KASIH YANG TERSISA

KASIH YANG TERSISA
BAB 19


__ADS_3

Telpon berdering di rumah kediaman Didi, Rianti cepat-cepat mengangkatnya, sebuah kabar yang mengembirakan, Rianti terima, kalau anak nya, Dina telah lulus sebagai seorang dokter.


"Oh nak, puji sukur, mungkin kami akan kesana minggu ini"


Dengan gembira Rianti memberitahukan kepada suami dan ibunya, kalau Dina yang berkuliah di Singapura, setelah pernikahannya dengan Tomas gagal, akibat pak Radit tidak merestuinya, kini telah mendapat gelar seorang dokter.


"Ibu minggu ini kita kesana ya"


"Harus dong, cucuku sudah jadi dokter, masa aku tidak ingin rayakan"


Kegembiraan terpancar pada wajah ibu Herlina, betapa gembira dia meski tidak melahirkan seorang anak dari rahimnya, tapi sekarang dia bisa mempunyai sebuah keluarga yang begitu menyayangi, dan sejalan dengan visi dan misinya.


"Kamu kasih tau Dimas sayang, mungkin dia juga ingin ikut"


"Sudah diberitahu oleh Dina, tapi katanya dia tidak bisa kesana, pekerjaan yang dia tanggani belum beres"


"Kamu tidak tambah penggacara untuk membantunya Di?"


"Sudah bu, tapi memang kalau untuk mengurus surat ijin pendirian PT baru agak rumit"


Didi berencana agar Dimas benar-benar belajar dari nol, dari itu dia berniat mendirikan sebuah PT baru, sebagai perusahaan ke tiga dari perusahaan ibu Herlina.


Sementara Dina, dialah yang akan meneruskan rumah sakit yang telah didirikan oleh suami ibu Herlina dulu, yang memang seorang dokter.


...


Pertemuan dengan dinas perijinan cukup memakan waktu, tapi akhirnya Dimas sudah sah mendapatkan ijin untuk mendirikan sebuah PT.


Seorang wanita muda, dengan dandanan sederhana, menarik perhatian Dimas, sepertinya sejak tadi dia sengaja menunggu Dimas.


"Pak, siapa prempuan yang ada di depen tadi?"


"Oh, itu seorang wartawan, pak Dimas" pak Santoso, sebagai penasihat, yang ditugaskan untuk menjadi orang kepercayaan Dimas.


"Oh, suruh masuk saja pak, sepertinya dia sudah nunggu saya lama"


Winda, gadis magang disebuah surat kabar cukup ternama di kota ini, sudah beberapa kali ingin menemui Dimas sebagai Direktur baru di PT, yang baru dipimpinnya.


"Selamat siang pak"


"Selamat siang, ini sudah waktunya makan siang loh, bagaimana kalau wawancaranya di restoran saja, sekalian kamu traktir saya makan?"


"He..he, maaf pak, uang saya tidak cukup, kalau bapak ingin makan siang, silahkan pak, saya akan menunggu bapak sampai selesai makannya"


"Tapi saya banyak kerjaan loh, nanti"

__ADS_1


"Wawancara saya cuma 15 menit saja, kok pak"


"Hem, ok deh kalo gitu, yuk ikut saya!"


Dimas mengajak makan Winda bersamanya, Dimas tau, Winda belum makan siang juga, sambil menikmati makan siangnya, Dimas menyuruh Winda merekam apa saja yang ingin dia nanyakan kepada Dimas.


"Kamu memang tidak ingin mencari kerja lain, selain menjadi wartawan?"


"Tidak pak, saya suka dengan pekerjaan ini, tolong bapak doakan semoga saya sukses, seperti saya mendoakan bapak"


Sambil tersenyum manis, Winda mengakhiri wawancaranya kepada Dimas.


"Terima kasih atas makan siang nya pak, saya janji, jika saya di terima jadi pegawai tetap di surat kabar ini, gaji pertama saya, akan saya pakai untuk mentraktir makan bapak"


"Yang bener, janji ya, ok, kalo gitu kasih no polsel kamu, jadi kalau kamu lupa, saya bisa menagih nya"


Dimas tersenyum, tak terasa sudah hampir 2 jam mereka wawancara, Winda gadis manis dengan penampilan sederhana, membuat Dimas betah mengobrol dengannya.


