
KANVAS 10
[EKSA]
/•
\•/
Disaat orang lain terlelap dalam tidur mereka, Regan justru tengah mati-matian menahan sakit yang melilit perutnya. Ia membungkuk di wastafel memuntahkan semua isi perutnya dengan keringat dingin yang membasahi tubuhnya. Sudut mata Regan berair, tangannya mencengkram erat pinggiran wastafel. Baru saja selesai mencuci mulut, perutnya sudah bergejolak lagi dan ia kembali memuntahkan makanan yang masuk ke perutnya tadi malam.
Fajar sudah menyingsing saat Regan kembali ke ranjangnya dengan tertatih. Ia menatap langit-langit dengan tangan meremat kuat perut sebelah kanan. Sensasi berpilin yang melilitnya dengan rasa sakit membuat Regan merasa de ja vu. Rasa sakit ini sangat familiar, bahkan tangannya yang gemetar serta gelisah yang mendera terasa sama.
Regan mengatupkan rahang kuat-kuat saat gejolak itu kembali timbul mengobrak-abrik perutnya. Sementara dalam hati ia berteriak kuat, 'Kenapa harus terulang lagi?!'. Regan tidak bodoh untuk tidak menyadari bahwa penyakit yang sempat dideritanya dulu kambuh lagi. Ia sempat divonis terkena kanker hati. Walau Regan sudah melakukan pengobatan dan memastikan sel kankernya menghilang, tapi kemungkinan penyakit itu muncul kembali juga ada. Dari dulu Regan sudah mengantisipasi kalau-kalau hal itu akan terulang lagi. Tapi, meski begitu dia masih saja tidak bisa menerimanya dengan tenang. Tidak! Regan sama sekali tidak bisa tenang disaat seperti ini.
Banyak hal yang harus Regan lakukan. Ia tidak mempunyai waktu untuk mengurusi perihal terapi dan segala macamnya untuk mengobati penyakit ini. Regan masih harus mengejar ketertinggalan. Dia harus memastikan bahwa tidak akan ada kandidat lain yang menggantikan posisinya sebagai Ketua Dewan Siswa. Dia harus mencari solusi untuk hubungannya dengan Alena. Dia harus memperbaiki namanya di depan Badan Eksekutif ZHS. Masih banyak hal yang harus Regan lakukan, ia sangat sibuk, tiap waktunya dipenuhi oleh tuntutan demi tuntutan.
Maka, berbekal semua keharusan itu Regan bangkit dari ranjangnya dan segera bersiap ke sekolah. Meski sekarang hari minggu, tapi ZHS tidak pernah menetapkan hari libur. Hanya ZHS satu-satunya yang melakukan aktivitas produktif di hari libur. Hal itu sudah berlangsung puluhan tahun jadi tidak aneh lagi.
Sembari memasang seragamnya Regan menghidupkan televisi dikamarnya. Ia selalu mengikuti berita pagi, melihat perkembangan yang terjadi di dunia Industri dan Perpolitikan. Walau Regan benci mengakuinya tapi jelas hal itu ia lakukan untuk melihat sejauh mana kedua kakaknya telah pergi.
Dan Regan melihatnya. Untuk kesekian kali di setiap pagi ia kembali melihat wajah dua orang itu muncul bergantian dilayar kaca. Dengan berbagai berita positif yang menyertai mereka dan pencapaian gemilang yang membuat nama De Fornax semakin diagungkan.
Sampai di bagian Aeera yang sedang diwawancarai muncul, Regan terhenti dari kegiatan memasang dasinya. Ia terhenti oleh satu pertanyaan yang ditujukan pada Aeera.
"Miss Galilei, saya dengar anda punya seorang adik laki-laki yang tak kalah membanggakannya. Tapi, dia tidak pernah terlihat dimedia. Apakah hubungan kalian baik-baik saja?"
Aeera tertawa singkat dengan sangat menawan, "Kami akan baik-baik saja kalau dia tidak sibuk dengan segudang prestasinya. Dia bahkan lebih sibuk dari kedua kakaknya. Anak itu memang sangat kompetitif sekali, dia kebanggaan kami"
Lalu percakapan selanjutnya seolah menguap di udara. Regan tidak mendengar apa-apa lagi kecuali tiga kata yang terus terngiang di telinganya.
