Kanvas Aksara

Kanvas Aksara
NOTHING'S GUILTY


__ADS_3

Bagian 21


[NOTHING'S GUILTY]


Lagi-lagi Panca berakhir di bawah naungan pohon Linden itu. Duduk termenung begitu lama tanpa tau harus melakukan apa. Entah apa itu yang tengah menjadi kecamuk dalam pikirannya. Yang ia lakukan hanyalah diam, menepi seorang diri.


Saat seperti ini membuat Panca sedikit demi sedikit mengerti kenapa Panji memilih diam sebagai pelarian selama ini. Panca merasakannya, keheningan ini membuat ia lebih mudah meresapi penyesalannya. Tertatih dalam diam, lebih baik daripada berlari kesetanan berteriak kesana kemari. Mencerna perasaan sesak itu baik-baik, mengahadapinya meski menyakitkan lebih baik daripada terus melakukan pelarian.


"Itu bukan salah siapa-siapa."


Oh, suara itu mengingatkan Panca kalau kali ini ia tak sendirian. Ada dua teman lama menemaninya menikmati luka, tenggelam dalam kekalutan tanpa jeda. Mereka duduk bersamanya, di atas rerumputan yang menghijau melapisi tanah kecoklatan. Dia diapit di tengah mereka yang duduk di samping kiri-kanannya.


"Bukan salah lo juga."


Panca terkekeh. Entah apa yang lucu dari kata-kata itu. Mungkin juga ia menertawakan raut datar dan nada kaku dari sosok tegap berbalut jas kantoran itu.


"Banyak yang udah berubah ternyata...."


Aaron melirik sosok yang sudah ia anggap sebagai kakak itu. Meski umur mereka hanya terpaut beberapa bulan, tapi bagi Aaron, Panca telah berperan sebagai seorang kakak teruntuk dirinya.


"Kita ini udah hidup berapa lama, sih sebenarnya?"


Meski tau itu bukan pertanyaan yang membutuhkan jawaban, tapi Aeera yang juga duduk disana menanggapi dengan sebuah jawaban.


"Hitung aja umur lo berapa, itu jawabannya," ujarnya sambil mencabuti rumput di dekatnya.


Panca beralih menunduk dengan lutut tertekuk dan kedua tangan yang ia tumpukan di disana. Dari kernyitan di keningnya membuat Aaron dan Aeera mencurigai bahwa lekaki itu tengah menghitung-hitung umurnya seperti saran Aeera.


"Gak tau lagi, sih gue mau ngomong apa," ucap Panca pada akhirnya.


Aeera mengedikkan bahu, "Bukannya dari tadi lo emang gak ngomong apa-apa, ya?"


Panca tergelak. Aeera tetaplah Aeera. Sosok yang tidak pernah kehabisan akal untuk membalas setiap kata-kata yang Panca lontarkan. Pembawaannya yang santai dan tampak acuh tak acuh itu juga menarik. Berbeda dengan kepribadian Aaron yang kaku dan cenderung susah menjalin komunikasi. Kekangan terhadap dirinya yang di dapat sedari kecil karena tanggung jawab yang ia emban, membuat Aaron harus berhati-hati dalam segala tindakan termasuk juga dengan kata-katanya. Jika Aeera akan ceplas-ceplos saja berbicara dengan luwes, maka Aaron itu penuh kehati-hatian karena harus memilah kata demi kata yang akan dilontarkannya.


"Kapan ya terakhir kali kita kumpul kayak gini?"


Melihat Panca yang tampak tengah mengenang, Aaron jadi ikut terhanyut. Seingatnya, terakhir kali mereka bertemu adalah sebelas tahun lalu di antara reruntuhan dan puing-puing sisa kebakaran laboratorium tempat Ayahnya bekerja. Aaron ingat dengan jelas, hari itu dia hanya diam mematung. Bersamaan dengan fajar menyingsing, dia melihat Panca keluar memangku raga tak bernyawa Pandu yang berlumuran darah. Aaron tidak akan melupakan saat itu, dimana Panca tampak begitu mengerikan dengan tubuh berlumuran darah. Panca yang waktu itu seorang remaja belasan tahun, sama sekali tak melepaskan dekapannya dari tubuh Pandu. Hingga saat tim medis datang pun ia sama sekali tak mau melepas Pandu.


