
...[KENAPA HARUS ALENA?]...
.../•...
...\•/...
Malam ini hujan turun lagi membasahi perumahan pinggir kota itu. Entahlah dibelahan dunia lain juga sama dinginnya seperti tempat itu, Panji tidak tau. Yang ia tau hanyalah desir angin beserta rintik hujan yang menyerbu atap rumahnya menimbulkan kebisingan yang justru anehnya terasa menenangkan.
Panji tengah terduduk bersandar pada dinding di samping jendela kaca besar di kamarnya. Tirai jendala itu ia singkapan hingga menampakkan pemandangan di luar sana. Beruntung atau tidak, tapi malam ini listrik mengalir semestinya membantu penerangan. Lampu-lampu neon di perkebunan (yang ia sendiri tidak tau apa fungsinya lampu itu dipasang disana) membantu pandangan mata Panji untuk melihat susana halaman belakang rumah malam ini.
Kaca jendela itu terasa dingin, membuat Panji betah menempelkan kepalanya berlama-lama disana. Deru nafasnya membentuk embun di permukaan bening itu. Panji mendesah disela-sela rintik hujan mereda. Sekujur tubuhnya sempurna dingin, terlebih area yang terbuka, telinga, wajah, tangan, kaki, dingin sekali. Saking dinginnya Panji sampai berasumsi kalau bagian-bagian tubuhnya itu telah membeku.
Malam ini, adalah malam kesekian dari malam-malam sebelumnya dimana Panji melemparkan waktu tidurnya untuk meringkuk disamping jendela besar transparan itu. Ia sudah tidak bisa lagi menghitung berapa banyak waktu yang ia habiskan hanya dengan memandang hamparan halaman belakang itu. Setiap malamnya, hanya memandang kosong dan ia sendiri tidak tau harus memikirkan apa disaat-saat seperti itu. Panji memang bukan tipe orang yang banyak melamun, karena hakikatnya melamun itu karena ada yang dipikirkan. Ia lebih ke arah pendiam, pendiam yang sebenar pendiam. Diam dimulut, hati juga pikiran. Benar-benar kosong saat ia mulai larut memilih bungkam.
Tapi, malam ini sesuatu mengganggu diamnya Panji. Dari detak jarum jam yang mengalun konstan di sela hujan, relung Panji memicu sebuah pertanyaan. Hal sederhana yang mungkin banyak dipertanyakan orang di luar sana, 'Apakah hidup ini adil?'. Tidak begitu jelas bagi Panji mengapa ia sampai pada pertanyaan itu. Ia hanya teringat pernah melihat seseorang yang menangis dengan wajah setegar baja, seseorang yang banyak tersenyum tapi hanya mendapat balasan cela, seseorang yang mempertanyakan keadilan itu pada bentangan langit gulita malam diatasnya.
Ugh, tidak menyenangkan ternyata berdiam diri membawa sebuah pertanyaan. Karena saat tak kunjung mendapat jawaban, pertanyaan baru pun muncul berdesakan. Semua saling berhubungan. Diibaratkan sebuah ranting, dari dahan pusat bercabang, lalu dari cabang itu bercabang lagi dan seterusnya seakan tidak ada habisnya cabang-cabang itu terus tumbuh. Panji sendiri semakin kewalahan sampai ia kembali pada pertanyaan itu lagi, 'Apa hidup ini adil?'.
Sepertinya Panji sedang sial malam ini. Seluruh hatinya berkecamuk, bagai pohon ketela yang tiba-tiba diamuk badai, terayun kesana kemari mengikuti hempasan ganas angin. Dan ditengah itu semua ingatannya kembali pada sore tiga hari silam. Hari dimana tim Redaksi sekolah menerbitkan berita dengan headline: 'WAKIL DEWAN SISWA & SOSOK MISTERIUS, MUSIM SEMI BABAK KE-2'.