... dia kebanggaan kami.
... dia kebanggaan kami.
... dia kebanggaan kami.
... dia kebanggaan kami.
... dia kebanggaan kami.
Regan seperti mau gila mengulang kata-kata itu dibenaknya. Tak lama kemudian dia tertawa miris. Mengerikan, pikirnya. Bahkan Aeera bisa menjadi monster kamuflase seperti itu demi citra baiknya, bersikap seolah mereka memang sedekat itu. Padahal untuk sekadar saling menyapa saja mereka enggan.
Regan mengusap kasar wajahnya, ia mematikan televisi dengan kepala terus mengulang pertanyaan, kenapa hidup bisa sememuakkan ini?
Regan meremang mengingat senyum dan suara tawa Aeera di televisi. Ia merasa mual di perutnya begitu kata-kata manis Aeera kembali terngiang. Menjijikkan! Regan tak henti-hentinya merasa jijik. Terlebih saat ia turun ke meja makan dan menemui Ibu serta Kakak-kakaknya sudah berkumpul disana.
Jangan bayangkan tentang sarapan pagi keluarga yang harmonis. Jika bukan karena pria yang duduk disamping Aeera, bisa Regan pastikan momen seperti ini tidak akan pernah ada. Kalau Regan tidak salah, pria yang tengah berbincang dengan Aaron itu adalah salah satu klien penting Aeera.
"Regan sudah datang, mari kita mulai sarapannya," tutur Irene dengan senyum khasnya. Senyum yang hanya formalitas semata.
Aeera tampak antusias menyambut Regan, ia memainkan peran sebagai kakak dengan sangat baik. "Jim, perkenalkan ini Regan yang sering aku ceritakan."
"Lebih menakjubkan dari yang kamu gambarkan," komentar pria yang bernama Jimmy itu. Sedang Regan hanya membalas dengan senyum singkat.
"Regan kami memang yang paling menakjubkan."
Trang!
Regan spontan menjatuhkan sendok dan garpunya saat Aeera lagi-lagi bersandiwara dengan begitu baik. Untuk kesekian kali di hari ini, Regan merasakan seluruh tubuhnya meremang oleh kata-kata Aeera. Mengerikan! Sangat mengerikan! Bagaiamana bisa Regan hidup diantara orang-orang yang seperti ini?
"Maaf, aku baru ingat harus datang cepat. Permisi."
Dengan tergesa Regan menyudahi sesi sarapannya sebelum sempat menyentuh apapun di piringnya. Ia melenggang pergi dengan tujuan pertama yaitu ke toilet. Seperti kesetanan Regan mencuci tangannya berulang kali sampai kulitnya ada yang terkelupas. Meski begitu ia masih menambahkan sabun dan terus mencuci seakan ada kotoran yang harus ia hilangkan segera. Regan merasa seperti digerayangi ulat bulu di sekujur tubuh. Sekarang bukan hanya tangan, tapi ia rasanya ingin menggosok seluruh tubuhnya sekarang juga. Regan tidak bisa menghilangkan perasaan jijik itu. Semua masih terus berlanjut hingga getaran ponsel di saku celana membuat ia tersadar.
Nafas Regan terengah, begitu sadar tangannya sudah memerah dan mengelupas dibeberapa bagian. Disaat seperti ini baru rasa perih terasa olehnya. Ia menggeleng pelan lalu bergegas menyudahi hal ini. Begitu selesai Regan segera menuju mobil yang akan mengangkutnya ke sekolah. Disana sudah ada seorang supir yang menunggu.
Akibat insiden yang mengancam jabatannya sebagai Ketua Dewan Siswa dan menguras habis poin disiplinnya, Regan diatur lebih ketat oleh ibunya. Pergerakannya terbatas, ia selalu diawasi. Apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan olehnya sudah didaftar ibunya dengan begitu terperinci. Regan yang sekarang tak ubahnya bagai boneka yang digerakkan oleh tali dari jari-jemari Sang Ibu.
Saat Regan akan sudah memasuki mobil, ibunya datang tanpa diduga. Wanita itu ikut masuk hanya untuk mengatakan beberapa patah kata lalu kembali turun dan membiarkan mobil itu berlalu membawa Regan ke ZHS.
