
KANVAS 14
[MAAF EKSA...]
/•
\•/
Selama ini Jordan tak pernah memiliki alasan untuk menyukai seseorang. Dia hanya tiba-tiba merasa bahwa orang itu berbeda, lalu dengan otomatis otaknya menyimpulkan itu sebagai rasa suka. Maka, saat Siena menanyakan alasannya menyukai gadis itu, dia hanya menjawab dengan mengedikkan bahu.
"Serius, Jo! Apa yang bikin lo suka sama gue?"
Diam sebentar, Jordan lalu menjawab enteng, "Apa aja boleh."
Siena menyerah, "Gak guna banget lo suka sama gue, buang-buang waktu."
Jordan yang sedang main game di ponselnya menyahut, "Dulu waktu gue naksir kakel di SMP, gue dibikin patah hati karena dia malah pacaran sama orang lain. Gue sampai kepikiran buat bikin aplikasi yang bisa buat kita tau jodoh kita itu siapa. Saking depresinya gue waktu itu. Capek kan kalau kita suka orang sana sini, eh ternyata dia jodoh orang lain."
Siena yang semula sibuk mengaduk-aduk es teh manisnya kemudian menoleh menatap Jordan yang berbicara acuh tak acuh sambil main game. Entah halusinasinya atau bagaimana, sekilas ia menangkap makna getir di ucapan lelaki itu.
Posisi mereka kini sedang nangkring di warung bakso dekat apartemen Siena. Mangkok kosong di hadapan dua orang itu menandakan bahwa mereka baru saja selesai menikmati makanan itu. Tapi, dari awal mula mereka datang sampai sekarang raut Siena tampak lebih kusut dari biasanya. Kernyitan di antara alisnya tak menghilang walau perutnya kembung kekenyangan. Air mukanya keruh meski es teh yang ia minum sangat menyegarkan dahaga.
"Na, bukan soal perasaan gue kan yang bikin lo rewel begini?" Kali ini Jordan meletakkan ponselnya ke meja lalu menatap serius ke arah Siena.
Gadis itu mengibaskan tangan kanannya sementara tangan kiri menopang dahi. Kentara sekali ia tengah berpikir keras tentang sesuatu namun tak kunjung mendapat jawaban.
"Lo tau, Na? Manusia itu dilahirin gak cuman modal otak doang buat ngelanjutin hidup. Kita juga dibekalin dengan perasaan yang menurut gue itu negebebanin banget. Tapi, Na, lo bisa bayangin gak kalau kita hidup tanpa perasaan yang ribet banget itu?"
Detik ini, Siena tersentak. Benar-benar membayangkan peradaban manusia yang tidak mengikutsertakan hal bernama perasaan. Luka ya biarlah luka, sakit ya diabaikan saja, mati tinggal mati, bunuh tinggal bunuh. Heh! Pasti berjilid-jilid aturan pun tak berguna.
"Lo bikin aplikasi yang buat nemuin jodoh itu aja, deh! Jangan suka-suka gue lagi, gue sibuk!" Tukas Siena pada akhirnya. Ia meraih tasnya lalu melenggang pergi dengan langkah lesu. Perihal bakso tadi sudah dibayar dimuka jadi dia tidak perlu repot memikirkan hal itu lagi.
Jordan tidak menyusul. Dia hanya terpaku untuk beberapa saat hingga kemudian mengetikkan sesuatu di ponselnya.
<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<
|Gue gak bakal suka-suka lo lagi, kok.
|Tapi, kalau cinta boleh kan?
Siena menjatuhkan dirinya ke sofa begitu memasuki apartemen. Dengan mata setengah terpejam ia mengetikkan balasan untuk pesan Jordan.
|Mamam tuh cinta!🍑
Setelahnya ia membiarkan ponselnya tergeletak di lantai. Ia menutupi matanya dengan sebelah lengan berniat tidur tapi malah terngiang-ngiang tangis Panji tempo hari. Siena bingung harus berbuat apa lagi dengan adiknya itu. Panji tidak mau bicara pada siapapun di rumah. Dia bersikap seolah tidak terjadi apa-apa, namun Siena tau 'Panji tuh apa-apa!'.
