saat ia pergi, para murid lain mulai berlalu lalang di jam istirahat ini sembari menunggu studi selanjutnya. Diantara mereka yang hilir mudik di hadapan Panji, diantaranya gosip itu hidup lagi. Pembicaraan hangat tentang betapa serasinya Ketua Dewan Siswa mereka dengan Sang Wakil.
Seperti biasa yang sering Panji lakukan, dia hanya diam. Bahkan saat Alena berlalu di hadapannya bersana Regan, ia sama sekali tak ada keberanian untuk bicara. Panji bungkam. Sampai saat Siena kembali menariknya pergi ia tetap diam. Hingga gosip lain tentang dirinya tentang Siena mulai bermunculan, dia masih diam. Ketika dia dia melihat berita keberhasilan Regan mempertahankan jabatannya, ia juga memilih diam.
Diam. Bungkam. Panji membawa dirinya sendiri tenggelam dalam kegelapan di hening yang ia ciptakan. Tanpa sadar membuat retakan dalam hatinya semakin menyebar luas. Dan dalam sekejab mata retakan itu menghancurkannya menjadi serpihan-serpihan tak bermakna tatkala Sang Bunda membenarkan apa yang Siena katakan kepadanya tadi.
"Aku gak pernah bilang setuju atau enggak," ujarnya dengan suara bergetar berdiri di hadapan Sang Bunda. Sedang Siena mematung di belakangnya mengirim rasa sesal lewat isyarat mata kepada Bundanya karena hal ini.
Ayah dan Panca yang baru pulang sehabis memancing di sungai belakang rumah mereka dibuat heran dengan suasana tegang yang tak biasa ini. Panca awalnya berniat mencairkan suasana dengan merangkul bahu adiknya.
"Widih, bolos, ya kamu pulang jam segini?"
Namun balasan Panji membuat ia akhirnya mengerti. Situasi ini tak bisa lagi ia perbaiki dengan sedikit lelucon dan kata-kata penghibur hati.
__ADS_1
Panji menepis tangan Panca dari bahunya tanpa sedikitpun melirik saudara tertuanya itu. Tatapnya hanya lurus menatap Bunda. Lantas setelah menelan ludah dengan susah payah ia berujar ketir, "Kalian boleh pergi, aku tetap disini."
"Nak...."
Bahkan Panji tak peduli lagi pada suara yang memanggilnya. Ia pergi begitu saja, menaiki tangga menuju lantai dua dan bergegas masuk membanting pintu dengan kasar lalu menguncinya.
Ayah menatap arah perginya putra bungsunya itu lalu beralih pada Bunda, "Ada yang bersedia bicara tentang hal ini?"
Siena meremas tangannya yang basah karena keringat. Dengan kepala tertunduk ia bicara nyaris berbisik, "Maaf Ayah. Nana salah."
<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<
Malam ini terasa lebih hening dalam rumah kayu kecil di pinggiran kota itu. Bukan, suasananya hanya kembali seperti semula saat Panji selalu sendirian di malam-malam sebelum kepulangan orangtua serta saudara-saudaranya. Bedanya jika dulu ia benar-benar sendirian di rumah itu, maka sekarang ada manusia lain yang berada di atap yang sama dengannya. Hanya saja guyonan Panca tak terdengar, protesan heboh Siena tidak menggelegar, Ayah yang melerai ataupun Bunda yang mengomel sama sekali tidak terdengar malam ini. Benar-benar hening mengisi rumah mereka setelah siang tadi Panji pulang dengan gurat marah yang tak dapat ditutupinya.
Dan sampai saat ini, Panji masih terpekur di depan pintunya. Duduk memeluk lutut dengan kepala tenggelam diantara lipatan lengannya. Sedari awal memasuki kamarnya siang tadi, Panji tidak beranjak dari posisi itu. Ia mengabaikan badannya yang gerah karena belum mandi, ia tidak peduli sensasi memilin dari perutnya yang meminta pasokan makanan. Yang Panji lakukan hanya memeluk erat dirinya sendiri dalam diam. Lagi, untuk kesekian kali, Panji memilih membiarkan lukanya membusuk dengan keterdiaman itu.
