
KANVAS 07
[SCUTUM]
/•
\•/
Apapun itu tentang kamu, maka aku akan egois.
Harusnya Alena tidak menganggap remeh kalimat itu, kalimat yang Panji lontarkan padanya tempo hari. Sesuai dengan betapa dalamnya suara Panji hari itu, makna kalimat tersebut ternyata juga meresap jauh ke hati lelaki itu. Panji memasung kalimat delapan kata yang ia ucapkan dalam ruang dirinya. Terpatri kuat dalam relung jiwanya. Apapun, tentang Alena, dan Panji akan bersikap egois.
Siang ini seantero ZHS kembali dihebohkan dengan berita seputar Alena. Gosip terhangat dimana muncul tokoh lain antara kisah Alena dan Regan. Tokoh yang ditunggu-tunggu kedatangannya, menambah bumbu penggosipan mempernikmat jalannya pergibahan.
Panji Aksara Yudha. Sosok yang pernah menjadi trending topik nomor satu disekolah lantaran interaksinya dengan Alena yang didapati beberapa bulan lalu. Sosok yang menjadi topik dalam Redaksi dengan judul 'WAKIL DEWAN SISWA & SOSOK MISTERIUS, MUSIM SEMI BABAK KE-2'.
Sehabis jam ekskul, saat memasuki jam bebas, Panji menghampiri Alena di loker dan menariknya pergi. Penambah prasangka untuk kaum lambe, Alena sama sekali tidak menolak. Dan Regan yang tengah mengajak Alena mengobrol juga tidak bisa mencegah kedatangan Panji yang tidak diduga-duga.
Tim Redaksi kembali menghebohkan lapak pergibahan dengan headline huruf kapital tanpa terkecuali.
'KETUA VS SOSOK MISTERIUS, PERSAINGAN TAK TERDUGA MUSIM INI!!!!!'
Dari banyaknya tanda pentung yang dipakai sudah cukup menyiratkan betapa menggebunya semangat Si Penulis Artikel. Berita itu berada di urutan teratas kolom pencarian di web ZHS, dibaca lebih dari seribu kali dalam semenit, dibagikan ratusan ribu kali dan jutaan tanggapan turut memenuhi.
Beralih dari kehebohan dunia pergosipan itu, pinggiran kolam ikan hias milik ZHS tampak sejuk dan tenang. Dua subjek perbincangan tengah berdiri berhadapan di sana. Berteman semilir angin, gemericik ringan aliran air ke kolam, riuh rendah kicau burung dan samar-samar suara aktivitas keributan dari murid-murid di dalam gedung sekolah.
"Jadi...?" Alena mempertanyakan tindakan Panji, yang tentu melanggar aturan hubungan mereka. Hal ini kedua kalinya. Pertama adalah saat studi wawasan dan membuat tim Redaksi mendapat bahan terbitan. Yang kedua adalah sekarang. Dan Alena yakin para anggota tim Redaksi sudah bertindak cepat dan gosip tentang dirinya tengah menyebar saat ini.
Dari ekor matanya Panji dapat melihat siluet Regan di ujung sana, menyaksikan dirinya dan Alena. Panji melangkah mendekat memaksa Alena untuk mundur. Sampai ia yakin Regan tidak akan bisa menemukan mereka lagi karena terhalang oleh batang pohon Linden berumur puluhan tahun dengan diameter super besar.
Alena mendongak menatap Panji dalam jarak beberapa sentimeter. Ia menyelami sepasang netra biru kelam di hadapannya. Namun, hanya kekosongan yang ia tangkap disana. Semakin jauh Alena berusaha memahami sorot mata itu, justru membuat ia semakin tenggelam di dalamnya, tanpa mendapat apa-apa.
"Panji...," Alena menggantung ucapannya, memberi jeda entah untuk apa, "... mari akhiri." Matanya mengerjab seiring berakhirnya kata-kata itu, senyumnya mengembang membentuk simpul indah di sudut bibir.
"Hm." Hanya deheman singkat dan entah apalah maknanya. Panji tidak menanggapi lebih lagi. Hanya matanya yang menyorot semakin tajam juga raut dingin yang tidak pernah ia tunjukan. Tinggi yang hampir setara membuat Panji mudah sekali menelisik setiap lekuk wajah Alena, membaca apa yang tersirat di sana. Raut gadis itu jelas menantang, dia menantang seberapa kuat makna keegoisan yang Panji miliki.
"Alena... tahukah kamu, hati dan perasaan manusia itu merupakan hal yang paling mengerikan dari yang paling mengerikan, menakutkan dari yang paling menakutkan dan juga...."
Panji mengambil sejumput surai coklat Alena, menunduk ia berbisik tepat di samping telinga gadis itu. Dan desir angin membawa kalimat berikutnya terbang, bermain-main di udara lalu tersampaikan pada setiap subjek tujuan.
<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<
Sebagai seseorang yang sedang menjadi objek perbincangan terhangat di seantero sekolah, Panji terlihat begitu santai menyusuri koridor yang tidak bisa dikatakan sepi. Karena sekarang jam istirahat sedang berlangsung, sebagai jeda sebelum studi wawasan kembali dilanjutkan hingga jam pulang nanti.
