
Mereka sudah berkumpul semuanya di bandara
Diana, Raven dan kila
"Lalu bagaimana kak?" tanya kila yang merasa aneh dengan rencana kakaknya ngapain juga mereka harus diam-diam untuk pulang ke Kalimantan yang lebih parahnya lagi mereka tidak mengajak Diego, papa mereka dan Ravi juga anak kedua dari keluarga Tammuruna tidak di ajak
"Syutt udah diam saja dulu" kata Raven menyumpal mulutnya kila dengan kue agar dia tidak banyak bicara lagi
"Udah kan" kata Raven melihat ke arahnya kila dan berharap agar kila diam karena kalau kila banyak bicara bisa-bisa gagal rencana mereka untuk pulang ke Kalimantan
"Ih kakak, lihat deh ma" kata kila dengan kesal dan juga dengan nada manjanya
"Ayo ma, ikut aku sebentar lagi pesawat akan berangkat ayo kita masuk sebelum kita ketinggalan pesawat lihat nomor masing-masing ya jangan sampai salah!" kata Raven memperlihatkan ketiga tiket itu untuk dirinya, mamanya dan adeknya
"Baiklah ayo bergegas!" kata Diana seperti orang yang terburu-buru
"Kita lewat sini saja" kata Raven menunjukkan jalan pintas ke pesawat agar mereka bisa aman-aman saja dan bisa pulang ke Kalimantan dalam keadaan selamat
"Sudah kan semuanya sudah duduk kan jangan banyak gerak sebentar lagi pesawat kita akan berangkat menuju ke Nunukan hanya beberapa jam" kata Raven memerintahkan
"Kamu sudah makan kah, nak?" kata Diana mengkhawatirkan putra sulungnya itu
"Sebelumnya mama dan kila kesini aku sudah makan dan tenang saja aku sudah pesankan kalian banyak makanan kok" kata Raven
"Jangan nak biaya nya sangat mahal mama tidak punya uang" kata Diana bimbang
"Santai saja ma kak Raven kan banyak uang" kata kila sambil makan kue yang diberikan oleh Raven tadi
"Baguslah" kata Diana merasakan lega kalau putra sulungnya akan baik-baik saja
"Semuanya matikan hp ya" kata Raven memerintah dan menyenderkan kepalanya di kursi dan dia duduk di samping kiri dekat jendela, kila duduk di tengah dan Diana duduk di samping kanan
setelah pesawat sudah terlalu jauh untuk jalan kila langsung ketiduran di pesawat
__ADS_1
"Oh, Baby Girl sudah nyenyak tidur nya ya" kata Raven mengelus rambut nya kila
"Semuanya sudah kamu atur kan berarti mama dan kila cuman terima beresnya kan" kata Diana panik
"Ya ma tenang saja semuanya sudah kakak atur kok, mama dan baby girl terima beresnya saja ya" kata Raven langsung melihat mama dan baby girl nya sedang tertidur pulas tidak seperti dirinya yang terlihat seperti seorang yang banyak pikiran
Gerryawan dan Ravi sedang berkeliling di bandara dan pelabuhan dan lebih bagusnya mereka tidak menemukan Diana, Raven dan kila yang sedang diam-diam di bandara dan tau-tau nya mereka sudah berada di pesawat.