"Terakhir kita ketemu, adik gue hilang satu. Sekarang kita kumpul lagi setelah belasan tahun, adik gue juga berkurang satu lagi. Mungkin besok-besok kita gak usah reunian aja kali, ya?" tutur Panca dengan tatap menerawang. Dan dari sana ia juga tau bahwa Aeera menatap tajam sebagai bentuk ketidaksukaan atas ucapan yang ia lontarkan.


"Ngomong apa, sih lo?!" Aeera menempeleng kepala belakang Panca, "Yang paling bener, diam aja udah!"


Meski sedikit meringis akibat pukulan Aeera, Panca tetap saja menambahkan kata-katanya.


"Habisnya, adik gue sekarang tinggal satu. Kalau hilang juga, mau dicari kemana lagi?" balasnya enteng tanpa beban. Seolah itu hanyalah lelucon yang biasa mereka obrolkan. "Yang dulu aja, pas Pandu, gue cari-cari belum ketemu. Tau-tau Siena malah ikut-ikutan ngilang. Kalau Panji juga ikut mereka, bisa gila gue."


Panca memang mengucapkannya dengan tertawa. Tapi, pendar dimatanya seolah menjelaskan makna pelik dibalik tawa itu. Panca jelas kacau, bahkan tampak lebih kacau dari saat ia kehilangan Pandu. Sebagai anak tertua, kakak dari adik-adiknya, tentu ia merasa sangat tertekan. Dimana ia telah merencakan semuanya begitu apik, menjadi dewasa dan menua dengan melihat bagaimana adik-adiknya tumbuh dan berkembang. Kemudian menutup mata setelah memastikan mereka benar-benar hidup dengan bahagia. Itu hanya akan jadi rencana yang tak terlaksana.


Pada kenyataannya, justru Panca yang ditinggal. Adik-adiknya pergi lebih dulu. Menutup mata, memutus kehidupan mereka dengan menyaksikan Panca tertinggal sebagai pecundang yang gagal memainkan perannya sebagai seorang kakak. Panca merasa seperti diolok-olok oleh takdir. Adik-adiknya yang seharusnya meniti jalan yang Panca bukakan untuk mereka, justru dipaksa untuk berhenti melangkah oleh semesta. Langkah mereka terhenti begitu awal, bahkan sebelum sempat mereka mengecap apa itu yang disebut kehidupan. Mereka pergi terlalu dini, dalam rasa penasaran akan dunia tak berhingga yang mereka tempati. Dan pada akhirnya semua bergumul, menggunung menjadi satu dan menjelma menjadi sebentuk penyesalan untuk orang-orang yang ditinggalkan.


"Gue udah bilang, itu bukan salah lo. Bukan salah siapa-siapa," Aaron bicara memutus kekalutan Panca. Ia sebenarnya ingin berkata-kata lebih banyak, namun justru hanya itu yang mampu terucap.


Dan Panca sama sekali tidak membantah pernyataan Aaron tersebut. Ia mengangguk, "Gue tau. Gak ada yang salah dalam hal ini. Memang udah kodratnya terjadi. Tapi, kalian tau, kan? Seberapa rumitnya seorang manusia?"