Karena telinga yang masih berfungsi dengan jelas membuat Panji bisa mendengar para penggosip yang berbisik ketika ia berjalan melewati mereka. Namun, yang namanya Panji Aksara Yudha tidak mungkin akan peduli dengan hal semacam itu. Panji dengan riak tenang tanpa senyuman diwajahnya yang khas, berbelok di ujung koridor menjauhi keramaian. Ia memasuki area loker yang bisa dibilang sangat sepi. Kebanyakan murid memilih menghabiskan waktu istirahat di kantin dan tempat lain. Tidak ada yang mengunjungi bagian loker disaat seperti ini kecuali ada hal yang sangat penting yang mengharuskan mereka untuk ke area tersebut.
Mungkin area loker akan menjadi tempat yang merekam banyak kejadian dalam kisah ini. Lantaran rasanya banyak sekali scene yang terjadi disini. Dan sekarang bertambah lagi potongan kisah yang terekam oleh tempat ini.
Ketika Panji baru memasuki area tersebut, tampak Regan yang duduk tenang di bangku panjang yang ada disudut ruangan. Lelaki itu fokus pada buku kecil ditangannya, tampak serius mendalami kata demi kata.
Panji pikir ini akan mudah, Regan sibuk dengan kegiatannya dan Panji juga dengan tujuannya sendiri. Tidak perlu adanya interaksi seperti beberapa waktu lalu yang pernah terjadi antara mereka. Jujur, Panji enggan berurusan dengan orang seperti Regan. Alasannya? Mungkin hal itu akan terkuak sebentar lagi.
"Scutum, salah satu buku Acrhoma yang mengangkat tema yang cukup menarik."
Panji menutup lokernya setelah mendapatkan apa yang ia mau. Itu adalah sebuah buku setebal 500 halaman dengan sampul bewarna gelap dan gambar tameng baja sebagai penghias bagian depannya. Dari deretan huruf yang terpampang pada sampul buku itu jelas sekali kalau buku tersebutlah yang dikomentari oleh Regan beberapa saat lalu.
Menatap sesaat buku ditangannya, Panji kemudian menoleh ke arah Regan. Lelaki itu tidak lagi terfokus pada bacaan ditangannya melainkan menatap pada Panji. Entah apa yang masing-masing dari mereka pertimbangkan sehingga berakhir dua orang itu duduk di kursi panjang di pojok ruangan dengan buku Acrhoma sebagai pokok bahasan.
"Katanya, Scutum adalah perisai yang diangkat menjadi salah satu rasi di langit. Namun, Acrhoma memakainya bukan untuk mengembangkan cerita bertema perang, legenda atau sejenisnya. Dalam lima ratus halaman, di setiap lembar, dia membahas hal yang paling mendasar dalam hidup manusia."
Panji khusyuk membaca kata demi kata dalam lembaran buku yang ditulis oleh Sang Bunda, Acrhoma. Ia sangat fokus, entah pada isi bacaan yang sudah berulang kali ia tamatkan ataukah pada bahasan yang Regan utarakan.
Sedang Regan menerawang menatap ke arah depan. Seolah saat ini kata demi kata dalam buku Acrhoma menari dengan begitu apik dalam benaknya. Ada jeda cukup panjang sebelum akhirnya ia kembali bersuara karena tidak adanya tanggapan dari sosok disebelahnya.
"Seperti Scutum, manusia itu seperti tameng kata Acrhoma. Dia menganalogikan manusia sebagai tameng yang terus mendesak maju dalam peperangan. Manusia yang tiada henti mengejar masa depan dan meninggalkan kisah silam. Seperti tameng yang menyusuri area lawan dan membiarkan areanya tertinggal di belakang."
Riuh rendah suara murid-murid yang memadati koridor mengisi jeda kesekian yang Regan ciptakan. Ia menoleh pada Panji yang entah benar-benar fokus atau hanya pura-pura serius dengan buku yang dipegangnya.
"Manusia memang selalu terfokus ke depan. Namun, bukankah hal itu juga yang akan menjadi celah bagi yang ada di belakang untuk menangkapnya. Kebanyakan orang terlalu was-was dengan bentuk abstrak waktu di depan mereka sampai potongan masa silam dengan mudah mengambil alih kendali rasa mereka. Terlalu takut melihat masa depan, orang-orang memilih untuk mengenang ke belakang."
Panji menutup bukunya. Kemana pembicaraan ini akan mengalir sudah jelas dibenaknya sedari awal Regan berkomentar terhadap salah satu buku karya Acrhoma. Namun, yang tampak transparan bagi Panji adalah kemana semua ini akan bermuara nanti.
"Acrhoma juga menuliskan teori sederhana dalam bukunya. Yaitu 'Depan dan Belakang'. Mudahnya, di setiap individu akan berhadapan dengan apa yang ada di depan mereka dan membelakangi apa yang ada di belakang mereka. Manusia akan sangat fokus pada apa yang mereka lihat. Sedang mereka acuh pada apa yang tak terlihat. Sederhananya, ketika seseorang berdiri di antara dua orang lainnya, ia bisa mencegah orang yang di depannya mendekat padanya sedang sosok di belakang yang tidak terjangkau oleh matanya dapat dengan mudah memutus jarak tanpa hambatan yang berarti."
Sedikit banyak Panji bisa melihat bagaimana pembicaraan sepihak ini akan berakhir. Ia menumpukan kedua siku di masing-masing lutut dengan buku yang kembali ia buka halamannya secara acak. Disana Panji mendapati sebuah halaman hitam tanpa tulisan, dan guratan putih membentuk ilustrasi sederhana yang memperjelas makna kata yang Regan lontarkan. Di halaman itu seorang ksatria mengacungkan pedang pada sosok di depannya sedang di belakangnya sosok lain mendekapnya begitu erat dan mesra.