Kemarin siang Siena berniat bicara lagi dengan adiknya itu. Dia sudah masuk ke kamar Panji, tapi saat mendapati Panji berjongkok di balkon memberi makan kucing-kucingnya Siena langsung mundur dan menutup pintu begitu saja. Dan omongan yang Panji lontarkan pada kucing-kucingnya terus terngiang di telinga Siena.
'Yen, aku kangen Eksa.'
Ingatan Panji kembali. Mimpi buruk itu memburu keluarga mereka lagi. Siena merasa benar-benar buntu untuk memahami Panji di tahap ini. Dia merasa sangat tak berguna, terlebih ketika tanpa sengaja didapatinya bekas memerah di lengan Panji pagi tadi. Bahkan sekedar bertanya pun ia tak berani.
Dalam hening itu Siena merasakan basah di kedua kelopaknya. Lantas dengan penuh keputusasaan ia bicara pada udara yang hampa.
"Maaf Eksa, ternyata tak semudah itu kami sembuh dari luka tentang kamu."
<<<<<<<<<<<<<<<<<
Sore ini langit tampak jingga, namun angkasa mengurai tangis membasahi bumi. Panas siang tadi menguap seiring tetes demi tetes air hujan turun perlahan. Dalam nuansa syahdu itu ketiga kucing Panji berjejer di dekat terali balkon. Salah satu dari mereka sedang menjilati bulu-bulunya, sedang dua lainnya duduk dengan raut suram. Hujan membuat mereka tidak bisa turun untuk bermain dalam area perkebunan di bawah sana. Dan lagi, hujan membuat pemilik mereka mendekam di balik selimut ketimbang bermain bersama mereka seperti biasanya.
Derit pintu dibuka membuat telinga ketiga kucing kecil itu tegak dengan semangat. Mereka berlari masuk melalui pintu yang terbuka dan menyambut Panca yang barusan membukakan akses untuk mereka masuk ke kamar Panji.
Awalnya Panca berniat mengandangi peliharaan adiknya itu. Tapi melihat mereka mendusel-dusel di kakinya ia jadi tidak tega. Maka ia biarkan kucing itu bermain sepuasnya dulu dalam kamar Panji ini.
Membiarkan tiga anak kucing itu memainkan peralatan lukis Panji, Panca lalu mengambil tempat untuk duduk di pinggir ranjang dekat kepala adiknya yang menyembul dari balik selimut. Panji memang memejamkan mata, tapi Panca yakin anak itu tak sepenuhnya tidur.
__ADS_1
Maka saat ia mendapati keberadaan sepasang kalung berbandul hitam, dia memulai pembicaraan.
"Kamu ingat waktu cerita ke Abang kamu sedih gak dikasih hadiah sama Ayah padahal Eksa dikasih?"
Pertanyaan Panca ini terasa penuh kenangan sekali di telinga Panji. Ia membuka mata dan mendapati Panca tengah menunduk menatap dua kalung di genggamannya.
"Kalau dipikir-pikir kalian berdua itu dulu lucu banget. Kamu langsung nangis-nangis minta maaf ke Eksa pas tau ternyata Ayah juga ada hadiah buat kamu, kamu merasa bersalah karena udah cemburu sama Eksa. Kalian romantis banget sampai gak sadar kami nontonin dari luar. Apalagi pas Eksa meluk dan ngusapin air mata kamu," cerita Panca kemudian tertawa hambar. Ia meletakkan kalung yang dipegangnya ke tempat semula. Lalu beralih pada Panji yang menatap kosong sedari tadi.
Saluran pernapasan Panca bagai tersumbat saat dilihatnya Panji tersenyum tipis penuh kegetiran. Tangannya terulur untuk mengusap kepala adiknya itu, namun malah berujung menggantung di udara lantaran kata-kata yang Panji ucapkan memukulnya telak.
"Dia memang Kakak terbaik buat aku."
Salah satu kucing Panji menggapai naik lalu berjalan di atas tubuh Panji yang tertutup selimut. Makhluk mungil itu menggeliat manja di dekat wajah Panji dan menjilati permukaan kulit pemiliknya itu. Dua kucing lainnya ikut menyusul naik. Sayangnya, mereka tak sempat bermain-main saat Panji keluar dari balik selimut dan membawa mereka untuk masuk kedalam kandang.
Setelah mengisi kotak makan ketiga anak angkatnya itu, Panji mengunci kandang mereka dan berbisik pelan.