Sementara Regan terdiam ditempatnya memandang kosong keluar jendela dengan tangan mengepal erat. Dua kata bernada perintah yang mengintimidasi dari ibunya terus berulang dibenak Regan. Dan hal itu seakan menjadi palu raksasa yang tak hentinya memukul jantungnya berulang kali.
'Perhatikan sikapmu!'
Terkadang Regan berpikir alangkah baiknya jika ibunya yang meninggal belasan tahun lalu. Setidaknya jika ayahnya yang hidup sampai sekarang, ia tidak akan perlu semenderita ini.
Karena dengan wanita yang telah melahirkannya itu Regan merasa seperti berhadapan dengan predator yang siap memangsanya kapan saja. Alih-alih merasa terlindungi oleh sosok ibu yang katanya begitu berharga untuk hidup seorang manusia. Regan justru merasa terancam disetiap helaan nafasnya.
<<<<<<<<<<<<<<<
"Alena!"
"Bang---"
Begitu menoleh dan mendapati tampang innocent Panji, ia langsung speechless. Ber sabar-sabar dalam hati dengan membatin: 'Yaudahlah, ya, gak pa-pa. Untung sayang.'
"Bang--? Ng?" Panji mempertanyakan umpatan yang tidak jadi Alena loloskan. Bukannya tidak peka, dia hanya sedang ingin pura-pura bego saja.
"Bangsat." Balas Alena dengan senyum lebar yang terpatri di bibirnya.
Panji ber-'O' panjang tanpa suara lalu mengambil tempat duduk lesehan dekat kaki Alena. Lokasinya mereka kini sedang---kalau kata Siena 'membucin'---di rumah kaca dekat aula.
Ngomong-ngomong soal rumah kaca, saat Panji menyandarkan kepalanya di lutut Alena yang duduk di kursi, ia jadi teringat saat hubungannya dan Alena pertama kali go public. Panji walau terlihat tenang begitu, aslinya dia pendendam. Ia masih dendam perihal Alena dan Regan yang dulu itu kentara sekali terlihat dekat. Terlebih omongan Regan yang masih terngiang di telinganya seperti suara nyamuk sampai sekarang:
"Sementara kamu masih mencoba melangkah untuk mengikis jarak antara kamu dan Alena, tidak ada salahnya, kan, bila saya yang mendekapnya duluan?"
Asli. Panji gegayaan berlagak cool padahal dalam hati misuh-misuh gak karuan. Duh, mengingatnya Panji jadi kesal. Begitu saja, ia segara mengambil posisi untuk bangkit. Hanya sepersekian detik hingga sepasang lengannya mendekap melingkupi tubuh Alena dengan erat.
"Kenapa?" Tanyanya sambil mendongak melihat wajah Panji yang kentara sekali penuh dendam. Iseng, Alena mengayunkan pelukan mereka kekiri dan kanan. Ia terkekeh pelan, menertawakan kelakuannya sendiri.
Cute.
"Panji.... Panji-Aji.... Aji, ih lucu juga, ya? Ji, pacar Na, Alena."
Kening Panji mengkerut, ini Alena ada masalah hidup apa, sih? Kok tumben....
"Iya, Na pacar Ji juga."
Ujung-ujungnya juga diladenin. Kalau Siena melihat dua sejoli itu sekarang ini sudah pasti menguar hawa iri hasad dan dengki dari dia. Tapi belakangan ini Siena jarang berkeliaran di sepenjuru ZHS. Kabar-kabarnya itu anak lagi sibuk membaperkan Si 'teman'.
"Kamu kenapa?"
"Hm?"
Panji menunduk menatap wajah Alena dalam dekapannya. Ada jeda cukup lama sampai kemudian ia menjawab, "gak apa."
Lalu pelukan itu terlepas dan Alena sadar ada sesuatu yang salah begitu Panji berjongkok dihadapannya. Lelaki itu mengehela nafas, terang-terangan sekali memperlihatkan raut lelah di wajahnya. Tapi hanya sepersekian detik sampai kemudian Panji memainkan rambut Alena dengan tengil. Entah hanya perasaan Alena saja, tapi belakangan ini Panji jadi jauh lebih ekspresif ketimbang dulu.