Hari itu usai studi, Panji terbangun ketika ruangan itu telah kosong. Ia telat satu setengah jam dari jam pulang. Studi yang mengambil tempat di aula terbuka itu usai tepat waktu yaitu pukul 15:00 tadi yang mana berati saat Panji terbangun jarum jam menunjukkan pukul 16:30. Waktu itu matahari sudah merangsek ke barat, bahkan sepertinya hari itu langit menggelap lebih cepat. Samar-samar lembayung pun mulai menjajaki kaki langit.
Panji menoleh ke sebelahnya, Alena tidak lagi ada di tempat semula. Melainkan berpindah ke bangku panjang dalam rumah kaca di pinggir aula. Panji melihatnya, gadis itu yang duduk memunggunginya bahkan dapat Panji ketahui raut datar yang khas di wajahnya. Ada kesan dingin tapi juga ramah, pasti itu yang terpampang di wajah Alena kini.
Hendak mendekat, tapi nyatanya perhitungan Panji salah. Beberapa langkah dari tempat semula, Panji dapat melihat siluet Alena terbungkus tempias cahaya matahari sore. Senyumnya berbingkai keteduhan, seteduh lambaian pohon di tengah terik panas yang menggila, membuat sejuk layaknya semilir angin yang menyapu peluh dalam gerah menyiksa. Hal yang membuat Panji urung melangkah lebih dekat, senyum itu tidak untuk meneduhkannya, tidak untuk pengusir gerahnya. Tapi terpatri untuk seseorang yang sudah Alena tentukan dengan sendirinya, seseorang yang berdiri terhalang oleh rimbunnya tanaman dalam pot-pot yang berjejeran. Dan seseorang itu perlahan memperjelas siluet abu-abu dirinya, menyambut persinggahan sejuk yang Alena tawarkan untuknya berikut kelegaan yang terpatri di seluruh gestur tubuhnya.
Panji hanya diam saat itu, tepatnya tidak tau harus menempatkan dirinya diposisi seperi apa, harus bereaksi bagaimana, ia tidak mengerti. Tak ada yang mengajarinya menanggapi hal-hal semacam ini, dan ia juga tidak sempat belajar untuk bereaksi terhadap hal-hal tersebut. Panji terbiasa diam untuk sebagian besar kejadian. Diam yang menyimpan lebih banyak makna, diam yang menutupi lebih banyak rasa, dalam diam Panji tidak pernah seutuhnya acuh akan segalanya.
Jika ada yang melihat tatapan Panji kala itu, maka akan ditemui kekosongan di sepasang netra biru kelamnya. Benar-benar kosong disamping hatinya berderit pilu. Ia sering kali abai akan hal itu, hingga tanpa sadar hal itu menjadi bom waktu, semua menumpuk dan menunggu hitungan jari hingga meledak nantinya.
Detik itu, ketika mata Panji meredup dalam kemilau cahaya sore, Alena menoleh. Netra mereka bertubrukan dalam satu garis lurus, perlahan kilau redup itu terang kembali. Panji menatap dengan mata terbuka lebar Alena yang juga memandang dirinya di pinggir aula. Hanya hitungan detik mata Panji meredup kembali, ia mengerjab sekali lalu kemudian berbalik pergi. Dari ekor mata juga di dapatinya Alena menukar pandang pada seseorang di dekatnya lagi.
Omong kosong jika seseorang bisa sepenuhnya terlepas dari masa lalu. Nyatanya jalinan kisah lampau itu seperti benang kusut mengenyam berbagai kisah selanjutnya, mencampuri kumparan benang baru merangkai rajutan simpang siur yang rumit.
Regan adalah satu dari sekian masa lalu Alena, lantas mengapa? Toh, tidak ada yang bisa mencegah lelaki itu juga hadir pada masa sekarang atau juga masa depan Alena nantinya.
