KASIH YANG TERSISA

KASIH YANG TERSISA
BAB 7


__ADS_3

Persaingan pembisnis Batu Bara sangat ketat, dari itu pak Burhan pun menceritakan kedekatan Rianti dengan Lisa, kepada ibu Herlina.


Sekembalinya Rianti dari kalimantan, ibu Herlina mengajak Rianti makan malam dirumahnya, rumah besar yang hanya ditempati oleh ibu Herlina, dan beberapa pembantunya saja, sebab suami ibu Herlina sudah lama meninggal dunia, dan dia tidak berkeinginan untuk menikah lagi.


"Yan, saya dengar dari pak Burhan, katanya kamu kenal dengan Lisa?"


"Benar bu, saya kenal" Rianti pun menceritakan dari awal, bagai mana dia bisa mengenal Lisa.


"Jahat sekali dia, kamu yang sabar ya, jangan pernah takut, kamu ada saya, mulai hari ini kemana pun kamu pergi, harus dengan pengawal, dan rumahmu pun harus ada dua satpam yang menjaga, saya tidak mau kejadian masa lalu menimpa keluarga kamu lagi, sebenarnya suami kamu adalah teman dekat pak Burhan, tapi kamu tidak usah kasih tau dia, kita berjalan dengan cara kita dulu, untuk mengambil suami kamu kembali"


Pertemuan demi pertemuan selalu Rianti hadiri, dimana ada ibu Herlina disitu pun Rianti ada, ibu Herlina sudah menganggap Rianti seperti anaknya sendiri.


Diam-diam Didi mencari tahu tentang Rianti lewat pak Burhan, yang dulu memang pernah satu istansi dengan Didi, namun Didi tidak menceritakan siapa sebenarnya, dia kepada pak Burhan.


"Hallo, pak Burhan apa kabar?" Didi mencoba menghubungi temannya itu.


"Hallo, baik, ada apa nih, tumben telpon, kirain sudah lupa sama saya"


"Mana mungkin, boleh juga tuh rekan kerjamu, waktu diKalimantan, sudah cantik pinter lagi"


"Ha..ha..tapi susah dideketin, janda punya anak dua"


"Ah, lagi masa masih mau main gila terus, kasihan anak dirumah"


Di balik tawa Didi, ada rasa sakit yang dia rasakan, betapa dia merasa tidak berdaya, dibawah cengkraman Lisa, kalau saja dia tidak memikirkan nyawa anak-anaknya, mungkin dia sudah melaporkan perbuatan Lisa, namun apa daya, hukum pun tidak menjamin semuanya bisa selesai, apa lagi Didi sebagai seorang pengacara, yang sangat tau bagai mana kekuatan hukum yang sebenarnya, didunia nyata seperti ini.


"Han, kamu jaga dia buat aku ya, ha..ha"


Didi sangat hati-hati, dia selalu mencari kesempatan untuk bisa mengobrol dengan Burhan, diam-diam pun Didi mencari cara agar perusahaan Lisa bisa bangkrut.


Disetiap kesempatan, Didi selangkah lebih dulu, untukĀ  mendaptarkan perusahaan milik Lisa, namun setiap kali itu juga, mereka selalu gagal memenangkan tender itu, itu Didi lakukan dengan sengaja, agar lambat laun dana yang keluar sedikit demi sedikit terkuras habis.


"Brengsek, kok kita kalah terus, pakai ilmu apa sih mereka?"


"Coba kamu naikkan nilai dananya lagi, mungkin kali ini akan lolos"

__ADS_1


"malam ini kita pergi ya, sudah lama aku tidak hiburan, setres aku mikirin kerjaan terus"


Lisa memakai pakaian, layaknya orang ingin pergi kediscotik, Didi berusaha agar Lisa benar-benar percaya kepadanya.


Di bawah remang-remang lampu disco, Didi memeluk Lisa yang sudah mabuk berat, Didi memberi Lisa minuman yang ber-alkohol tinggi, sehingga Lisa sudah tidak ingat apa-apa lagi.


Saat itu juga, Didi membiarkan Lisa ditiduri oleh laki-laki lain, setelah hari menjelang pagi, buru-buru Didi mengusir laki-laki mabuk itu, dan pura-pura tidur di sebelah Lisa.


"Permainan baru saja dimulai, sayang" Didi pura-pura mencium pipi Lisa.


"Aduh badan ku sakit semua, kamu semalam terlalu bersemangat, sayang"


"Memang itu, yang kamu maukan?"


"Tapi aku tidak bisa bangun, kepalaku pusing, badanku lemas sepertinya aku sakit!"