__ADS_1
"Bentar lagi mulai jam ekskul..."
"Ya?"
"...."
"Panji?"
Lelaki itu menggeleng lalu beralih memainkan jemari Alena. Benar-benar sulit ditebak, pikir Alena.
"Kamu ekskul sains, kan ya?"
Bukannya dari dulu sekali Panji sudah tahu? Kenapa bertanya lagi? Bahkan tanpa Alena bilang pun Panji bisa tau berbagai hal tentang Alena. Memikirkan itu jadi mengingatkan Alena tentang dia yang serba tidak tau dengan Panji.
"Al, bolos ajalah, ya?"
Alena tidak sempat merespon saat Panji bersuara lagi sambil menggeleng dengan wajah serius.
"Gak boleh bolos, gak boleh."
Yang mana membuat Alena tertawa geli melihat tingkah random Panji. Kalau dipikir-pikir langka sekali mereka berinteraksi layaknya pasangan sungguhan seperti ini. Panji biasanya cenderung diam, tidak pedulian dan 'iya, iya' saja bagaimana maunya Alena. Berbanding terbalik dengan sekarang, Panji yang ini lebih.... Apa ya? Ibaratkan warna, itu menurut Alena lebih warna-warni.
"Makin hari kamu makin berisik. Apa ada hal baik?"
Panji diam sejenak, jemarinya yang menggenggam tangan Alena terlepas. Ia menekuk lutut dan menyangga dagunya diatas lipatan lengannya di atas lutut. Dengan mata tertuju pada Alena, ia pun mulai bicara.
"Kalau aku berisik kamu gak suka?"
Alena pikir sebentar, "Kenapa?"
"Gak suka? Suka?"
"Apasih?" Kekeh Alena dengan tangan terulur untuk menyentuh helaian rambut Panji yang lembut. Namun urung saat tangannya ditangkap oleh tangan besar Panji.
"Entah, akhir-akhir ini aku jadi sering mimpi buruk. Mungkin karena berpikir kamu akan kembali," tutur Panji dengan tenang sambil meletakkan tangan Alena kembali kepangkuan gadis itu.
"Kembali kemana?"
Sebelah alis Panji terangkat naik. Ia kemudian berdiri dan menepuk-nepuk tanah yang menempel di celananya.
"Ditungguin, tuh!"
Alena memutar kepala melihat arah yang ditunjuk Panji. Ia mendapati Regan berdiri di dekat salah satu pilar di pinggir aula. Netra lekaki itu jelas tertuju padanya sehingga ia kemudian membawa tubuhnya untuk bangkit. Alena melirik jam tangannya, baru kemudian ia paham dengan keberadaan Regan disini. Sekarang sudah masuk jam ekskul, mereka satu ekskul dan bisa dipastikan Regan mencarinya untuk pergi bersama. Karena sebenarnya juga, di ekskul sains mereka berdua adalah pasangan Ketua dengan Wakil. Ekskul tidak akan dimulai tanpa kehadiran keduanya, wajar Regan mencari Alena sampai kesini.
Yang tidak wajar itu....
"Alena," panggilan Panji membagi fokus Alena. Lelaki itu memblok pandangan Alena dengan berdiri tepat dihadapannya. Belum sempat Alena bertanya, ia sudah maju memberi kecupan ringan dipuncak kepala Alena.
"Alena, aku pacar kamu."
"Ah, ya."
Alena linglung. Ia patuh-patuh saja saat Panji menggiringnya menuju Regan. Otak Alena kosong melompong saat kedua lelaki itu saling bertegur sapa. Hingga Panji menarik diri lebih dulu meninggalkan Alena berdua dengan Regan. Pandangan Alena sama sekali tidak lepas dari punggung Panji yang semakin menjauh. Setidaknya sampai ia mendengar nada getir dalam panggilan Regan dan mendapati pandangan lelaki itu yang menatap kosong dirinya.
"Aku mau cerita...."
Detik itu, saat angin menyapu bekas kecupan Panji di puncak kepala Alena ia turut membawa serta kenangan manis mereka untuk di permainkan di udara. Seperti Alena yang sadar bahwa dirinya tidak bisa tidak peduli terhadap Regan, begitupun Regan yang tau bahwa Alena tidak mungkin akan mengabaikannya.