__ADS_1


Seberapa rumit? Bila dalam matematika pasti akan dilambangkan dengan tak hingga. Kerumitan manusia itu tak terhitung. Bahkan lebih rumit dari kode-kode atau bahasa pemrograman dalam komputer. Lebih rumit dari susunan syaraf mereka sendiri. Manusia itu benar-benar sulit ditebak. Seperti halnya dengan Panca yang mengakui bahwa semua adalah takdir semesta, bahwa tak seorangpun bisa disalahkan dalam kondisi ini. Namun, masih juga ia memukul diri habis-habisan dengan rasa bersalah dan berbagai penyesalan. Meski ia tau tak ada gunanya melakukan itu. Tapi, mau bagaimana lagi? Dia seorang manusia yang terlahir dengan hati dan bekal perasaan yang merepotkan. Jadi, bukan salahnya kan kalau terbodohi oleh hal-hal itu?


"Nafas, buang. Nafas, buang. Hirup oksigen, hembusin karbondioksida. Siklus kayak gitu, kan, yang bikin manusia hidup? Gampang, kan, selagi lo masih menetap di bumi."


Baik Panca maupun Aeera tidak pernah menyangka, bahwa kata-kata ngawur itu bisa terlontar dari mulut seorang Shizuryan Aaron De Fornax. Apakah kepala keluarga De Fornax yang terkenal itu selama ini hidup dengan konsep 'modal utama hidup manusia\=bernafas' itu? Kalau memang benar begitu, ternyata Aaron tidak serumit yang terlihat.


"Kalau Panca yang ngomong gue sih oke. Tapi..." Aeera menutup mulut dengan telapak tangannya dengan ekspresi yang kentara sekali terkejut, "... lo yang manusia dengan tampang penuh beban ini, bicara seolah hidup memang sesimpel itu. Gak sinkron... gak cocok sumpah!"


Aaron merotasikan matanya. Dering telfonnya terdengar, namun ia memutuskan untuk tetap berbicara membiarkan ponsel disaku celana bahannya berdering tanpa henti.


"Ditya, mungkin ini kedengaran klise dan kuno. Tapi, lo harus belajar memahami diri sendiri lebih dulu kalau ingin memahami orang lain juga. Kalau terlalu sibuk dengan orang lain, siapa lagi yang akan peduli sama diri lo? Tau kan, istilah 'hanya kita yang benar-benar tau diri kita sendiri'? Lo sakit, lo sedih, itu diri lo sendiri yang paling tau. Jadi, daripada larut dalam hal-hal yang sudah berlalu, lebih baik fokus pada yang akan datang. Mulai dari lembar baru, sayangi diri lo sedikit demi sedikit. Lambat laun juga lo ngerti gimana lo harus menyayangi orang lain dengan baik juga. Mulai dari diri sendiri, Ditya."


Mulai dari diri sendiri. Ayah juga pernah bicara begitu padanya. Menyuruh Panca untuk melihat pada dirinya sendiri lebih dulu, mengobati dirinya sebelum bertindak mengobati orang lain, menghibur dirinya sebelum bergerak menghibur orang lain. Panca pikir ia sudah benar-benar memahami pesan Ayah. Tapi, ucapan Aaron membuat ia tersadar bahwa dia masih belum mengerti. Ia tidak juga paham caranya untuk peduli pada diri sendiri. Ia tidak mengerti, bagaimana harus mengurus dirinya sendiri. Panca tidak tau apa yang paling dirinya butuhkan.


Selanjutnya yang tertinggal disana hanyalah Panca dan Aeera serta keheningan diantara mereka. Aaron undur diri setelah mendapat panggilan kesekian dari sekretarisnya.


Diam-diam saat Panca terhanyut dalam pikirannya, Aeera menatap punggung tegap Aaron yang berlalu meninggalkan mereka. Dalam hati ia bertanya, apakah sosok yang menyarankan kebahagiaan untuk orang lain itu telah membahagiakan dirinya sendiri? Jawabannya tidak. Bagaimana Aeera tau? Tentu ia tau. Dengan pasti ia tau, Aaron yang kesakitan berusaha memahami diri sendiri ribuan kali tapi tak mampu memenuhi apa yang dirinya inginkan. Aeera tau persis, apa yang Aaron korbankan demi menjadi tameng yang kuat untuk keluarga mereka. Sama seperti Irene, ibu mereka, sama seperti Denada, bibi mereka, sama seperti dirinya, Aaron telah mengorbankan kehidupan sejatinya.