Didi sengaja, mencampuri minuman Lisa dan minuman laki-laki itu, dengan obat terlarang, sehingga mereka melakukan hubungan terlarang itu, seperti orang gila.


"Ya sudah, biar hari ini aku saja yang pergi kekantor, nanti kusuruh sopir menjemputmu"


Sambil tersenyum puas, Didi mengendarai mobil, rencananya berhasil, pelan-pelan dia akan menghancurkan Lisa, yang telah membunuh ayah nya.


Setiap Didi ingin berangkat keluar kota, dia selalu mencampur minuman Lisa dengan obat terlarang itu, tujuannya agar Lisa mencari laki-laki lain, yang mau diajak tidur.


Benar saja, seorang bodigar, dia ajak kekamar, jika Didi tidak ada di rumah, untuk memuaskan napsunya, dan diam-diam Didi menaruh camera tersembunyi didalam kamarnya.


"Hem, nikmati hubungan harammu, wanita binal, aku buat kau ketagihan, dengan hal itu, sampai kau lumpuh ditempat tidur" senyum Didi menyeringai, menyaksikan adengan panas melalui handponnya.


Seminggu sudah Didi diluar kota, tidak biasanya, Lisa tidak menyambutnya dengan mesra, dia seperti sudah tidak ada gairah lagi terhadap Didi, karna hampir setiap malam hasrat napsunya terkuras habis dengan pria lain.


"Tumben kamu tidak mencium aku"


"Aku capek, kerjaan kantor membuat aku lelah"


"Nih, aku beliin kamu oleh-oleh, tapi cium aku dulu dong"

__ADS_1


Malamnya Didi pura-pura ingin mendekati Lisa, namun Lisa menolak, alasannya dia terlalu capek kerja.


"Kok, kamu gitu sayang, kamu sudah bosan ya?"


Lisa tidak meladeni Didi, badannya benar-benar lelah, dia tertidur pulas, sambil membelakangi Didi.


Sebelum pergi kekantor, Didi berolah raga dulu, dia sengaja tidak membangunkan Lisa yang masih terlelap, sampai bodigar plus sopir mereka datang, Didi hanya diam, pura-pura tidak mengetahui apa yang mereka lakukan.


"Budi, nanti kalau ibu bangun, tolong bilang, saya sudah berangkat, kalau bisa kamu antar dia kerumah sakit, dia bilang badannya sakit semua"


Setelah Didi berangkat, Budi langsung masuk kekamar Lisa, yang masih pura-pura tidur, dia langsung memeluk tubuh Lisa yang sudah pasrah menunggu Budi melakukan aksinya.


"Tunggu belum saatnya, sebentar lagi" Didi belum begitu jauh dari rumah Lisa.


Seperti orang kesetanan Lisa dan Budi bergelut dalam ranjang kamarnya, tidak disengaja pembantu Lisa memergoki perbuatan yang sedang di lakukan nyonyanya.


"Bi, tutup mulut kamu ya, kalau kamu tidak ingin celaka!"


"I-iya nyonya, saya akan tutup mulut saya" pembantu itu berlari meninggalkan kamar Lisa.


Meski tidak ada Lisa, Didi tidak bisa menelpon Rianti, karna ruangan kantor Didi dikelilingi sisi tv, gerakan Didi semua bisa diketahui oleh Lisa dan bodigarnya, seandainya Didi ingin menelpon pun, dia harus meminjam telpon orang lain, karna telpon yang dipakai Didi semuanya di sadap.


Rianti mengangkat ponselnya, tampa memperhatikan no si penelpon.


"Hallo"


"Hallo sayang, ini aku suami kamu, maafkan aku Yan, aku mohon kamu tunggu aku sebentar lagi, aku tidak bisa lama-lama bicara, ini aku pinjam hp seorang pedagang warung, telponku disadap semua, aku kangen kamu dan anak-anak"


Telpon pun terputus, Didi menghapus no Rianti dari hp yang dipinjamnya, ternyata no lama Rianti, belum Rianti ganti.


Rianti menarik napas panjang, dia berusaha agar tidak menangis, ibu Herlina yang duduk disebelah Rianti, hanya mengusap bahu Rianti, karna samar-samar dia tadi mendengar suara Didi.


"Sabar ya, saya pasti akan bantu kamu, kamu sudah seperti anak saya, apa yang kamu rasakan, saya pun bisa merasakan"


"Terima kasih bu" Rianti mengenggam tangan ibu Herlina, dia berusaha kuat untuk menghadapi kenyataan hidup.

__ADS_1


__ADS_2