Seperti mereka, Panji juga sepenuhnya paham. Bahwa sebaik apapun Alena tersenyum di hadapannya, binar matanya tidak akan pernah memancarkan hal serupa.
"Entah, akhir-akhir ini aku jadi sering mimpi buruk. Mungkin karena berpikir kamu akan kembali,"
Kalimat itu ada lanjutannya,
"Mungkin karena aku berpikir kamu akan kembali... dan kamu memang ingin kembali... kepada dia, rumah yang kamu dambakan."
<<<<<<<<<<<<<<<
Entah sudah berapa lama Panji duduk diam di depan kanvas putih kosong itu bersama tiga anak angkatnya. Yang tidak ingat, itu looohh... Si trio Oyen yang bantet dan berbulu lebat.
"Yen, bikin apa, nih?"
"Meong," sahut ketiga makhluk imut itu bersamaan.
Begitulah, saking buntunya Panji sampai bertanya ke kucing. Berkali-kali ia mengambil ancang untuk menorehkan kuas, tapi kemudian mengurungkannya. Sudah berkali-kali juga Panji menghela nafas, merasa kehilangan inspirasi untuk melukis padahal tangannya gatal sekali ingin membuat sesuatu.
"Ck!"
Pada akhirnya Panji menyerah. Palet yang semula ditangan ia lempar begitu saja, untung catnya tidak berserakan. Ketiga kucing mungil di dekatnya lantas mengerubungi palet itu dengan modal rasa penasaran. Sehingga mau tak mau Panji menggiring mereka untuk masuk ke kandang yang di sediakan di pojok balkon dekat pintu masuk ke kamarnya.
Lantas kemudian di lantai balkon itu Panji merebahkan tubuhnya dengan kedua tangan membentang lebar. Matanya menyipit saat menatap bentangan langit yang memutih diselimuti awan.
"Dek, pinjam earphone---"
Kalimat Panca menggantung layaknya dia yang mematung di ambang pintu. Matanya jelas menangkap balkon yang berantakan serta Panji yang terkapar tak berdaya disana. Hanya dengan begitu saja cukup untuk dia berteriak heboh dan membuat panik Panji yang sedang asik rebahan.
"BUNDAA!!! LIAT KAMARNYA SI ADEK NIH!! MARAHIN BUN, MARAHIN!"
"HAISH! CEPU!"
Dengan begitu saja sebuah rubik melayang ke kepala Panca. Di detik lekaki itu masih mengaduh kesakitan tubuhnya di dorong hingga jatuh dengan tidak estetik. Belum juga protes, debaman pintu membuat ia terlonjak kaget.
"Heh! Gak sopan ya kamu begitu sama abang!"
Panji mana mungkin menyahut. Malah Panca yang dibuat tambah kesal saat terdengar anak itu mengunci pintu dari dalam dan suara gorden yang ditutup. Pintar sekali dia membuat perlindungan diri. Kalau sudah begitu Panca mana ada akses untuk masuk lagi.
Niat hati ingin mengerjai Si Bungsu malah berakhir encok. Bunda juga sedang tidak dirumah, aslinya Panca cuma asal teriak. Tau begitu Panca lebih baik mingkem aja masuk kamar Panji.
"Iseng, sih lu! Mang enak, belom bangkotan udah encok!" Itu Siena, anaknya sedang asik memasok keripik kedalam mulutnya. Teknisnya ia sedang main catur dengan Ayah, cuma karena Ayah kelamaan mikir jadi dia sempatkan mengisi perut di dapur.
Panca yang menuruni tangga dengan tangan mengelus jidat serta mengusap bokongnya yang nyut-nyutan, keki dikatai begitu oleh Sang adik.
"Seenggaknya gak sampe mimisan kayak orang yang dihantam asbak," sindirnya sambil berlalu melewati dapur.
"Ungkit terosss.... Eh, gue sial begitu juga karena elo, ya!"
