KASIH YANG TERSISA

KASIH YANG TERSISA
BAB 11


__ADS_3

Joni sengaja mengatur waktu agar dia bisa bertemu dengan Rianti.


"Maaf, saya pikir ini masih perusahaan ibu Lisa"


Rianti hanya tersenyum, menanggapi ke pura-puraan Joni.


"Suasananya masih sama pak Joni, cuma lain orang saja, kalau boleh tau, bapak ada perlu apa, mungkin bisa saya bantu?"


"Sebenarnya saya ingin ikut menaruh saham dalam perusahaan ibu Lisa, tapi tidak terlalu besar, tapi sayang sekarang sudah berganti orang, jadi kalau saya berinpestasi dengan perusahaan ini, saya rasa uang saya belum cukup"


"Ha..ha..pak Joni bisa aja, perusahaan kami tidak saja bermain dalam bisnis batu bara saja pak, masih banyak lagi, jadi bapak Joni bisa berinpestasi dalam bisnis yang lain"


Rianti memberikan berkas kepada Joni, Joni mengambilnya dengan sopan.


"Bu Rianti, maaf, ngomong-ngomong ibu tau sekarang pak Didi di mana?"


Rianti terdiam sejenak, dia mengatur napas.


"Hem, saya baru ingat sekarang, kalau tidak salah, pak Joni adalah teman suami saya?"


"Betul, saya teman kuliah Didi"


"Berarti pak Joni kenal, sama pak Burhan?"


"Oh tidak, saya tidak kenal"


Rianti memberitahukan apa yang dia tau tentang suaminya, Joni hanya manggut-manggut saja mendengarkan.


Sebenarnya, Joni tau bahwa Didi menghilang diluar negri, dia tidak bersama Lisa lagi saat ini, namun Joni tidak tega melihat Rianti yang begitu baik, apa lagi sekarang Rianti harus menghidupi keluarganya seorang diri.


"Baik, nanti saya akan pelajari dulu tentang ini, setelah itu saya akan segera menghubungi ibu kembali"


"Baik pak Joni, selamat bergambung dalam perusahaan kami" Rianti menyalami Joni yang nanti akan menjadi rekan usahanya.


Satu tahun sudah Rianti tidak mendengar kabar tentang suaminya, dan satu tahun pula Lisa tinggal diluar negeri, dia hanya seorang diri menjalani hidup disana, dia tidak tau Didi pergi kemana.


"Jon, kamu sudah punya istri?"


"Ha..ha..ada apa sayang, jauh-jauh kamu pulang dari luar negeri, cuma tanya aku sudah punya istri?"


"Kalau kamu belum punya, aku mau jadi istri kamu"


"Sejak kapan kamu peduli, kalau laki-laki itu sudah punya istri apa belum, sudah insyap kamu, sayang?"


"Aku ingin hidup serius Jon, aku nggak mau seperti dulu lagi"


"Mending kamu kerja sama aku aja, kamu bisa jadi mucikari disini, sambil dagang barang, siapa tau kamu dapat bos dibarku, kamu tinggal cari wanita yang bisa kamu jual, enakkan?"


Lisa tidak mengetahui, kalau yang di temuinya, bukan Joni, tapi saudara kembarnya.

__ADS_1


"Baik, aku akan kerja sama kamu, tapi kasih aku barang gratis dulu"


"Ha..ha ..tidak ada yang gratis sayang, kamu bisa bayar dengan tubuh mu, kalau kamu mau, kita bisa nikmati bersama-sama"


"Jon, kalau boleh aku tau, kamu dapat barang itu dari mana?"


"Kamu nggak usah tau sayang, kamu tinggal nikmati saja bersama aku, itu gratis, yang penting kamu servis aku"


"Hem" diam-diam Lisa menaruh racun dalam minumannya, yang sudah setengah mabuk, dan Joni pun tewas seketika, dengan dugaan over dosis.


Kematian saudara kembar Joni, membuat stap kantor ibu Herlina kaget, karna Joni salah satu rekan bisnis ibu Herlina, penguburan Joni dirahasiakan, hanya teman dekat  saja yang hadir, termasuk Lisa.


"Brengsek, masa si Joni nggak punya keluarga sih"


Lisa sengaja hadir dipemakaman, karna dia ingin tau keberadaan keluarga Joni.


"Bagai mana aku bisa membalaskan demdamku kalau begini, aku pikir itu bar dia, ternyata bar orang, sialan!"


Sebenarnya Joni sudah waspada lebih dulu, dia tau kalau Lisa akan balas dendam kepadanya, dari itu Joni buru-buru menjual bar itu.


Dan uang hasil penjualan bar, dia inpestasikan keperusahaan ibu Herlina, dengan atas nama istri dan anaknya,


Didi mengitari kebun teh yang ada disekitar rumah, setiap pagi dia sempatkan berolah raga, untuk menjaga stamina.


"Pak sapinya sudah melahirkan"


Didi tinggal disebuah desa yang jauh dari keramaian kota, dengan uang simpanan, Didi membeli sebuah rumah dan berternak sapi, sebagai penyambung hidup.


"Wah benar, kita bisa menghasilkan susu lebih banyak lagi nih pak"


Empat sapi yang Didi pelihara, dia olah menjadi penghasil susu terbaik, sehingga Didi dapat hidup dari uang hasil penjualan susu itu.


Dari hanya empat sapi, sekaramg Didi mempunyai delapan ekor sapi, dia menjadi seorang juragan susu sapi didesa itu. dan dari hanya satu orang karyawan, sekarang Didi mempunyai empat orang karyawan.