"Sepertinya ada yang kurang ini?" tanya Ravi yang merasakan kebingungan karena selama ini hanya dia saja yang tidak tau apa yang keluarga Tammuruna rencana kan
"Ya barang-barang seperti ada yang belum masuk deh di kota Makassar, buat di kumpulkan di mansion Tammuruna" kata Gerryawan langsung memberi taukan keadaan mansion Tammuruna itu
"Apa mansion Tammuruna tapi kenapa ya aku belum pernah melihatnya?" kata Ravi yang merasakan kebingungan seperti dia sudah ketinggalan banyak informasi selama di Makassar
"Ya mansion Tammuruna semua bangunan yang megah layaknya istana dan kerajaan di dalam sebuah keluarga" kata Gerryawan menceritakan tentang mansion Tammuruna
"Tapi kenapa aku belum mengetahui nya?" kata Ravi yang sangat kebingungan
"Om Gery mau kemana?" tanya Ravi yang merasakan bahwa dirinya sangat asing di keluarga Tammuruna
"Mau kembali ke mansion Tammuruna dan mengantarkan barang ini" kata Gerry langsung mengemudikan mobilnya dengan kecepatan yang lebih besar
Karena Ravi merasa sangat penasaran dan sakit hati dia langsung mengejar Gery yang melaju dengan cepat dan Ravi juga segera mengejarnya sebelum dia terjebak macet dan dia terus mengikuti nya sampai dia benar-benar tau di mana keberadaan mansion Tammuruna itu
"Yah sialan, aku kehilangan mobilnya om Gery lalu dia kemana sih, kok cepat banget perginya?" kata Ravi yang merasakan heran karena lelah mengejar Gerryawan yang terlalu laju dalam mengendarai mobil dan Ravi tidak menemukan jejak nya akhirnya Ravi pasrah dan dia langsung melanjutkan pekerjaannya sebagai tukang ojek dan dia mencoba menelpon papa nya Diego
"Halo, ada apa ya Ravi?" tanya Diego di sebalik telepon
"Papa sekarang ada dimana?" tanya Ravi
"Lagi di rumah sekarang bagaimana dengan pekerjaan mu nak?" tanya Diego di sebalik telepon
"Baiklah kalau papa di rumah aku akan pulang sekarang" kata Ravi yang penuh tanda tanya di kepalanya
__ADS_1
"Jangan, kamu kan harus bekerja seharusnya kamu bekerja saja dulu nanti saja kamu pulang, nanti bisa-bisa kamu di pecat loh sama senior kamu" kata Diego mencegah Ravi sebenarnya Diego bukan lah ada di rumah mereka melainkan dia dan seluruh keluarga besarnya berada di mansion Tammuruna
Tapi Ravi tidak mau mendengarkan nasehat dari Diego dia tetap pulang dan menyelesaikan semua tanda tanya yang berada di kepalanya itu
dan Ravi langsung masuk ke dalam rumahnya dan Ravi terkejut melihat tidak ada satupun orang di rumah nya
"Papa, mama, kak Raven dan baby girl kalian semua kemana sih?" tanya Ravi yang frustasi karena dia merasa bahwa dirinya telah ditipu oleh keluarganya
lalu Ravi mencoba menelpon om nya Gerryawan dan dia tidak mendapatkan jawaban dari telepon nya di seberang sana
"Aduh memang seharusnya aku tidak pulang tadi" kata Ravi memukul kepalanya seperti orang depresi
"Ya udah kalau begitu aku kembalikan bekerja deh, coba saja aku ke rumah sakit dulu siapa tau baby girl ada di sana" kata Ravi yang tiba-tiba mendapatkan ide dan sesampainya di rumah sakit Makassar dan Ravi tau dimana rumah sakit tempat kila di rawat dan dia bisa di bilang rumah sakit dan dokter kepercayaan Tammuruna Ravi sudah lama tau tentang hal itu
"Selamat sore dokter" kata Ravi menyapa dokter yang sedang ada di sana
"Selamat sore juga Ravi ada yang bisa saya bantu?" kata dokter itu
"Apakah ada pasien yang bernama friskila Arsyilla Tammuruna di rawat di sini?" kata Ravi yang sedang memikirkan adeknya itu
"Oh dia sudah lama pulang kok" kata dokter itu
"Apa pulang?" kata Ravi yang merasakan sedang berada di dalam jebakan oleh keluarganya
"Ya dia sudah lama pulang" kata dokter
"Kalau begitu bisa tolong telepon kan papa saya" kata Ravi meminta tolong
"Baiklah tapi mohon maaf tuan besar (pak Diego) tidak menjawab panggilan nya" kata dokter
"Aduh mereka kemana sih? ya udah kalau begitu terimakasih ya dokter" kata Ravi langsung pergi meninggalkan rumah sakit itu
Lalu Ravi menemukan Diego dan Ravi secepat mungkin mengejar nya
__ADS_1