Dari sekian banyak cabang yang tercipta dari pertanyaan 'Apakah hidup ini adil?' beberapa diantaranya Panji mendapati pertanyaan itu, 'Bisakah kenangan itu dihapuskan? Dapatkah sepotong kumparan abstrak waktu itu dienyahkan? Bolehkah gulungan benang dari masa lalu itu hanya tersimpan apik pada tempatnya dan tidak mencampuri rajutan baru dimasa kini?' dan masih banyak pertanyaan lain yang membuncah mengusik ketenangan malam Panji setelah hari itu.
Ia gelisah akan bentuk abstrak masa lalu yang bagai kaca jendelanya, transparan tapi memiliki wujud yang nyata. Ia cemas akan masa depan yang tidak terjangkau hitungan logikanya. Panji resah akan segala hal yang tak pasti, semua hal yang tidak bisa ia kendalikan, tidak bisa ia baca seperti tulisan-tulisan Acrhoma, tidak bisa ia pecahkan seperti rumus-rumus fisika, tidak bisa ia perhitungkan seperti angka-angka matematika. Semuanya terasa samar dan tidak masuk akal. Namun lucunya itu semua bahkan terasa sangat nyata, dan juga terjadi secara nyata. Bagaimanapun Panji menyangkalnya, semuanya adalah nyata.
Dari matanya yang redup, Panji menatap kosong tetes hujan di luar sana yang tertinggal satu dua. Dapat ia dengar nyanyian lirih jangkrik setelah hujan reda, beserta gemericik air dari sungai puluhan meter dari tempatnya berada. Hujan telah reda, namun dinginnya masih tersisa. Sama seperti waktu yang telah berlalu tapi kenangannya terus mengikut pada waktu-waktu berikutnya.
Panji menekuk lutut, perlahan melingkarkan sepasang lengan dan menumpukan kepalanya disana. Matanya mengerjab satu dua kali memandang kosong ke luar jendela.
Dingin sampai ke tulang-tulang menusuk jauh membuat ngilu setiap sudut hatinya. Masih banyak hal yang tertinggal setelah hujan reda. Begitu banyak kenangan tersisa setelah masa lalu sirna. Mirisnya, seperti Panji yang tak bisa mengelak dari dingin yang hujan sisakan, Alena pun tidak mampu seutuhnya lepas dari kenangan yang masa lalunya ciptakan. Mencampuri rajutan baru dengan kumparan benang kusut masa lalu, menimbulkan simpang siur yang tanpa sadar membuatnya memilih menyelesaikan benang kusut itu dan mengabaikan rajutan yang menunggu terselesaikan.
Panji menunggu, hingga Alena selesai dengan kekusutan masa lalunya kemudian kembali pada rajutan kisah mereka. Tapi, Panji abai akan kemungkinan dimana Alena bisa saja memilih merajut benang lama yang sudah ia selesaikan kusutnya. Dan Panji sepenuhnya lupa, betapa mengerikannya hati manusia yang tak mungkin ia kendalikan seutuhnya.
Sampai rajutan itu hanya tergeletak tak terselesaikan, tanpa simpul yang menguatkan dan semuanya kembali terurai menjadi benang polos tanpa makna.
<<<<<<<<<<<<<<<<<<<
Terhitung empat hari dengan sekarang sejak terakhir Alena melihat Panji dari bangku panjang di rumah kaca pinggir aula. Juga empat hari setelah berita dengan headline berhuruf kapital dari tim Redaksi menjadi trending topik setiap sudut ZHS. Sejak saat itu Alena tidak lagi menemui keberadaan Panji di sekolah. Hal yang wajar dan sudah biasa saja. Bahkan Alena pernah tidak melihat Panji berminggu-minggu lamanya walau mereka berada di sekolah yang sama. Panji yang bagai transparan membuat orang-orang sering lupa akan kehadirannya.
Hari ini Alena kembali melihat sosok Panji, yang mana membuatnya kembali teringat akan suatu pertanyaan dengan kata tanya 'siapa?'. Pertanyaan yang sama membuncah di kepala Alena, baik empat hari lalu di pintu kantin tingkat II maupun sekarang di tepi lapangan yang menghijau rumputnya.