"Udah malam, besok lagi mainnya."
Sementara Panca hanya terpaku di tempatnya. Netranya menatap Sang Adik yang berjongkok di depan kandang kucing memperhatikan ketiganya berebutan makanan. Setelah mengusap kasar wajahnya, Panca beranjak keluar tanpa bicara apa-apa.
Sampai di depan pintu kamar Panji, tepat setelah pintu kayu itu ia tutup Panca luruh begitu saja. Ia berjongkok dengan kedua tangan menutup wajahnya. Sementara dari sela jemarinya yang panjang, mengalir cairan bening nan hangat.
Panca pikir ia siap menjadi Kakak, namun ternyata beban anak tertua terlalu memberatinya. Ia tidak mampu menjadi tameng untuk adik-adiknya, bahkan sekedar menjadi tempat persinggahan pun ia tak bisa. Panca merasa gagal dengan dirinya. Sebagai kakak ia tak bisa, untuk dijadikan teman mengobrol pun dia dianggap tak memenuhi kriteria, apalagi menjadi pelindung untuk keluarganya, sama sekali Panca tidak memenuhi kelayakan untuk itu.
Bahkan disaat ia seharusnya menjadi penyembuh atas luka adik-adiknya, Panca justru membenamkan dirinya dalam luka yang sama. Dia pikir dirinya bercanda dan tertawa selama karena luka itu berhasil ia obati. Namun nyatanya ia salah. Bagaimana ia bisa sembuh kalau yang ia lakukan bukanlah mengobati?
Bertahun-tahun.... Bertahun-tahun lamanya Panca dengan bodoh menyeret dirinya dalam pelarian tanpa henti.
'Maaf.... Maaf karena kalian harus menjadi adik dari pecundang ini.'
<<<<<<<<<<<<<<<<
Suasana ruang tengah rumah Alena begitu mencekam setelah Alena meloloskan sebuah vas untuk beradu dengan kerasnya lantai. Sementara di hadapannya Adimas menatap nyalang ke arah dirinya.
"ALENA!"
"Belajar dari mana kamu membangkang seperti itu pada orangtua?!"
"Papa gak ada merasa malu sama sekali masih menganggap diri sebagai orangtua? GAK ADA ORANGTUA YANG MEMPERLAKUKAN ANAKNYA TAK LEBIH DARI SEKEDAR ALAT PEMERLUAS KEKUASAAN!!"
Diteriaki anaknya, emosi Adimas makin bergejolak. Wajahnya memerah karena amarah, begitu saja ia mengangkat tangan bersiap melayangkan sebuah tamparan.
"CUKUP!"
Kakek yang dari tadi hanya diam akhirnya turun tangan. Ia menatap marah pada anak tunggalnya itu, seumur-umur ia hidup belum pernah ia main tangan dalam mendidik anaknya. Dan bisa-bisanya anak itu memilih kekerasan terhadap cucunya untuk menyelesaikan persoalan.
Sementara Alena melihat Ayahnya yang tanpa beban berniat melayangkan tangan padanya, dibuat syok. Selama ini ia tumbuh dalam asuhan Nenek dan didikan keras Kakek. Namun, sekeras apapun Kakek terhadapnya, pria tua itu sama sekali tidak pernah berlaku kasar pada dirinya. Dan sekarang, bisa-bisanya Ayahnya sendiri....
Alena menggigit bibir, perdebatan Kakek dan Adimas tak terdengar olehnya. Kepalanya ramai oleh suara-suara yang berseliweran. Dengan pandangan memburam menahan tangis ia menatap Adimas penuh kebencian.
"Apa Papa pernah mengharapkan kelahiran aku ke dunia ini? Apa Papa pernah berbahagia barang sebentar saja dengan hadirnya aku dalam hidup Papa? Apa Papa tidak ada niatan untuk benar-benar menjadi seorang ayah yang layak untuk anak Papa?"
Nenek merangkul Alena untuk menenangkannya namun Alena menepis dengan kasar. Ia mengusap bulir yang tiba-tiba merebak dari matanya. Sementara Adimas terdiam, dan Kakek memilih untuk duduk di sofa dengan ekspresi dingin.