Hidup Didi cukup nyaman, namun ada kalanya dia rindu pada keluarga, dari itu sesekali dia pergi kekota, dengan menyamar seperti seorang seniman, agar dia tidak dikenali oleh siapa pun, yang terpenting baginya dia bisa melihat keluarganya saja.


"Gara-gara Lisa aku harus menyamar seperti ini, kasihan Rianti dia harus berjuang sendiri"


Didi selalu mencari kesempatan, agar dia bisa bertemu dengan Rianti, namun tidak bisa, mata-mata Lisa selalu mengawasi Rianti, kalau-kalau Didi menemuinya.


"Brengsek, di mana-mana ada mata-mata Lisa"


"Pak Burhan, bukannya bapak kenal dengan pak Joni, bapak nggak melayat kesana?" seorang sekuriti menarik perhatian Didi.


"Memang siapa  yang meninggal?"


"Pak Joni pak, yang dulu pernah datang kesini, temannya bos saya dulu, dia meninggal, katanya sih over dosis"


Didi yang tidak jauh berdiri dibawah pohon rindang, didepan kantor nya dulu, begitu terkejut mendengar hal itu

__ADS_1


"Ya ampun, tidak mungkin Joni bisa over dosis, ini pasti ada sesuatu"


Didi berusaha mencari tau, benar saja Didi melihat Lisa dirumah duka, dimana jasad Joni disemayamkan.


"Tidak salah, ini pasti perbuatan Lisa"


Didi harus lebih hati-hati lagi, jangan sanpai  Lisa dan anak buahnya mengenali dia.


"Kenapa orang seperti itu masih panjang umur, aku harus cari cara bagai mana membuka kedok dia, sebagai pengedar obat terlarang"


Desas-desus kalau Joni diracuni terdengar ketelinga ibu Herlina, dia memberi tahu  Rianti, untuk menghentikan pencariannya, tentang keberadaan Didi,  Joni sudah memberitahukan, kalau Didi sudah kabur meninggalkan Lisa.


"Kamu harus hati-hati Yan, jangan sampai pencarian kamu itu, justru membuka jalan untuk Lisa, jadi dia akan tau dimana suami kamu sekarang"


"Ya bu, saya mengerti, saya akan lebih hati-hati lagi"


Rianti sadar betul kalau dikantornya, masih ada bekas karyawan Lisa dulu, bisa saja dia masih berhubungan dengan Lisa.


Bukan Lisa namanya kalau dia tidak bisa mengendalikan seseorang, dengan menjadi wanita simpanan pak Gunawan, Lisa berusaha merebut kembali perusahaan, yang telah dijual kepada ibu Herlina.


"Sayang, aku mau perusahaan itu kembali jadi milik aku!"


"Ok sabar ya, tunggu sebentar lagi, perusahaan itu pasti jadi milikmu kembali"


Rianti sadar ada ketidak beresan dalam perusahaan, dia buru-buru mencari  sumber dari ketidak beresan itu, benar saja, seorang suruhan pak Gunawan, mencoba bermain curang, dalam pembangunan yang di menangkan oleh perusahaan ibu Herlina, sehingga perusahaan yang dipercayakan kepada Rianti, hampir mengalami kerugian besar.


"Hampir saja, untung kamu cekatan Yan"


"Anak buah pak Gunawan, pelakunya bu"


"Pak Gunawan yang punya perusahaan terkenal itu, kok bisa ya, setahu saya dia orang baik, malah salah satu donatur tetap diyayasan yang kita kelola"


Setelah kejadian itu, ibu Herlina  sengaja mengadakan sebuah acara, ditempat yayasannya, dan mengundang setiap donatur tetap, untuk hadir, sebagai ungkapan terima kasihnya.


Acara pun berlangsung dengan meriah, diisi dengan hiburan nyanyian dan  tari-tarian tradisional, yang dibawakan oleh anak-anak yatim piatu dan para jompo, dan sebagai membicara di acara itu, adalah Rianti sendiri.


Rianti sengaja menceritakan, bagai mana dia bisa dipercayakan memegang perusahaan, oleh ibu Herlina, dan bagai mana yayasan ini masih bisa bertahan, itu karna perusahaan dan para donaturlah, yang banyak ikut andil dalam penyaluran dananya


"Maka dari itu, saya sangat berterima kasih pada para donatur setia, yang sampai saat ini masih dengan tulus hati menyumbangkan rezeki nya, kepada yayasan ini, terutama kepada BAPAK GUNAWAN SEBAGAI DONATUR TERBESAR DI YAYASAN INI, waktu dan tempat saya persilahkan berdiri"


Tepuk tangan para hadirin membuat pak Gunawan terpaksa berdiri, ibu Herlina sengaja menempatkan pak Gunawan dan istri, duduk di bangku paling depan.


Dengan perasaan malu, pak Gunawan menyalami Rianti dan ibu Herlina, baru kali ini pak Gunawan berjumpa dengan Rianti, dia sudah menyangka kalau Rianti tau, bahwa suruhannya yang hampir saja membuat perusahaan Rianti, terkena masalah.


Saat itu juga pak Gunawan, menyuruh orang kepercayaannya, untuk memindah tugaskan pelaku tersebut, keperusahaan yang ada di daerah.


Rianti dan Didi, akan bersatu kembalikah mereka?


Ikuti terus kelanjutannya ya.

__ADS_1


__ADS_2