"Sementara kamu masih mencoba melangkah untuk mengikis jarak antara kamu dan Alena, tidak ada salahnya, kan, bila saya yang mendekapnya duluan?"
Entah kenapa justru berujung disana, namun Panji masih juga tak berkomentar. Ia menoleh menatap Regan yang kini sibuk bersenandung menulis sesuatu di buku dengan pena yang semula disimpan di saku seragamnya. Senyum yang tersimpul di sudut bibir lelaki itu sangat tak berarti ketika matanya justru memancarkan sorot tajam penuh ambisi yang membara. Itu yang membuat Panji enggan berurusan dengan orang ini, orang yang penuh kepalsuan dan misteri. Orang yang memakai topeng, yang membatasi dirinya dengan benteng raksasa. Orang seperti itu... adalah orang yang paling menyedihkan.
Ingatan Panji seketika melayang pada masa satu tahun lalu. Di atap gedung Astronomi. Tempat kedua yang merekam banyak potongan dalam kisah ini.
Saat itu, Panji ingin memindahkan keindahan senja ke dalam buku sketsanya. Ia memilih atap gedung Astronomi yang memungkinkan dirinya untuk bisa menyaksikan terbenamnya sang surya dengan leluasa. Namun, di pintu masuk langkah Panji terhenti. Ia urung menginjakkan kaki lebih jauh dan memilih menutup pintu kembali.
Panji menutup pintu kembali bersamaan dengan suara bantingan kursi dari arah atap. Menatap buku sketsa di tangannya Panji kemudian menyandarkan punggunggnya di dinding di samping pintu. Dalam posisi itu ia mulai menggerakkan pensilnya di atas buku sketsa.
Dalam syahdunya Panji membentuk guratan demi guratan di buku sketsanya, terdengar isak tangis penuh kemarahan. Sumpah serapah dan raungan kepiluan. Semua berasal dari seseorang yang menjadi penyebab Panji mengurungkan niatnya melukis senja dan berujung menggores garis abstrak tanpa makna.
Panji berhenti menggoreskan pensilnya. Ia terdiam sesaat kemudian menghela nafas penuh beban. Ia menemui jalan buntu dan lukisan itu hanya terbentuk kumparan kusut tak beraturan. Lalu teringat sosok yang ia lihat tadi, yang menjadi penyebab ia berujung berdiri disini, Panji menerawang dengan tatapan kosong ke depan. Dan bongkahan pertanyaan itu pun ia dapatkan.
'Apakah hidup ini adil?'
Beralih pada masa sekarang ini. Regan yang mengadu, menagis pada semesta mempertanyakan keadilan takdir dalam hidupnya. Lalu Regan yang bagai malaikat menebar senyum dan berjuta aura positifnya. Bagi Panji keduanya tidak ada bedanya. Mau bagaimanapun Regan terlihat, mau bagaimanapun Regan bersikap, tetap saja dia tak ubahnya hanyalah seorang anak manusia yang menyedihkan. Sosok yang lemah penuh luka, yang sedikitpun tak bisa berkutik saat semesta telah menetapkan jalur mutlak akan hidupnya.
Bel panjang mengakhiri pertemuan Regan dan Panji. Dengan Panji yang diam sepanjang waktu yang telah terlewatkan, Regan sama sekali tidak mempermasalahkan. Regan pergi tanpa kata lagi, menuju studi yang semula ia ikuti. Sementara Panji justru membiarkan poinnya berkurang dengan tetap duduk disana, membaca ulang buku Acrhoma hingga bel panjang kembali menggema mengakhiri segala kegiatan ZHS hari ini.
<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<
Alena menampung air hujan yang mengucur dari atap dengan telapak tangannya. Cairan bening dari langit yang dingin itu menelusup membasahi jari jemari lentik gadis itu. Dia menikmati hujan di senja yang suram ini dari jendela kamarnya yang berada di lantai dasar.
__ADS_1
Sebenarnya Alena tidak terlalu suka hujan. Tapi ia selalu saja menikmati irama desiran air yang mengucur dari angkasa itu. Alena juga tidak suka aroma petrikor yang menguar sehabis hujan reda. Tapi ia selalu terpaku ketika bau itu menguar di udara dalam tetes-tetes satu dua air yang masih tersisa.
Ngomong-ngomong soal hujan, Alena pernah punya kenangan manis bersamanya. Karena kenangan itu lah membuat Alena kesal setiap kali hujan turun membasahi bumi. Sebab, saat itu terjadi ribuan potret kenangan itu kembali keluar berhamburan. Tepampang nyata di benaknya seperti sekarang ini.
Alena menopang kepalanya di kusen jendela. Matanya melirik kaktus mini dalam pot kecil di sampingnya. Ujung jarinya menyentuh duri tumbuhan itu dan perlahan sudut bibirnya naik menyimpul sebuah senyuman. Baiklah, kenangan tercipta memang untuk dikenang bukan?
Biar Alena beritahu, ini adalah tentang dia, dan seseorang di dunia yang sama.
-_-_-_-
Alena Ghailin Tanuwarman. Nama belakang yang ia sandang sedari lahir menjadi beban berat yang menimpa punggungnya sepanjang hidup yang ia jalani. Dia dituntut untuk sempurna disegala hal, tidak bercela, harus serba bisa. Terlebih Alena adalah anak tunggal, lebih-lebih lagi dia juga merupakan cucu tunggal bagi keluarga ayahnya, keluarga Tanuwarman.