Alena melihatnya, lapangan itu lengang tidak dikunjungi oleh satupun penghuni ZHS terkecuali dua orang itu. Panji dan murid baru tingkat IV yang ia pandu berkeliling sekolah beberapa minggu lalu. Satu-satunya murid pindahan yang diterima sepanjang sejarah berdirinya ZHS dari sekian banyak murid pindahan lain yang di tolak dan akhirnya masuk ke sekolah lain dikota ini.
Namanya Siena. Siena Arcaya Yusra kalau Alena tidak salah. Seperti kedatangannya, nama Siena juga cukup aneh bagi Alena. Sama anehnya dengan Panji yang secara terbuka menggandeng perempuan itu empat hari lalu, juga sama anehnya dengan mereka yang kini berbincang ria di bawah gawang, di teduhi rerimbunan pohon dari pinggir lapangan.
Panji duduk bersandar di tiang gawang sedang Siena bersandar pada tiang satunya. Panji menunduk membaca buku di tangannya dan Siena mengganggu dengan melempar rerumputan yang dicabutinya. Siena berbicara, berceloteh ria, tertawa dan Panji hanya mengatupkan mulut mengangguk dan menggeleng ala kadarnya.
Panji mengangkat wajah. Entah kebetulan atau apa matanya langsung bertemu pandang dalam satu garis lurus dengan Alena. Hitungan detik kemudian, Panji kembali ke bukunya. Alena masih pada pandang yang sama.
Siena yang melihat hal itu bertanya, pertanyaan yang tidak bisa didengar Alena karena jarak puluhan meter yang memisahkan mereka.
"Siapa?" Pertanyaan yang sama Siena lontarkan seperti tempo hari. Saat Panji mengubah arah di belokan koridor, saat Siena melihat siluet dua orang yang berpelukan, saat pertama kalinya bagi Siena mendapati Panji mengalihkan pandang ketika bicara dengannya.
Panji khusyuk dengan buku bacaannya, tapi Siena tau persis bahwa anak itu sama sekali tidak fokus pada deretan huruf di lembar putih itu.
__ADS_1
"Aksa?"
Panji menutup bukunya, jerih. Tak satu halaman pun terselesaikan olehnya sedari tadi. Ia mendongak, lagi-lagi mendapati Alena pada garis lurus pandangnya. Gadis itu masih disana, puluhan meter darinya menatap ke arah dirinya.
"Siapa?" Siena mengulang tanya yang sama, tapi juga mendapat jawaban diam yang sama. Ia lelah bertanya dan lebih memilih memastikan langsung, menghampiri Alena yang masih terpaku di ujung sana.
"Yaya...."
Tangannya yang di tangkap Panji mebuat Siena urung melangkah. Ia berdiri mengadap Panji yang mendongak masih duduk lesehan di rerumputan. Dan detik itu Siena mendapati ada kilau sendu di sepasang netra biru kelam adiknya.
Adik?
Kejutan baru bukan? Siena adalah putri tunggal Acrhoma, kakak dari Panji. Jangan kira Panji itu anak tunggal. Dia nomor tiga, bungsu dari tiga bersaudara. Kakak pertamanya laki-laki 7 tahun lebih tua darinya, memilih hidup sendiri sejak menginjak usia remaja dan berpetualang ke berbagai belahan dunia seperti Acrhoma. Namanya, Panca. Aditya Panca Batara. Satu-satunya yang mewarisi nama Batara dari ayah mereka.
Lalu, untuk Siena sendiri ia sejak kecil tinggal di tanah kelahiran Bunda, tanah kelahiran Acrhoma. Pertma kali ia datang ke negri itu ketika usia 6 tahun dan ia langsung jatuh cinta pada tempat itu. Memilih meniti hidup dari sana.
