KASIH YANG TERSISA

KASIH YANG TERSISA
BAB 23


__ADS_3

Siang ini ibu Herlina ingin menengok Didi di rumah sakit, tampa memberitahu Rianti, ia minta diantar oleh sopir pribadinya.


"Bi, oma kemana?"


Dina yang baru saja keluar dari kamar, heran tidak melihat omanya, yang biasanya asik membaca buku.


"Tadi katanya ingin kerumah sakit non"


"Kenapa nggak bareng aku aja"


"Bibi juga nggak tau non"


Dina cepat-cepat berangkat kerumah sakit, dia ingin memastikan apakah omanya sudah sampai atau belum, karna menelpon mamanya tidak di angkat-angkat.


"Halo Din, kamu telpon mama sayang?"


"Iya mah, oma sudah sampai disitu?"


"Oma, nggak ada oma?"


"Kata bibi oma kerumah sakit, ingin jenguk papa"


Rianti dan Dina bingung, sudah dari sejam yang lalu ibu Herlina pamit ingin kerumah sakit, seharusnya dia sudah sampai, tapi Rianti belum melihatnya juga.


"Pedro sedang apa kamu?"


Pedro sangat kaget, dia tidak menyangka kalau sejak tadi ibu Herlina memperhatikan dirinya, yang sedang bercumbu dengan suster Tuti di ruang kantornya.


"Oh, maafkan saya bu"


Suster Tuti buru-buru ingin keluar dari ruangan itu, namun ibu Herlina mencegahnya.


"Mau kemana, jangan pergi dulu, saya ingin bicara dengan kalian"


Tidak lama kemudian, Dina pun datang keruangan itu, dia hanya terdiam setelah tau apa yang sebenarnya terjadi, akhirnya omanya sekarang tau kebenarannya, kalau rumor dokter Pedro berpacaran dengan suster Tuti itu benar.


"Sekarang terserah kamu, kamu ingin berjodoh dengan siapa, oma tidak akan memaksa kamu lagi"

__ADS_1


Setelah bicara itu, ibu Herlina pun keluar dari ruangan, di antar oleh Dina, ibu Herlina menuju kamar dimana Didi di rawat.


"Terima kasih oma"


"Maafkan oma ya sayang"


Ibu Herlina menggandeng lengan cucunya, dia sangat bersyukur bisa melihat langsung apa yang dilakukan Pedro tadi, karna dengan begitu dia tidak lagi memaksakan Dina, untuk menikah dengan Pedro.


Perjodohan antara Dina dan Pedro batal, ibu Herlina langsung menelpon Propesor Hendro, dan menceritakan apa yang sudah di lakukan Pedro dirumah sakitnya.


"Maafkan saya, saya tidak tau apa yang anak saya lakukan"


"Ya, saya sudah maafkan, mohon maaf, terpaksa kesepakatan kita untuk menjodohkan mereka, saya batalkan"


Dengan sedih Propesor Hendro menutup ponselnya, rencana ingin membahagiakan anaknya, hancur sudah, akibat kelakuan Pedro.


"Halo Pedro, bisa-bisanya kamu bikin malu papi, kenapa kamu tidak katakan pada papi, kalau kamu suka suster Tuti?"


"Maafkan Pedro pih, sebenarnya Pedro tidak serius dengan suster Tuti"


Percakapan Pedro dengan papinya, tidak disengaja di dengar oleh suster Tuti, yang ingin mengantarkan makanan untuk kekasihnya, tentu saja itu membuat suster Tuti marah, dia langsung menampar pipi Pedro, dan kejadian itu banyak dilihat oleh dokter dan suster lain nya, yang kebetulan ingin beristirahat.


Sontak saja semua orang yang ada disitu kaget, bahkan sampai menutup mulut mereka.


"Apa, hamil?"


"Ya ampun, dokter Pedro tidak disangka ya, diam-diam bisa berbuat seperti itu"


Bisikkan dokter dan suster lain, membuat kuping Pedro panas mendengarnya, dia pun pergi dari ruangan itu.