"Kalau Papa sebegitu bencinya, HARUSNYA JANGAN BIARKAN AKU TERLAHIR DAN HIDUP SEPERTI SAAT INI!!!"
Hancur. Seperti kepingan vas yang dibantingnya, Alena hancur berkeping-keping. Tangisnya tidak tertahan. Dadanya terlalu sesak menyadari bahkan Adimas tidak ada niatan untuk menyangkal sedikitpun. Bahkan setitik cahaya penyesalan saja tak tampak dari matanya.
Merasa benar-benar malang, Alena lantas berjongkok dengan kedua tangan menutup mukanya rapat-rapat. Lalu tanpa peduli apapun lagi, ia menagis keras disana.
"Bukan inginku juga kalau Mama meninggal saat aku lahir. Aku sama sekali tak pernah mengemiskan untuk hidup seperti sekarang ini. Aku...." racau Alena putus asa dan kemudian kehilangan kata-kata untuk mengungkapkan luka yang membusuk di dadanya. Ia beralih melipat lengan di atas lutut dan membenamkan wajahnya disana. Dalam posisi itu Alena memeluk dirinya erat-erat, berbisik pada dirinya sendiri untuk tetap baik-baik saja.
Namun ternyata luka akibat belati yang dihujamkan Ayahnya menganga terlalu lebar. Alena kesulitan nenutupinya seorang diri. Dan fakta bahwa tak seorangpun akan membantunya membuat ia menangis tergugu dengan pilu.
"Aku benci Papa.... Benci! Benci! Sangat benci!"
__ADS_1
<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<
BRAK!
Adimas menutup pintu ruangannya dengan kasar. Segala furnitur yang tertata rapi di sudut ruangan menjadi sasarannya. Hanya dalam satu gerakan benda-benda itu berjatuhan ke lantai menimbulkan suara bising yang memekakkan telinga. Namun hal itu sama sekali tak mampu mengusir tangis Alena yang terngiang-ngiang di telinganya.
"Chris!"
Asisten Adimas yang berjaga-jaga di luar dengan was-was sedari tadi segera masuk begitu namanya di panggil. Ia menunduk hormat menunggu perintah dari atasannya itu.
"Kosongkan semua jadwal saya hari ini!"
Setelah menerima titah Adimas, Chris beranjak pergi. Sampai di depan pintu ia akhirnya bisa kembali bernafas dengan bebas. Berada satu ruangan dengan Adimas yang dalam mode marah-marah membuat pasokan oksigennya menipis.
"Kapan aku bisa cuti...."
Berbeda dengan Chris yang meratapi nasib malangnya menjadi bawahan Adimas. Orang itu kini justru masih berusaha mati-matian menahan gejolak amarah dalam dirinya.
Fakta bahwa Alena menuruni dengan sempurna lekuk wajah mendiang istrinya membuat Adimas tak mampu menahan benci saat berlama-lama menatap anak itu. Dan Adimas benci mengakui, bahwa Ibu dari anak itu berhasil meluluhlantakkan hatinya.
Adimas terduduk di lantai yang dingin. Nafasnya tersengal. Lantas ketika mendapati figura Sang Istri yang ia pajang di dinding kantornya membuat ia makin tercekat.
"Setelah kamu buat saya menjadi orang paling bahagia di dunia, lalu kamu hancurkan saya hingga menjadi manusia paling menyedihkan di muka bumi," lirihnya mendongak menatap potret istrinya yang tersenyum cerah ke arah kamera. Dan Adimas mengutuk matanya yang tiba-tiba memanas hingga cairan bening itu meleleh tanpa bisa ia cegah.
"Bisa-bisanya kamu pergi tanpa ada rasa bersalah sedikitpun telah membuat saya seperti ini."
<<<<<<<<<<<<<<<<<<
Ingatkan Regan untuk menandai hari ini di kalender sebagai hari keberuntungannya. Ia dalam suasana hati yang baik saat menuruni tangga dengan selembar brosur di tangan kanannya. Bahkan Regan tanpa ragu-ragu tersenyum pada setiap maid yang ia temui dan menyapa mereka dengan ramah.
Regan mempunyai tujuan pasti dalam langkah mantapnya. Ia bergerak menuju ruang baca tempat ibunya biasa menghabiskan waktu di sore hari seprti ini. Tanpa ada kata pengantar apapun Regan meletakkan brosur yang ia bawa ke atas meja tempat ibunya sedang membaca ditemani secangkir teh.