Sejatinya anak-anak Acrhoma mewarisi jiwa petualang ibu mereka. Hanya Panji yang menetap di rumah kayu pinggir kota itu saat saudara-saudaranya perlahan beranjak pergi. Hanya Panji yang bergelung dibawah naungan tempat itu saat saudara-saudaranya mengepakkan sayap terbang mengitari dunia yang belum pernah mereka temui sebelumnya. Hanya Panji yang berdiam diri, tenggelam dalam kebisuan dipenuhi sepi.
Panca dan Siena datang sesekali ke rumah tempat mereka dilahirkan. Melihat adik kecil mereka beranjak dewasa. Sebelumnya saat Panji masih kanak-kanak Ayah dan Bunda selalu membawanya dalam setiap perjalanan mereka, juga menemui kakak-kakaknya dinegri seberang. Ketika menjelang remaja Panji mulai enggan ikut, hingga kemudian ia tidak pernah ikut pergi lagi dan menetap di rumah kayu kecil mereka yang sederhana.
"Aku, lapar."
Kata pengalihan yang sama tapi ada jeda yang sulit Siena pahami maksudnya. Maka setelah bel panjang berbunyi dan jam istirahat siang itu berakhir, Siena tidak lagi kembali mengikuti studi wawasannya. Setelah berpisah dengan Panji di ujung lorong, ia berakhir berdiri di pinggir kolam ikan hias dengan Alena di depannya.
Mata Siena menyelidik tajam, tidak kalah tajam Alena membalas. Ada jeda hitungan menit hingga buncahan pertanyaan itu hanya berujung dengan satu kata penuh tanya.
"Siapa?" Mereka berkata serempak. Ternyata buncahan pertanyaan masing-masingnya memiliki awalan sama, 'siapa'. Dan masing-masingnya juga enggan menjawab sebelum mendapat jawaban yang diinginkannya. Hingga pada akhirnya pertanyaan itu tidak akan pernah terjawab sebelum ada yang mengalah untuk menjawab pertanyaan yang lainnya lebih dulu. Namun keduanya bersitegang, ingin mendapat jawaban mereka segera.
"Alena!"
Beberapa meter dari mereka Regan melambai kemudain melangkah mendekat. Detik itu Siena tidak perlu jawaban apapun lagi. Deretan pertanyaannya terjawab hanya dengan kehadiran Regan disana, dan pandangan kosong adiknya puluhan meter dari mereka.
"Kamu kenapa disini? Gak ikut studi?"
Alena tidak menjawab pertanyaan itu, ia hanya menarik lengan Regan untuk berbalik pergi dari sana. Sedang Regan hanya menatap bingung pada Siena yang dikenalnya sebagai murid baru dari tingkat IV, mengangguk tersenyum ramah lalu pasrah mengikuti langkah Alena. Mereka berbelok masuk ke gedung Astronomi tanpa tau bahwa di depan sana Panji menatap kosong dan tidak beranjak hingga berjam-jam berikutnya.
<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<
Sementara itu, diantara riuh rendah pekerja, Panji terbangun dari tidurnya. Matanya menatap lurus langit-langit kamar yang hanya tampak kelam karena tidak adanya penerangan di ruang ini. Menghela nafas sejenak Panji memutar tubuhnya menjadi menelungkup. Dan yang terjadi berikutnya sama seperti yang sudah-sudah ketika ia bermimpi buruk.
Kali ini Panji hanya membiarkan air matanya mengalir tanpa suara. Ia menikmati rasa tenang tiap kali tetes demi tetes liquid itu jatuh dari matanya. Namun tak dapat dielakkan kenyataan dimana sesak itu setia datang tanpa mau pulang. Perasaan tersiksa akan sesuatu yang tidak ia tau membuat Panji kadang berpikir bahwa ini hanyalah halusinasi.
Dalam mimpi kali ini, anak lelaki itu datang lagi. Anak lelaki yang sangat mirip dengannya, yang memakai kalung berbandul bulan sabit hitam, yang ia yakini bukanlah dirinya, yang selalu memancing pilu tiap kali Panji mengingatnya. Gema rindu itu bertalu. Gemericik luka turut menghiasinya. Dan Panji seakan mau gila disetiap detik bertanya 'siapa?' tanpa ada yang berbaik hati mau menjawabnya.