Sejak lahir Alena sudah kehilangan sosok ibunya. Ia tumbuh dewasa dalam doktrin dari ayah dan kakeknya, hanya berputar pada poros perbisnisan. Dunia yang paling dikuasi keluarga mereka, keluarga Tanuwarman.
Alena menjalani kehidupan yang penuh tuntutan. Dari bayi ke balita, balita menuju kanak-kanak, berlanjut tumbuh dan terus hidup dengan aturan dan norma yang harus ia terapkan. Mengorbankan waktu bermain, kehilangan kebersamaan keluarga yang harusnya ia rasakan, tidak mendapat sebutir kasih sayang dari orang tua yang ia harapkan. Ia tak ubahnya hanya dianggap sebagai alat penerus warisan.
Alena benar-benar muak dengan semua tuntutan keluarganya. Alena benci dengan takdir yang dimilikinya. Alena mengutuk segala takdir di alam semesta. Diantara banyak pilihan, kenapa ia harus terlahir dalam keluarga ini?
Dan pertanyaan itulah yang mempertemukannya pada sosok bernama Regan Exander Galilei. Bisa dibilang nasib Alena dan Regan itu sebelas duabelas, nyaris sama namun tidak serupa. Mereka sama-sama berasal dari keluarga yang menuhankan kehormatan, keluarga yang memprioritaskan kekuasaan, keluarga yang menomorsatukan kesempurnaan.
Entah siapa yang memulai, tapi masing-masing mereka terus mendekat hari ke hari. Bagai dua kutub berlawanan yang beringsut oleh gaya tarik menarik secara perlahan. Semakin dekat, lebih dekat hingga hampir menyatu erat. Dan sebongkah batu besar menghambat arus diantara mereka, memutus gaya tarik menarik yang semula mendekatkan keduanya. Dan kedua kutub itu berhenti pada titik masing-masingnya.
Batu hambatan yang merenggangkan hubungan mereka, tak lain berasal dari jiwa labil masa remaja mereka sendiri. Hanya persoalan kecil, tapi merambah ke hal yang lebih besar. Menyinggung pada egoisme, menyentuh persoalan harga diri, menyabet emosi.
Saat itu Regan berada di titik terlemah. Sensitifitas yang berubah berkali lipat membuat persoalan apapun menjadi runyam olehnya. Alena juga menempuh hal yang sama. Mereka sama-sama terpuruk saat itu, sama-sama lelah. Dan disanalah ego yang terkekang itu membutuhkan pelampiasan.
Alena mengeluh pada Regan, tentang Ayahnya yang semakin menuntut banyak hal padanya akhir-akhir ini. Ia gelisah karena tidak mampu mencapai hasil yang sempurna. Ia resah karena tidak mampu meraih ambisinya. Segala hal terasa kacau, semua diluar dugaan. Dia berada di posisi terburuk. Ketakutan ikut menggerogoti, seiring berbagai suara-suara asing menelusup dalam benaknya setiap malam. Alena jadi sulit tidur, ia jadi sering menyakiti diri sendiri bila tidak mampu mencapai hasil yang ditetapkannya. Dan perlahan bukan hanya keluarganya, dirinya sendiri pun juga ikut menuntut kesempurnaannya. Itu adalah saat-saat tersulit dalam hidupnya. Alena berada di titik lelah yang benar-benar membuatnya ingin menyerah. Dan di tengah keterpurukan itu, Regan justru memutus benang tak kasat mata yang menghubungkan mereka dengan kumpulan beberapa katanya:
'Setiap orang punya masalah. Dan setiap masalah harus diselesaikan oleh pemiliknya sendiri. Alena... mari akhiri. Ternyata aku tidak sanggup turut menanggung bebanmu juga....'
-_-_-_-_-
Waktu itu Alena hanya terfokus pada kata 'akhiri' yang Regan lontarkan. Namun, belakangan ia paham makna dari keseluruhan katanya. 'Setiap orang punya masalah.... Tidak sanggup turut menanggung....'
Regan divonis menderita kanker hati stadium awal. Disamping ibunya yang semakin menuntut banyak padanya. Terlebih pandangan orang-orang yang memperbandingkan dirinya dengan kedua kakaknya. Ia benar-benar berada di tanduk keputusasaan. Menjalani pengobatan seorang diri, juga terpaksa terus memenuhi tuntutan kesempurnaan yang ditujukan padanya. Lebih lagi ia masih terus mencoba meraih mimpi terbesarnya, Piano.
Beberapa bulan belakangan, hubungan antara Alena dan Regan mulai membaik perlahan. Alena mulai bisa mengatasi gangguan kecemasannya, Regan bertahap mulai sembuh dari kanker yang dideritanya. Semua perlahan membaik satu demi satu dan mereka kembali meraih singgasana kesempurnaan yang diharuskan untuk mereka.
Alena merajut kembali kumparan benang yang dulu ia tinggalkan, sampai lupa dengan gulungan benang baru yang harusnya ia selesaikan.
Panji Aksara Yudha.
Bagaimana ya, mendeskripsikannya? Alena pun tidak tau harus memulai dari mana. Rasanya semua terjadi begitu saja. Satu kali, dua kali, tiga kali pertemuan tanpa kata antara mereka dan hubungan itupun terjalin kemudiannya.
Panji itu... bagi Alena dia bagai ke-ter-takhinggaan. Panji layaknya ruang kosong yang memberi Alena kebebasan untuk kabur dari sesaknya masalah yang menghimpitnya. Karena Panji, Alena bisa bernafas lega. Bersama Panji, Alena bisa merasakan hidup yang normal seperti seharusnya.
