
Hampir setahun pak Gunawan masuk rehabilitas tempat ketergantungan obat terlarang, selama itu juga dia fakum dalam usahanya.
Hasil dari perolehan saham yang seharusnya untuk mendanai perusahaan, di bawa kabur oleh Lisa, sehingga perusahaan pak Gunawan terlilit oleh hutang, sedangkan anak dan istrinya sudah tidak ikut campur lagi, dengan perusahaan yang dia kelola.
Hukum pun menjerat pak Gunawan, sedangkan Lisa entah kemana, anak buah pak Gunawan sudah berusaha mencarinya, namun tidak menemukannya juga.
Ibu Herlina begitu terkejut mendengar kematian pak Gunawan, yang di temukan dikamar hotel, dengan meminum racun serangga, kematian pak Gunawan mengemparkan dunia bisnis, terutama dikalangan pembisnis tender, nama Lisa pun tak luput dari pencarian pihak yang berwajib, karna saat ini Lisa lah yang terdaptar sebagai istri sah pak Gunawan.
"Halo bu, kalau bisa ibu jangan kembali lagi ke Indo, karna pihak berwajib menetapkan, kalau ibu terdaptar dalam DPO" Marsel menceritakan apa yang telah terjadi.
"Berengsek, benar-benar berengsek tuh tua bangka, sudah mati saja masih bikin susah aku, lantas aku harus kerja apa disini?"
Lisa tak tau harus berbuat apa, seandainya dia pulang ke Indonesia, polisi pasti menangkapnya, lagi pula pak Gunawan telah membocorkan, kalau Lisa adalah seorang pengedar narkoba, dalam surat yang di tulis, sebelum pak Gunawan meninggal, itu ditemukan oleh pihak yang berwajib, dikantong baju mayat pak Gunawan.
...
Joni hanya tersenyum mendengar kabar dari Didi, tentang kematian pak Gunawan, dan tentang Lisa, yang sekarang menjadi buronan polisi.
"Bagai mana Lis, apakah kamu berminat kerja sama dengan usaha discotik temanku?"
"Aku sebenarnya lebih percaya dengan kamu Jon, tapi kalau dilihat keadaannya, tempat hiburan temanmu lebih menjanjikan, jadi terpaksa aku ikut gabung dengan temanmu saja"
"Ya, tidak masalah, lagi pula sepertinya aku, ingin tutup saja usahaku ini, karna selalu tekor"
"Sori Lis, malam ini aku tidak bisa temani kamu, ada pelanggan baru yang ingin bertemu"
Joni meninggalkan Lisa di ruangan kantor temannya, dan Lisa pun menghabiskan malamnya bersama teman Joni, yang akan bekerja sama dengan Lisa.
"Kapan kamu balik ke Indo Jon?" Didi menanyakan kabar Joni.
"Mungkin tiga bulan lagi aku baru bisa balik, aku ingin meyakinkan Lisa terlebih dulu, bahwa dia tidak salah, bekerja sama dengan temanku, setelah uangnya sudah dikuasai, baru aku caw, ha..ha"
Joni tidak tau, kalau sejak tadi, Lisa mendengarkan pembicaraannya, dengan marah Lisa memukul kepala Joni dengan botol, Joni jatuh berlumuran darah, orang yang ada disekitar kafe itu pun menjerit.
__ADS_1
Polisi membawa Lisa, akibat yang dilakukannya, Lisa terpaksa mendekam dipenjara, dengan tuduhan kekerasan, sementara Joni dilarikan kerumah sakit.
"Wow, temanmu benar-benar seorang betina ganas, dia tidak takut dengan hukum disini, habis nanti dia didalam penjara"
"Biar dia rasakan, itu lah pembalasanku, atas kematian saudara kembarku, yang dia racuni"
"Apa, benarkah itu?"
Didalam persidangan, Joni memperlihatkan berita kematian saudara kembarnya yang diracuni oleh Lisa, yang sempat terekam oleh sisi tv, Joni berdalih kalau Lisa ingin membunuhnya juga, karna ingin menguasai usaha discotik temannya, yang Lisa sangka adalah miliknya.
Hakim pun menjatuhkan hukuman kepada Lisa, hukuman seumur hidup, karna Lisa di anggap telah merencanakan pembunuhan terhadap Joni dan temannya, yang warga negara Amerika.