Selain itu, belum juga terjawab pertanyaannya malah muncul wajah-wajah baru lagi. Wajah-wajah yang tidak Panji kenali tapi anehnya terasa familiar sekali. Ada keping ingatan yang ia rasa menyimpan tentang mereka. Tapi entah kepingan itu terpendam dimana. Panji merasa ada sesuatu yang hilang dan itu berbentuk sebuah kenang. Ada yang Panji lupakan, dan itu adalah hal yang sampai kini menganghantui hingga dia terjebak dalam berbagai pertanyaan.
Memikirkan hal ini memang tak akan ada habisnya. Sudah kering air mata pun masih tak juga terjawab pertanyaannya.
Kicau burung entah dari mana membuat Panji tertarik untuk meninggalkan gelisahnya. Ia bangkit dari ranjang menyibak tirai tipis dan pemandangan diluar sana segera terpampang jelas berkat dinding kamarnya yang transparan. Masih agak gelap diluar sana namun Panji dapat melihat jelas sepetak kebun anggur yang berbuah lebat. Ia keluar menuju halaman belakang lewat balkon kamarnya tanpa ada niatan untuk sekedar cuci muka menghilangkan kusut wajahnya terlebih dahulu.
"Pagiiii Den Panjiiii!!! Rimanya pas banget, deh, adoohh."
Walau Panji menjadi buta pun ia akan tetap bisa dengan mudah mengenali pemilik suara itu. Manusia yang sampai kini membuat Panji heran dulu nyawanya diberi atas dasar apa? Kadang Panji menjadi lebih serius memikirkan hal tak berguna seperti ini ketimbang hal yang lebih penting lainnya.
"Masih belekan udah keliaran ajaaa. Heran!"
"Yaya...."
"Ya?"
"Masih manusia udah berhawa setan aja. Heran."
Ya ampun! Bukannya marah Siena malah tergelak. Bahagia saja dia rasanya Panji bisa melontarkan guyonan begitu meski masih juga minim ekspresi. Setidaknya Siena mengapresiasi usaha adiknya itu untuk melawak dan ia harap bakat itu bisa lebih dikembangkan lagi kedepannya. Padahal pada kenyataannya Panji tidak berniat bercanda sama sekali, ia serius dengan apa yang ia katakan.
"Adeknya Si Panca ada kemajuan, kudu laporan nih!" Siena terkekeh melihat hasil rekamannya, pas sekali momennya saat Panji membalas guyonannya. Ia membagikan video berdurasi tidak sampai satu menit itu kepada kontak yang ia namai 'Jaka Tua' yang tak lain adalah Panca. Masih ingat Panca? Dia adalah Si Sulung yang hobinya berkelana dan kini entah sudah berhibernasi kemana pula.
Jaka Tua
|Lil bro~~
__ADS_1
|Astoge Na! Jangan disesatin itu anak. Kesian Bunda cuman sisa 1 itu aja koleksi yang waras:(
^^^Dia anaknya mandiri|^^^
^^^Sesatnya otodidak bos:v|^^^
Panji menghela nafas jengah melihat Siena sudah asik cakakak-cekikik dengan ponsel. Entah apa saja yang ia bahas dengan Panca disana. Panji tidak terlalu peduli dan kembali pada tujuan utamanya. Sebenarnya heran juga, bisa-bisanya Siena sepagi ini sudah ada disini. Padahal apartemen yang kakaknya itu tinggali berada di pusat kota yang sangat jauh dari kawasan ini. Sedikit informasi, Siena memang tidak tinggal serumah dengan Panji, dia lebih memilih tinggal di apartemen yang dekat dengan sekolah dan berada dilingkungan yang sesuai seleranya. Bertolak belakang dengan Panji, Siena itu orang yang paling tidak tahan dengan kesunyian dan sangat menyukai keramaian.