"Aku mau ikut kontes piano," lugasnya begitu lancar. Sebelum ibunya sempat berkomentar ia kembali bicara, "Mama setuju atau tidak aku akan tetap pergi. Aku hanya memberitahu kalau aku tidak akan bersembunyi seperti pengecut lagi."
Kepala pelayan yang berdiri di belakang Ibunya sedari tadi dibuat was-was karena ia tau benar hal yang baru saja Regan bahas adalah tabu bagi Irine. Terbukti dari bagaimana Irine menutup bukunya dengan kasar lantas menatap tajam putranya itu.
Tapi Regan lebih dulu mengangkat tangan mencegah ibunya bicara, sambil melirik jam tangan ia bicara dengan enteng, "Ah, aku hampir telat. Bye, Ma."
"Regan!"
Irine menggebrak meja dan berdiri dengan marah saat Regan dengan santai melangkah pergi tanpa memberi ia kesempatan bicara. Sedang Regan yang semakin menjauh dari tempat ibunya berada diam-diam merasa lega. Akhirnya ia bisa melakukan apa yang selama ini ia pikirkan, memberontak. Ia bersenandung senang meninggalkan area rumahnya. Di luar pagar yang menjulang tinggi itu, ada orang-orang yang menunggu Regan dengan berjuta mimpi yang akan mereka wujudkan.
"Wah, Xander, abis menang lotre, ya?"
Regan baru saja mendudukkan diri di bangku penumpang depan dalam mobil milik Damian saat Alec dan Alan yang duduk di belakang melongok penasaran ke arah dirinya. Regan tergelak saja, tidak menjawab pertanyaan temannya itu. Ia hanya menopang dagu memandang keluar jendela saat mobil mulai dijalankan. Senyum puas di sudut bibirnya terbit kala ia teringat ucapan Sang Papa belasan tahun lalu.
'Membangkang itu juga bagian dari pertumbuhan.'
Seharian itu Regan sama sekali tidak bisa berhenti tersenyum akan rasa lega yang membuat dadanya terasa lapang. Dan sedikitpun ia tidak tau bahwa setelah kepergiannya Aaron datang pada ibu mereka dengan penuh intimidasi.
"Biarkan Regan melakukan apa yang ia inginkan. Aku saja sudah cukup untuk keluarga ini."
Selang beberapa detik Aeera juga muncul sambil meniupi kukunya yang baru ia beri kutek warna hitam, "Jangan sampai Mama menghancurkan adikku seperti Mama menghancurkan adik Mama sendiri. Regan milik kami, Mama jangan ikut campur."
Seandainya Regan mendengar hal itu, apa yang akan ia lakukan? Akankah ia menangis tersedu-sedu seperti saat-saat dimana ia menangis tiap kali Sang Papa datang menyelamatkannya dari aturan ketat Sang Mama? Regan yang berpikir bahwa ia sendirian selama ini, ternyata memiliki Kakak yang begitu menyayangi dirinya.
Aaron yang mati-matian melakukan yang terbaik sebagai kepala keluarga. Aeera yang mengorbankan masa remajanya mengurusi bisnis keluarga. Mereka yang mati-matian mengorbankan diri mereka demi Sang Adik yang begitu mereka cintai. Berkata tiap kali lelah mendera, 'Tak apa, setidaknya dengan ini adikku akan baik-baik saja'.
Andai Regan tau semuanya, ya andai saja....
Namun sayangnya ia terlalu sibuk menatap dirinya sendiri sampai lupa memperhatikan sekitar. Regan yang terlalu bergantung pada Sang Papa, terlarut dalam kesedihan akan kehilangan selama bertahun-tahun. Sampai ia lupa bahwa Argus pernah berbisik dengan amat menenangkan di telinganya,
'... bahkan jika kamu kehilangan tangan dan kaki, masih ada dua penyangga yang akan membantu kamu tetap berdiri setegar karang di laut lepas.'
Dua penyangga yang begitu bersuka cita menyambut kelahiran adik kecil mereka. Dua penyangga yang akan mengokohkan pijakan Regan menantang masa depan yang tak terbaca.
__ADS_1
Mereka Aaron dan Aeera.