Setelah semuanya selesai, Joni pun kembali ke Indonesia, dia melanjutkan bisnisnya bersama Didi dan ibu Herlina, Lisa sudah tidak ada lagi dalam kehidupan mereka, semuanya sudah tenang.
..
Sepuluh tahun berlalu, Dimas dan Dina tumbuh menjadi seorang remaja dewasa, yang sebentar lagi akan menjadi penerus bisnis mama papanya, sedangkan ibu Herlina sudah lanjut umur, yang sekarang tinggal bersama mereka, kedua orang tua Rianti dan Didi telah meninggal dunia akibat sakit.
"Dina, mama dan papa bukan tidak suka pada Tomas,tapi mama mohon pikirkanlah dulu keputusan kamu untuk menikahi dia"
Ibu Herlina sangat tau bagai mana keluarga Tomas sebenarnya, dari itu dia tidak menyetujui kalau Dina yang sudah dianggap sebagai cucunya, ingin menikah dengan anak pak Radit, yang pernah bersilisih dengan papanya.
Dina hanya diam saja, dia tidak menjawab ia atau tidak, sambil menangis, dia lari kelantai dua menuju kamarnya.
"Sudah mam, biar nanti papa yang bicara padanya" Didi menahan tangan Rianti, yang ingin menyusul Dina.
Perselisihan antara Didi sebagai Derektur utama, menggantikan ibu Herlina, dengan pak Radit bukan rahasia lagi, akibat pak Radit yang selalu ber-upaya ingin menjelekkan nama baik perusahaan milik ibu Herlina.
Hubungan kerja sama mereka jadi putus, pak Radit sekarang menginpestasikan perusahaannya kepada perusahaan tender lain.
Disitulah alasan keluarga Rianti, tidak menyetujui hubungan Dina dengan Tomas, apa lagi sampai kejenjang pernikahan.
"Dina, boleh papa bicara sama kamu?"
__ADS_1
"Iya"
"Maafkan papa sebelumnya, karna papa baru mengatakan ini sama kamu, sebenarnya hubungan papa sama papanya Tomas kurang baik, jadi itu alasan papa tidak merestui hubungan kalian, papa tidak mau pernikahan kamu nanti kena imbasnya, mungkin juga orang tua Tomas tidak setuju, setelah tau kalau kamu anak papa"
"Lantas aku harus berjodoh dengan siapa pah, kalau cuma gara-gara bisnis, jodohku gagal?"
Didi menarik napas, dia merasa kasihan pada anaknya, karna tidak leluasa menjalani hidup, berbeda dengan masa remajanya dulu, meski hidup sederhana, namun bebas bergaul dengan siapapun.
"Ya sudah, coba kamu tanyakan dulu pada Tomas, apa orang tuanya setuju sama kamu?"
Didi sudah tidak bisa berbuat apa-apa, dia pun tak tega bila hati anaknya harus terluka.
"Bagaimana nak, dia mau dengarkan kamu?"
"Didi suruh Dina tanyakan Tomas, apakah pak Radit setuju, kalau anaknya nikah dengan Dina, Didi tidak tega bu, kalau sampai menghalangi mereka, meski ini demi orang banyak, mereka juga punya hak, untuk kebahagian dirinya"
"Ya sudah, kalau itu menurutmu baik, kita juga tidak bisa mengorbankan kebahagian mereka"
Tampa sepengetahuan otang tuanya, Dina mendengarkan percakapan mereka dari atas, begitu juga Dimas.
"Nasib anak orang pilihan, tidak sama dengan anak orang kebanyakan, semuanya harus demi orang banyak" Dimas berbisik di telinga adiknya.
"Lantas aku harus bagaimana kak?"
"Berdoa, minta jalan yng terbaik, kalau memang jodoh, dan baik untuk semuanya, pasti kamu dan dia jadi, dan jangan lupa, apa yang papa suruh tadi, kamu lakukan"
Dina kembali kekamarnya, dia berniat untuk menanyakannya kepada Tomas, tapi Tomas lebih dulu menelponnya.
"Sayang bagaimana, apa orang tua kamu setuju?" Dina pun menceritakan apa yang membuat kedua orang tuanya melarang pernikahan mereka.
"Sebenarnya aku sudah tau, papi sudah cerita sama aku"
"Lalu sebaiknya bagaimana, menurut kamu?" ada perasaan takut dalam diri Dina, menunggu jawaban Tomas.
__ADS_1
Apakah Dina dan Tomas akan menikah?
ikutin terus kelanjutannya ya.