Piano.


Bukankah ikatan darah itu sesuatu yang ajaib dan sakral? Gen yang mereka warisi membuat mereka mencintai hal yang sama. Irine, putri sulung keluarga Galilei, tanpa orang tau adalah seseorang yang tergila-gila dengan piano. Tapi, ia harus memutus mimpinya karena tuntutan keluarga dan karena beban posisinya sebagai anak tertua. Denada, sosok bungsu di atap Galilei, mengikuti jejak kakaknya tanpa tau kepahitan yang Irine telan. Denada pada akhirnya merasakan kepahitan dan rasa sakit yang sama, hingga kemudian dia memutuskan untuk lepas dari belenggu Galilei yang menyesakkan. Lalu Aeera? Dia tidak akan menjadi bodoh dengan memaksakan apa yang tak dapat ia perjuangkan. Menerima hidupnya untuk berjalan sesuai yang orang-orang inginkan dan mengabaikan keinginan untuk menekankan jari-jari lentiknya ke atas tuts hitam-putih. Begitu pula dengan Aaron. Mereka semua mengorbankan hal yang sama untuk bisa terus hidup dan berdiri tegak seperti sekarang. Dan semuanya untuk satu orang yang begitu mereka sayangi, Regan.


"Aeera...."


Suara Panca terdengar menggelitik di telinga Aeera. Ia melihat Panca tengah tercenung menatap riak sungai di depan mereka. Setelah memanggilnya, lelaki itu tak lagi bicara. Aeera melihatnya menelan ludah beberapa kali, seolah ia menelan kembali kata-kata yang hendak diucapkan.


"Apasih? Ngomong aja? Perasaan dulu lo enteng aja tuh, ngata-ngatain anak pejabat sampai kita kudu kabur-kaburan dikejar pengawalnya. Kenapa sekarang malah diem banget?"


"Gila banget ya, gue dulu?" tanyanya retorik penuh kenangan.


Aeera menepuk bahu lelaki itu kemudian berdiri, "Of, course. Yang kayak begitu lo tanyain juga? Wah, parah! Bener-bener gak nyadar diri!"


Meski mulutnya memaki tapi tangan Aeera bergerak menarik tangan Panca membawa lelaki itu untuk bangkit. Panca tidak menolak, tapi tidak juga mengikuti dengan mudah. Ia membiarkan Aeera menarik tubuhnya sepenuhnya. Jelas saja tak bisa, sehingga Aeera yang kesal pun menendang tulang kering Panca sebagai balasan.


"Gila ya lo?! Iya-iya, bangun dah gue, bangun!"


Aeera mengibaskan rambutnya kebelakang, "Yang nurut sama Tuan Putri."


Panca membalas dengan sedikit menunduk, "Yes, your majesty."


Aeera tergelak lalu merangkul pundak Panca yang lebih tinggi darinya. Perbedaan tinggi yang signifikan membuat ia sedikit berjinjit, namun ia tak melepas rangkulan itu dan malah menyeret Panca untuk berjalan. Sesekali dilihatinya wajah Panca yang kesusahan karena harus menunduk untuk menyesuaikan tinggi dengan dirinya. Dari dulu Panca memang tidak pernah protes mau ia perlakukan bagaimana pun. Aeera juga tidak tau kenapa dia begitu. Tapi semakin kesini Aeera jadi sadar, kalau Panca bukan hanya tidak pernah protes padanya, tapi juga pada semua orang. Panca sekalipun tidak pernah melayangkan protes pada siapapun, terutama orang terdekatnya.


Sadar dirinya di perhatikan, Panca menoleh. Matanya betubrukan dengan mata Aeera.


"Ngapain lo ngeliatin gue begitu?"