"Aksa...."
Itu suara Bunda. Entah sudah keberapa kali wanita itu berulang mengetuk pintu kamar Panji sedari tadi. Hanya untuk memanggil namanya dan tidak bicara apa-apa lagi sampai derap langkahnya terdengar menjauh di telinga Panji.
Namun, untuk beberapa menit kemudian tidak terdengar pergerakan apapun dari Bunda. Wanita itu hanya diam di depan pintu kamar Panji tanpa melakukan apa-apa, tidak bicara barang sepatah dua patah kata lagi. Mungkin ia merasa buntu menghadapi sikap Panji yang baru kali ini ia ditemui.
Tak lama ada langkah kaki mendekat. Dua orang di luar sana saling berbisik lalu Panji dengar salah satunya melangkah pergi. Dan kemudian Panji tau siapa yang baru saja datang melalui suaranya.
"Aksa...."
Itu Ayah.
"Gak apa kalau gak mau keluar. Ayah bicara dari sini aja."
Ada jeda beberapa saat sebelum akhirnya Ayah bersuara lagi.
"Ayah minta maaf kalau keputusan kami menyakiti kamu. Tapi, Nak, kamu harus tau bahwa setiap orangtua hanya ingin yang terbaik untuk anaknya."
Terdengar helaan nafas Ayah yang penuh lelah. Panji mengangkat sedikit mukanya hanya untuk menemui kegelapan dalam kamarnya.
"Selama ini Ayah berpikir kalau kita bisa sepenuhnya lepas dari bayang-bayang masa lalu itu. Tapi nyatanya mimpi buruk yang tidak kami harapkan itu menghantui kamu disetiap malam. Kamu terlalu sering berkata baik-baik saja sampai kami lupa tentang betapa rapuhnya kamu. Kami terlalu sibuk pada banyak hal sampai melupakan sedikit luka yang mengundang banyak rasa sakit pada kamu."
Panji merasakan matanya menghangat dengan kelopak memberat. Ia dengar Ayah terbatuk pelan lalu menghela nafas dengan lirih.
"Panji, jika kamu sakit jangan ditahan, kalau kamu sedih utarakan, apabila kamu marah luapkan. Jangan pendam semua sendirian. Ayah merasa gagal begitu tau kamu yang kerap terjaga ditiap malam menangisi luka yang sama, padahal siangnya kamu tersenyum dan berkata baik-baik saja. Panji..."
"... maafkan Ayah, Nak."
Dengan begitu saja, sesak yang ditahan Panji meluap keluar bersama isak tangisnya. Ia membenamkan wajah dalam-dalam dilipatan lengan dengan tangis yang tak dapat lagi ia tahan. Tangis pilu Panji mengalun di sepenjuru rumah mereka membuat tak satupun dari mereka berani untuk bergerak barang sedikit saja. Bahkan untuk sekedar mengambil nafas dari udara, rasanya begitu penuh beban.
Dalam tangisnya Panji tergugu, dengan nafas tersengal ia terus mengulang satu nama itu.
"Eksa...."
Dan seharusnya mereka sadar lebih awal, bahwa tidak ada seorang pun dari mereka yang benar-benar terlepas dari kenangan hitam yang meninggalkan lebam membiru di sudut hati masing-masingnya.
<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<
Pandu Areksa Wardana.
Ditilik dari segi manapun, sama sekali tidak ada celah bagi siapapun untuk mampu membedakannya dengan sosok Panji. Pandu yang tak lain adalah saudara kembar Panji, benar-benar sama persis dengan Panji dibeberapa hal. Yang membedakan mereka hanyalah ketika Panji sibuk menggores diatas kertas, Pandu justru larut dalam melodi tuts piano yang ditekannya.