Berita kehamilan suster Tuti pun, sudah terdengar ketelinga Propesor Hendro, terpaksa Doktor Hendro memecat suster Tuti, dan memaksa dokter Pedro menikahinya, dan karna malu, dokter Pedro pun dipindah tugaskan kerumah sakit lain.


"Dokter Dina, malam ini, pulang saya antar ya?"


Dokter Dermawan mencoba mendekati Dina lagi.


"Iya, saya beres-beres dulu ya dok"

__ADS_1


Dina begiru gembira, dokter Dermawan ingin dekat dengannya lagi, sebab Dina memang menyukai dokter Dermawan, begitu juga sebaliknya.


..


Sudah hampir dua bulan Didi berada dirumah sakit, selama itu juga Rianti menuggui suaminya, kedekatan Dina dengan dokter yang menaggani suaminya membuat Rianti semakin yakin kalau Dina menyukai dokter Dermawan.


"Maaf bu, hari ini pak Didi harus mengikuti trapi lagi, supaya cepat pulih dari sakitnya"


Sebagai dokter ahli saraf, dokter Dermawan dengan telaten merawat Didi dengan teliti, itu dia lakukan karna sebagai seorang dokter propesional yang melakukan tugasnya dengan baik, bukan karna yang dia rawat adalah orang tua dari kekasihnya, yang diam-diam dokter Dermawan sudah menyatakan cintanya pada Dina.


"Mas, bagaimana kemajuan kesehatan papaku?"


"Sangat baik, mungkin bulan depan sudah bisa pulang kerumah"


"Yang bener, aduh terima kasih ya mas"


"Ya, sama-sama, pokoknya disaat kita nikah nanti, papa sudah bisa berjalan normal, meski belum bisa berjalan cepat"


Dokter Dermawan berencana, setelah Didi pulang dari rumah sakit, dia akan langsung melamar Dina, dan memanggil kedua orang tuanya, yang saat ini tinggal di Singapura, supaya datang ke Indonesia, untuk melamar Dina kekasihnya.


..


Setelah persetujuan beberapa dokter, akhirnya Didi diperbolehkan pulang kerumah, meski belum dapat berjalan dengan waktu lama, namun Didi sudah dapat berjalan kembali, Rianti sangat gembira melihat kemajuan kesehatan suaminya, begitu juga halnya dengan ibu Herlina.


"Mam, minggu ini keluarga dokter Dermawan akan datang kerumah kita, untuk melamar aku"


Dina mengutarakan niat baik dokter Dermawan, kepada keluarganya, akibat banyaknya pasien yang harus dokter Dermawan tanggani, dia jadi tidak sempat mengatakannya langsung kepada keluarga Dina.


Kedua orang tua Dina begitu gembira mendengar kabar baik itu, begitu juga dengan ibu Herlina, yang tidak menyangka kalau dokter Dermawan adalah anak seorang Doktor di Singapura.


"Mam, tapi dokter Dermawan maunya bulan depan kami langsung menikah, karna orang tuanya tidak bisa ambil cuti lama"


"Bagus itu, kalau kalian memang sudah saling cocok kenapa harus tunggu lama-lama, lagi pula dokter Dermawan asli orang Indonesiakan, jadi tidak terlalu sulit untuk mengurus surat-suratnya"


Didi selama 3 bulan di rumah sakit, sudah cukup mengenal dengan baik, bagai mana sikap calon mantunya itu, begitu juga dengan Rianti dan ibu Herlina.


"Terima kasih papa, maaf ya, kalau calon suamiku tidak bisa mengatakannya langsung, sebab pasiennya kebanyakan"

__ADS_1


Sambil tersenyum, Dina menghampiri papanya, dengan manja dia mengecup pipi Didi, dan makan malam pun berakhir dengan kegembiraan dihati mereka.


Ibu Herlina tersenyum mengingat tingkah laku cucunya tadi, dia amat bersyukur, karna dia telah menemukan orang yang tepat, untuk menjadi penerus rumah sakit, yang didirikan suaminya, dan malam ini ibu Herlina dapat tidur dengan tenang, tampa harus memikirkan masalah itu lagi, karna tinggal beberapa bulan saja, pelantikan Propesor Doktor Hendro, sebagai kepala pemimpin rumah sakit pusat, akan segera dilaksanakan.


__ADS_2