Kanvas Aksara

Kanvas Aksara
PERIHAL ANAK TERTUA


__ADS_3

KANVAS 15


[PERIHAL ANAK TERTUA]


/•


\•/


Ruangan kamar Panji ramai tidak seperti biasanya. Namun, suasana mencekam turut mendominasi akibat perdebatan sengit di antara Panji dengan Siena. Ketiga kucing peliharaan Panji sampai meringkuk di bawah tempat tidur lantaran ketakutan dengan kakak beradik yang bersitegang itu.


"Aku baik-baik saja, Siena!"


Lagi. Panji memanggil Siena dengan nama depannya lagi menandakan bahwa ia tidak menyukai pembahasan yang dibawa kakaknya itu. Sedang Siena, mendengar adiknya meninggikan suara membuat ia ikut terseret dalam kemarahan.


"Orang bodoh pun tau kalau kamu itu gak baik-baik aja, Aksa!"


Panji mengusap kasar mukanya lantas berjalan ke arah pintu, "Silahkan keluar! Pembicaraan ini gak perlu di lanjut lagi," ujarnya sembari menarik gagang pintu.


Siena tak bergerak dari tempatnya. Ia hanya menatap adiknya putus asa, "Berhenti menjadi keras kepala Aksa. Jangan terus-terusan menyiksa diri kamu sendiri seperti ini."


"DAN BERHENTI BERSIKAP SEOLAH KAMU TAU SEGALANYA!"


Siena terkejut mendapati Panji berbicara dengan membentak. Sementara pada pintu yang telah terbuka lebar, Panca berdiri dalam kecanggungan.


"Ah, ya, aku memang gak tau apa-apa tentang kamu, ya?" Siena tersenyum getir dan mengajukan pertanyaan retoris. Ia tak butuh jawaban, karena nyatanya memang seperti itu. Setengah mati ia berusaha menggali semua tentang Panji, namun sedikitpun tak dapat ia pahami.


Melihat suasana yang semakin runyam Panca mulai mengambil alih untuk menengahi saat dilihatnya Siena akan bicara lagi, "Na—"


Namun Siena tak peduli, dan tanpa menghiraukan Panca ia kembali bicara dengan tercekat, "Tapi, memangnya siapa yang dengan egois menutup diri selama ini?"


Panca tercengang, Siena tak seharusnya berkata begitu. Ia melirik Panji yang tak menampilkan ekspresi apa-apa. Lalu kembali lagi menatap Siena yang memandang tajam pada Panji.


"Nana, Aksa, mari kita bicarakan ini baik-baik."


Tapi seakan keberadaan Panca hanyalah angin lalu di ruangan itu, Panji melangkah mendekati Siena.


"Aku memang seegois itu. Kamu kemana aja sampai ini pun gak tau?" tuturnya dengan suara rendah. Matanya memerah, namun setitik air mata pun tak terlihat disana. Hanya sorot amarah yang tampak menguasai dirinya saat ini. "Kalau kalian bisa egois, kenapa aku tidak?"


"Aksa—"


Lagi-lagi tak ada yang menghiraukan Panca di sini. Ia masih mencoba bersabar saat Siena dengan tajam memotong kata-katanya.


"Siapa yang kamu sebut egois, huh? Kamu merasa kesepian? Kamu merasa  ditinggalkan sendirian? Kamu menganggap kamu yang paling terluka disini? Apa kamu bodoh, Panji?!"

__ADS_1


Siena marah. Berkali-kali lipat sangat marah saat menyebut nama Panji di akhir kalimatnya. Kenapa sulit sekali untuk membuat anak ini mengerti dengan kepedulian orang-orang disekitarnya? Sampai kapan Panji akan terus abai akan orang-orang yang begitu menyayanginya?


Panca memijit pangkal hidungnya mendengar Siena bicara. Kepalanya berdenyut nyeri melihat tak seorang pun dari adik-adiknya mau nemdegarkan dia. Otak Panca makin kusut terlebih ketika melihat tangan Panji yang terkepal penuh amarah.


"Keluarga kamu itu gak cuma Eksa, Panji!"


"Siena cukup!" Panca mulai menaikkan suaranya satu oktaf saat Siena dengan gamblang mengungkit nama Pandu di hadapan Panji. Tapi kemudian ia dibuat kehilangan kata ketika Panji membalas dengan enteng.


"Lantas memangnya kenapa?"


"KAMU BODOH, YA?!!" Siena memekik gemas dengan Panji yang berbicara dengan nada datar. "Apa mencintai Alena membuat otak kamu jadi rusak?! Kenapa—“


"Ini gak ada hubungannya dengan  Alena!!"


"KALIAN BERDUA CUKUP!!"