Dengan begitu maka perang dua saudara itu pun di mulai. Ayah hanya pasrah saat Panca yang menghindari Siena menyenggol meja hingga papan caturnya jatuh berserakan. Ilmuan satu itu berujung jadi tonggak tempat dua anak tertuanya saling serang.
Di lain sisi, Panji sedang berguling-guling ria di kasur memainkan ponsel. Hanya sebentar sampai ia mendengar raungan panjang Panca yang kentara sekali terdengar kesakitan. Sebenarnya Panca itu diluar terkenal preman sekali, tapi kalau sudah di rumah, dia tak lebih dari sekedar korban buli dua adiknya.
"Panca edan."
Setelahnya Panji duduk di tengah-tengah ranjang, menatap sekeliling ruangan. Seperti orang linglung yang tidak tau harus berbuat apa. Biasanya kalau sudah bosan di tahap paling bosan begini ia memainkan rubik. Tapi naasnya benda itu sekarang entah dimana sehabis ia pakai melempar Panca tadi.
Awalnya Panji ingin keluar saja, turun ke bawah bergabung dengan dua kakaknya bergulat ria. Tapi, baru akan menyentuh gagang pintu ia berbalik lagi dan berjongkok di samping tempat tidur. Panji baru ingat dengan box yang ia ambil dari gudang tempo hari.
Panji menarik keluar box plastik ukuran menengah itu dan langsung membuka tutupnya tanpa menunggu lama. Banyak rubik di dalam box itu, setelah Panji acak-acak ada sekitar sebelas rubik. Ia mengeluarkan barang lainnya, ada mobil-mobilan seukuran telapak tangan orang dewasa, lalu juga terdapat mainan lainnya.
__ADS_1
Selain rubik yang jumlahnya sebelas, mainan lain masing-masingnya berjumlah dua dan itupun sama persis. Seperti mobil-mobilan tadi, dua-duanya bewarna biru tua. Kemudian robot, bola, dan mainan lainnya itu masing-masing ada dua dengan warna dan bentuk yang sama.
Panji mengeluarkan satu-persatu. Kalau Ayah melihat mainan yang berserakan di lantai itu, Panji pasti akan diceramahi sepanjang hari. Berantakan sekali. Panji juga tidak ada niat untuk menyusunnya.
Lebih dari separuh isi box ia keluarkan, sampai ia mendapati sebuah kalung yang familiar terselip diantara roda motor mainan yang copot. Panji hampir mengira itu kalung yang biasa ia pakai kalau saja ia tidak melihat bandul bintang hitam di kalung itu.
Meraba lehernya, Panji menarik keluar bandul bulan sabit hitam di kalung yang ia kenakan. Lalu ia sandingkan kedua kalung itu.
Entah mengapa, keduanya seperti memiliki cerita.
<<<<<<<<<<<<
Dulu sekali, ketika Panji masih kecil ia sering bepergian bersama Ayah dan Bunda. Entah itu ke perkotaan bahkan sampai ke wilayah perdesaan. Namun, setelah bertambah besar, entah apa alasannya Panji kemudian hanya menetap di rumah dan tidak mau ikut dengan Ayah dan Bunda lagi.
Mungkin karena ingatannya tidak terlalu bagus makanya Panji lupa. Ia juga lupa apa saja yang pernah ia lakukan dulu waktu bepergian bersama Ayah dan Bunda. Dan kini Panji sedang menggali-gali ingatan tentang masa-masa itu.
Dengan duduk merenung di bawah naungan pohon Linden dekat sungai di belakang rumahnya, Panji mencoba mengenangkan masa kecilnya. Ia terlalu larut dalam pikirannya sampai tidak sadar saat ada seorang anak kecil duduk di sampingnya.
Panji tersentak saat anak kecil itu menepuk-nepuk lengannya heboh. Ia menoleh dengan kaget, dan bertambah kaget lagi saat melihat wajah riang bocah lekaki itu. Anak yang berusia sekitar 5 tahun dan....
"Ayah! Ada ikan!" Seru anak itu dengan riang berlari ke arah pria dewasa yang ia panggil Ayah.
Sang Ayah tertawa mengusak rambut anaknya penuh sayang, "Pilih ikan atau Eksa?"
Sekonyong-konyong anak itu menjawab, "Eksa!"
