KASIH YANG TERSISA

KASIH YANG TERSISA
BAB 10


__ADS_3

Didi hanya tersenyum, bila Lisa pulang dengan tubuh sempoyongan, di apartemen yang mereka sewa, sekarang Didi bebas menelpon siapa pun, karna sudah tidak ada sisi tv apa lagi bodigar.


"Lisa, aku berangkat dulu, kamu baik-baik dirumah, mungkin tiga hari aku tidak pulang, aku ingin keluar kota, siapa tau tender kali ini bisa kita menangkan, meski kecil tapi lumayan"


Lisa sudah tidak peduli dengan perusahaan, dia sudah menyerahkan semuanya kepada Didi, karna dia tidak tertarik melakukan tender kecil, yang Didi sebutkan tadi.


Dengan semangat Didi pergi, dia yakin akan medapatkan tender ini, karna diam-diam Didi meminta dukungan dari ibu Herlina, yang sudah mengetahui semua cerita tentang mereka.


"Mas, kamu sudah berangkat?"


Rianti sudah bisa menghubungi Didi lewat telpon kantor, tetapi mereka masih berhati-hati, bila ingin berhubungan.


"Sudah, terima kasih sayang, sudah dulu ya, aku sudah masuk pesawat"


Didi berhasil memenangkan tender itu, dia sengaja tidak mengambil tender besar, meski dia bisa mendapatkannya, tender besar sengaja di berikan kepada perusahaan ibu Herlina.


Perusahaan ibu Herlina semakin berjaya, berkat kerja sama pasangan suami-istri yang terpisah ini, tampa sepengetahuan Rianti, ibu Herlina merencanakan sebuah usaha yang akan Rianti kelola sendiri nantinya.


Hidup Rianti sekarang sudah lebih dari cukup, dia dan keluarga pun pindah rumah, keperumahan mewah yang lebih aman dan nyaman, tidak jauh dari rumah ibu Herlina, sehingga tidak sembarangan orang dapat masuk kedalam komplek perumahan itu.


"Di, kamu suka ketemu istri kamu?"


Joni mengatur pertemuan dengan Didi, yang sudah lama tidak bertemu.


"Suka, kalau kebetulan lagi ada tender, sekarang dia bekerja di perusahaan yang sama seperti perusahaanku"


"Oh, hebat, kamu nggak pernah nengokin anak kamu?"


"Tidak bisa, Lisa masih terus mengawasiku, aku tidak ingin terjadi sesuatu pada mereka, cukup bapakku saja yang jadi korban"


"Jadi benar, Lisa yang membunuh bapak kamu?"


Didi memperdengarkan rekaman kata-kata Lisa, yang mengancamnya dulu.


"Jahat sekali dia, sekarang kamu sendiri yang mengelola perusahaan, sedangkan dia sendiri enak-enakkan, keren juga"


Joni memainkan rokok yang ada diujung jarinya, Lisa yang dia kenal dulu sudah benar-benar berbeda, sekarang Lisa tidak segan-segan membunuh seseorang.


"(Aku harus hati-hati), ok-besok aku main kekantormu, suruh Lisa masuk kantor, aku ingin bertemu dengannya, nggak mungkin aku datang keapartemen kalian"

__ADS_1


Mereka berpisah dari kafe itu, Didi sengaja tidak mau datang kebar milik Joni, walau bagai mana juga, Didi harus hati-hati dengan temannya ini, karna Joni lah, sekarang dia bisa jatuh kecengkraman Lisa.


"Lis, kamu ada kerja sama apa lagi dengan Joni, besok dia ingin datang kekantor, ingin bertemu dengan kamu, jadi besok kamu harus masuk kantor"


"Iya, tadi dia sudah telpon aku"


Baru saja Lisa sampai dikantor, Joni sudah menunggu diruangan itu.


"Hallo bos, sukur kamu datang, tadinya aku mau keapartemen kamu, kalau lima menit lagi tidak datang"


"Kamu nggak percaya banget sih sama aku, nih!" Lisa melemparkan segepok uang keatas meja.


"Gitu dong, ini baru namanya bisnis, ok aku pulang, salam sama Suami tawanan kamu, ha..ha"


"Brengsek, tunggu pembalasanku"


"Kenapa?" Joni menoleh, samar-samar dia mendengar gerutu Lisa.