Akhrinya Panca tak mampu menahan diri lagi. Ia berdiri di tengah-tengah kedua adiknya lalu menatap mereka satu persatu. Setelah menarik nafas dengan berat, ia kemudian berbicara lagi dengan nada suara netral.


"Na, stop it. Jangan bicara lagi lebih dari ini dan membuat semuanya jadi makin rumit," ujarnya lalu menoleh cepat pada Panji, "Dan Aksa, kita harus bicara."


Panji menyahut cepat, "No need to talk about anything. Aku ingin sendiri," tutur anak itu lalu melenggang menuju balkon dan menutup pintu dari luar. Ia berdiri di pinggir balkon bersandar di dekat terali membiarkan kedua kakaknya melihat punggungnya dari jauh.


"Selamat! Lo biarin dia kabur lagi untuk kesekian kali!" sarkas Siena terhadap Panca yang hanya membiarkan Panji pergi begitu saja.


Panca memejamkan matanya sesaat lalu menatap satu-satunya adik perempuannya itu, "Na, kita harus ngertiin kondisi Aksa saat ini—"


"Lo—" Panca kehilangan kata kemudian memijit keningnya dengan frustasi, "—oke lo harus berhenti, itu udah kelewatan, Na!"


Siena mendecih, "Kelewatan? Aditya Panca Batara, lo sadar gak kalau lo itu gak lebih dari pengecut yang terus kabur tanpa henti!"


Amarah langsung menguasai Panca saat Siena memojokkannya dengan kata-kata. Dan dirinya yang tak mampu menyangkal membuat ia benar-benar marah, bukan pada Siena, tidak pada siapapun, tapi pada dirinya sendiri.


Melihat Panca tak mampu membalas kata-katanya, Siena memilih pergi dari sana. Ia dalam suasana hati yang sangat buruk. Bahkan saat ia berpapasan dengan Ayah dan Bunda yang baru pulang, dia sama sekali tidak berhenti. Pertanyaan Bunda ia hiraukan, panggilan Ayah tak ia dengarkan. Hanya dalam beberapa detik kemudian, Siena telah duduk di belakang kemudi meninggalkan Perumahan Batara dengan kecepatan diatas rata-rata.


Hanya dengan itu membuat Ayah dan Bunda segera mengambil kesimpulan, bahwa ada sesuatu yang baru saja terjadi di rumah mereka. Sementara Bunda pergi ke lantai atas melihat Panji, Ayah menuju ke arah gudang mencari sumber suara berisik yang ia dengar.


Disaat Bunda mendapati Panji terisak berlutut di dekat terali balkon, Ayah justru menemui Panca dalam kondisi lebih mengenaskan. Putra tertuanya yang biasanya selalu tampil ceria dan penuh guyonan, kini ia temui memukul dinding gudang dengan frustasi.


Hanya berselang beberapa menit sampai Panca kelelahan dan jatuh perlahan dengan isak tertahan. Dalam sesak yang seakan mampu membunuhnya itu, Panca terus menggumamkan maaf tanpa henti.


Hal yang membuat Ayah urung mendekati putranya dan hanya diam beberapa meter di belakang anak itu tanpa bisa berbuat apa-apa.


"Maaf karena gagal melindungi kalian lagi untuk kesekian kali.... Maaf...."

__ADS_1


<<<<<<<<<<<


Ayah dan Bunda tengah duduk di dipan bambu di teras rumah mereka. Bukan untuk menikmati malam berbintang seperti yang biasa mereka lakukan. Ataupun bersantai menjawab pertanyaan-pertanyaan random Panji seperti waktu dulu. Malam ini, mereka tengah di hantui oleh kekalutan.


Beberapa waktu lalu Panca pergi dari rumah dengan lebam di tangannya sehabis meninju dinding membabi buta. Anak itu tidak bicara sepatah kata pun tentang tujuannya. Sedang Siena belum kembali setelah pergi siang tadi, sepertinya ia pulang ke apartemennya. Dan Panji, anak itu lagi-lagi mengurung diri di kamarnya dan melewatkan makan malamnya lagi.


"Andai aku tak menerima tawaran Argus, apa keluarga kita sekarang akan baik-baik saja?" Ayah berandai-andai dengan mata menerawang ke arah langit. Ia jadi teringat saat beberapa bulan lalu ia juga duduk disini menjawab pertanyaan bungsunya yang penuh rasa penasaran. Ah, Ayah merindukan masa-masa itu.


Bunda yang bersandar di pudak Ayah menepuk pelan lengan suaminya itu, "Jadi kamu menyalahkan Argus?" tanyanya.


Ayah tersenyum pahit, "Tepatnya menyalahkan diri sendiri karena menyetujui proyek itu."