Sang Ayah lalu menggendong anaknya di pundak, "Eksa atau Ayah?" tanyanya lagi.
Tanpa ragu Si Anak menjawab, "Eksa!"
Dan Sang Ayah pun tertawa dengan jawaban polos anaknya. Hingga anak itu memberontak saat seorang wanita datang menghampiri mereka.
"Bunda!"
"Aksa hati-hati!"
Begitu saja Panji dibuat diam membeku melihat keluarga kecil itu. Ayah, Bunda dan.... Dan dirinya yang berusia 5 tahun.
Panji terlalu fokus pada pemandangan di depannya. Hingga saat setitik air mata mengalir dari pipinya ia kemudian tersadar. Bahwa dia tak lagi berdiri di tepian sungai tadi. Ia sekarang terjebak di ruang serba putih dengan berbagai alat yang Panji tidak ketahui fungsinya.
"Aksa,"
Itu namanya. Ayah memanggilnya. Panji menoleh dan menemui Ayah di belakangnya. Tapi aneh, apa Ayah memang setinggi ini? Panji harus mendongak untuk melihat wajah Sang Ayah sampai lehernya pun terasa sakit karena Ayah terlalu tinggi.
"Ayah... tinggi."
Panji kaget. Apa barusan benar dia yang bicara? Tapi kenapa suaranya jadi seperti suara anak kecil begitu. Saat akan meraih tangan Sang Ayah, Panji pun melihat tangan kekarnya berubah jadi mungil dan terlihat rapuh.
"Aksa mau di gendong?"
Belum sempat menjawab, Panji sudah merasakan tubuhnya melayang. Ia di gendong oleh Ayah. Tubuh Ayah yang hangat serta aroma tubuh Ayah yang menenangkan membuat Panji melupakan keanehan ini. Persetan dengan semua, Panji sudah lama mengimpikan untuk kembali ke saat-saat ini.
Ia melingkarkan lengan-lengan mungilnya di leher Sang Ayah. Dan begitu saja mata Panji sudah menghangat. Ia rindu memeluk Ayah seperti ini. Saat itu Panji rasakan tangan besar Ayah mengusap punggungnya.
"Cup cup. Anak Bunda mewek nih ya? Kasian...."
Tangan halus Bunda mengusap cairan bening yang menggenang di sudut mata Panji. Bukannya berhenti, mendapat perlakuan begitu Panji malah menangis semakin kencang. Sungguh demi apapun, walau selama ini ia sama sekali tidak pernah mempermasalahkan apapun. Namun sesungguhnya Panji merasa kesepian tiap kali Ayah dan Bunda pergi dan tidak pulang selama berbulan-bulan karena pekerjaan. Panji selalu tidak tau kemana ia harus bersandar saat terkadang merasa lelah, walau yang ia lakukan hanyalah sekolah dan ber leha-leha di rumah. Panji merasa buntu di setiap langkahnya tiap kali ia dengan semangat membuka pintu kamar dan yang ia temui adalah kekosongan.
Maka dengan itu, meskipun ini hanya mimpi. Tolong.... Panji memohon dengan sangat.... Tolong jangan bangunkan ia dari mimpi indah ini. Untuk yang satu ini, bolehkah Panji mengemiskan sebuah pengabulan?
"Ssstt.... Anak Bunda kok cengeng?"
Panji kecil yang sudah berpindah ke pelukan Bunda masih sesenggukan. Kemudian ia dengar tawa Ayah mengalun, merdu sekali.
"Ayah ada hadiah, nih buat Aksa. Tapi jangan nangis lagi, ya?" bujuk Ayah mengusap sisa-sisa air mata di pipi Panji. Ia tersenyum lebar sampai kedua matanya menyipit dan mengangsurkan hadiah yang ia sebutkan di hadapan Panji.
Tangan mungil Panji meraih benda itu, sebuah kalung dengan bandul bintang hitam. Mata bulatnya mengerjab penuh tanya kepada Sang Ayah.
"Jangan nangis lagi, ya? Ayah gak lupa sama Aksa, kok. Kalian dua-duanya anak Ayah, kalau dapat satu satunya lagi juga harus dapat. Sana, gih baikan sama Eksa!"
Eksa?