Ah, ya, satu lagi hal yang membedakan saudara kembar ini. Yaitu Panji yang bebas melakukan yang ia inginkan, sedang Pandu yang terikat akan pil obat-obatan dan berbagai alat penunjang kehidupan.
Pandu lahir dengan ketidakberuntungan dalam tadkdirnya. Ketika saudara kembarnya terlahir sehat dengan organ lengkap, ia justru mendapat tubuh yang lemah tanpa pankreas. Didukung dengan kondisi jantung yang tak memungkinkan, dan Pandu dibuat harus merelakan hidupnya terkurung dalam pengobatan tiada akhir.
Awalnya semua baik-baik saja. Pandu bisa bertahan dengan beberapa bantuan. Keluarga kecil mereka begitu damai tinggal di perumahan pinggir kota Vyen. Lalu kondisi Pandu memburuk, obat-obatan tidak membantu sehingga ia harus mendapat perawatan intensif di rumah sakit.
Hingga kemudian tawaran kerja itu datang pada Ayah. Seorang petinggi negri yang juga sahabat Ayah mengajak Ayah untuk bergabung dalam proyek yang dikembangkannya.
Sahabat Ayah, Argus De Fornax, yang menjabat sebagai menteri militer saat itu, merencakan sebuah teknologi untuk menyelamatkan para narapidana. Mungkin ide itu terbilang gila, dia menginginkan alat yang dapat mengobrak-abrik pikiran sesorang. Argus menginginkan alat yang bisa menjalankan seseorang untuk bertindak berdasar aturan-aturan yang diterapkan. Dia menginginkan para manusia yang mendekam dibalik jeruji besi mengabdi untuk negara, disamping ia harus memastikan semua tetap terkendali. Dan Argus butuh proyek ini untuk mewujudkan rencananya.
Dengan menimang satu dan lain hal, Ayah yang telah lama mundur dari profesinya, akhirnya kembali lagi menjadi Ilmuan jenius yang dicari-cari dunia. Tapi, kali ini ia kembali diam-diam. Proyek mereka adalah rahasia negara yang dijaga ketat keamanan dan kerahasiaannya.
Dan begitulah awal mula Panji mulai ikut orangtuanya bepergian keberbagai tempat untuk beberapa urusan. Pandu juga dipindahkan ke lab tempat Ayah melakukan penelitiannya, dia juga dirawat langsung oleh dokter terbaik negri itu berkat koneksi dari Argus.
Disaat Ayah memulai penelitiannya dengan Bunda yang senantiasa mendampingi, Siena menemukan tujuan besar di tanah kelahiran ibunya yang tak lain adalah tempat Ayah melakukan penelitian. Panca waktu itu ikut-ikut Siena saja. Dua saudara tertua Panji itu memilih tinggal bersama salah satu kerabat Bunda disana. Sementara Panji yang waktu itu masih berusia tiga tahunan, tidak bisa lepas dari kedua orang tuanya.
Tahun pertama semua berjalan lancar. Pandu juga semakin membaik. Panca dan Siena sibuk dengan dunia baru yang mereka jelajahi di luar sana. Panji seperti biasa ikut Ayah dan Bunda keberbagai tempat untuk melengkapi bahan penelitiannya. Dan Bunda mulai tergelitik untuk menulis kembali dengan kisah keluarga mereka sebagai bahan karyanya.
Tahun kedua masih sama. Ayah dan Bunda masih pada rutinitas berpindah-pindah tempat mereka. Pandu yang selalu murung di tinggal di lab kini lebih ceria karena mendapat teman. Namanya Regan, putra bungsu Argus. Panji hanya sering melihatnya dari jauh lantaran ia tak suka dengan kehadiran orang baru diantara dia dengan saudara kembarnya.