Panji itu seperti semesta. Tidak terhingga. Tidak terduga. Penuh misteri. Namun selalu menerima semua apa adanya. Layaknya semesta... ya, semesta....
'Mari akhiri....'
Seseorang pernah mengucapkan itu pada Alena. Dan Alena benar-benar mengakhiri semua diantara mereka. Alena juga mengucapkan kalimat itu pada seorang lainnya. Dan orang lainnya itu justru semakin kukuh untuk mempertahankan segalanya.
Panji Aksara Yudha.
Alena menutup mata perlahan menghirup aroma yang hujan ciptakan. Suara Panji di sayup semilir angin dibawah pohon Linden kembali berdengungan.
"Alena... tahukah kamu, hati dan perasaan manusia itu merupakan hal yang paling mengerikan dari yang paling mengerikan, menakutkan dari yang paling menakutkan dan juga...."
Alena meremang seolah mampu kembali merasakan deru hangat nafas Panji dan bisikan lirih lelaki itu di telinganya. Ah, bagaimana, ya? Sepertinya manusia jelmaan batu itu berhasil merantai Alena dengan keegoisannya. Alena jadi penasaran dengan hari esok yang menantinya, penasaran sekali. Seberapa kuat makna kata yang melirih diantara desir angin siang itu....
'... yang paling dasyat menembus batas logika manusia....'
<<<<<<<<<<<<<<<
Dalam ruang lingkup ZHS ada satu gedung tua yang letaknya terpisah dari gedung lainnya. Tempatnya di bagian timur, di area kosong yang sepi pengunjung. Tentu saja, memangnya siapa yang mau mampir ke area membosankan itu?
Ah, kalau ada yang bertanya begitu ingin sekali Regan menjawab dengan lantang. Namun, sayangnya ia tidak bisa mengumumkan tentang orang membosankan yang mengunjungi tempat membosankan setiap harinya. Jangankan berkata secara lantang, berbisik selirih angin pun ia tak akan. Lebih rapat dari ketika ia mengatupkan mulut, Regan telah menjaga rahasia ini dengan teliti. Rahasia tentang orang membosankan di area yang terlupakan dalam naungan ZHS, Regan Exander Galilei.
Dari balkon lantai 2 di gedung itu, Regan menatap hamparan tanah kosong yang ditumbuhi rumput menghijau di bawah sana. Hembusan angin kering terasa memperpanas cuaca terik siang ini. Ia memejamkan mata, ketika samar-samar harmonisasi nada-nada yang begitu ia sukai mengalun di udara. Dalam pejaman matanya Regan seolah bisa membayangkan melodi-melodi yang menari-nari berbaur terbang kesana kemari layaknya angin. Betapa indahnya jika itu terlihat secara nyata.
Sekali lagi Regan memandang hamparan rumput di bawah sana. Terulas senyum tipis di sudut bibir sampai kemudian ia memutuskan beranjak menyusuri koridor. Tepat di ujung koridor saat ia akan menuruni tangga, pintu dari ruang terdekat terbuka menampakkan sosok berkacamata dari dalam sana.
"Xander...."
Regan urung melangkah dan berbalik dengan senyum yang terpatri di wajahnya. Senyuman berbeda, yang penuh ketulusan tanpa sedikitpun tersirat kepalsuan. Karena memang, hanya disini, tak ada apapun yang perlu ia tutupi.
"Selamat atas audisinya."
Belum sempat Regan menjawab sosok lain berdatangan dari dalam dengan berbagai ekspresi dan ucapkan selamat. Ada yang berseru heboh, yang mengungkapkan sebatas senyuman, atau yang hanya diam namun cukup terbaca apa yang ia sampaikan lewat kedipan mata. Bagaimanapun mereka menunjukkan sukacitanya atas kemenangan yang Regan raih atas salah satu kontes piano yang ia ikuti, Regan menanggapi dengan senyum lebar sampai matanya pun ikut menyipit, senyum yang terpancar sampai ke matanya. Ekspresi paling jujur, yang Regan tunjukan pada orang-orang yang juga jujur. Tidak ada kebohongan. Tidak ada kepalsuan. Karena jika mengangkut hal itu, Regan tidak akan menutupi apapun.
Piano. Mimpi terbesarnya... dan juga hidupnya.
Ada sekitar 7 orang serta Regan sendiri dalam circle ini. Sebuah perkumpulan yang diikat oleh sebatas hobi yang sama, namun kemudian berkembang menjadi ikatan kekeluargaan yang kentara. Regan membentuk kelompok dengan 6 orang lainnya yang juga menggilai piano seperti dirinya. Dengan dukungan salah seorang guru, akhirnya mereka membentuk kelompok tersebut. Kelompok yang terdiri dari berbagai macam karakter, yang berasal dari berbagai kalangan berbeda, mereka seakan menjadi satu oleh alunan dari melodi tiap tuts yang berjejer pada alat musik bernama piano. Tidak ada yang tau kecuali mereka, karena memang ini adalah rahasia yang harus dijaga. Bukannya ada kesepakatan tertulis dan sebagainya, namun masing-masing dari mereka secara otomatis merasa harus menutupi ini dari orang luar. Secara otomatis otak mereka bekerja dengan pola pikir 'Menyembunyikan hal berharga untuk melindunginya'.
Kadang terasa aneh dan menggelitik perasaan Regan, dengan orang-orang tak sedarah, yang hanya berpegang pada kesamaan hobi, mengapa bisa mengikatnya sampai sekuat ini? Bagi Regan tempat ini adalah rumah yang sesungguhnya, yang seakan selalu memanggilnya untuk datang, selalu siap menyambutnya untuk pulang.