Panji sibuk dengan pikirannya dengan kalung dalam genggamannya. Hingga tanpa disadarinya ia kini tinggal sendirian. Panji memanggil Ayah dan Bunda, tapi tak ada yang menyahut. Panji takut ditinggalkan. Ia ingin mencari Ayah dan Bunda. Tapi kakinya sama sekali tak mau bergerak.
"Aksa,"
Panji tersentak. Tiba-tiba saja ada dua anak kecil yang saling berpelukan di depannya. Satunya adalah dirinya yang berusia 5 tahun yang sesenggukan memegang sebuah kalung. Satunya lagi membelakangi Panji, wajahnya tak terlibat.
Panji melihat tangannya, sudah kembali seperti semula. Bukan lagi tangan mungil seperti tadi. Lalu ia lihat lagi pada dirinya yang berusia 5 tahun.
Panji kecil tersenyum riang sekali lalu bermain bersama anak itu. Cahaya dari luar yang menyusup lewat celah ventilasi membuat Panji kesulitan melihat wajah anak yang satu lagi.
Panji ingin mendekati mereka. Baru satu langkah kakinya beranjak, denting piano membuat ia terhenti. Entah apa yang terjadi, Panji lagi-lagi tidak sadar dengan suasana yang lagi-lagi berubah dengan tiba-tiba.
Di ruang serba putih yang penuh alat-alat penunjang kehidupan itu, Panji melihat anak yang sama yang ia lihat tadi tengah duduk di depan piano. Lalu tak jauh darinya Panji kecil tengah bermain dengan pensil dan kertas.
Alunan melodi dari tuts demi tuts menyayat hati Panji dengan sebuah kerinduan yang mendalam. Rasanya seperti memanggil-manggil sesuatu yang terdiam jauh dalam diri Panji. Perasaan sesak yang familiar membuat Panji merasa kehilangan pijakan. Di tengah nafas yang menderu, ia terisak dan alam bawah sadarnya mendorong bibirnya berucap lirih.
"Eksa...."
Panji kecil tertawa memperlihatkan hasil gambarnya. Lalu ia berlari keluar berkata ingin memamerkan itu pada Ayah dan Bunda. Sementara anak yang bermain piano itu hanya diam di tempatnya. Dia duduk membelakangi Panji, tapi entah mengapa Panji seakan bisa melihat raut lesu di wajah anak itu.
"Pandu!"
Tak lama anak lainnya datang memanggil anak itu dengan nama Pandu. Anak yang di panggil Pandu itu menegakkan kepalanya yang semula tertunduk lesu.
"Regan!"
Pandu berbalik dengan semangat. Sedikit lagi Panji bisa melihat wajahnya. Namun.....
PRANKK!
Panji tersentak. Nafasnya tertahan beberapa detik sampai kemudian ia meraup oksigen dengan rakus. Dadanya naik turun dengan tidak teratur. Setelah beberapa saat, barulah ia tersadar bahwa ia baru saja terbangun dari sebuah mimpi.
Panji menelan ludah di sela nafasnya yang tersengal, ia menoleh ke samping saat itu dapat dirasakannya bantal yang basah akibat lelehan hangat yang mengalir dari sepasang matanya.
Potongan-potongan cerita dari mimpinya bermunculan. Panji mencoba mengingat semuanya. Kalung. Eksa. Piano. Lalu juga ada.... Apa lagi? Panji memaksa kepalanya berpikir, menggali ingatan dalam mimpinya. Usaha yang sia-sia karena yang ia dapatkan justru rasa sakit di kepalanya.
Diantara rintik hujan yang terdengar, isakan Panji ikut mendominasi suara. Sayup-sayup ia dengar suara Bunda mengomeli Panca karena memecahkan gelas. Kemudian suara Ayah yang menengahi keributan itu.
Panji tercekat saat kemudian suara tawa keluarganya terdengar. Ia meringkuk dengan isakan yang tak dapat ia hentikan. Sampai bibirnya berujar lirih diluar kemauannya.
"Eksa...."
Dan Panji hanya bisa memeluk dirinya dalam sesak yang menyiksa itu. Dibawah rintik hujan, sebuah kerinduan membawa Panji untuk tenggelam dalam kepahitan.
__ADS_1