Tahun ketiga. Proyek dibawah naungan Argus berjalan 37% dan novel terbaru Bunda selesai dengan ending yang begitu indah. Panji masih ikut Ayah dan Bunda kesana kemari, sesekali pulang ke rumah kecil mereka di Kawasan Perumahan Batara. Kadang juga Panji mengunjungi dua kakaknya yang semakin cemerlang mengikuti jejak Ayah dan Bunda.
__ADS_1
Hingga kemudian, saat baru memasuki tahun ke empat, kekacauan itu terjadi. Panji masih terlalu kecil untuk mengerti kondisi waktu itu. Yang jelas banyak kerumitan terjadi. Hingga insiden mengerikan itupun Panji alami.
Waktu itu tengah malam, Panji menemani Pandu yang katanya tidak bisa tidur. Mereka bicara banyak hal, tepatnya hanya Panji yang heboh menceritakan apa-apa saja yang ia alami diluar sana. Sementara Pandu menjadi pendengar yang baik, sesekali tertawa merasa terhibur dengan cerita kembarannya.
Dua anak itu tidur bersebelahan di ranjang milik Pandu. Lampu dimatikan membuat mereka dengan leluasa melihat pemandangan lampu-lampu kecil di langit-langit ruangan yang disusun sedemikian rupa hingga menyerupai gugusan bintang.
Hingga suasana romantis kakak beradik itu berubah menegangkan ketika alarm kebakaran berbunyi. Bersamaan dengan itu asap mulai memasuki ruangan rawat Pandu membuat dua bersaudara yang ada di dalamnya dilanda kebingungan. Ayah dan Bunda pergi entah untuk urusan apa, Panji ditinggal di lab bersama Pandu. Dan yang Panji kecil ingat, Ayah dan Bunda berpesan agar ia tak nakal dan tetap bersama Pandu sampai mereka kembali.
Namun, Pandu berbeda dari Panji. Meski orang-orang sulit membedakan mereka berdua, tapi Panji jauh berfikir lebih kritis ketimbang Panji. Bahkan dikondisi itu ia sudah bersiaga dengan berlari mengunci pintu saat mendengar suara tembakan dari luar.
Pandu menyeret Panji bersembunyi di lemari pakaiannya. Ia bahkan masih sempat menenangkan Panji disaat-saat ia sendiri merasa cemas luar biasa.
"Eksa! Eksa!"
Bukan Ayah ataupun Bunda. Tapi Pandu mengenal pemilik suara serak itu. Jadi, ia berlari menuju pintu dan mengintip di celah yang ada pada pintu. Dilihatnya Dokter Edward, pria tua yang menangani pengobatan dirinya ikut mengintip di celah itu dari luar.
"Eksa, dengar, apapun yang terjadi jangan pernah buka pintunya. Dan sembunyi di tempat paling aman. Mengerti?"
Pandu hanya mengangguk, ada banyak yang ingin ia tanyakan tapi ia terlalu takut untuk bicara.
"Eksa pintar. Semua akan baik-baik saja, pasti akan baik-baik saja."
Lagi-lagi Pandu mengangguk dengan patuh.
"Sudah, cepat sembunyi. Ingat! Jangan pernah keluar! Apapun yang terjadi!" Di luar Dokter Edward seperti menahan tangis, mengingat anak kecil yang malang seperti Pandu harus terlibat dalam insiden mengerikan ini.
Ledakan dibeberapa sisi lab terdengar. Langkah kaki segerombolan orang mendekat. Dokter Edward bergegas melempar diri sebagai umpan untuk menyelamatkan pasien kecil yang telah mengambil tempat di ruang hatinya itu. Dengan menahan tangis Pandu berlari tertatih menuju adiknya yang meringkuk dalam lemari. Ia lihat Panji sama ketakutannya.