"Jangan cemberut begitu dong, kamu bisa ketempatku, kalau kangen"


Joni mengecup bibir Lisa, dan mencoba **********, namun Lisa menepis wajah Joni.


Kehidupan Rianti yang sekarang semakin jauh lebih baik, setiap peresmian yayasan yatim-piatu, yang ibu Herlina dirikan, Rianti selalu hadir disitu, dia juga menjadi salah satu penyumbang tetap disetiap yayasan milik ibu Herlina,


Rianti hanya tersenyum, bila kebetulan berpas-pasan dengan Didi, karna peroyek yang Didi kelola sekarang, adalah milik ibu Herlina.


"Mas, kamu sudah makan?"


"Ha..ha..sudah"


"Kok ketawa, ada yang lucu?"


"Kadang kalau aku pikirkan lucu juga, perjalanan hidup yang kita jalani, bikin aku tertawa, kenapa kita bisa bertemu disini, padahal pendidikan ku dan kamu, sangat tidak nyambung dalam bidang ini"


"Iya, rahasia kehidupan bikin aku pusing, ha...ha"


Rianti pun jadi ikut tertawa, dan mereka berpisah, mereka harus tetap menjaga jarak, karna tidak semua orang dapat mereka percaya.


"Jon, kamu nggak percaya banget sih sama aku, aku pasti bayar, kamu kirim dulu barang nya!"

__ADS_1


"Bukan aku tidak percaya, tapi aku mau kamu yang ambil sendiri kesini, sekalian aku kangen sama kamu, ha..ha"


"Brengsek kamu, aku ini istri teman kamu Jon, kamu lupa itu?"


"Ha..ha..kamu kalau ngomong, kadang bikin aku tertawa Lis, ya sudah cepat kesini, kamu mau dapet uang banyak nggak, ada teman ku, Bos besar lagi cari cewe nih!"


Mau tidak mau terpaksa Lisa harus pergi ke Bar milik Joni, benar saja disana sudah menunggu bos besar, yang benar-benar besar, karna tubuhnya yang tinggi besar.


Joni langsung memperkenalkan Lisa pada bos itu, tampa basa-basi bos itu langsung memeluk Lisa yang terlihat kecil dalam dekapannya.


"Bagai mana, cocok?"


"Sangat cocok" Bos itu langsung mengangkat tubuh Lisa, yang tidak bisa berkata apa-apa lagi, dan langsung membawanya kekamar.


Lisa pingsan, dia tidak sanggup melayani, bos yang diberikan Joni, dan Joni pun memanggil seorang dokter untuk menyadarkan Lisa.


Seminggu lebih, Lisa baru pulih dari sakitnya, dia sudah tidak bisa berjalan dengan normal, bagian tubuh sensitifnya sakit, dokter menyarankan agar dia dioperasi.


"Di, aku ingin menjual perusahaanku, tolong kamu tawarkan ke ibu Herlina, mungkin dia ingin membelinya, tapi jangan coba-coba kamu hianati aku, aku bisa menghabiskan seluruh keluargamu!"


Perusahaan Lisa sekarang sudah menjadi milik ibu Herlina, sedang kan Didi dan Lisa, mereka pergi keluar negeri, Lisa ingin mengoperasi bagian tubuh sensitifnya yang sudah rusak.


Rianti hanya bisa menangis, dihadapan ibu Herlina, setelah mendengar kabar, kalau Didi tinggal diluar negeri, dibawa oleh Lisa, baru saja mereka bisa berdekatan, sekarang harus berpisah lagi.


"Sabar Yan, mungkin belum waktunya, kamu harus bersama dengan suami kamu lagi"


"Iya bu, saya akan tetap sabar menunggu suami saya"


Dengan perasaan haru, ibu Herlina memeluk Rianti, yang sudah seperti anaknya sendiri.


"Kita makan dulu yuk, saya sudah lapar" Ibu Herlina mengusap air mata Rianti, dengan kedua telapak tangannya, layaknya seorang ibu kepada anaknya.


"Ya bu, maafkan saya, kalau saya membuat ibu jadi ikut sedih"


"Tidak, saya sudah menganggap kamu seperti anak saya sendiri"


Apakah Rianti dan Didi akan bertemu kembali?


Tunggu kelanjutannya ya.

__ADS_1


__ADS_2