"Aksa!"
Baru juga Panji merasa damai dan akan memasukkan sebiji anggur segar ke mulutnya, Siena sudah kembali merecoki. Memasukkan anggur segera dan mengunyah dalam mulutnya, Panji lalu memilah anggur lainnya yang sekiranya sudah benar-benar matang, padahal semua anggur merata tingkat ke masakannya.
"Kamu sama Alena....?" Pertanyaan Siena terbilang tidak lengkap tapi ia paham Panji suda cukup mengerti. Terlihat dari anak itu yang mengangguk dalam posisi jongkoknya memetik anggur yang langsung disetor ke dalam mulutnya. Siena jadi ikut-ikutan berjongkok dan memetik sebiji untuk ia cicipi, jujur saja dia belum pernah makan anggur dari kebun ini karena itu baru ditanam satu tahun belakangan. Sedang bila dihitung-hitung sudah ada sekitar tiga tahun Siena tidak pulang sama sekali.
Sebelumnya sudah dijelaskan kalau Siena sedari kecil memilih tinggal di tempat kelahiran Bunda. Dia hanya pulang kesini sekali atau dua kali dalam setahun. Awal-awal ia tinggal di luar sana dia tidak pulang sama sekali sepanjang tahun karena Ayah, Bunda serta saudara-saudaranya sering datang melihatnya. Namun, sejak Panji memasuki masa remaja, anak itu jadi jarang bahkan sampai tidak pernah lagi ikut Ayah dan Bunda sehingga Siena yang pulang untuk bertemu adiknya itu. Dan tiga tahun belakangan Siena tidak pulang lagi untuk sekedar menemui Panji, ia terlalu sibuk dengan rutinitas sendiri sampai melupakan hal tersebut.
"Kenapa harus Alena?" Siena bertanya serius sekarang, dia memilih duduk bersila di atas tanah yang ditumbuhi rerumputan yang menggelitik kulit.
Panji memamerkan sebiji anggur ke depan wajah Siena, "Kenapa harus anggur?" tanyanya.
Siena tidak mengerti. Panji yang irit bicara dan minum ekspresi memang sulit dipahami. Namun sulit bukan berarti tidak bisa karena beberapa saat kemudian Siena telah paham ke arah mana Panji mengarahkan pembicaraan ini.
Kenapa harus Alena? Sama seperti kenapa anggur itu yang ditanam disini. Keduanya tidak butuh alasan pasti. Yang bertindak disini hanyalah insting dan hati. Kenapa harus anggur? Karena Ayah dan Bunda menyukainya dan ingin saja menanamnya secara istimewa lantaran dalam pandangan mereka anggur itu buah yang istimewa. Kenapa harus Alena? Sudah pasti, bagaimana Panji mengelak bila hatinya telah menetapkan pilihan tersendiri?
Saat matahari naik dari kaki langit timur, cahayanya tampak apik membingkai senyum Panji pagi itu. Senyum yang dapat Siena baca dimana kegetiran tercetak jelas disana. Seolah dengan itu ia bicara, akan betapa lemahnya seorang manusia terhadap hati mereka.
Manusia yang malang, yang bahkan tidak bisa memiliki kendali atas perasaannya sendiri.
<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<<
Panji keluar lebih cepat dari perpustakaan tempat studi yang ia ikuti dilaksanakan. Sepuluh menit sebelum jam pulang ia telah mengambil langkah kembali ke kelas. Keadaan kelas tentu saja kosong karena murid lain yang masih mengikuti studi saat ini.
Panji menenteng ransel dengan langkah gontai. Ia salah membuat keputusan hingga harus terdampar di studi yang membosankan, tentang ilmu filsafat. Karena sudah tidak tahan lagi mendengar ocehan pembicara jadi ia undur diri lebih dulu.