Setelah selesai semua, mereka pun berpisah, pembawaan Winda yang cuek membuat Dimas tertarik pada Winda.


Sementara Winda tidak pernah memikirkan Dimas sama sekali, karna Winda tidak berani memikirkan orang sekaya Dimas, sedangkan kehidupan Winda hanya dari keluarga sederhana, yang tinggal di komplek pemerintahan, yang diberikan pemerintah kepada ayahnya, sebagai pegawai negeri.


Tiga bulan sudah berlalu, Winda pun akhirnya di angkat sebagai pegawai tetap di perusahaan surat kabar ternama itu, setelah menjalani masa percobaan selama 1 tahun, dan akhirnya, dia pun mendapatkan gaji pertamanya.


"Dreeet"


"Halo, ya saya Winda"


"Halo, masih ingat dengan saya?"


"Hem, kalau boleh tau, siapa ya ini?"


"Kamu pura-pura lupa ya, karna takut mentraktir saya?"


Winda pun akhirnya sadar, siapa yang menelponnya.


"Oh pak Dimas, ti-tidak pak, saya inget kok"


"Ok pak, kapan kita bisa bertemu?"


"Malam minggu bisa?"


"Bisa pak, maaf, memang bapak tidak ada acara dengan keluarga bapak, maksud saya istri bapak?"


"Memang saya sudah terlihat, seperti sudah punya istri, ya?"

__ADS_1


"Oh ti-tidak pak, saya cuma waspada saja, ok, nanti kita ketemuan di mana pak?"


"Direstoran yang sama, seperti dulu, jam setengah 7, saya sudah di sana"


"Baik pak"


Winda menutup telponnya, dengan lesu dia mengembalikan sebagian makanan yang telah di ambil, maksud hati, Winda ingin menyenangkan kedua orang tuanya, dengan gaji pertamanya, tapi apa boleh buat, dia sudah terlanjur berjanji kepada Dimas.


"Ibu-ayah, maaf, gaji pertama Winda, Winda nggak bisa kasih ibu dulu, karna Winda sudah terlanjur janji sama seseorang, untuk traktir dia makan"


"Tidak apa nak, ibu sama ayah sudah senang, kamu diterima di kantor itu, ini saja sudah cukup, kamu belikan kami makanan"


Ibu Hilda memeluk putri semata wayangnya.


...


Dimas memilih baju yang akan di pakainya, dia bingung, karna baru pertama kalinya dia akan makan malam dengan seorang gadis, sehingga dia pun meminta bantuan kepada mamanya, yang begitu gembira, kalau anaknya bisa juga meluangkan waktu untuk seorang perempuan.


"Nak, jangan lupa, kamu harus bersikap santun kepada perempuan, agar dia juga bisa menghargai kamu" Rianti tak henti-hentinya menasehati anaknya.


"Ok mam, itu tidak akan pernah Dimas lupakan, terima kasih mam, Dimas berangkat dulu"


Dengan gaun sederhana, senada dengan kulit, yang membalut tubuh ramping Winda, dia gelisah menunggu kedatangan Dimas.


"Katanya jam setengah 7 udah sampe sini, aku sengaja datang jam 6, biar dia nggak nunggu, tapi ini sudah jam 7, kok belum dateng juga"


"Halo selamat malam" Dimas berbisik di telinga Winda, dari arah belakang, tempat duduknya.


"Ya ampun, bapak ngagetin saya aja"


"Dari jam berapa sampai?"


"Hem, belum terlalu lama kok pak"


Dimas tersenyum, padahal dia sudah tau kalau Winda sudah menunggunya 1 jam lebih disitu, karna Dimas sempat bertanya kepada resepsionis restoran itu.


"Kamu cantik sekali malam ini"


Dengan tersipu malu, Winda mencoba bersikap tenang di hadapan Dimas.


"Bapak bisa aja"


Winda pun membolak balik daptar menu yang di berikan pelayan restoran.


"Pak Dimas ingin makan apa?"

__ADS_1


"Samain saja dengan kamu, saya rasa selera kita hampir sama"


Winda hanya tersenyum, dia mengingat makanan yang dulu di pesan oleh Dimas, hampir habis oleh mereka berdua.


__ADS_2