"Hmm?? Oohh... jadi disini."
Regan baru saja melewati anak tangga terakhir setelah meninggalkan kehebohan di belakangnya. Belum juga ia menapaki lantai dasar, suara itu mengusik lamunannya hingga langkahnya pun turut terhenti. Ia menoleh ke samping kanan seiring tatapan matanya menajam, senyumnya memudar berganti geraman yang tertahan.
Seorang yang Regan ketahui bernama Siena Arcaya Yusra bersandar di dinding dengan tangan bersedekap di depan dada. Gadis itu menganggukan kepala ke atas ke bawah seolah baru saja memahami sesuatu.
"Exander memang beda...!"
Terlepas dari kekehan Siena yang mengudara, maupun raut tenang gadis itu, Regan lebih ingin tau tentang faktor pendorong yang membuat Siena bisa sampai ke tempat ini.
"Gak heran, sih. Miss Denada kan guru yang unik, wajar kalau keberadaan circle kalian ini adalah nyata."
Orang ini.... Regan menggeram dalam hati. Siena seakan tau segalanya. Terlebih lagi gadis itu tidak lagi memperlihatkan segaris senyum pun, hanya raut datar dengan sepasang mata menyorot tajam. Oh, Regan kira Siena tidak akan pernah membuka topeng kepalsuan di balik senyum indahnya selama ini. Bagaimana Regan tau? Mudah saja. Bukankah mudah untuk mengenali orang yang satu jalur dengan kita? Pada hakikatnya Regan, maupun Siena, mereka layaknya jiwa yang sama dalam raga berbeda. Dua orang yang sama-sama memakai topeng keramahan dibalik kebekuan yang mereka simpan.
__ADS_1
"Aaron, pewaris utama, ah bukan, kepala keluarga De Fornax. Lalu Aeera, penerus Imperium Galilei," entah kemana arah pembicaraan yang Siena utarakan, ia diam untuk beberapa saat dengan mata yang menerawang. Mendapati Regan tak berminat untuk memberi tanggapan, ia kembali bersuara. "Dengan dua kakak monster seperti itu, bisa-bisanya adiknya terjebak dalam persembunyian di gedung tua yang terlupakan, ck, ck."
"Exander memang beda...." Siena mengulangi kata yang ia ucapkan beberapa saat lalu. Ia pikir Regan akan tetap diam terpaku berdiri di anak tangga terakhir seperti itu. Namun, siapa sangka lelaki yang tengah memandang kosong koridor panjang di depannya itu mengukir senyum di sudut bibir. Dan kata yang Regan lontarkan membuat Siena tergelak dan semakin percaya...
"Iya, memang beda."
... ternyata benar-benar berbeda.
<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<
"Alena," Panji meraih tangan Alena yang berjalan di depannya ke dalam genggaman. Ia menyejajarkan langkah dengan gadis itu kemudian sedikit menunduk menatap wajahnya dari samping, "Omelet."
Satu kata itu membuat Alena mengernyit, ia menoleh ke samping pada Panji yang masih saja menatapnya serius seolah Alena adalah kumpulan soal kimia yang harus segera diselesaikan.
"Omelet?"
"Kamu kayak omelet."
"Maksudnya?"
Panji tidak menjawab dan beralih fokus ke depan. Sedang ekspresi Alena sudah bermacam-macam. Apasih? Setidaknya jangan bicara kalau hanya membuat orang penasaran tanpa kejelasan seperti ini. Pikir Alena. Namun ia tidak ingin memperpanjang masalah dan memilih mengalihkan fokusnya dari wajah Panji. Dari arah depan Alena melihat Regan berjalan dengan senyum sumringah. Regan yang bak malaikat, seakan memancarkan cahaya yang membuatnya mudah terlihat di antara kerumunan orang-orang yang memadati koridor di jam istirahat ini.
Saat jarak Alena dengan Regan tinggal beberapa langkah lagi. Saat Alena mendapati mata Regan terkunci padanya. Saat ia lihat Regan membuka mulut bersiap menyapanya. Saat itu juga telinga Alena menangkap gumaman pelan dari orang yang berjalan dengan menggandeng tangannya di samping dirinya. Gumaman yang tidak jelas dan pelan, seakan di ucapkan tanpa minat, anehnya terdengar jelas di telinga Alena.
"Aku suka omelet."
Dan kericuhan di sekitar menguap begitu saja. Sapaan beserta sosok Regan yang bersinar memudar begitu mudahnya. Dalam sekejap setelah tiga kata itu ia tangkap, entah mengapa Alena merasa jantungnya bermasalah. Bukannya memompa darah keseluruh tubuh, jantung Alena malah seakan fokus menggusur seluruh darah ke satu target, yaitu wajahnya.
Panas.
"Perpustakaan kayaknya adem," ujar Alena seraya menarik Panji yang ia pikir berjalan lamban. Tanpa ia sadar, dengan pandangan orang-orang di sekitar serta riuh rendah gosip dirinya yang tengah beredar. Ditambah lagi tatapan yang sulit diartikan dari seseorang yang tanpa sengaja ia abaikan.
Panji Aksara Yudha. Seorang Panji Aksara Yudha. Harusnya Alena tidak menaruh harapan apapun pada lelaki itu. Sehingga ia tidak perlu menjadi gelisah penuh tanya tak tentu seperti saat ini. Bahkan pelajaran kimia favoritnya yang tengah berlangsung sama sekali tidak bisa mengalihkan fokusnya dari sosok lelaki itu, Panji Aksara Yudha.