"Eksa—"
Kata-kata Panji terputus saat terdengar dentuman keras di pintu. Seseorang berusaha mendobraknya dari luar. Lantas, entah mendapat keberanian dari mana, Pandu melepas kalung pemberian Ayahnya dan memakaikan pada Sang Adik. Setelahnya ia mengunci adiknya dalam lemari itu bersamaan dengan pintu yang terlepas dari engselnya dan menampakkan segerombolan orang bersenjata memasuki ruangan.
Hanya butuh sepersekian detik tanpa Panji sempat mencerna apa yang terjadi saat suara tembakan terdengar dan dari celah lemari, ia dapati tubuh kecil Pandu bersimbah darah tergeletak tak berdaya di lantai.
"EKSA!!!"
Orang-orang misterius bersenjata itu sedang mengobrak-abrik ruangan tersebut saat Panji memekik histeris. Salah seorang dari mereka mendobrak paksa pintu lemari dari luar membuat Panji yang terkurung di dalamnya terluka karena hantaman keras itu juga serpihan kayu yang menembus kulitnya. Ia ditarik keluar tanpa belas kasihan lalu di todong dengan senjata api.
Panji masih menangis. Terlebih saat melihat Pandu yang meregang nyawa didekatnya, ia makin histeris. Dia tidak peduli pada bahaya yang mengancam nyawanya. Dengan tangan gemetar ia meraih Pandu yang bersimbah darah. Dingin. Tubuh Pandu dingin. Panji menangis dengan lebih keras lagi.
Namun anak itu tidak diberi kesempatan bersedih lebih lama saat tubuhnya ditarik paksa. Ia diseret dan di lempar kehadapan seseorang yang sepertinya ketua dari kelompok itu. Orang itu berjongkok dihadapan Panji. Tangannya meraih bandul bulan sabit hitam di kalung yang Pandu berikan untuk Panji.
"Mana pasangan kalung ini?" tanyanya halus namun penuh intimidasi.
Panji tidak menjawab. Hanya menangis tanpa henti. Anak kecil berusia enam tahun dalam kondisi mengerikan seperti itu, mana bisa ia menjawab pertanyaan orang itu. Satu-satunya yang Panji pikirkan hanya menepis dengan kasar tangan besar yang ingin merebut kalungnya.
"Jangan sentuh!" Teriaknya.
"Harusnya kamu lebih patuh, bocah," geram orang itu. Lantas tanpa belas kasihan tangannya melayang menampar Panji hingga anak itu terjatuh ke lantai. Ia ingin mempercepat semuanya lantas segera ingin mengambil kalung di leher Panji yang merupakan kunci untuk mencapai tujuannya. Namun anak itu dengan tangan gemetar masih berusaha melindungi kalung pemberian saudara kembarnya.
"J-jangan sentuh.... Ini punya Eksa," lirihnya dengan suara lemah membuat orang itu semakin geram.
Orang tersebut mengambil alih pistol di tangan anak buahnya yang berjaga disekitar sedari tadi. Bersiap menarik pelatuk pistol yang ia arahkan ke kepala Panji yang meringkuk kesakitan di lantai.
Panji yang masih berusaha merangkak meraih raga Pandu yang tak lagi bernyawa, sama sekali ia tidak peduli dengan nyawanya sendiri yang terancam bahaya. Dengan tangis pilu ia mengguncang tubuh Sang Kakak yang lebih tua beberapa menit darinya itu.
"Hiks, Eksaaa...."
Nasib baik berpihak pada anak malang itu. Peluru lain mendahului tambakan yang tertuju ke ke kepalanya sehingga tembakan yang di arahkan padanya meleset. Sebaliknya, orang yang semula mengarahkan pistolnya pada Panji mengerang kesakitan saat timah panas itu bersarang di lengan bawahnya.
Aksi tembak menembak dan pukul memukul itu terjadi. Perkelahian tidak seimbang belasan orang melawan satu orang yang tak lain adalah Argus. Kebolehan Argus sebagai seorang mentri militer terbukti jelas disini. Ia dengan mudah menumbangkan belasan lawannya kemudian segera mengahampiri Panji yang meraung di dekat raga tak bernyawa Pandu.