Lalu hening diantara mereka dalam jeda cukup lama. Ayah yang sibuk berandai-andai akan hari kemarin, merangkai berbagai skenario di benaknya hingga mendapat akhir yang ia inginkan. Sedang Bunda, entah apa yang ia pikirkan dengan mata terpejam merasakan angin malam berhembus menerpa permukaan kulitnya.


"Anak-anak cepat sekali dewasa...." ujar Bunda dengan bergumam masih dalam mata yang terpejam. Untuk beberapa saat ia tersenyum, "Tapi mau sebesar apapun mereka, jiwa mereka sama sekali tidak bertumbuh. Masih terjebak dalam bayangan masa lalu. Dan kita sama sekali tak menyadari itu."


Ayah mendengarnya. Nada getir yang begitu menohok dari suara Bunda. Dan ia sadar sepenuhnya, bahwa mereka semua masih sama-sama terjebak di ruang kenang bersama Pandu. Tak satupun dari mereka yang menerima akan kehilangan yang menyakitkan. Tak seorang pun mampu melepaskan diri dari jerat kesakitan akibat luka yang Pandu tinggalkan.


Mereka yang ditinggalkan dalam jejak menyakitkan membiarkan rantai-rantai kelam itu mengikat mereka di pojok masa lalu yang sama. Kehilangan Pandu bukan hanya soal kesedihan, tapi juga penyesalan dan ketakutan. Segala hal yang membayangi mereka dengan sesak menyiksa, membuat mereka tidak sadar bahwa selama ini masing-masingnya telah berpura-pura untuk baik-baik saja. Dan berpikir bahwa waktu bisa mengobati segalanya. Nyatanya yang mereka lakukan hanyalah lari, dan tanpa sadar luka itu semakin  menganga lebar dalam pelarian tiada henti.


"Kalau waktu memang bisa diulang, aku tidak ingin mengulang apapun."


Ayah menoleh sedikit menunduk untuk menatap manik kelabu kelam Bunda yang juga menatapnya. Satu tangan Bunda mengusap pipi Ayah, dan ia memperlihatkan cekungan di kedua pipinya yang indah saat terseyum dengan begitu teduh.


"Aku hanya ingin kamu tau, kita sudah melangkah sejauh ini. Dan aku tak pernah sedetikpun menyesal bersama kamu."


Selanjutnya yang terjadi, Ayah menangis seperti bayi di pelukan Bunda. Mengungkapkan terima kasih akan wanita yang begitu menghargai dan mencintai dirinya disaat dia sendiri tak tau caranya untuk menyayangi diri sendiri.


Dibawah langit malam berbintang tanpa eksistensi rembulan, Ayah mengeluarkan sesak di dadanya dalam derai tangis di pelukan hangat Bunda.


Sementara di waktu yang sama, Panji sedang memainkan pensil di atas buku sketsanya. Dengan langit malam sebagai objek gambarnya, Panji duduk bersandar di terali balkon sambil sesekali memandang langit malam.


Ketiga anak angkatnya ia biarkan bermain di sekitarnya. Mereka juga tampak bersemangat berlarian kesana-kemari atau sekedar menggigiti peralatan lukis Panji.


Panji sedang melamun saat salah seekor kucing mungil itu memanjat ke bahunya. Diikuti kucing lain yang seakan penasaran akan buku sketsa di pangkuan Panji.


"Kalian mau lihat?" tanya Panji sambil mengelusi kucingnya yang paling gembul. Lalu ia letakkan buku sketsa itu di lantai yang segera di kerubungi oleh ketiga kucing tersebut.


Panji membuka halaman awal bukunya menampilkan gambar suasana di bawah pohon linden di dekat kolam hias ZHS. Lalu halaman selanjutnya, gambar pemandangan dari atas gedung Astronomi yang ia lukis saat membolos studi. Halaman demi halaman Panji membaliknya dalam diam. Sementara ketiga kucing kecilnya duduk dengan patuh.


Kadang kucing itu mengeong, kadang juga ada yang memainkan ekor temannya. Hingga kemudian mereka berputar-putar antusias di atas lembar sketsa ikan yang dibuat Panji. Membuat Panji berhenti membalik ke halaman berikutnya. Salah satu anak kucing itu mendongak menatap Panji lalu mengeong.


Dan karena itu, Panji baru ingat dia belum memberi makan mereka sejak siang tadi. Lantas ia bangkit mengambil makanan mereka yang ia simpan dalam kotak di pojok balkon. Panji menyodorkan makanan kucing berbentuk ikan itu dengan tangannya. Lalu ketiga kucing tersebut tanpa ragu makan dengan lahap dari telapak tangan Panji.

__ADS_1


Panji menarik sudut bibirnya tersenyum tipis, "Maaf karena aku bikin kalian kelaparan lagi."



__ADS_2