Sial!
Alena meletakkan dengan kasar pena yang ia genggam semula ke atas meja. Menimbulkan bunyi yang mencolok di antara keheningan yang mengisi kelas. Guru Kimia yang sedang memeriksa bahan ajar beserta seisi kelas dibuat menoleh karena kebisingan kecil itu. Yang mana direspon Alena dengan deheman kecil sampai kemudian ia meminta izin meninggalkan kelas. Pertama kalinya seorang Alena melakukan hal itu.
ZHS memang terlalu menyerahkan semua keputusan pada siswanya, salah satunya ya itu. Siapapun bebas untuk meninggalkan kelas apabila tidak ingin belajar. Konsep dasarnya, siswa yang ingin belajar bila tetap dikelas hanya akan membuang waktu karena pikirannya sendiri tidak fokus pada pelajaran, lebih baik ia keluar dan juga mempernyaman murid lain yang tetap dikelas. Karena menurut riset, semakin sedikit orang maka kita akan semakin fokus, namun jika banyak orang walau mereka hanya diam sekalipun itu tetap bisa membagi fokus yang mana bisa saja tidak sengaja mata kita menangkap sosok salah satu orang, lalu kembali fokus, diantara itu fokus kita telah terbagi antara objek yang baru terlihat dengan pelajaran didepan kelas.
Kembali pada Alena lagi. Ia memutuskan untuk keluar kelas tapi juga tidak mempunyai tujuan saat di luar. Kakinya terasa sulit dikendalikan, serius dia ingin sekali mendobrak pintu kelas Panji saat ini. Panji itu....
Sial! Alena kesal. Ia benci sekali perasaan ketergantungan ini. Perasaan yang harus ia tuntaskan. Dan itu hanya akan terwujud dengan menemui Panji. Entahlah bagaimana tepatnya, tapi Alena menyukai kehadiran Panji akhir-akhir ini, kehadiran lelaki itu di dekatnya di jam-jam tertentu dalam waktu sekolah, kehadiran lelaki itu secara tiba-tiba pada saat-saat tertentu di hadapan banyak orang (selama ini mereka selalu bertemu di tempat yang tidak akan dilihat oleh siapapun), kehadiran lelaki itu yang berhasil mengobrak-abrik dunia pergibahan. Panji selalu muncul seperti ombak, datang lalu pergi dan kemudian datang kembali dalam waktu-waktu yang Alena rasa sangat pas. Lekaki itu tau timing-nya. Tapi tiga hari belakangan Panji tidak datang lagi padanya, ombak itu sepertinya surut terlalu jauh sampai butuh waktu lama untuk pasang kembali. Dan Alena benci harus menunggu 'waktu yang lama' itu.
"Alena...!"
Tangan Alena ditarik dari belakang membuat ia berbalik cepat bahkan lebih dulu dari sosok yang menariknya membalik dirinya. Namun kemudian ia dibuat berdecak kesal saat tidak mendapati sosok yang diharapkannya. Bukan Panji, tapi Regan yang terlihat terengah sehabis berlari. Sepertinya ia memanggil Alena dan Alena tidak menanggapi sehingga ia pun berlari untuk menyusulnya. Sebenarnya Alena dengar tapi dia pura-pura tidak dengar.
"Kamu kenapa keluar kelas?"
"Kamu sendiri kenapa keluar?"
"Aku nanya duluan Alena."
"Dan aku butuh jawaban duluan, Regan." Alena menekankan pada nama Regan sejalan dengan matanya yang tampak malas. Alena malas bertemu Regan. Di kelas, di koridor, di lapangan, di kantin, perpustakaan, loker, gedung ini, gedung itu, tempat ini, tempat itu, disini, disitu, dimana-mana rasanya ada Regan selalu. Alena bosan melihatnya, ia bosan dengan Regan yang selalu saja punya cara untuk meraih perhatiannya. Bosan sekali, tapi juga ia susah untuk tidak peduli, benar-benar memusingkan.
"Mau ke taman?" Regan menawarkan, sedikit mengernyit ketika keringat di kening meluncur ke ujung mata dan meresap kedalam kelopaknya. Perih.
Alena menarik dasi Regan, mengelapkan ujungnya pada keringat lelaki itu. Regan yang berkeringat, malah dia yang dibuat gerah. Alena selalu tidak tahan melihat orang yang berkeringat apalagi sampai mandi keringat. Ia sendiri selalu sedia tisu dikantong untuk mengeliminasi walau setetes saja keringat di tubuhnya. Tapi... seminggu lalu Panji lari-larian di jam olahraga sampai tubuhnya penuh keringat, rambut dan juga bajunya sampai lembab. Sehabis itu tanpa membersihkan diri Panji menemui Alena di taman dan memeluknya. Dan Alena tidak protes.
Habisnya dia wangi.
Kening Alena mengernyit saat teringat lagi pada lelaki itu. Kepalanya urung mengangguk atas ajakan Regan. Langkah kaki Alena segera membawa tubuhnya menuju kelas Panji saat bel pergantian jam berbunyi. Ia meninggalkan Regan yang menatap punggungnya penuh tanya.
"Panji ada?" Tanya Alena tanpa basa-basi pada salah satu anak kelas Zero yang keluar dari pintu kelas. Alena menelisik sekilas name tag nya, 'Yudhistira Cakra Warman'.
"Gak."