Argus seakan dipaksa menelan pil pahit saat tangannya tak kunjung menemukan denyut di nadi Pandu. Tidak ada nafas yang berembus keluar masuk dari hidung anak itu. Ia merasa dunianya runtuh saat kesimpulan itu sampai padanya. Pandu telah tiada. Sejenak Argus terkesiap tanpa tau harus berbuat apa.
Suara ledakan lainnya membuat Argus tersadar. Sayangnya itu sudah terlambat saat belasan orang bersenjata lengkap datang berbondong-bondong menudingkan senjata mereka tanpa aba-aba. Argus tidak sempat berfikir, badannya bergerak berdasar insting. Dengan spontan dia merengkuh Panji dengan erat saat peluru datang menghujani mereka.
Panji terlalu lelah dan menderita banyak luka, ia tak sadarkan diri saat Argus merengkuh tubuhnya. Hanya sayup-sayup ia dengar suara tembakan bersahut-sahutan, jerit kesakitan yang melengking di udara, kobaran api yang melahap tiap bagian secara perlahan. Lalu, ditengah kebisingan itu Panji mendengar teriakan panik Ayahnya. Dan setelahnya ia tidak tau lagi apa yang terjadi.
Bala bantuan datang meringkus pelaku dan mengevakuasi korban. Ratusan orang yang bekerja di lab meninggal termasuk di dalamnya Dokter Edward, Pandu, dan Argus. Dalang dari penyerangan ini adalah kelompok ******* yang telah lama menjadi momok bagi negara. Mendengar kabar penelitian yang di lakukan Argus bersama Sahabatnya yang merupakan Ilmuan muda yang sempat mendunia dulunya, kelompok itu berniat mengambil alih penelitian tersebut. Namun, di insiden kali ini kelompok mereka berhasil dimusnahkan.
Tetapi, kejadian besar tersebut dirahasiakan dari publik. Pemerintahan merekayasa kematian Argus. Mentri Militer itu dinyatakan meninggal dalam sebuah kecelakaan pada perjalanan dinasnya. Penelitian dihentikan dan semua kasus ditutup dengan dieksekusinya seluruh yang terlibat bersama kelompok ******* yang menjadi dalang penyerangan itu.
Karena insiden ini, Panji kehilangan sebagian ingatannya akibat trauma yang di alaminya. Dan kemudian secara perlahan ia menarik diri dari semua orang dan menetap di rumah kecil mereka di pinggiran kota Vyen. Sejak saat itu pula Panca jadi sering bepergian kesana kemari, pergi kemana saja demi menghapus jejak menyakitkan yang tertinggal setelah kepergian Pandu. Sedang Siena lebih memilih menetap disana, masih mengais ruang kenang tentang sang adik yang pergi begitu tiba-tiba.
Penelitian Ayah dihentikan. Bunda juga tidak menerbitkan buku yang ia tulis sepanjang penelitian dilakukan. Awalnya mereka kembali ke pinggiran kota Vyen, ke kawasan yang mereka bangun saat kelahiran anak pertama mereka. Kawasan itu dinamai Kawasan Perumahan Batara, karena memanglah keluarga Batara pemiliknya.
Tapi, seiring berjalannya waktu Ayah dan Bunda meninggalkan kenangan kelam yang pernah menimpa keluarga mereka. Lantas kembali pada aktivitas bepergian. Penelitian tentang proyek bersama Argus memang diberhentikan. Tapi, Ayah memutuskan untuk tetap berkecimpung dalam dunia sains dengan laboratorium miliknya yang ia bangun sendiri.
Dan Panji... bertahun-tahun ia terjebak dalam ruang kosong menyiksa tanpa ada seorang pun menyadarinya.
__ADS_1