Beberapa meter lagi mencapai gerbang ZHS, Panji teringat buku sketsa yang ia tinggalkan di loker. Ada gambar yang ingin diselesaikannya sehingga dengan berat hati dia memutar haluan menuju loker khusus tingkat II. Bel pulang mengalun panjang saat Panji sampai di depan lokernya. Ia harus bergegas kalau tidak mau berdesakan dengan para murid lain.
"Panji? Benar Panji, kan?"
Sebenarnya ada orang yang datang saat Panji membuka loker. Ia tidak terlalu peduli selama tidak mengganggunya. Namun, kenapa malah orang itu menyapa dirinya? Kenapa pula harus menyebutkan namanya? Kalau begini Panji jadi susah untuk pura-pura tidak dengar.
"Hm." Pada akhirnya Panji tetaplah Panji. Mau bagaimanapun dia tetaplah manusia yang entah mengapa sangat keberatan mengeluarkan perbendaharaan kata yang tersimpan di otaknya. Meski orang yang menyapanya itu manusia paling ramah sekalipun dan bahkan meski orang itu adalah Ketua Dewan Siswa yang paling disegani sekalipun.
"Regan." Ujar Regan memperkenalkan diri secara mandiri ketika Panji menoleh menatapnya dengan sebelah alis terangkat naik. Ia tidak menawarkan jabat tangan, karena yakin sekali Panji tidak akan membalas keramah-tamahan semacam itu.
Panji mengangguk lalu beralih pada lokernya. Setelah menyimpan buku sketsa ke dalam ransel, ia kembali mengunci loker kemudian beranjak dari sana.
"Oh, ya, apa kamu dekat dengan Alena?"
Siapa yang tidak tau Regan itu terkenal dengan logat saya-kamu nya. Karena itu jugalah lekaki ini sangat disegani, bahkan berandalan sekalipun harus memeriksa tata bahasa mereka ketika berhadapan dengannya. Regan tidak pernah mempersalahkan orang yang bicara tidak sopan padanya, namun orang-orang yang berhadapan dengan lelaki itu secara otomatis akan merasa segan dengan Regan yang kelewat sopan dan formal.
"Dekat?" Panji menunda langkahnya dan berbalik menghadap lawan bicara.
Regan kini sibuk dengan loker namun matanya menatap Panji, "Ya, kalian terlihat bersama beberapa waktu lalu."
Beberapa waktu lalu, Panji terlihat bersama dengan Alena dan menjadi buah bibir seantero sekolah. Regan sempat bertanya langsung pada Alena, dan gadis itu menjawab singkat.
'Dia siapa?' Regan berdiri dihadapan Alena yang duduk di kursi panjang dalam rumah kaca. Ia menatap Panji yang berdiri di aula tak jauh dari mereka.
'Dia Panji. Panji Aksara Yudha.'
Begitu Alena menjawab. Tidak memuaskan tanya di benak Regan. Namun senyum Alena yang mengembang seakan meluruhkan rasa penasarannya. Sudahlah, Regan memang sepayah itu dihadapan Alena.
"Alena itu seperti medan magnet, ya? Banyak sekali yang tertarik dalam pusarannya."
Panji tidak menanggapi lebih lanjut. Ia hanya menatap sebentar Regan yang berbicara sembari menyusun beberapa kertas yang ia ambil dari loker. Kemudian entah kesimpulan apa yang ia ambil di dalam benaknya, Panji lalu berbalik pergi menuju tujuan awalnya yaitu pulang.
Menyadari Panji pergi tanpa memberi jawaban pasti, Regan berhenti dari kesibukannya. Ia menatap punggung lelaki itu yang semakin menjauh, meninggalkan tanda tanya yang beranak pinak di kepala Regan.
Keriuhan murid lain yang hilir mudik bersiap untuk pulang membuat pertanyaan Regan tenggelam. Ia mengatur diri, menara baik-baik ekspresi dan kemudian menjadi Regan yang orang-orang harapkan. Regan yang ramah, baik hati dan menyenangkan.
__ADS_1
Drama yang membosankan.