Oh. Alena baru tau kalau ada lagi manusia irit bicara di kelas Zero selain Panji. Tetapkan saja panggilannya Cakra, lelaki itu beranjak pergi tanpa menunggu lagi kelanjutan pertanyaan Alena. Mau tak mau Alena melongok ke dalam kelas. Seperti rumor, kelas Zero itu memang 'beda'. Penghuni kelas ini tidak keseluruhannya adalah manusia irit bicara atau orang yang kalem. Tapi Alena setuju seribu persen kalau mereka semua punya tingkat kecuekan di atas rata-rata. Terbukti dari setiap orang yang asik pada perannya tersendiri di kelas itu, dan juga tidak ada yang mengusik keberadaan Alena di dalam kelas tersebut.
Alena menghampiri meja terdekat dengan pintu. Seorang laki-laki---kelas ini memang kebanyakan laki-laki, dari 20 hanya ada 5 perempuan lebihnya laki-laki. Dari name tag nya, Gani Mahendra, mungkin ia bisa dipanggil Gani? Terserah saja, toh Alena tidak perlu menyebut namanya.
"Panji kemana?"
Gani yang sedari tadi hanya melamun sambil menopang dagu, mendongak menatap Alena. Ia mengerjab beberapa kali kemudian menjawab, "Ntah," lalu ia kembali lagi pada lamunannya. Seorang perempuan yang diketahui bernama Jingga yang duduk di samping meja Gani menggerutu tentang game yang tengah dimainkannya. Gani menoleh, tanpa bicara menyentuh layar ponsel gadis itu, kemudian Jingga ber-'o' panjang tanpa suara lalu Gani kembali melamun lagi.
Alena malas bertanya lebih lanjut. Ia memutuskan pergi, sedikit tersenyum geli saat melihat tingkat murid kelas Zero lain yang menurutnya sangat absurd. Bukan aneh, tapi mereka unik. Quirky students. Begitu kepala sekolah menjuluki penghuni kelas Zero itu. Satu-satunya kelas Bahasa dengan nomor 00 diantara seluruh angkatan. Karena menang kelas itu baru dibentuk tahun lalu dan tahun ini tidak ada murid baru yang mengisi kriteria kelas Zero bagi kepala sekolah. Bagaimana kriteria itu sendiri juga tidak ada yang tau. Hanya kepala sekolah sendiri yang tau. Kelas Zero yang sekarang saja dia yang memilih semua. Kumpulan murid-murid yang menurutnya 'unik'.
"Oh.... Siena!"
Siena yang berpapasan dengan Alena berjengit kaget karena Alena memanggilnya kelewat semangat.
"Y-ya? Kenapa? Ada apa? Eh, anda siapa? Ya ampun, ini dimana??!"
"-_-" Alena jadi menyesal sudah memanggilnya. Tapi, menurut pengamatannya semenjak Panji sering mendatangi dirinya, Siena termasuk satu-satunya orang yang terlihat sering bersama Panji disekolah. Ia sudah pernah tanya, tapi Panji menjawab sama 'Yaya', begitu katanya. 'Yaya' itu pasti panggilan khusus, karena Alena sering mendegar orang-orang memanggil Siena 'Nana' bukan 'Yaya'. Aduh, Alena jadi tambah kesal sekarang.
"Ih, malah kicep. Apaan Bu Wakil?" Tanya Siena, dia memang orangnya friendly sekali, juga cerewet. Alena yang tidak terlalu akrab saja sampai tau itu, apalagi orang lain yang dekat dengan gadis itu, pasti hafal total dengan sikapnya.
"Tau... Panji dimana?" Alena bertanya ragu-ragu, juga sedikit mengutuk diri kenapa dirinya malah bertanya pada Siena? Alena jadi makin kesal saja saat ingat tidak ada hal lain yang ia tau tentang Panji selain nama lengkap dan kelasnya saja. Nomor ponsel, sosial media, alamat rumah dan lainnya yang harusnya diketahui seorang pacar sepertinya sama sekali ia tidak tau. Salah Panji juga tidak memberitahu, bela sebagian hatinya. Tapi, kan Alena tidak pernah bertanya, Panji tidak akan bicara jika tidak ditanya, ungkap sebagian hati lainnya. Sudahlah masih bisa tanya nanti, suara hati lainnya yang berperan sebagai penengah.
"Gak tau," Siena menggeleng tapi kemudian mengangguk. Membuat bingung saja. "Dia gak sekolah, udah tiga hari sama sekarang. Di telpon katanya ngantuk, itu aja. Mau ngecek ke rumah, tapi kelupaan terus," ia menambahkan dan menyengir di akhir kalimat.
Ada beberapa hal yang menjadi sorotan Alena di deretan kalimat Siena. Pertama kata 'telpon', ternyata mereka sedekat itu, pikirnya. Kedua, pada kata 'ngantuk', alasan Panji sama absurdnya dengan kelakuan sekumpulan anak kelas Zero lainnya, pantas jika Panji tergolong as the quirky student oleh kepala sekolah. Oh, ya, sedikit informasi yang terlupa, kelas Zero dikelola langsung oleh kepala sekolah, kata lainnya kepala sekolah ZHS yang mengajar di bidang Ilmu Filsafat itu merupakan wali kelas dari kelas Zero. Ah, lalu yang ketiga, pada potongan kalimat "ngecek ke rumah". Jadi, Siena tau alamat Panji?
"Boleh minta alamatnya?" Pinta Alena to-the-point. Dan tanpa diduga Siena mengiyakan dengan mudah.
"Tolong tanyain Aksa, butuh kopi berapa kilo biar ngantuknya ilang gitu."
__ADS_1