Aeera menyengir, "Bisa-bisanya dulu gue naksir elo."


Panca tidak kaget, sih. Asal itu terlontar dari mulut Aeera, Panca tidak akan terkejut lagi. Rasa terkejutnya sudah dikuras semua di masa lalu mereka oleh Aeera.


"Waktu itu awal-awal gue puber, gue ngiranya suka sama lo. Soalnya muka lo kelihatan lebih adem gimanaaaa gitu."


Panca mendengus, sudah akan menjawab tapi Aeera bersuara lebih dulu. Tangan gadis itu berpindah jadi merangkul lengan Panca bersamaan dengan rentetan kata keluar dari mulutnya.

__ADS_1


"Tapi, makin kesini gue makin yakin. Ternyata itu bukan tanda-tanda gue ada rasa sama lo. Ternyata gue gak pernah suka sama, lo. Kasian padahal lo udah baper juga, kan ya?"


Panca menatap Aeera dengan sorot permusuhan, "Pundung nih, gue."


Seketika Aeera tergelak dan mengusak pelan rambut auburn Panca yang lebat. Ia setia menggandeng lengan lelaki itu dan tidak melepasnya walau mereka sudah hampir tiba di area perkebunan yang dipadati para pekerja.


"Tau-tau gue ternyata cuma terjebak dalam kekaguman sesaat. Gue kagum sama lo, yang bisa lakuin apapun yang lo ingin. Gue kagum, dengan cara lo mencintai orang-orang terdekat lo. Kagum, dan juga iri."


Panca tertawa remeh, "Wajar sih lo iri. Gak heran lagi gue soal itu. Tapi kalau kagum.... Ra, boleh gak gue blushing dikagumin sama lo?"


"Haha.... Apasih? Ingat gebetan!"


Langkah Panca terhenti, "Tau dari mana lo?"


Aeera menelengkan kepalanya. Ia tak menjawab. Tapi lirikan matanya seolah menyuruh Panca untuk menoleh ke belakang. Ketika Panca mematung mendapati sosok yang bersandar di pagar sembari memetik beberapa anggur, Aeera mengeratkan rangkulan lengannya.


"Mari kita lihat, perang yang akan segera pecah," ujar Aeera sedikit berbisik seolah menantikan sesuatu.


"Gak bakal sampe perang juga. Gue diakuin sebagai laki-laki aja kagak, apalagi sebagai pacar. Dikodein gak peka-peka, lo panas-panasin begini juga gak guna," tutur Panca lesu dengan mata menatap lurus pada sosok yang masih asik memasok anggur ke mulutnya. Benar kata Aeera, dia adalah perempuan yang tengah Panca suka.


"Oh, gitu, ya?" Aeera menatap Panca antusias, entah mengapa membuat perasaan Panca jadi tidak enak. Dan dalam sepersekian detik, sebuah kecupan mendarat di pipinya. Tak lama sesudah itu Aeera pun berlalu dengan tawa jahanam.


"Yang betah deh, sama dia. Jangan lupa datang ke pertunangan gue."


Begitu katanya. Aeera sialan. Panca jadi serba salah saja. Terlebih perempuan incarannya bersedekap menatap dirinya seolah tengah menilai.


"Gue bisa jelasin!"


Tak ada respon berarti. Bahkan perempuan itu mengangkat tangannya saat Panca berusaha mendekat.


"Reta...."


"Renata. Nama gue Renata. Jangan ikut-ikutan Rain nyingkat nama gue."


"Oke—"


"Apapun itu yang mau lo jelasin, dan apapun itu maksud dari tampang khawatir lo itu, skip dulu aja."


"Ya?"


"Mana kucingnya?"


"Eh???"


"Lo minta gue kesini buat rawat kucing-kucing adek lo, kan?"


"O-oh, iya."


"Utamakan yang penting dulu, perasaan lo urus belakangan."


Memang sia-sia Panca khawatir berlebihan.


__ADS_1


__ADS_2